
Suara andria menggema di kamar itu, Andria merasakan hembusan napas alec yang keras serta kasar dia menggertakkan giginya lalu memeluk andria sangat erat membuat mereka jatuh terhempas dalam pusaran gairah di siang itu, napas Andria masih berat dan keringat membasahi tubuhnya. Sementara itu alec bangkit dari tempat tidur lalu menuangkan air ke dalam gelas, dia membawanya dan memberikannya kepada Andria yang tidur dalam posisi miring dalam balutan pakaian kerja Alec yang kebesaran di tubuhnya.
"Andria minum air ini, kau pasti haus". Ucap alec yang membangunkan Andria dan memegang tubuhnya lalu mencoba mendudukkannya, andria mengambil air yang di sodorkan alec untuknya dan meminumnya.
"Apakah kau terluka? aku...tidak bisa mengendalikan diriku sayang". Bisiknya, alec merapikan rambut Andria yang acak-acakan tapi terlihat seksi di mata alec.
"Andria kembali berbaring tanpa menggubris Alec, dia membelakanginya tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. "Andria ayolah jangan marah sayang, apa tubuhmu baik-baik saja?
Andria berbalik lalu melemparkan bantal ke wajahnya. Alec menghembuskan napasnya lalu ikut berbaring dan memeluk Andria dari belakang.
"Jangan marah padaku, aku mencintaimu". Bisik alec mengecup kepala Andria.
~
Vancouver, Lounge Club 01.00
Dentuman musik terdengar memekakkan telinga, orang-orang yang berdansa mengikuti irama musik yang menyentak, wanita itu berjalan angkuh meliukkan tubuhnya menuju ruangan khusus yang telah disediakan untuknya.
Dia membuka pintu dengan tulisan VIP sambil menatap pria yang sedang menyesap minumannya sesekali mengerling wanita yang mabuk di sebelahnya, "Akhirnya kau datang sayang, sudah setengah jam aku menunggumu di sini", ucapnya.
Rowena mendudukkan dirinya di pangkuan pria berwajah latin itu sambil mengecup bibirnya dengan ringan. "Jadi, bagaimana? kapan rencana itu akan di lakukan sayang? kapan orang-orangmu bergerak"? bisiknya dengan bujukan sensual.
Dia terkekeh, "Pekerjaan yang kau berikan perlu kehati-hatian sayang jangan terlalu terburu-buru, aku masih harus membaca situasinya, sepertinya pria itu terlalu posesif kepada wanitanya, kita harus menunggu waktu yang betul-betul tepat".
"Dan kapan waktu yang tepat itu"? bisiknya menggoda di telinganya.
Pria itu mulai menjalankan tangannya di tubuh rowena, "Sebentar lagi kau akan mengetahuinya sayang, yang kita hadapi bukanlah orang sembarangan my honey, dia adalah Alec Alexander yung pemilik perusahaan terbesar di Amerika, dia memiliki akses di semua tempat di Amerika dan orang-orangnya ada dimana-mana, tetapi pria itu cukup pintar menyembunyikan jati dirinya, jadi rencana kita harus dikerjakan dengan sangat hati-hati kalau tidak nyawa kita taruhannya.
~
Pukul 08.15 waktu Vancouver.
Andria masih mengacuhkan Alec yang menatapnya dengan frustasi, Kali ini andria benar-benar marah kepada alec, makan siang kemarin menyisakan suasana yang hangat dan mereka masih bercengkrama sambil memeluk satu sama lain dengan mesra, tapi tiba-tiba saja Alec menggendong Andria di pundaknya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Apa yang membuat alec marah??
Andria tidak sengaja menceritakan kepada alec ketika Ronan pernah menciumnya sewaktu Andria masih sekolah dan ketika di cafe doughlas, hal itu membuat Alec begitu marah hingga siang itu Alec melepaskan kemarahanya dengan memaksakan kehendaknya kepada Andria hingga Andria menjerit-jerit mencoba menghentikan alec dari serangan brutalnya kepada Andria.
Alec berdiri dari tempat duduknya ketika sarapan, hari ini alec tidak ke kantor karena berusaha meredakan kemarahan andria, beberapa rapat penting di perusahaannya semua dibatalkan hingga Walch dan sekretarisnya kewalahan mengatur ulang jadwal alec.
"Aku ingin ketempat tidur Alec". Bisik Andria, dia tidak ingin memberitahu Alec jika kepalanya kembali sakit lagi, walaupun sangat sakit Andria mencoba menahannya. Alec dengan bingung menatap Andria tetapi tetap melakukan keinginannya, dia menggendong Andria yang memeluknya erat dan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aku ngantuk alec, bisakah kau meninggalkanku sendiri"? ucap Andria sambil tersenyum tipis kepada alec agar dia tidak khawatir.
