Her Secret

Her Secret
Terperangkap pada 2 orang pria



Lalu lintas begitu lengang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 1 malam, Alec bersedekap menatap rumah dari kejauhan nampak kamar dari lantai 2 sudah gelap, entah mengapa dirinya begitu gelisah memikirkan Andria tinggal serumah dengan seorang pria, jarinya mengetuk-ngetuk di dashboard mobilnya memikirkan cara agar Andria keluar dari rumah itu.


Setelah merawat Ronan Andria membuat bubur, dia pandai membuatnya dan rasanya juga lumayan enak, sewaktu di panti Andria selalu membuatnya ketika temannya ada yang sedang sakit.


Dia kemudian mengantarkan bubur yang dibuatnya ke kamar Ronan, tanpa mengetuk dia menaruh nampan itu diatas meja. Ronan masih memejamkan matanya, "demamnya sudah turun", gumamnya sambil memegang kening Ronan.


Andria mencoba membangunkannya dan duduk di tepi tempat tidurnya. "Kau harus bangun dan Makan bubur, setelah itu minum obat ini". kata Andria menggoyangkan bahu Ronan yang bidang.


Ronan membuka matanya, dia lalu mencoba untuk duduk dan bersandar. Ronan memandangi Andria yang duduk didekatnya. "Kau mau menyuapiku Andria? tanyanya. Andria perlahan mengangguk dan mengambil sesendok bubur dan sedikit meniupnya setelah itu dia menyuapi Ronan, Tidak ada pembicaraan diantara mereka hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.


Setelah meminum obatnya Ronan kembali berbaring, dan terus menatap ke Andria yang akan membereskan peralatan makan Ronan.


"Andria, terima kasih sudah merawatku". Gumamnya pelan. Andria tersenyum tipis dia kemudian mengangguk dan keluar dari kamarnya. Setelah membersihkan peralatan makan di dapur Andria masuk kedalam kamarnya, dan melihat ponselnya berdering di atas nakas, Andria mengambilnya dan menatap nomor yang tidak kenal sudah meneleponnya 21 kali.


"Siapa yang menghubungiku"? gumamnya. Sekali lagi ponselnya berdering dengan nomor yang sama, akhirnya Andria mengangkatnya, "Halo, siapa ini? tanyanya.


"Aku berada di luar, kenapa kau lama sekali mengangkat teleponku? turunlah ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu". Andria memejamkan matanya jengkel, pria itu benar-benar tidak kenal waktu. Dia memakai jaketnya berwarna biru gelap dan membiarkan rambut panjangnya tergerai, dia mengeratkan jaketnya di tubuhnya karena udara dingin menyambutnya.


Mobil Mercedes hitam terparkir tidak begitu jauh dari rumah Mrs Weltson dia membuka sedikit kaca mobilnya ketika melihat Andria menghampirinya. "Masuk Andria". Kata alec dari dalam mobil.


Dengan ragu Andria membuka pintu mobilnya dan duduk di sebelahnya. "Apa yang ingin kau bicarakan? kenapa tidak besok saja". Kata Andria tanpa memandangnya.


Alec memutar badannya menghadap Andria dan menatapnya, "Aku tidak punya banyak waktu, besok pagi aku akan ke Manhattan, mungkin dua hari lagi akan pulang". Kata alec masih menatap Andria tajam. "Apa yang ingin kau bicarakan"? tanyanya. Wajah Andria kini berbalik menatap alec, mereka saling memandang cukup lama.


"Kalau tidak ada aku pergi". Kata Andria yang akan membuka pintu mobilnya tetapi dengan cepat alec menguncinya. Andria berbalik dengan pandangan heran. "Buka ! kata Andria marah, "Apa yang ingin kau katakan". Tubuh Andria seketika mundur hingga menempel erat pada pintu mobil.


Tanpa menunggu lagi Alec menyerang bibir Andria dan menarik kuat tubuhnya hingga tanpa sadar Andria sudah berada di atas pangkuan alec, Andria memberontak dan mendorong tubuh alec tetapi tangannya begitu kuat mencengkram tubuhnya sehingga pinggangnya terasa sakit.


Andria kewalahan menerima ciuman alec, dia masih memukul-mukul dadanya dan mendorong tubuhnya, "Jangan Bergerak-gerak Andria atau aku tidak akan menghentikan diriku dan menyerangmu di mobil ini sekarang juga". Desisnya.


