Her Secret

Her Secret
Ingatan Andria 2



'Julia kecil merengek meminta kepada sang ayah agar dia dibiarkan bersama ibunya malam ini, dia merengek habis-habisan kepada ayahnya hingga ayahnya Peter menyerah, 'hanya malam ini sayang kau bisa menemani ibumu, anak kecil dilarang menginap di rumah sakit', Julia menyetujuinya. Langkah kaki itu membuat julia bersembunyi di bawah tempat tidur, perlahan dengusan terdengar dari seorang wanita. 'Kenneth saatnya kau pergi', kau sudah hidup cukup lama, tempatmu itu akan menjadi milikku, dia lalu tersenyum angkuh...


Malam itu Andria bermimpi buruk setiap kilasan masa kecilnya mulai terbuka lebar diingatannya, 'Mom? wanita itu....


suara-suara itu memanggil namanya, "Andria ! Andria bangun sayang kau bermimpi buruk". Alec membangunkan Andria dengan menggoyangkan sedikit tubuhnya, dia begitu terguncang, tubuhnya basah oleh keringat.


"Alec"? ucap Andria ketika matanya terbuka lebar menatap alec di keremangan cahaya lampu di kamarnya.


"Kau bermimpi buruk sayang"? ucap alec membawa tubuh Andria ke pelukannya lalu menepuk-nepuk punggung Andria hingga jantungnya yang berdegup kencang berangsur normal kembali.


"Apa yang kau mimpikan"? tanya alec menatap Andria yang menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di dada alec.


"hmm, hanya mimpi buruk konyol, aku tidak ingin mengingatnya kembali". ucap Andria yang memeluk erat Alec.


"Baiklah sayang tidurlah, atau kau ingin sesuatu yang lain? bisik alec ditelinga Andria dengan suara yang serak.


"Sesuatu yang lain? sesuatu seperti apa alec"? tanya Andria sedikit tersenyum.


"Kau mengerti apa maksudku sayang". bisik alec. Andria memukul lengan alec, "kau pria mesum". gumamnya.


"Hanya untukmu", bisik alec. Tiba-tiba saja Satu ciuman datang dari Andria membuat alec terkejut dengan serangannya, dengan terburu-buru Andria menarik t-shirt yang dikenakan Alec dari tubuhnya lalu Andria mendorong tubuh alec hingga tubuhnya jatuh di atas tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya, "Andria sayang? bisik alec yang masih terkejut dengan serangan Andria.


Malam itu Andria ingin menghilangkan mimpi buruknya, kenangan tentang ibunya dan rowena sedikit demi sedikit dapat diingatnya.


Malam itu tubuh mereka hanyut dalam pusaran gairah yang hebat membawa mereka berdua saling menyatu dan saling membutuhkan.


~


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi namun Andria belum mau bangkit dari tempat tidurnya, dia menutup matanya berpura-pura masih tidur, sedangkan Alec membuatkan sarapan pagi dan sedang mengenakan kemejanya.


'Ugh sial ! kenapa dia belum juga berangkat kerja', gumam Andria, dia begitu malu untuk bertatap muka dengan Alec pagi ini, serangannya semalam membuat tubuh Andria panas mengingat dirinya yang menjadi liar semalam.


"Andria kau belum bangun? sarapan pagi sudah siap sayang". ucap alec menghampiri Andria yang dengan cepat menutup kedua matanya.


"Andria? ucap alec, "Ok, aku pergi sayang". Ciuman mendarat dikening Andria dan alec melangkah dan membuka pintu kamarnya. Perlahan Andria membuka matanya setelah mendengar pintu kamar menutup dia kemudian bangkit dari tempat tidur dengan melilitkan selimut ketubuhnya yang tidak mengenakan apapun, rambutnya berantakan dan tubuhnya begitu letih.


Andria terkejut karena Alec berdiri di depan pintu kamarnya dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Got you"! ucap alec dengan tersenyum miring.


"Kau..kau belum pergi Alec"? geram Andria yang menahan rasa malunya, dia sangat ingin masuk ke dalam lubang untuk menyembunyikan dirinya sekarang juga, tatapan Alec seperti menari-nari senang melihat Andria salah tingkah dihadapannya.


"Alec! kau..."! Andria memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya, dia melangkah menuju kamar mandi dengan wajah memerah tetapi lengannya di tarik oleh Alec dan jatuh kedalam pelukannya.


"Aku melihat sisimu yang lain andria dan aku menyukainya". Andria mengerjap wajah alec hanya beberapa inci dari wajahnya, dia sangat menyukai wangi Alec yang bersih, "Apakah kau begitu malu padaku"? tanya alec.


"Aku akan segera pergi ke kantor dan Gery akan menjemputmu dari kampus untuk makan siang bersamaku". ucap alec yang Andria tahu ada kemenangan di wajahnya, dia ingin tertawa tapi takut Andria nanti marah, jadi sebisa mungkin Alec menjaga agar ekspresi senang terlihat normal di wajahnya.


