Her Secret

Her Secret
Kediaman Anderson



Hari ini merupakan hari penting buat Andria karena sebentar lagi dia akan tinggal di kediaman keluarga Anderson, setelah pertemuan dengan ayah kandungnya, Andria akhirnya memutuskan akan tinggal bersama ayahnya.


Kediaman anderson membuat Andria ternganga, di desain begitu klasik dengan gaya istana kastil Perancis yang megah, rumah besar itu memiliki masing-masing pilar di setiap sudutnya, dengan gaya arsitektur dan interiornya yang megah.


Untuk masuk ke kediamannya saja kita harus melewati pagar besi yang begitu tinggi setelah itu melewati pepohonan yang ditata sedemikian rupa begitu indah, setelah itu kita dapat melihat air mancur yang berbentuk bundar, lalu beberapa anak tangga hingga sampai di depan pintunya yang besar.


Andria menatap tempat itu, setelah berpamitan dengan Melia yang menangis tersedu-sedu, Andria ingin menemui doughlas tetapi sampai hari ini Andria belum bertemu dengannya.


"Kita telah sampai sayang". Peter tersenyum menatap Andria yang masih keheranan dengan bangunan yang ada di hadapannya. "Ini akan menjadi rumahmu Julia, mulai sekarang kau akan tinggal di sini". Andria sedikit mengernyit jika dipanggil dengan nama Julia, meskipun nama itu adalah nama kecilnya, dia masih belum terbiasa.


Peter mengantar Andria masuk ke dalam rumahnya, di sana telah berdiri seseorang yang siap mengomelinya jika putranya jarang pulang ke rumah.


"Peter kau kemana saja, ibu sangat khawatir berapa lama lagi ibu tua ini selalu khawatir padamu dan..., Ucapannya terhenti dia menyadari seorang gadis berdiri di belakang punggung Peter.


Dengan rambut yang di gulung sangat rapi serta kacamata berbingkai dia memandang lekat-lekat wajah gadis di belakang Peter.


Dia begitu terkejut kakinya tiba-tiba melemah, "Julia?...julia Cucuku"? ucapnya dengan suara gemetar.


Dia melangkah dengan perlahan, tanpa ragu dia langsung memeluk Andria, "Kau julia, cucuku yang kusayangi, cucu kesayanganku mengapa kau baru muncul sekarang"! Andria balas memeluknya. "Aku ini nenekmu yang merawatmu ketika kau kecil, ketika ibumu telah meninggal dunia, kau tidak mengingat nenekmu ini"? tanyanya.


"Ibu sudahlah Julia butuh istirahat, kami baru saja tiba". kata Peter memegang ibunya yang sedang menangis.


Andria merasa begitu asing berada di sana padahal mereka adalah keluarganya. Bunyi sepatu yang menggema di tempat itu membuat Andria berbalik seorang wanita cantik berjalan dengan wajah keheranan menatap pemandangan di depannya, wajahnya mengernyit menatap Andria. 'Bukankah dia pernah makan malam bersama Mr. Alexander'? gumamnya pelan.


Semua orang berbalik melihat kedatanganya, "Ada apa ini? siapa gadis ini, mengapa dia ada di sini Peter"? tanyanya.


Peter ingin menjawabnya tetapi sudah di dahului oleh ibunya Mrs, Anderson. "Dia adalah Julia cucuku, cucu kandungku". Katanya sengit.


Wajahnya seketika memucat membuat sudut bibirnya sedikit terangkat, "Apa maksudmu dengan Julia? bukankah dia....


Wanita itu memandang wajah Andria dan sekilas dia akhirnya mengerti, mengapa dia seperti pernah melihat wajahnya, dia sangat mirip Kenneth, istri pertama dari peter. "Bagaimana bisa? apakah benar dia Julia? Kau sudah memastikannya Peter"? tanyanya dengan wajah tidak suka.


"Dia putriku Julia, aku sudah menduga pertanyaan ini akan datang pada akhirnya, aku sudah mencocokkan DNA kami dan hasilnya positif dia adalah putriku Julia.


"Lauren bawa nona Julia ke kamarnya, biarkan dia istirahat".


"Baik tuan". Peter tersenyum menyakinkan kepada Andria, ia mengikuti pelayan itu ke lantai atas menuju kamarnya.


