
Alec sudah berada di atas helikopter sedang berangkat menuju ke tempat Andria sementara ponsel Andria masih belum bisa untuk dihubungi. Desiran angin dingin menambah kekalutan alec, dia sangat khawatir dengan Andria dan kein, dunianya akan hancur jika dia kehilangan mereka.
Tiga mobil Porsche Panamera turbo berwarna hitam terus mengejar mobil mereka, sesampainya di perempatan jalan, kemacetan menghampiri mereka, ini memberikan waktu kepada Gery agar meloloskan diri dari kejaran tiga mobil mewah itu, suasana masih mencekam, Andria masih memeluk erat kein yang balas memeluknya karena ketakutan.
Tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam mobil mereka, padahal mobil terkunci, entah bagaimana caranya pria ini bisa masuk ke dalam mobil dengan mudah.
"Hentikan mobil atau kepalamu akan kupecahkan!" ucap pria itu. Gery menuruti pria yang mengancam Andria semalam, wajahnya terkesan tenang. "Turun!" bentaknya Gery tidak bergeming tentu saja dia tidak akan turun dan membiarkan mereka membawanya.
Dengan satu tembakan dengan jarak begitu dekat peluru menembus paha kanan Gery hingga ia berteriak, Andria memekik dan memeluk erat kein yang menangis ketakutan.
Dengan satu dorongan Gery akhirnya jatuh di jalanan beraspal dengan dipenuhi darah segar. Pria itu mengambil posisi Gery di depan kemudi, dia berbalik Sebentar dan terkekeh, "Jangan takut..aku tidak akan melukai kalian jika kalian mau menurut padaku."
Dengan cepat pria itu melajukan mobil menghilang dari pandangan menuju ke suatu tempat yang sudah dia sediakan.
Wajah ketakutan Andria masih bersarang di wajahnya, pria itu memegang pistol di tangannya bagaimana jika senjata terkutuk itu mengenai kein. Tanpa memperhatikan sekitarnya mereka telah tiba di tempat yang di tuju.
Sebuah mansion sangat besar dengan penjagaan super ketat, beberapa penjaga membuka pintu gerbang dengan sedikit menunduk, Andria menggigil..apa yang harus dia lakukan?
"Turun!"
Andria turun sambil memeluk anaknya di pelukannya. "Bruno panggil serra dan siapkan segala sesuatunya."
"Baik tuan!" ucapnya.
Seorang wanita cantik berambut pirang dengan tubuh yang begitu modis melangkah mendekati mereka, dan menatap Andria serta kein yang berada di pelukannya.
"Ikuti aku." perintahnya.
Andria melangkah memasuki ruangan besar dan luas dengan patung macan yang mengapit di setiap dindingnya, marmer hitam yang mengkilap serta nuansa gold yang dingin melengkapi suasana yang mencekam, Andria bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan kepadanya?
Andria dan kein masuk diruangan lain yang begitu mewah kaca besar yang menghadap ke arah taman dengan pemandangan pancuran air yang mewah serta peralatan makan lengkap memenuhi di atas meja.
Setelah menunggu beberapa menit seseorang membuka pintu, pria angkuh dengan garis wajah yang keras tampangnya seperti pria latin dengan mata coklat yang dalam sedang berdiri dengan setelan lengkapnya sambil tersenyum puas Seakan-akan menatap mangsanya.
"Nyonya Alexander, mengapa untuk berbicara denganmu saja begitu sulit?" ucapnya sambil menarik kursi di hadapannya, logatnya begitu kental dengan aksen Inggris tetapi pria ini terdengar sangat kental suara seseorang yang tinggal lama di italia, siapa pria ini, apa hubungannya dengan doughlas.
"Duduklah nyonya." ucapnya.
matanya masih menatap Andria yang memeluk kein yang sudah tertidur lelap dipelukan ibunya. Andria membaringkan anaknya di sofa panjang sambil dengan ragu berjalan mendekati kursi yang di sediakan.
Andria lalu duduk tetapi matanya tidak berhenti menatap putranya yang terlelap. "Tidak usah risau, putra anda akan aman di sini." ucapnya tersenyum miring.