"Baiklah sayang, aku ada di ruanganku jika kau membutuhkan sesuatu". Andria mengangguk, Alec lalu mengecup kening Andria dan menutup pintu kamarnya.
Kepalanya sangat sakit sekali, hingga Andria harus menggigit selimut agar suaranya tidak terdengar oleh Alec.
Sekelebat ingatan Julia kecil kembali hadir di kepalanya...
'*Pria berwajah Asia sedang tersenyum kepada Rowena ketika ayahnya tidak melihatnya, tapi Julia kecil menyaksikan pemandangan yang menjijikkan itu, usia julia saat itu menginjak 10 tahun.
julia melangkah pelan di balik pintu yang tertutup dan mendengar erangan wanita yang mendesah, dia lalu berlari kecil karena benci mendengar suara aneh itu, tidak lama kemudian Rowena keluar dari kamarnya bersama pria Asia itu.
"Bawa anak itu dari hadapanku dan buat seperti kecelakaan, aku tidak ingin memelihara putri dari wanita itu, membayangkannya saja membuatku muak jika harus merawat anak itu.
Julia kecil mendengarnya, dengan wajah datar, Andria melihat mereka dari jendela atas di kamarnya, sebentuk senyuman terukir di bibir kecilnya, dia meletakkan selembar foto Rowena ketika dia sedang bersama pria Asia itu di dalam laci ayahnya. Tangan kecilnya kemudian mengangkat jerigen yang diyakininya berisi bensin, jerigen itu cukup besar dia membawanya ke rumah pria Asia itu, meletakkan di sana ketika mereka sedang bermain bersama putra kecil yang sebaya dengan Julia.
'Ayahmu ingin menyingkirkanku jadi...aku harus menyingkirkan mereka semua', senyum jahat terukir di wajah kecilnya. 'Apa maksudmu Julia? tanya pria kecil berwajah Asia itu'. Julia berdecak, 'kau masih kecil kau tidak akan mengerti', Ucapnya sok dewasa.
Malam itu entah apa yang terjadi di kediaman pria berwajah Asia itu, tetapi rumahnya hangus terbakar, istri dan putranya tewas mengenaskan, Julia kecil berdiri dengan kebingungan menatap kobaran api di hadapannya, 'Kau membunuhnya...kau pembunuh keluargaku...'teriakan histeris terdengar dari pria asia itu, wajahnya yang berteriak tampak mengerikan....'Bukan aku', ucap Julia kecil, aku tidak membunuh siapapun, aku bukan pembunuh', kata-kata itu terngiang di kepalanya hingga*...
"Andria? Andria !?
Wajah alec terlihat sangat khawatir, suaranya begitu kasar ketika memanggil Andria yang belum tersadar dari tidurnya, Andria membuka kedua matanya, air matanya tiba-tiba berjatuhan di pipinya, apakah dia betul-betul seorang pembunuh? pikir Andria, pemikiran itu membuat kepalanya kembali sakit.
Hanya teriakan Alec yang samar-samar yang dapat di dengarnya, cahaya lampu yang terang membuat mata Andria tertutup, bau disinfektan tercium menyengat di hidungnya, dia menyadari bahwa dirinya sekarang berada di rumah sakit. Meskipun samar dia dapat mendengar pembicaraan antara Alec dengan seorang pria berbaju putih yang Andria yakin dia adalah seorang dokter, meskipun dia terdengar akrab ketika berbicara dengan Alec.
"Selamat Alec, Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah". Ucap dokter itu, Mata Alec membulat, dirinya begitu terkejut, "Apa maksudmu Al"? ucap alec masih tidak percaya dengan kata-katanya.
"Sepertinya kekasihmu tidak menyadari jika dia telah hamil, kandungannya baru sebulan". Ucap dokter itu. "Kenapa Alec? mengapa kau begitu terkejut? Dokter itu tertawa lalu menepuk pundak Alec.
"Sepertinya kekasihmu memiliki migren cukup parah, kita harus menangani sakit kepalanya terlebih dahulu, kandungannya masih belum cukup kuat jadi aku sarankan agar dia tidak terlalu banyak bergerak". Setelah itu dokter yang juga merupakan teman alec keluar dari ruangan itu lalu menutupnya.
Alec berjalan dan menghampiri Andria yang dengan cepat menutup kedua matanya, kecupan ringan mendarat di pelipisnya, Alec menggenggam tangan Andria dan mengecupnya, " Sebentar lagi kita akan memiliki seorang anak sayang", bisik alec dan tersenyum menatap Andria.
Andria begitu senang mendengarnya, akan tetapi kepedihan tiba-tiba menjalar di dadanya, 'Apakah aku seorang pembunuh'? apakah benar yang dikatakan oleh Okada bahwa dirinya seorang pembunuh, pemikiran ini menyayat hatinya, apa yang harus aku lakukan? bagaimana jika alec mengetahui bahwa dirinya seorang membunuh? Apakah Alec akan meninggalkannya?