Her Secret

Her Secret
Aku tidak bisa membohongi perasaanku



Pukul satu malam Andria terbangun karena dia merasa haus, dia keluar dari kamarnya, dan menatap ruangan Alec lampunya masih menyala dan pintu kamarnya sedikit terbuka, "Dia masih bekerja"? gumam Andria, dia kemudian kembali ke kamarnya yang gelap, tanpa diketahuinya tangan yang berat menarik Andria kedalam pelukannya.


Andria memekik dia terduduk dan menatap Alec setengah tersenyum dengan rambut berantakan dan acak-acakan dia kelihatan muda dengan penampilannya kaos dan jeans sangat cocok untuknya, "Hai Andria, kau bangun"?


Andria melotot pada alec. "Apa yang kau lakukan di kamarku"?! ucap andria.


"Aku tidak bisa tidur, sepertinya aku harus memeluk atau mengecup seseorang dan aku bisa tertidur, kau mau membantuku"? kata Alec menahan tawanya melihat Andria membulatkan mata kepadanya.


"Ok, ok aku keluar", kata alec mendesis Di dalam kegelapan. Dia bergerak lambat, lalu tanpa Andria sadari sebuah kecupan mendarat dibibirnya hingga dia terjatuh bersama alec yang mengurungnya di tubuhnya.


"Aku akan teriak, lepaskan aku"! ucap andria.


"Aku suka teriakanmu". bisik Alec di sudut bibirnya, Andria mendorong tubuh alec dengan keras, tetapi sepertinya Alec mengeratkan pelukannya. Sudut bibirnya terangkat melihat Andria tidak berdaya di pelukannya.


"Kau bisa meninjuku kalau kau mau Andria, aku tidak keberatan". Dia tertawa mengejek, dia tahu Andria sama sekali tidak berdaya di bawah tubuh Alec.


"Kau pikir mudah mempermainkanku karena usiaku"? ucap Andria yang jengkel dengan sorot kemenangan di mata alec.


"mempermainkan? aku tidak jago dalam hal mempermainkan hati Andria, tapi satu yang kuinginkan saat ini adalah kau". Wajah Andria kini tertutupi dengan wajah alec yang menguasai bibirnya, meskipun begitu Alec bisa menahan gairahnya, ciuman panas dan liar merupakan kombinasi yang membuat Andria hanyut dan merasa liar dalam dekapan alec.


Suara kecupan manis mesra dan kasar terdengar di malam itu, Alec harus menahan denyutan di dalam dirinya jika dia tidak ingin dibenci oleh andria.


"Andria? bisik alec di telinganya, "dia tertidur? bagaimana kau bisa tertidur dengan keadaan seperti ini Andria"? erangnya, dia tersenyum menatap bibir Andria yang membengkak. Tidak lama kemudian alec hanyut dalam tidurnya dan memeluk erat Andria dalam pelukannya.


~


Andria terbangun karena rasa panas dan berat di tubuhnya. Kaki seseorang menyilang di atas pinggangnya sementara tubuhnya dipeluk erat di dalam pelukannya. Andria mengerjap sentuhan di tubuhnya terasa panas.


"Kau sudah bangun? senyum alec yang membuat jantung Andria berdetak cepat, kilasan semalam membuat pipi Andria merona, Alec bangun dari tidurnya dan menarik tangan Andria dan mengecupnya, "Selamat pagi andria".


"Bersiaplah sebentar lagi kita sarapan".


Andria berlari dan masuk kedalam kamar mandi, dia mandi dengan gelisah, dia menciumku semalam dan aku tertidur begitu saja? pikirnya, ada yang aneh di otakku, dan jantungku berdetak kencang ketika melihat dirinya begitu berantakan rambut acak-acakan dengan senyum mengembang di wajahnya.


pria itu mengubah diriku, setiap melihatnya mengapa harapan agar dia menciumku terbit begitu saja di kepalaku. Andria menggelengkan kepalanya, semua yang aku yakini bahwa aku seorang diri dan tidak memerlukan orang untuk tinggal di sisiku serasa pudar sedikit demi sedikit. "Apakah aku mulai menyukainya", gumamnya.


~


"Miss Andria tuan menunggu Anda sarapan di lantai 3, silahkan ikut dengan saya". Ucap Gery sopan.


Andria mengikutinya, dia masuk kedalam lift yang berdentang dan tidak lama kemudian Gery mengantar Andria ke tempat Alec yang sedang menelepon, dia terlihat rapi dengan kemejanya berwarna biru polo, dia menatap arloji di pergelangan tangannya, dia tentu saja terlihat tampan rambutnya yang acak-acakan telah tersisir rapi dan diberi gel dengan sempurna.


Sudut mulutnya terangkat ketika melihat Andria berjalan ke arahnya, wanita-wanita yang memperhatikannya sejak tadi pasti mengira aku hanyalah adiknya yang duduk dihadapannya dengan t-shirt santai dan jeans pudarku, rambutku yang panjang kuikat dan memakai topi dengan tas ranselku yang berat terkait di belakangku.