"Makanlah !"
"Tidak, apa yang ingin kau ketahui." ucap andria.
"Santai, makanlah dulu setelah itu kau bisa menjawab pertanyaanku." pria itu melengkungkan Senyumnya melihat wajah ketakutan di hadapannya dan dia begitu menikmatinya.
"Tidak ! aku tidak lapar!" bantahnya, matanya berkilat tajam menatap pria di hadapannya.
"Bagaimana jika di tempat lebih privat? atau aku akan memanggil seseorang membawa putramu ke kamar tidur?" ucap pria itu.
"Jangan, jangan bawa putraku, aku....aku akan makan." ucap Andria lalu memegang garpu dan pisau di tangannya.
~
Alec menatap marah kepada Gery yang masih berada di rumah sakit akibat tembakan di paha kanannya, dia menunggu dengan tidak sabar agar Gery dapat siuman kembali. Mata hitamnya bergerak berbahaya, ketakutan dan kecemasan begitu menyergapnya, Gery sedikit bergoyang, dengan perlahan dia membuka kedua matanya.
Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, "Nyonya ! ugh nyonya dia....."
"Gery ! katakan kepadaku siapa yang menculik andria dan kein!!"
"Seorang pria..pria itu berwajah latin berambut coklat."
"Apakah wajahnya seperti ini!?" tanyanya alec memperlihatkan sebuah foto dengan gambar seorang pria tampan.
Gery lalu mengangguk, dia...membawa nyonya Andria dan tuan kein." ucapnya terbata-bata.
Alec menggeram, "Siapkan mobil aku akan menjemput sendiri istri dan anakku." ucapnya.
~
Andria mengiris beberapa potong daging dan memasukkannya ke dalam mulutnya, meskipun tampak lezat tapi rasa makanan yang di kunyahnya bagaikan karet, pria itu tidak berhenti memandang wajah Andria, dia bersedekap sambil menyesap wine berwarna hitam di tangannya.
"Katakan kepadaku dimana putra rowena bernama doughlas?" tanyanya.
Mata coklatnya yang dalam seakan menusuk kedalam mata Andria, "Er, untuk apa kau mencari kakakku?" tanyanya.
"Seorang kakak? tapi tidak sedarah bukan? kasus kebakaran beberapa tahun yang lalu membuatku sedikit penasaran dengan kematian keluarga Okada, tapi...itu tidak penting bagiku katakan ! di mana doughlas?"
"Dia di...Eropa." ucap Andria kaku, merasa bersalah memberi tahukan lokasi doughlas dia tidak punya pilihan lain.
"Bagus, seandainya kau memberi tahuku lebih cepat, aku tidak perlu membuat drama seperti ini nyonya Andria." Dia tergelak lalu tersenyum miring.
"Tapi, tidak ada ruginya juga bagiku bisa makan bersama dengan wanita cantik seperti anda." ucapnya sambil memperhatikan raut wajah Andria yang tidak suka mendengarnya.
"Kau bisa pulang!" ucapnya.
"Apa!?" ucap Andria kaget mendengarnya.
"Ya, aku hanya ingin mendengar dimana doughlas, orangku akan mengantar anda." Dia lagi-lagi tersenyum menatap mata bulat nan cantik yang terheran mendengar ucapannya.
"Tidak, tidak perlu...aku bisa menyetir." tolak Andria.
"Tidak kau akan di antar orang-orangku, lihat dirimu nyonya kau masih gemetar, saya pikir mengemudi tidak cocok untukmu saat ini." Suaranya memerintah dan tidak suka di bantah.
"Er, baik...."
Dia tersenyum lagi, pria itu tidak berhenti menatap Andria dengan segala gerak gerik andria membuat pria itu tertarik entah mengapa ada kesenangan tersendiri melihat wajah panik wanita yang telah memiliki suami dan anak itu.
Pintu dibuka oleh seorang pria dengan tinggi di luar rata-rata dengan jas hitam melekat di tubuhnya yang kurus. "Bruno antarkan nyonya ini dengan selamat sampai di depan kediamannya." ucap pria itu.
"Baik tuan Leon."