
Perjalanan ke vancouver.
Hujan yang mengguyur kota itu nyaris membuat orang-orang tidak betah untuk berlama-lama di luar rumah, meskipun begitu keluarga kecil alec berangkat menuju kediaman tuan anderson, mereka semua berangkat bersama-sama.
"Mommy? Kakek sudah sembuh?" Tanya kein antusias.
"Sebentar lagi kita semua akan menemuinya sayang, kein senang bertemu dengan kakek?" Tanya Andria.
"Aku sangat senang mommy." Ucapnya.
Abel memeluk erat andria, dia sekarang lagi tertidur di pelukan ibunya.
"Semoga hujannya berhenti." Ucap alec menatap langit yang gelap.
"Aku suka hujan." Ucap kein bicara begitu saja, dia duduk di kursi belakang mobil seorang diri.
"Kenapa?" Tanya Andria.
"Aku menemukan ibu sewaktu hujan turun kan?" Ucapnya lagi.
Andria tersenyum mendengarnya dan alec mengacak-acak rambut putranya.
Perjalanan mereka memakan waktu sekitar dua jam setengah dari kediamannya, apalagi hujan masih mengguyur kota itu dan tidak berhenti.
"Sayang? Haruskah kita berteduh Sebentar saja? Sepertinya hujannya bertambah deras." Saran Andria menatap guyuran hujan yang tertiup angin.
Kita berhenti disana." Sambil menunjuk satu hotel yang berada di ujung. Mobil Alec terparkir di pelataran hotel, alec keluar dari mobilnya sambil membuka payung lalu menutup mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Andria dan anak-anaknya dan memayungi mereka.
Kali ini mereka hanya pergi berempat tanpa penjagaan siapapun, sehingga keluarga kecil mereka terlihat normal tanpa ada bodyguard yang mengikuti kemanapun mereka pergi.
Seorang pria paruh baya berlari tergopoh-gopoh membuka pintu dan membiarkan mereka semua masuk, dia sedikit membungkuk melihat kedatangan tuan Alexander sang pemilik hotel.
Ini juga salah satu hotel kecil milik alec, tetapi alec sangat jarang datang ke hotel ini.
Para pelayan bergegas menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, mereka menunjukkan kamar suite VVIP untuk mereka berempat.
"Lewat sini tuan Alexander." Ucapnya.
Mereka di tunjukkan ke sebuah ruangan mewah, dengan fasilitas lengkap yang menakjubkan, Andria yang sampai di kamar langsung saja membaringkan Abel ke tempat tidur, sedangkan kein sibuk mengeksplorasi tempat itu sambil menatap seluruh ruangan di tempat mewah itu.
Alec yang kembali dari luar langsung saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur di samping abel. "Andria sayang kemarilah, aku ingin memelukmu sambil menunggu hujan berhenti." Andria menggeleng menatap alec yang bermanja-manja padanya.
"Mommy akan memeluk kein, dad." Ucap kein yang naik ke atas tempat tidur menghalangi Alec dari menarik Andria.
"Tidak, dad yang bersama dengan mommy kali ini." Ucap alec memeluk kein sambil beradu gulat dengannya di tempat tidur.
"Jangan banyak bergerak nanti abel terbangun." Tegur Andria.
Andria menatap mereka sambil tertawa lalu mengecup Abel yang berada di sampingnya. "Mom yang akan memeluk abel." Ucap andria.
Tiba-tiba alec membisikkan sesuatu yang konyol kepada kein.
"Kein kau ingin memiliki seorang adik?" Tanyanya.
"Aku sudah punya Abel." Ucap kein sambil berbalik dan menatap abel yang sedang tertidur di pelukan Andria.
"Adik laki-laki, bagaimana?? apakah kein menginginkannya?" Bisik alec.
Kein menaikkan kedua alisnya dan menatap ayahnya dengan sorot mata tajam yang bersinar. "Yes dad, aku menginginkan adik laki-laki." Ucapnya polos.
"Jadi, kau harus membiarkan mommy bersama dengan dad, kau bisakan menjaga Abel?" Tanya alec lagi.
"Kenapa tidak? Aku bisa menepati janjiku Andria sayang." Ucap alec sambil menatap andria dengan wajah menggoda.