"Nenek akan menyiapkan semua kebutuhanmu julia sayang", katanya dengan semangat. Ia kemudian pergi dan memanggil beberapa pelayan untuk ikut dengannya berbelanja.


Peter hendak pergi, tetapi wanita itu memegang lengannya, "Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau sedang mencari Julia? aku bisa membantumu, aku istrimu Peter, mengapa tidak pernah sekalipun kau menganggapku"? mengapa Peter"? Dia memeluk tubuh Peter, tetapi kedua tangannya dilepas begitu saja.


"Rowena ! seharusnya kau bertanya kepada dirimu sendiri mengapa aku seperti ini? hanya itu yang dikatakannya, dia meninggalkan istrinya yang sedang berdiri menatapnya sambil menahan tangisnya.


~


Andria menatap foto berukuran begitu besar yang menempel di dinding di atas tempat tidurnya, seorang gadis cilik yang sedang tersenyum manis, umurnya sekitar 5 atau 6 tahun, wajah ketika Andria kecil yang sedang tersenyum bahagia.


Andria melangkah ke balkon kamar itu menatap pemandangan yang indah dari atas kamarnya, dengan tempat duduk panjang yang berayun yang menghiasi balkonnya.


Dia duduk di sana, sambil memikirkan sesuatu begitu penting, mengapa ingatan masa kecilnya tidak bisa diingatnya? setiap Andria berusaha keras untuk mengingatnya kepalanya kembali berdentum dan sangat sakit.


"Apa sebenarnya yang terjadi waktu itu"? ucap andria. Dia menutup matanya dan menikmati udara yang berhembus di sekitarnya.


Andria merasa asing untuk pertama kalinya andria tidur di tempat ini meskipun sekarang kamar itu sudah menjadi miliknya, kamar yang begitu luas, dia mematikan lampu kamarnya dan hanya menyalakan lampu tidur di sampingnya.


Wajah alec tiba-tiba muncul di kepalanya, hatinya terasa sakit, meskipun begitu perasaan Andria tidak bisa di bohongi, dia merindukan Alec dan juga membencinya. Andria menghembuskan napasnya lalu menepuk bantalnya agar rasa kantuknya segera datang.


~


Alec masih bekerja di kantornya, bunyi ponselnya membuatnya meliriknya sebentar kemudian menjawabnya.


"Bagaimana? tanya alec.


"Sejauh ini masih baik-baik saja sir, dia sekarang berada di kamarnya".


"Ok, segera hubungi aku jika kau mendapatkan informasi yang lain". perintahnya.


"Baik sir".


Alec menempatkan mata-matanya di kediaman keluarga Anderson, bukannya dia tidak percaya kepada ayah kandungnya sendiri, dia pasti menjaga Andria dengan baik, tapi ada sesuatu yang membuat alec merasa Andria tidak aman berada di sana, kasus 10 tahan yang lalu masih belum terpecahkan sepenuhnya, dia khawatir jika terjadi sesuatu pada Andria.


Suara langkah kaki di kegelapan malam, dia berjalan sepelan mungkin berhati-hati agar tidak ada seorangpun yang mendengarnya, dia terus berbalik dan menatap jika saja ada yang melihatnya, dia masuk lebih dalam ke arah taman yang lebat serta pepohonan.


"Kau datang juga, kenapa kau begitu lama"? ucap pria itu, Rowena lalu melingkarkan kedua tangannya di bahu pria itu. Sebuah kecupan singkat diberikan Rowena kepada pria yang berdiri di hadapannya.


"Kau yakin tidak ada seorangpun yang melihatmu"? tanya pria itu.


"Tentu sayang, kau tidak mengenalku aku selalu berhati-hati di setiap langkahku, aku memanggilmu kita harus bergerak cepat jika rencanaku ini gagal maka rencanamu yang berikutnya sayang.


"Kita sering melakukannya sayang, kau yakin? kata pria itu berbisik di tengkuknya.


"Harus berhasil, aku harus bertindak cepat, Julia telah kembali setidaknya aku harus memiliki keturunan Anderson bagaimanapun caranya".


"Bagaimana jika tidak berhasil"? kata pria itu lagi.


"Kita sesering mungkin melakukannya honey, jika aku tidak hamil, maka rencanamu yang akan kita lakukan berikutnya, kau mengerti sayang"! Sebuah ciuman panjang membuat keduanya terbuai di keremangan malam