Her Secret

Her Secret
Lucy si gadis pirang



Angin segar menerpa wajahku meskipun dingin tetapi aku melangkah kembali ke rumah Mrs Weltson dengan sedikit senyum, setelah pertemuanku dengan gun wu, membuat hatiku sedikit lebih terhibur olehnya, kami hidup bersama-sama di panti St. Gardenia begitu lama sejak umurku 10 tahun sehingga aku menganggapnya seperti adik laki-lakiku sendiri, usiaku lebih tua tiga bulan dari gun wu, kami melewati hari-hari di sana bersama, dia banyak membantuku begitupun aku sebaliknya, dia satu-satunya orang yang tidak menjauhiku ketika mendengar tentangku.


"Kau terlihat senang Andria, kenapa"? Dia berdiri di sudut jalan sambil bersandar di mobilnya, dengan jas yang tersampir di lengannya dan dasi yang sedikit di longgarkan, aku menghentikan langkahku menatapnya. Dia menghampiriku dan berdiri tepat dihadapanku, ada apa dengannya kenapa wajahnya begitu marah.


"Kita makan malam". Hanya kata itu yang diucapkannya, dia dengan keras menarik pergelangan tanganku dan membuka mobilnya dan memaksaku masuk ke dalam mobilnya.


Tubuhku mengkhianati otakku, mengapa aku mengikuti keinginannya? aku duduk masih dengan heran menatapnya, tangannya yang besar mengambil seatbelt lalu memasangkannya. Dia masih diam, tidak mengatakan apapun.


"Siapa dia? tanyanya tiba-tiba.


Andria berbalik menatapnya, "Siapa yang kau maksudkan"? tanyanya.


"Pria Asia yang duduk di taman denganmu".


Darimana dia mengetahuinya? "Dia temanku selama di panti sudah begitu lama kami tidak bertemu". Gun wu memang terlihat berbeda dari gun wu yang kutahu, dengan wajah Asia yang blasteran dia memiliki kulit putih dan wajah yang tampan, tapi bagaimanapun rupanya aku tidak perduli, dia adalah teman baikku si gendut gun wu, pikir Andria.


"Oh ya". Suaranya naik satu oktaf, seperti ada kemarahan di Suaranya.


Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi, dia membawaku di sebuah restoran yang mewah, sangat tidak sesuai dengan pakaian yang kukenakan, apa dia ingin membuatku malu?


Rasa gelisah memenuhi wajahku, aku tidak suka tempat seperti ini, seperti seseorang menuntutku untuk berpakaian dan berperilaku sopan, dan itu keharusan.


Aku memandang gedung besar dengan tulisan besar canlis restaurant, dia menuntunku masuk kedalam, beberapa pelayan membukakan pintu lalu sedikit menunduk padanya, sepertinya dia mengenal Alec, atau mungkin dia sering makan di tempat ini. Restauran itu begitu mewah dengan interior yang gelap dan intim mendominasinya.


Seorang pelayan yang sopan mengajak kami ke meja yang sedikit privat, orang-orang yang sedang makan di tempat ini mengenakan gaun dan jas, sedangkan aku mengenakan t-shirt dan jeans hitam pudarku dengan tas ransel yang kusampirkan di sebelah lenganku.


Pelayan wanita itu sedikit mengerlingku dengan tatapan mata seperti 'Kenapa'.. Aku mencoba acuh dan tidak perduli pada pandangan matanya.


Dia memberikan menu kepada alec dan padaku, sementara pelayan yang lainnya menuangkan air di gelas di hadapanku dan Alec.


"Kau ingin makan apa Andria"? tanyanya menatap menu ditangannya.


Deretan makanan dengan nama yang aneh membuatku pusing, sehingga aku membiarkan Alec yang memesannya. "Kau saja yang pesan". Gumamku, mataku sedikit tertuju pada pelayan wanita yang sepertinya sedikit mendengus.


Alec menaikkan jarinya, aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi dengan segera pelayan itu pergi.


Kau suka tempat ini Andria"? tanyanya lagi.


Apa dia mencoba menyombongkan diri? aku tahu orang yang masuk ke sini bukan sembarang orang, mataku membelalak ketika aku melihat daftar menu serta harganya. Aku seperti ketakutan bahkan untuk menyentuh air pada gelasnya saja.


Aku mengedikkan bahuku, dia tersenyum tipis, "Mr. Alexander? Suara seorang pria terdengar berat dan menghampiri meja kami, di sampingnya seorang wanita begitu cantik dengan rambut coklat kehitaman, mereka terlihat cukup akrab.


"Mr. Anderson, Alec berdiri dan menyalami keduanya, mereka berdua tampak serasi meskipun umurnya tidak muda lagi tapi wajah cantik sang istri tidak bisa tertutupi dengan usia, akupun ikut berdiri menatapnya dan wanita itu balas menatapku dengan sedikit senyum diwajahnya, dia terlihat heran menatapku, alisnya saling bertautan. "Kau sangat cantik, siapa gadis cantik ini Mr. Alexander"? tanya wanita itu.


Alec tersenyum menatapnya lalu menatapku, sebelum alec menjawabnya, seorang gadis berambut pirang strawberry, mendekati mereka lalu tiba-tiba saja memeluk erat Alec dan mencium pipinya.


"Kau di sini kakak, aku tidak tahu". Wajah cantiknya menatap dengan senyum ceria lalu matanya berpindah pada suami istri dihadapan Alec.