~
Hujan telah berhenti meskipun rintik-rintik hujan masih terasa membasahi kota Vancouver dan udara terasa begitu dingin. Sekarang ini alec sedang menepati janjinya kepada kein, dia sedang bersama dengan Andria melaksanakan apa yang di rencanakan alec tentang memiliki adik untuk abel, anak-anak mereka sedang tertidur lelap.
Desahan Andria tidak bisa di tahannya, tubuhnya larut dengan Alec yang berada di dalam dirinya, mereka bergerak berirama dengan cinta Alec yang menggebu-gebu, setelah mendapatkan pelepasannya berulang kali akhirnya alec melepaskan Andria dan jatuh terlentang di sampingnya.
Napas andria memburu, tubuhnya terasa pegal, sedangkan alec mengambil selimut dan menutupi tubuh istrinya dan dirinya.
"Alec? Hujannya sudah berhenti." Ucap Andria menyenggol tubuh alec yang terlelap di sampingnya.
"Hmm, oke sayang, lima menit lagi." Ucapnya.
"Andria bangun dari tidurnya, lalu masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya setelah itu dia segera mengenakan pakaiannya yang jatuh berserakan di lantai dan kembali membangunkan alec.
"Alec ayo bangun nanti kita kemalaman." Ucap Andria menggoyangkan tubuh alec yang akhirnya bergerak, dia meregangkan otot tubuhnya sebentar, alec merasa segar kembali dia segera mengenakan pakaiannya lalu menggendong kein yang masih tertidur dan mengambil barang-barangnya.
Andria menggendong Abel dan mereka akhirnya melanjutkan perjalanan kembali menuju kediaman tuan Anderson.
~
Mereka akhirnya telah tiba di rumah tuan anderson, mereka di sambut dengan bahagia oleh nenek andria, dan beberapa pelayan mengambil barang-barang mereka.
Kali ini mansion yang di tempati tuan Anderson cukup luas meskipun tidak seluas mansion yang telah terbakar itu.
Andria segera menemui ayahnya yang masih terbaring, peralatan medis sudah separuh terlepas dari tubuh tuan Anderson, dia terbangun ketika mendengarkan seseorang membuka pintu kamarnya.
Matanya menatap wajah putrinya, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, terakhir kali dia diberitahu jika Andria putrinya telah tewas tapi kali ini dia betul-betul masih bisa melihat putrinya di hadapannya sendiri.
Air mata mengalir di pipi tuan Anderson ketika melihat Andria menghampirinya dan mengecup kening ayahnya.
"Bagaimana keadaan ayah?" Tanya Andria yang duduk di sampingnya.
Dia tersenyum, "aku baik-baik saja sayang, aku betul-betul bersyukur kau masih ada di samping ayah." Dia memegang tangan ayahnya. Suara kein terdengar dari balik pintu.
"Kein jangan terlalu berisik." Tegur sang ayah sambil menggendong abel lalu membuka pintu kamar. Senyuman hangat terpampang di wajah tuan Anderson melihat cucu-cucunya yang menghambur ke tempat tidurnya.
"Kakek...kakek sudah baikan?" Tanyanya.
Dia menatap kein sambil tersenyum, "kakek sudah baikan kein." Ucapnya. Dia tersenyum melihat cucunya yang tidak berhenti berceloteh dihadapannya.
Setelah lama menemani tuan Anderson mereka semua keluar dari kamarnya agar tuan Anderson bisa beristirahat.
"Daddy? Mana janji dad? Di mana adik laki-lakiku?" Tanyanya di depan semua orang ketika mereka sedang makan malam bersama. Nenek Andria tertawa sambil mengusap kepala kein.
Alec terbatuk-batuk mendengar permintaan kein yang tiba-tiba itu.
Andria menatap alec dia sudah memperingatinya tentang janjinya kepada kein, putranya akan terus menagih janjinya kepada alec sampai dia menepatinya.
"Kau harus bersabar sayang." Ucap alec.
"Sampai kapan?" Tanyanya.
"Ayah akan berusaha." Ucapnya, Andria menatap alec memperingatinya, alec hanya mengedikkan bahu terhadapnya lalu tersenyum miring menggoda terhadap andria yang sedang menyuap Abel di meja makan.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya dad, kein tidak sabar mau bermain dengan adik laki-lakiku." Ucapnya lagi.