Kecupan ringan mendarat dibibir Andria dan alec melenggang pergi meninggalkan Andria yang masih berdiri, Andria menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Aku pasti sudah gila", ucapnya.


~


Andria berjalan dengan gontai, mengapa dia bisa melakukan hal seperti itu? Apakah sikap mesum Alec menular padanya? Andria berjalan sambil mengingat-ingat kejadian semalam dan membuatnya merona.


"Andria, hei Andria". Seorang pria berlari ke arahnya, dengan senyum memukau dengan tubuh yang tinggi serta atletis yang menambah daya tarik dari pesonanya, rambutnya yang pirang dengan jaket kulit hitam dan jeans hitam yang robek di sana sini. Andria menatapnya dia sama sekali tidak mengenali pria yang memanggil namanya ini.


"Hai, kau Andria bukan? aku Kein, kau tahu kan"? dia tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam.


"Sorry? Em kau mahasiswa di sini? Ucap Andria, dia ingin berlaku sopan pada pria yang menganggap bahwa semua gadis di kampus ini mengenalnya tapi sepertinya gagal dengan nada sarkas di ucapannya.


"Erm, ya aku sejurusan denganmu", tiba-tiba wajahnya sedikit kecewa. "oh ya kau tahu tugas Mr. Albert bukan? dia menyuruh kita membaca buku dan jurnal tentang.... Suaranya tiba-tiba menghilang, dia melihat pria dengan setelan jas yang baru saja keluar dari mobil Sportnya dan matanya menatap tajam ke arahnya, dia menghampiri Andria dan mengecup keningnya. "Kau sudah selesai sayang". Ucap alec, Andria memberikan anggukan kepada alec.


"Dan..apakah ada masalah"? dia menampilkan wajah yang ramah tetapi matanya menatap tajam mahasiswa yang bernama kein. "Owh, erm tidak ada masalah, ok andria sampai ketemu lagi". Ucap Kein dengan menaikkan alisnya menatap alec yang memeluk pinggang Andria dengan posesif.


"Sampai bertemu lagi katanya"!? gumam Alec disertai dengan memandang kepergian kein dengan menyipit, "Aku ingin tahu siapa nama lengkapnya". ucap alec lebih kepada dirinya sendiri dibandingkan berbicara dengan andria.


Andria memutar matanya, "Kupikir Gery yang akan menjemputku"? tanyanya.


"Kau tidak suka aku yang menjemputmu"? kata Alec dia menaikkan alisnya satu. "Apakah kau masih malu"? goda Alec, Andria mencubit perut Alec dan menyembunyikan wajahnya di pelukannya. "Jangan membahasnya Alec, please". gumam Andria yang merasa Pipinya memanas.


~


"What !? Alec tidak memberitahuku kalau pernikahannya di adakan 2 Minggu lagi ayah"! kata Andria panik.


"Dia ingin pernikahannya segera di laksanakan sayang, kau tidak usah risau biar ayah dan nenek yang mempersiapkan segalanya sayang". Ucap ayahnya yang mengusap kepala andria, mereka bertemu di restaurant untuk makan malam, saat ini alec sedang lembur jadi dia tidak bisa ikut bersama Andria.


"Tapi, sebaiknya kau erm..tinggal bersama kami sampai pernikahannya selesai Andria, kau harus berada dirumah, ibu mengatakan kepadaku kalau kau harus bersama kami sebelum hari pernikahanmu, begitu kata nenekmu". Ucap Peter setengah tersenyum.


"Tentu ayah aku juga berpikir seperti itu, aku akan menelepon Alec setelah tiba di rumah nanti". Tapi Alec belum tentu sependapat dengan neneknya. Pikir Andria sambil menyuap makanan di mulutnya dan membayangkan Alec yang mengamuk ketika tidak mendapati Andria di mansionnya.


~


"Aku harus mengatakan kepadamu bahwa rencana kita harus sempurna, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun, kau mengerti "! Mereka akan menikah sebentar lagi, mereka pikir aku akan membiarkan putri dari wanita itu mendapatkan kehidupan yang penuh kemewahan, dia harus kembali ke tempat seharusnya, panti asuhan dan hidup sebatang kara sudah di rasakannya jadi, tentu saja aku akan merenggut kebahagiaannya, aku tidak akan membiarkan gadis itu bahagia.


"Jadi, apa rencanamu honey, aku sudah cukup sibuk karena suamimu itu". Dia memegang gelas dan duduk di dekat perapian menatap lapar wanita yang berdiri dihadapannya dengan baju setengah terbuka pada bagian dadanya.


"Kita akan melakukan seperti rencanamu sayang". Senyumnya, dia melangkah dengan tatapan menggoda, tanpa mengetahui seseorang berdiri di balik pintu kabinnya di dekat hutan kecil di dekat kediaman Anderson.