"Kau adik Mr Alexander? kau sungguh beruntung memiliki adik cantik seperti dirinya Mr Alexander"! Kata wanita itu, suaminya hanya tersenyum, tetapi mata wanita itu tidak berpindah dari wajahku, seperti mencari-cari sesuatu tapi entah apa itu.


"Aku minta maaf mengganggu makan malam kalian". Setelah mengucapkan salam, mereka berdua akhirnya pergi tetapi wanita itu terus berbalik menatapku dengan wajah antusias dan sedikit kesedihan di wajahnya.


"Hai Andria kita bertemu lagi". kata Jane senyum sumringah terpampang di wajahnya, "Sorry aku tidak akan bergabung bersama kalian, aku bersama Colin, kami baru saja selesai makan bersama". Senyumnya, "Aku akan pergi, senang bertemu denganmu Andria". Dia tersenyum dan berkedip padaku.


~


Setelah makan malam mewah yang betul-betul menyita waktu, akhirnya aku pulang dan dia mengantarku, Aku melepaskan seatbeltku dan berbalik kepadanya. "Em trims makan malamnya". Gumamku pelan.


Dia tersenyum tipis, wajahnya tiba-tiba mendekati wajahku, tetapi aku mendorong tubuhnya menjauh, dengan cepat membuka pintu mobilnya dan pergi. Dia membuka mobilnya dan menyusulku dengan cepat. "Andria tunggu ! teriaknya. Aku tetap berjalan sampai tangannya menyentakku dan memaksaku untuk melihatnya.


Tangannya erat memegang tanganku. "Andria tidak bisakah kau pergi dari rumah itu? ambil ini". Dia menyelipkan sesuatu di tanganku aku memandangnya, "Kunci"? Gumamku.


"Kalau kau berubah pikiran, kau bisa menggunakannya, sekarang apartemen itu menjadi milikmu, dan jangan menolaknya, jika kau tidak menginginkannya buang saja kunci itu". Dia menatap tajam wajah Andria, lalu kecupan kilat pun akhirnya Melayang di bibir Andria. "Selamat malam Andria". Tanpa menunggu jawaban andria, Alec berlalu pergi.


~


Andria melangkah dengan berat menuju rumah Mrs Weltson, suara ribut terdengar dari luar, suara seorang gadis yang berbicara dengan ceria. Andria masuk kedalam rumah lalu melihat beberapa orang tengah berbincang-bincang di ruang tamu, seorang gadis dengan rambut pirang bergelombang dia sedikit lebih pendek dariku mata bulatnya yang coklat tiba-tiba saja memandangku, sepertinya umurnya lebih tua dari usiaku.


"Kau sudah pulang Andria? Suara lembut Mrs Weltson menyapanya. "Kau pasti lapar". Dia bergegas akan ke dapur, tapi Andria mengehentikannya.


"Aku sudah makan mrs Weltson". Dia lalu berbalik, "Oh, benarkah? kalau begitu mandi dan beristirahatlah sayang". Dia tersenyum kepada Andria.


Seorang gadis menatap Andria dengan pandangan penuh tanya dengan wajah kurang suka dengan kehadirannya. "Siapa bibi"? tanya gadis itu.


"Oh ya, kenalkan dia andria, dia tinggal bersama kami, dan ini Lucy keponakan kami". Aku mengangguk sedikit tersenyum tapi wanita itu memutar matanya tidak suka. Gadis bernama Lucy sedang berlibur di Seattle setelah ujian perkuliahannya selesai di Montana.


"Ronan belum pulang? aku begitu rindu padanya". Dia tersenyum ceria kembali matanya menatap bibinya dengan berseri-seri.


"Dia akan datang sebentar lagi", kata Mrs Weltson ceria.


"Oh ya kau akan sekamar dengan Lucy andria". Kata Mrs Weltson. Andria mengangguk menyetujuinya. Tapi sepertinya gadis ini tidak menyukai ide itu. "Tapi bi, aku lebih suka di kamar Ronan, boleh ya bibi Weltson aku tidak terbiasa dengan orang asing". Bujuknya manja.


"Jangan seperti anak kecil lucy". Suara itu menggema sampai di depan pintu rumah, Ronan baru saja masuk dengan mata menyala marah menatap lucy. "Tapi...itu benar, aku tidak bisa tidur..kumohon bibi"! suaranya merajuk manja dengan memeluk erat tubuh Mrs Weltson.


"Kau bisa tidur di kamarku dan aku bisa tidur di depan tv". Kata Ronan sengit. Lucy memainkan rambut pirangnya yang bergelombang, dan menatap wajah Andria dengan mengernyitkan alisnya Seakan-akan ini semua kesalahannya karena tinggal di rumah ini.


"Kau tidak berubah Lucy, meskipun kau sudah masuk universitas, tingkahmu sama saja seperti waktu kau masih Sekolah egois dan kekanakan". Kata Ronan sambil melonggarkan dasinya.


"Emm...jangan mengomel padaku, aku kan baru saja tiba Ronan apa kau tidak kasihan padaku", rajuknya. Ronan menggeleng lalu meninggalkannya, Lucy mengikutinya sambil membujuk Ronan sampai masuk ke dalam kamarnya.


Ini akan menjadi waktu yang panjang, pikir Andria sambil menggandeng tasnya dan masuk ke dalam kamarnya.