Tanpa perduli perkataan alec Andria terus melawannya dia berusaha menghindari ciuman dari alec sehingga membuatnya menggeram, wangi dari tubuh Andria membuatnya lupa diri dia mengecup lehernya yang putih dan memberikan kissmark, suara desahannya lolos dari bibirnya membuat alec sedikit tersenyum.


Napas keduanya memburu, Alec masih memeluk Andria dipangkuannya, menatap langsung ke manik matanya. "Kau sungguh mempesona Andria, kau begitu menggodaku". Andria bergetar, tubuhnya begitu lemah setelah serangan alec, "Aku ingin keluar dari sini". gumam Andria terbata, Alec menyadari tubuh Andria bergetar di atas pangkuannya. Dia dapat merasakan jantung Andria berdetak kencang, dadanya menempel erat dipelukan alec.


"Lepaskan aku". Kata Andria yang menghembuskan napas panas ke wajah Alec membuat Alec semakin tergoda, "Kita akan bertemu lagi Minggu ini, setelah aku kembali dari Manhattan". Suaranya serak berbisik di telinga Andria.


Andria hanya diam, bepergian dengannya sebenarnya bukan ide yang bagus, dia akan menyerangku kapan saja jika aku pergi bersamanya. "Katakan ya Andria". Kata Alec tajam menatapnya, "Aku akan menurunkanmu dari pangkuanku jika kau mengatakan ya". Andria seketika mengangguk, Alec tersenyum puas dia lalu melepaskan Andria ke tempat duduknya.


"Minggu jam 8 pagi aku menunggumu di apartemenku". Andria mengangguk dan membuka pintu mobilnya, dia betul-betul sangat marah, pria itu memperlakukannya dengan seenaknya. Alec juga keluar dari mobilnya dan mencekal tangan Andria Ketika dia ingin kembali ke dalam rumah.


Dia menarik tubuh Andria dan memperbaiki jaketnya agar melekat erat ditubuh Andria. "Selamat malam Andria". Dia mengecup keningnya. Mereka saling tatap dan Andria kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh kepada alec sedikitpun.


Napas Andria memburu, jantungnya berdegup sangat kencang, dia memegang bibirnya yang bengkak dan masih terasa panas. Andria mematikan lampu dapur dan naik keatas tangga seketika dirinya dikejutkan dengan Ronan yang bersedekap dan bersandar di depan kamarnya.


"Mengapa pria itu datang pada jam seperti ini Andria? aku masih tidak mengerti apa hubungan antara kau dengan Mr. Alec". Ronan memandang tajam Andria yang menunduk dan menatap dengan jelas tanda kemerahan di leher andria. Wajahnya seketika menegang. "Apa yang dia lakukan padamu"?! Ronan maju beberapa langkah tepat dihadapan Andria. Tanpa ragu dia memegang dagu Andria dan mengangkatnya, tampak bibir Andria yang kemerahan dan bengkak. Ronan menutup matanya, "Apakah dia melakukan sesuatu padamu?


Andria melepaskan tangan Ronan dari dagunya."tidak ada yang terjadi padaku, aku ngantuk". gumamnya. Ronan masih Berdiri dihadapannya, tangannya seketika menarik kembali dagu Andria dan mengusap bibirnya dengan jempolnya, "Dia menciummu bukan"?


"Lepaskan aku". Bentak andria, "Apakah dia melakukannya seperti ini"!? Ronan yang marah mendorong Andria ke tembok dan menciumnya, Andria begitu terkejut bibirnya seketika sudah dipagut dan dilumat oleh Ronan, dia menggerakkan tangannya di pinggang Andria dan merekatkan pelukannya. Andria memukul-mukul lengan Ronan yang menguncinya, Andria tidak bisa bergerak, bibir Ronan dengan kasar menciumnya tanpa kelembutan sedikitpun.


Ronan menciumnya tanpa jeda sedikitpun sehingga tanpa ia sadari Andria jatuh pingsan . Ronan memegangnya, "Andria..andria". Kemudian dia mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur. Ronan mengacak rambutnya mengutuk dirinya sendiri. "Apa yang sudah aku lakukan"?