Her Secret

Her Secret
Kehilangan 3



Sudah dua hari ini andria mengintip dari balik pintu keluar, dia pikir tempatnya sekarang adalah rumah sakit akan tetapi setelah membuka pintu kamarnya dan mendapati penjaga berdiri di mana-mana membuatnya khawatir dan ketakutan, dia terus berpikir apa yang telah di perbuatannya sehingga dia berakhir di rumah yang seperti kurungan ini?


Dua orang pelayan masuk ke kamar Andria dengan sigap melayani kebutuhan andria tanpa bertanya ataupun menatap Andria lebih-lebih sekedar berbincang kepadanya. Mereka seperti robot dengan wajah datar membingkai di wajah mereka.


Siapa sebenarnya pria itu? apakah dia seorang gengster? dan mengapa aku berakhir bersamanya? pertanyaan itu terus berputar di benak Andria.


Tubuh Andria sedikit demi sedikit telah pulih meskipun terkadang kepalanya masih sakit, pelayan-pelayan itu mendandani Andria sehingga dia tampak begitu cantik.


"Mengapa aku harus berpakaian seperti ini?" tanyanya.


"Tuan Leon sudah menunggu anda untuk sarapan di bawah nona." ucap pelayan itu sambil menunduk sopan.


Gaun indah bermotif bunga violet yang panjang dengan bahu terbuka lalu di lengkapi dengan sweater indah yang dikenakan Andria untuk mencegah udara dingin yang menusuk hingga ketulang.


Wajah Andria begitu cantik dan berseri, rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah dan beberapa perhiasan yang melengkapi tubuhnya. "Lewat sini nona." ucap pelayan itu berjalan di depan Andria. Ruangan yang begitu luas dengan pernak pernik mewah menghiasi tempat itu, beberapa penjaga berdiri di tempat mereka masing-masing layaknya sebuah robot dengan wajah datar.


Beberapa anak tangga yang terbuat dari batu harus dilewatinya kemudian sampailah di pintu besar berwarna coklat, pelayan itu membukanya untuk Andria dan mempersilahkan agar dia masuk. Andria menatap ruangan besar dengan perapian yang berkobar, dilengkapi dengan dinding bata berwarna merah serta lampu mewah yang tidak begitu terang melengkapi tempat itu.


Seorang pria tengah berdiri di tempat itu sambil menatap api yang berkobar di tempat perapian, jendela besar di sebelahnya memperlihatkan salju yang kian lebat dan cuaca yang menggelap meskipun masih pagi.


Dia kemudian berbalik lalu memberikan senyumannya ketika menatap Andria yang berdiri di sana, "Kau sudah baikan?" tanyanya.


Andria menatapnya dan sedikit mengangguk.


"Kemarilah julia, kita sarapan bersama."


Andria melangkah perlahan mendekati meja makan, menatap hidangan yang begitu lezat padahal masih pagi dan mereka menyiapkan aneka ragam makanan yang menggugah selera.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Andria.


"Em aku harap kau menyukai salah satu menu yang tersedia, jadi aku menyuruh pelayan membuat banyak menu sarapan." jawab Leon.


Andria menganggukkan kepalanya, dia lalu duduk dan mengambil sandwich di piringnya dan menuang segelas susu untuknya.


Leon mencermati apa yang di ambil oleh Andria hingga dia nanti akan tahu apa yang di sukainya.


Andria mulai memakan sandwichnya tanpa memandang Leon, dia perlu tenaga untuk mencari tahu siapa dirinya.


Setelah sarapan Andria menatap pria di hadapannya ini yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Aku ingin tahu apa hubungan kita dan mengapa aku bisa berada di sini?" tanya Andria.


Leon menautkan kedua jari-jarinya di atas meja lalu memberikan senyumannya kepada Andria yang jarang di berikannya kepada siapapun.


"Kau adalah tunanganku." ucapnya sambil tersenyum.


"Tunangan?" tanyanya. Andria menatap pria dihadapannya ini dengan sangat ragu, bagaimana bisa dia menjadi tunangannya sementara dia tidak tahu makanan yang apa yang di sukainya hingga di menyiapkan semua makanan itu di atas meja.


"Apa yang terjadi padaku? mengapa aku tidak bisa mengingat masa laluku." tanyanya.


"Kau mengalami kecelakaan mobil, kepalamu terbentur hebat." jawabnya.


