Her Secret

Her Secret
Berkeliling di Seattle



Andria memakai headphonenya mengelilingi beberapa bangunan yang sangat dikenalnya, St. Gardenia, nama tempat itu tentu sangat melekat erat dikepalanya, di tempat itulah dia menghabiskan waktunya, tepatnya panti asuhan itu bernama St. Gardenia.


Matanya menerawang menatap bangunan tua yang sudah mengelupas itu, beberapa kali sehari pasokan makanan masuk ke tempat itu, meskipun Andria menutup matanya, Andria tahu menu makanan yang akan mereka sediakan.


Andria tidak ingat sama sekali mengapa dia berada di panti asuhan itu, tiba-tiba saja usianya 10 tahun dan tinggal di sana. Andria hanya ingat salah satu orang tuanya berasal dari Asia tepatnya Jepang, selebihnya dia tidak ingat sama sekali.


Dia memakai topinya dan beranjak dari tempat itu, hanya sedikit kenangan yang menyenangkan dari tempat tinggalnya dulu, selebihnya perkelahian.


Andria berhenti di sebuah etalase yang memajang beberapa perlengkapan ski, dia memandangi tempat itu, lalu mengendarai kembali sepedanya.


Mungkin aku tidak akan mengikuti pelajaran ski kali ini, aku sama sekali tidak memiliki perlengkapan itu. Biarlah, aku bisa menghabiskan waktuku mengelilingi toko buku yang ada di Seattle. pikir Andria.


Sebuah Mercedes berwarna hitam berhenti tidak jauh dari sepeda Andria yang menatap etalase perlengkapan ski, dia menunggunya sewaktu pulang dari sekolahnya.



Dia menatap apa yang Andria tatap, dia menyandarkan bahunya dikursi dan menatap peralatan ski di toko itu, "Apakah dia ingin pergi berski?" gumam Alec.


Adria menyandarkan sepedanya lalu memesan makanan dari pinggir jalan, duduk di salah satu bangku yang kosong menikmati burger dan sebotol air mineral sambil menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang di pusat kota Seattle.


"Mengapa dia makan di tempat seperti itu?" kata alec mengerutkan alisnya memandang truk kecil yang menjual beberapa makanan siap saji dengan harga sangat terjangkau. Telunjuknya berada dikepalanya memperhatikan setiap gerak gerik Andria.


Matanya masih memandang truk kecil itu, dengan garis kecil di pelipisnya. "Gery singkirkan truk makanan itu, aku tidak mau setiap hari dia makan makanan kotor itu." Bentaknya.


"Baik tuan Alec."


~


Ronan sangat sibuk di kantornya sampai-sampai setiap hari menjelang tengah malam dia baru pulang kerumah, kali ini ibunya berlama-lama di Texas, menitipkan Andria padanya, meskipun tugas itu tidak mudah menjaga seorang anak remaja merupakan hal sulit dan harus sesekali menekan kemarahan.


Andria baru saja pulang, melihat rumah itu terbuka tentu saja Ronan sudah pulang beberapa hari ini dia selalu pulang tengah malam, mungkin dia begitu sibuk di tempat kerjanya tapi Andria tidak begitu perduli, dia menyandarkan sepedanya di gudang lalu menyeret tas sekolahnya.


"Hai, kau sudah pulang Andria." Tanya seseorang di dapur yang sedang menyiapkan makanan untuk makan malam. Andria berbalik menatapnya, dan menatap dua orang pria dan wanita yang sedang duduk di sofa sambil menyesap secangkir kopi.


"Hai Andria lama tidak berjumpa." Tanya Riley yang tersenyum miring kepadanya, seorang wanita cantik dengan kemeja biru laut dan rok pensil ketat tersenyum pada Andria, rambut merahnya menjuntai di bahunya yang ramping.


"Hey Andria, senang berjumpa denganmu." Dia tersenyum, andria menatapnya dan setengah tersenyum untuk menjaga sopan santun di rumah ini. "Ngomong-ngomong kau sangat cantik Andria." Serunya.


Andria sedikit tersenyum menaikkan bahunya dan langsung menaiki tangga coklat menuju kamarnya. "Sebentar lagi makan malam Andria kami menunggumu." Teriak Ronan.


Andria meletakkan tasnya begitu saja di lantai, membaringkan tubuhnya yang kelelahan, sesuatu membuatnya terasa janggal di kantung Jeansnya. Dia mengambilnya lalu membaca alamat di kertas itu, pria bernama Alferd mengundangnya ke pesta, apa yang diinginkan pria rugby itu? aku sama sekali tidak mengenalnya. Apakah aku harus pergi? pikir Andria.