
Andria bangun lagi dari tidurnya, dia mengambil napas panjang mencoba menenangkan jantungnya, marah, takut gelisah semua menjadi satu. Siang itu pria bernama Alec menciumnya, baru kali ini dia dicium oleh seorang pria.
~
Ciuman dari alec membuat Andria terkejut, matanya membelalak, tubuhnya di cengkram kuat olehnya, bibirnya masih melekat di bibir Andria. Ciuman panjang Alec membuat Andria mencari-cari udara untuk bernapas. Dia mendorong tubuh alec dengan keras, sehingga Andria menggapai-gapai udara mencoba mengatur napasnya yang memburu. Mereka saling menatap, alec kembali mendekati bibir Andria, tetapi tamparan dari Andria melayang di wajahnya.
"Turunkan aku." Andria mendorong tubuh alec dan kembali duduk di kursinya. Alec tersenyum miring, Rahangnya terkatup. "Aku belum selesai andria."
Andria melotot pada Alec, tangan Andria sekali lagi melayang, tetapi tangannya dipegang erat olehnya. Dia menarik Andria mendekati tubuhnya. Tubuh Andria gemetar, dia merasa lemah dihadapannya, mengapa dia bisa menahan seranganku?
"Lepaskan aku." Bibirnya bergetar, Alec menatap bibirnya yang bergetar. Dia kemudian melepaskan tangan Andria, dia mengantar Andria tepat di halaman rumah Mrs Weltson, untung saja tidak ada seorangpun di rumah itu.
"Aku ingin kau memasakkan sesuatu untukku. Gery akan menjemputmu besok siang." Andria melotot marah padanya, siapa dia? mengaturku dan menyuruhku.
Andria hanya diam tidak ingin menanggapi pria gila ini. Alec membuka pintu mobilnya, membiarkan Andria keluar dari mobilnya,
"Dan aku tidak mau !" teriak Andria, dia lalu berlari masuk ke rumahnya dan langsung menguncinya.
Napas Andria memburu, dia mengintip dari balik jendela, mobilnya masih ada di sana, tidak lama kemudian, Alec pergi. Andria memegang dadanya, pria sialan itu mencuri ciumanku. Andria menghapus bibirnya dengan kasar.
Andria berjalan ke kamarnya, mengganti bajunya dan duduk termenung, mengapa aku bisa bertemu pria mesum seperti dirinya? dia membuatku terlihat lemah, pukulanku sama sekali tidak berefek padanya. Dia tahu sekolahku, tempat tinggalku apakah dia tahu tentangku juga? Apa aku harus meninggalkan rumah ini? Andria terduduk menatap langit-langit kamarnya.
~
Ronan masih bekerja di kantornya, dia sedang menyelesaikan desain yang di serahkan kepadanya, suara ketukan terdengar dari mejanya, "Kau punya waktu sore ini Ronan? kami berencana berpesta di rumah Jenat." Ronan berpikir sebentar dan tersenyum tipis.
"Aku harus cepat pulang hari ini, sorry."
"Oh, ok tidak masalah Ronan." Ashley tersenyum kecut, dia lalu kembali ke meja kerjanya dengan perasaan kecewa.
~
Andria tertidur pulas, dia sama sekali tidak terbangun untuk makan malam, suara ketukan terdengar dari kamarnya membuat Andria terbangun dan membuka pintu kamarnya.
"Hai Andria, kau belum makan malam?" Ronan yang masih memakai pakaian kerjanya mendengar dari ibunya kalau andria tertidur pulas sehingga dia melewatkan makan malam.
Dengan mata yang berat andria memandang Ronan dan mengangguk. Ronan tersenyum, "Bagaimana kalau kita makan pizza?" tawar Ronan kepada andria.
"Aku akan berganti baju." Ronan tersenyum, dia lalu menunggu Andria di teras rumahnya. Mereka berdua berhenti di sebuah restoran Italia yang cukup ramai, mereka duduk di salah satu meja di sudut. Malam itu andria mengenakan jaket hitam dengan t-shirt putih rambutnya di gerai begitu saja.
"Kau sakit Andria?" tanya Ronan memperhatikan wajah andria.
"Benarkah? tapi kau terlihat demam." Ronan lalu menyentuh pipi andria Membuatnya sedikit terkejut.
"Ya, kau sedikit demam sebaiknya kita singgah di apotik setelah makan nanti." Andria mengangguk, setelah pulang sekolah Andria merasa pusing dan kepalanya sungguh berat sehingga dia tertidur begitu saja.
Makanan mereka sudah datang, dua porsi pizza, mereka melahapnya tanpa berbicara.
"Makan malammu betul-betul tidak terkendali Jane, lihat dirimu !" Jane sudah memakan tiga potong pizza dengan lahapnya.
"Kau cerewet sekali, aku sedang dalam masa pertumbuhan." Alec menggeleng melihatnya, dia tiba-tiba memicingkan matanya menatap Andria yang juga sedang lahapnya memakan pizza bersama seseorang.
"Ada apa alec, kenapa wajahmu seperti itu?" Dia mengarahkan matanya lalu tersenyum miring.
"Ups gadis itu lagi." kata Jane yang memperhatikan raut wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah marah. Dia lalu berdiri menghampiri Andria dan Ronan.
Ronan terkejut menatap Alec yang sedang berdiri di sudut meja mereka.
"Mr. Alexander?" Ucap Ronan. Alec tersenyum tipis matanya mengarah kepada Andria yang menghentikan makannya.
"Bolehkah kami bergabung?" kata Jane yang tiba-tiba sudah berdiri di samping alec.
"Erm..ya tentu, silahkan duduk." Alec tidak mengatakan apapun dia langsung duduk begitu saja, sedangkan Jane duduk di samping Andria, dan menyapanya.
"Hai, namaku Jane, kita pernah bertemu di salah satu restoran kan?" Dia tersenyum manis. Andria mengangguk.
"Em, ya..namaku Andria." Andria merasa tubuhnya begitu lemah, akhir-akhir ini dia sering sekali terserang demam. Jane bercakap-cakap dengan Ronan, dia gadis yang supel dan ramah kepada siapa saja. Alec sesekali menanggapi tetapi matanya tidak terlepas dari wajah Andria.
Ronan memegang kening Andria membuat alec marah dan tidak suka. "Sepertinya demammu semakin tinggi Andria, sebaiknya kita pulang." Ronan berdiri memapah Andria.
"Aku baik-baik saja, aku bisa jalan." Kata Andria pada Ronan. Jane menatap kakaknya yang terlihat kesal raut wajahnya seakan-akan ingin mencabik-cabik seseorang.
"Kakak? sepertinya Dokter Norbert masih berada di kliniknya, sebaiknya kita bawa Andria ke klinik dokter Norbert, bagaimana?" Ronan mengangguk begitu saja, Andria berdesis, mengapa dia menyetujuinya begitu saja.
"Aku baik-baik saja, aku bisa......
"Tidak, kau tidak bisa, kita ke dokter Norbert sekarang." bentaknya.
®Like and comentnya tmn2 readers author tunggu😊