Entah bagaimana Andria bisa merasakan kejanggalan di setiap kata-katanya, Senyumnya seperti seringai, dan nuansa di sekitarnya membuat Andria merasa tidak nyaman.


~


Sudah beberapa pekan telah terlewati, tubuh Andria semakin hari semakin membaik, Leon memberikan kesempatan buat Andria untuk melakukan apa yang diinginkannya termasuk berjalan-jalan di sekitar mansion, pria itu kadang terlihat menakutkan tetapi kadang di bersikap sangat baik dan sayang kepada Andria.


'Mommy?'


Andria begitu terkejut terdengar suara anak kecil sehingga membuatnya berbalik, panggilan yang begitu familiar dapat di rasakannya. Andria menutup kedua matanya ingin mencoba mengingat-ingat tentang dirinya.


'Mom?'


Suara itu menggema di kepalanya.


"Kau baik-baik saja?" suara serak seorang pria membuat Andria membuka matanya dan mencari sumber suara.


Leon sudah duduk di sampingnya, menatapnya dengan alis bertaut. "Sebaiknya kau istirahat Julia, kau terlihat begitu lelah." ucapnya.


Andria menatapnya dengan sorot mata penuh dengan pertanyaan, tetapi dia tidak akan bertanya padanya, pria ini tidak akan menjawabnya dengan jujur.


"Aku..aku tidak apa-apa." ucap Andria tanpa memandang wajah Leon.


"Kau yakin?" tanyanya.


"Ya, aku baik-baik saja."


Tiba-tiba saja tangannya mengusap lembut rambut Andria hingga ke wajahnya, membuat Andria terkejut dan merasa sangat tidak nyaman.


"Kau tidak suka sentuhanku?" ucapnya.


"Kau adalah tunangan Leon de Lucas Julia." Katanya dengan nada tegas membuat andria merinding mendengarnya.


"Setelah kau membaik dan urusanku di Vancouver telah selesai kita akan berangkat ke Italia, aku ingin kita melaksanakan pernikahan kita di sana." Pria ini tersenyum puas dengan kata-katanya.


"Apa? menikah? mengapa aku harus menikah denganmu sementara aku sama sekali tidak mengingat apapun tentangmu." ucap Andria sambil bergeser dari tempatnya duduk.


"Jika kau tidak mengingatnya, kita akan memulai dari awal Julia, kita akan membuat kenangan tentang kita, bagaimana? kau suka?" Dia tersenyum miring dan mendekati wajah Andria hendak mengecupnya, tetapi Andria menghindarinya.


Dia tersenyum tipis, "Suatu hari kau akan menerimaku Julia." Ucapnya dia lalu berdiri dan menatap Andria yang tidak mau menatapnya.


"Masuklah Julia udara semakin dingin, aku tidak ingin kau terkena demam." Ucapnya, dia lalu beranjak meninggalkan Andria diikuti oleh orang-orangnya yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi, wanita pirang sedikit berbalik dan menatap Andria sebentar kemudian dia melanjutkan langkahnya.


~


Suasana di kediaman Alexander cukup ramai karena suara Abel yang merengek ingin di gendong oleh neneknya dan kein yang selalu menatap jendela kaca seakan berharap ibunya berjalan dari luar pekarangan rumahnya dan melambai padanya seperti biasa.


"Sayang? kenapa kau selalu duduk di sana? kau ingin coklat hangat? nenek akan membuatkanmu." Kein memegang dagunya dengan satu tangannya lalu menggeleng.


"Aku tidak mau, aku hanya mau mom, aku mau mom kembali, aku berjanji tidak akan nakal dan menuruti semua kata-kata mom asalkan mommy kembali." ucapnya pelan.


Nyonya Alexander menutup matanya dia lalu mengusap air yang menetes dengan cepat di pelupuk matanya.


"Nenek akan memberikanmu mainan apapun yang kau sukai kein sayang, kemarilah kita bearmain bersama adikmu." ucap neneknya sambil mengusap kepalanya.


"Aku mau mommy." ucapnya lagi sambil memandang jendela besar berkabut karena ditutup oleh salju.


Suara bel berbunyi membuat nyonya Alexander beranjak dari sisi kein dan membuka pintunya, seorang wanita dengan membawa beberapa bungkusan di tangannya sedang tersenyum kepada nyonya Alexander.


"Selamat siang saya Jessie Weakhly, saya adalah rekan kerja Mr Alec, er...saya datang ingin menemui kein dan Abel nyonya, boleh saya masuk?"