Her Secret

Her Secret
Tamu yang tidak diharapkan



Suasana di kediaman Alexander nampak begitu bahagia, ketegangan dan ketakutan yang selalu mewarnai keluarga ini telah berganti dengan kebahagiaan yang hadir di tengah-tengah mereka.


Suara kein terdengar berlari-lari, dia baru saja pulang dari sekolahnya, seketika kein membuka pintu rumah sambil berteriak-teriak memanggil ibunya.


"Mommy? Mom..." Teriak kein sambil berteriak memegang kertas selembar dari tangannya.


Dia menghambur ke ibunya yang berada di ruang bersantai bersama Abel, Andria berbalik lalu tersenyum menatap putranya yang baru saja pulang dari sekolah.


"Mommy? Lihat..hari ini nilaiku 100 mom." Teriak kein melompat senang.


Andria mengecup pipi putranya dan memujinya, "Putraku memang sangat hebat." Ucap Andria menatap tawa kein sambil melompat-lompat senang, Abel yang melihat kakaknya begitu gembira ikut berteriak dan tertawa-tawa.


"Waktunya makan siang sayang." Ucap Andria mengajak kein ke meja makan, putranya ini harus di temani jika makan siang tiba, jika tidak dia akan makan sedikit saja setelah itu dia berlari meninggalkan makanannya yang hanya beberapa suap saja yang masuk ke mulutnya.


Seorang pelayan datang ke ruang makan lalu menghampiri Andria.


"Nyonya ada tamu yang datang, dia sedang menunggu di ruang tamu."


"tamu?? baik, saya akan segera ke sana." Ucap Andria meninggalkan kein di meja makan sendirian.


Wanita itu duduk di sofa empuk berwarna krem sambil memegang beberapa mainan yang di bawanya, dia berjalan mengelilingi ruangan itu dan sedikit melengkungkan bibirnya ketika melihat foto Andria yang terpajang di dinding bersama suami, putra dan putrinya.


Dia masih memandang pemandangan dihadapannya sambil melipat kedua tangannya. 'sebentar lagi foto ini akan tinggal kenangan.' gumamnya.


Dia tidak menyadari kedatangan Andria yang datang, dia sudah berada di belakangnya beberapa waktu sambil memperhatikan sosoknya.


Andria menatapnya, wanita ini berpenampilan seperti dirinya, rambutnya pun hampir begitu mirip dengan warna rambutnya coklat kehitaman.


"Apa yang kau lakukan di rumahku?" Ucap Andria tanpa basa basi dengan memberikan wajah datar patennya dan tangannya bersedekap menatap wanita itu yang terkejut, dia lalu tiba-tiba berbalik mendengar asal suara.


Dia mundur Sebentar, wajahnya melongo keheranan, tatapan matanya seakan tidak percaya apa yang dilihatnya di depan matanya.


"Bagaimana bisa?" Ucapnya.


Jessy melangkah mendekati Andria agar dapat melihat dengan jelas wajah Andria yang menatapnya dengan mengerutkan alisnya.


"Kau harusnya sudah mati Andria, siapa kau?" Ucap Jessy masih dengan pandangan tidak percaya dan tidak suka dengan adanya Andria yang berdiri di hadapannya.


Andria memutar matanya, "Aku tidak perlu menjelaskan siapa aku, kau sudah lihat dengan jelas siapa yang berdiri dihadapanmu." Ucap Andria masih melipat kedua tangannya menatap Jessy dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


"Apa yang kau lakukan dengan penampilanmu? Kau tidak gila?" Ucap Andria, dia tahu wanita ini selalu mengganggu Alec dan berusaha mendekati kein dan Abel.


"Mengapa kau selalu menghalangi jalanku Andria? Kau harusnya sudah mati dan tenang berada di sana." Ucap Jessy menggeleng.


"Sayang sekali aku mengecewakanmu, lagi pula kata-kata itu seharusnya di tujukan kepadamu, mengapa kau selalu mengganggu ketenangan di keluargaku?" Ucap andria.


"Sebaiknya kau keluar dari rumahku, sekarang!!" Ucap Andria.


"Aku akan pergi setelah aku bertemu dengan kein dan abel, aku merindukan mereka." Ucap Jessy menyebalkan dan menantang Andria.


"Kenapa kau mau bertemu dengan anak-anakku, kau pikir siapa dirimu? Kau betul-betul tidak punya malu? Jangan membuatku marah keluar dari rumahku, sekarang!!" bentak Andria mencoba menahan amarahnya.


