
"Kau sinting !"
Alec memicingkan matanya. "Sinting? Kau bisa lihat bagaimana sintingnya aku." tangannya masih memegang tangan andria, dia menarik Andria menuju mobilnya yang sedang terparkir.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku !"
Andria menarik tubuhnya sekuat mungkin tetapi alec sama sekali tidak bergeming dia terus membawa Andria menuju mobilnya.
"SIR, kalau kau membawaku ke mobilmu aku akan menelepon polisi dan menuduhmu menculikku !" teriak Andria.
"Kau boleh meneleponnya setelah kita makan siang." Jawab Alec Santai. Mereka akhirnya berdiri di depan mobil Mercedes, mereka saling menatap.
"masuk ke mobil Andria." Perintah Alec.
"Tidak ! aku ingin pulang, kenapa aku harus makan siang denganmu ?" teriak Andria dia betul-betul marah pada pria ini.
"Karena aku ingin andria !" mulutnya melengkung membentuk senyuman.
"Masuklah, dengarkan aku, setelah makan siang kau boleh pergi." Dia memberikan setengah senyum pada Andria.
Andria sangat marah dia menggigit bibirnya hingga memerah, baru kali ini seseorang memaksanya seperti ini dan dia merasa tidak berdaya, dia lebih kuat dari pada Andria. Mulutnya menyentak menutup, dia memutar matanya lalu akhirnya masuk kedalam mobil.
Sedikit senyum kemenangan diwajah Alec, akhirnya mereka masuk ke mobil setelah hampir satu jam mereka bertengkar di taman. Andria tidak memandangnya sama sekali, pria itu duduk dengan santainya sambil memainkan ponselnya, dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan andria yang memasang wajah permusuhan menatapnya dengan benci.
"Kita ke Alturra restauran di dekat space neddle Gery." Kata Alec tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Baik tuan". Dia sedikit mengerling Andria yang menatap ke arah luar jendela.
Andria betul-betul mengacuhkannya, mereka ke restoran yang dituju dengan diam, beberapa saat kemudian mereka tiba di dekat menara Seattle neddle, mobil itu terparkir di sebuah restoran yang mewah, Alec turun dari mobilnya tetapi dengan cepat Andria membuka pintu mobil, lalu menendang mobil Mercedes alec dengan keras, dengan kecepatan penuh dia berlari keluar dari parkiran restoran dan berlari ke jalan, Andria berlari sejauh mungkin dan akhirnya menemukan bis yang berhenti di halte dan segera naik lalu sembunyi.
Andria mengacuhkannya dan segera pulang, dia kali ini harus waspada jika bertemu pria pemaksa itu. Andria akhirnya tiba, dia turun dengan cepat dan berlari cepat menuju rumah Mrs Weltson.
Dari kejauhan nyonya Weltson melihat Andria berlari dengan terburu-buru.
"Ada apa dear? kenapa wajahmu sangat merah?" tanyanya khawatir.
Andria mengatur napasnya. "A..aku hanya sedikit berlari." Dengan cepat Andria masuk ke kamarnya mencoba menormalkan detak jantungnya.
"Pria sialan itu..aku harus berhati-hati jika bertemu lagi dengannya, ugh semoga tidak." desisnya. Segera Andria berganti pakaian dan keluar dari kamarnya, dia harus mengantar Beberapa pesanan yang datang.
"Makan siang dulu sayang, setelah itu kau bisa mengantarkan pesanan yang datang." Mrs.Weltson menyiapkan makan siang untuk Andria. Dengan lahap Andria menghabiskan makanannya, lalu memakai celemek hitam dan memakai helmnya.
"Antarkan di alamat ini sayang." Kata Mrs Weltson memberikan beberapa kertas kepada Andria. Dia mengangguk dan segera membawa beberapa bungkusan dan memasukkannya kedalam kotak besar di belakangnya.
Andria mengantarkan pesanan pertama di arah 75 street, pemukiman padat yang dihuni oleh beberapa warga negara asing dengan berbagai rumah kumuh dan mobil truk. Setelah itu dia pergi ke alamat berikutnya di jalan South Seattle 23 menit perjalanan, Andria tiba di sebuah penthouse mewah, dia memencet bell dan seketika pintunya terbuka, dengan ragu Andria masuk ke pintu depan.
"Hallo? pesanan anda sudah tiba." Sangat luas dan mewah, Andria berdiri dengan kikuk menunggu seseorang datang.
"Masuk !" terdengar suara berat seorang pria dari dalam.
Andria mengernyitkan alisnya, masuk? dia lalu masuk ke penthouse itu, dan menatap seseorang dari balik kertas-kertas yang di pegangnya.
"Kau betul-betul membuatku marah Andria." Alec menurunkan kertas yang menutupi wajahnya dengan rahang terkatup rapat dan menatap Andria yang balas melotot memandangnya.
@
Jangan lupa di coment ya๐biar author lebih semangat nulisnya ๐