"Kau mau kemana Andria dengan semua barang-barangmu"? tanyanya heran, dia mengambil kopinya dan menyesapnya. Pandangan matanya tidak pernah putus dari menatapku yang kikuk.


"Bisakah kau menungguku beberapa jam lagi? aku harus menyelesaikan pekerjaanku dan kita akan kembali".


"Sayangnya tidak Mr. Alexander, Andria akan pulang sekarang bersamaku". Ronan telah berdiri di antara meja, dia mengepalkan tangannya menahan kemarahannya. Andria terkejut menatap ronan.


"Sebaiknya kita pulang Andria". gumam Ronan pada Andria tapi matanya tidak terlepas dari alec, kemarahan jelas terlihat di wajah alec.


"Aku pergi bersama Andria, dan akan kembali bersamanya Mr.weltson, meskipun Andria tinggal bersama kalian tapi, dia sekarang tanggung jawabku juga". Kata Alec dengan suara dingin di setiap suku katanya.


"Tanggung jawab Anda? tanya Ronan dengan setengah tersenyum. "Dia tanggung jawabku, Andria tanggung jawab keluarga Weltson". Tangan Ronan mengambil pergelangan tangan Andria menariknya dengan cepat.


Alec begitu marah, dia berniat menyusul mereka tetapi ponselnya berdering, "Welch ! kau yang menggantikanku rapat di Oregon". Dia menutup ponselnya dan menyusul mereka berdua yang sudah berada di lobi.


"Naik Andria ! perintah Ronan padanya, wajah marah Ronan tidak bisa dibantah, segala sesuatunya menjadi rumit ketika Alec sudah berada di depan mobil silver ronan. Rambutnya yang tadinya rapi sedikit tertiup angin, matanya berkilat tajam.


"Mr Alexander saya yakin anda mengerti bahwa Andria masih sekolah, dan masih di dalam pengawasan kami sebagai walinya, dan saya tidak tahu apa alasan dia bertemu dengan anda di kota ini, tetapi saya memiliki alasan kuat membawa Andria kembali bersamaku, selamat siang".


Ronan mengemudikan mobilnya tanpa menghiraukan kemarahan Alec, dia mengumpat keras. Angin kencang di Portland seharusnya membawa hawa dingin yang menyejukkan di awal musim gugur tetapi hawa dingin kali ini menusuk sampai ke kulit, membuat Andria merekatkan jaketnya, Ronan masih diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada Andria, dia mengerling Andria dan segera menutup kaca mobilnya. Tiba-tiba saja dia menepikan mobilnya.


"Katakan padaku ! apa hubungan antara kau dan Mr Alexander, mengapa dia bersamamu di Portland, kau menyalahgunakan kepercayaan kami Andria, tugas sains? sebenarnya apa yang kau pikirkan"? Ronan berkata tegas, suaranya yang biasanya lembut berubah keras dan menuntut.


Andria terdiam, dia berpikir apakah aku harus menceritakan kepadanya pencarian tentang orang tuaku?


"Aku akan mengatakannya nanti". gumamnya, "Dan aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya".


Ronan menutup matanya, seakan Andria tidak mempercayainya, "Katakan. kepadaku. Sekarang ! Dia mengucapkan dengan jawaban menuntut. "Apa yang kau lakukan di Portland Andria !


Andria mengambil napas panjang...


"Aku...aku mencari orang tuaku". gumamnya, dan kebetulan saja aku bertemu dengannya di sana, Andria tidak tahu mengapa dia berbohong kepada Ronan, mungkin separuh dari ceritanya memang benar, karena Andria meninggalkan Alec dan dia sendiri yang menyusulnya ke Portland.


"Orang tuamu? ucap Ronan.


Andria kini memandangnya, "Aku mencari orang tua kandungku, terakhir yang kuketahui orang yang tahu keberadaan orang tuaku tinggal di Portland".


Ronan menutup matanya seakan kecewa, "Andria dengarkan aku, seharusnya kau mengatakannya padaku, aku bisa ikut denganmu mencari mereka, kau harusnya lebih terbuka dengan kami, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu".


Mata biru Ronan menatap Andria tajam, wajahnya sedikit pucat, dia baru saja sembuh dari demamnya. "Kau tidak apa-apa"? tanya Andria.


"Maksudnya? ucap Ronan.


"Bukankah kau baru saja sembuh dari demam"? kata Andria memperhatikan wajah Ronan.


"Aku baik-baik saja Andria, sekarang kita pulang". Entah mengapa aku begitu marah melihat kebersamaan antara Andria dan Alexander, perasaan apa ini? aku ingin menganggap Andria seperti adik Perempuanku sendiri, tetapi perasaanku kali ini lain yang kurasakan, membuatku ingin mencabik-cabik orang yang dekat dengannya. pikiranku terbang entah kemana, aku ingin menutupi perasaanku pada Andria yang terpaut 8 tahun usiaku dengannya, tapi...perasaanku tidak bisa berbohong, aku menyukai Andria.