"Aku akan bertemu kapanpun.....


Langkah kaki yang besar membuat Andria berbalik, dan rupanya mertuanya nyonya Alexander telah menghampiri Jessy dan memberikan tamparan telak di pipinya begitu keras, membuat Andria terkejut.


"Keluar. Sekarang !!! Atau aku akan memanggil polisi sekarang juga!" Teriak Nyonya Alexander.


Wajah Jessy menjadi gugup, dia memegang pipinya yang habis di tampar.


Pintu depan terbuka dan alec baru saja datang, dia cepat pulang hari ini dari kantornya, dia begitu terkejut mendapati Jessy berada di rumahnya.


"Apa yang kau lakukan di rumahku." Ucap alec dengan wajah terheran-heran dan melihat ke arah Jessy seakan dia gila.


"Alec, aku....kumohon berikan aku kesempatan." Ucapnya, dia menuju ke arah Alec ingin melakukan sesuatu agar membuat cemburu Andria tapi alec menatap jijik padanya dan segera berjalan menuju kepada istrinya andria dan berdiri di sampingnya.


"Kau wanita gila." Ucap nyonya Alexander dengan pandangan mata membunuh.


"Gery ! Gery!" Teriak ibu alec, dia begitu kesal melihat wanita tidak tahu malu ini. "Bawa wanita ini pergi dari rumahku sekarang juga!" Gelegar suara ibu alec, dia betul-betul tidak tahan menatap wanita yang berdiri dengan pandangan penuh harap kepada alec.


"Ada apa denganmu, dasar wanita sinting, apakah kau harus sesinting itu dengan tidak tahu malu datang kerumah ini, ingin mengganggu ketenangan keluarga kami, dasar perempuan jalang." Ucap nyonya Alexander bertubi-tubi sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.


Jessy menatapnya tanpa ekspresi, dia di bawa oleh gery dan beberapa penjaga dan menariknya keluar dari tempat itu, terakhir sebelum dia pergi, Jessy menatap wajah alec yang mengernyitkan wajah kepadanya sambil memeluk tubuh Andria di sampingnya. Dia akhirnya keluar dari mansion alec dengan harapan yang sudah mati.


"Dasar wanita gila, dia membuatku betul-betul geram, baru kali ini aku melihat wanita seperti itu." Ucap ibu Alec mengomel, tidak lupa dia memanggil semua para penjaga yang berdiri di sana dan memperingatkan mereka untuk tidak membiarkan wanita itu masuk lagi ke mansion.


"Jadi, dia berusaha mendekatimu ketika aku tidak ada?" Tanya Andria menyipitkan matanya kepada alec.


"Ya, dia mencoba, tapi dia membuatku takut." Ucap alec memeluk erat tubuh Andria dan merinding memikirkannya.


"Kau pulang cepat sayang." Ucap Andria sambil memeluk pinggang alec.


"Ya, aku akan menyelesaikan pekerjaanku di rumah, aku ingin segera bersama denganmu." Ucapnya sambil mengecup beberapa kali bibir Andria yang menatapnya.


Nyonya Alexander belum berhenti mengomeli para bodyguard yang teledor membiarkan wanita itu masuk ke dalam rumahnya.


"Sepertinya ibu betul-betul membencinya." Ucap alec mendengar Omelan ibunya yang tidak berhenti-berhenti.


"Sebaiknya kita makan siang sekarang sayang, kau pasti lapar." Ucapnya. "Oh ya, hari ini kein mendapatkan nilai tinggi dari sekolahnya lho."


"Benarkah? Karena dia putraku dia pasti mewarisi otakku." Ucap alec sambil menggandeng Andria menuju ke ruang makan.


Suasana kembali tenang setelah kedatangan Jessy yang betul-betul membuat nyonya Alexander naik darah setiap kali perempuan itu di bicarakan, mereka semua duduk di meja makan sambil berbincang-bincang. Suara langkah kaki yang mendekat membuat alec berbalik.


"Tuan ada telepon dari kediaman tuan Anderson."


Alec dan Andria segera menerima telepon.


Sudah beberapa kali Andria bolak balik dari rumahnya ke rumah ayahnya, tapi tuan Anderson belum sadar juga, dia akhirnya menerima teleponnya dan memberitahukan kalau tuan Anderson telah sadar dari komanya. Mereka semua segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah ayahnya, Andria begitu senang mendengar kabar tentang ayahnya, mereka semua berangkat bersama-sama menuju ke Vancouver.