Her Secret

Her Secret
Melarikan diri



Udara begitu lembab karena hujan turun terus menerus siang itu, banyaknya orang-orang yang berlindung dari derasnya hujan membuat Andria begitu beruntung, usahanya kali ini harus berhasil, pikirnya.


Andria masuk ke dalam toilet dan di tempat itu berlalu lalang wanita yang keluar masuk di toilet itu.


Dengan berbekal pakaian ganti dari tas kecilnya dan di selipkan di tasnya yang tidak begitu besar, andria masuk kedalam toilet dan mengganti dengan cepat pakaiannya, jeans dan t-shirt hitam serta topi kupluk, dia hanya mengambil barang-barang penting dari dalam tasnya dan meninggalkan begitu saja pakaiannya di dalam toilet.


"Jenny sayang tenanglah perut ibu sakit, hanya sebentar saja ibu masuk ke dalam dan tunggu ibu di sini oke sayang?" Dia melihat Andria yang sedang mencuci tangannya dan memintanya untuk melihat anaknya Sebentar saja, andriapun dengan senang hati membantu wanita itu.


"Kau gadis yang pintar, siapa namamu?" Tanya Andria pada gadis kecil itu.


"Namaku jenny, dan namamu siapa nona?" Ucap gadis kecil itu.


"Namaku andria." Senyumnya. Ibu dari anak kecil itu telah keluar dari toilet dan berterima kasih kepada Andria. Wanita itu kesulitan berjalan karena dia sedang hamil besar dan putrinya merengek untuk di gendong.


"Biarkan aku menggendongnya kelihatannya anda begitu kesulitan nyonya." Ucap Andria tersenyum ramah.


"Oh, benarkah? Apakah tidak apa-apa? Putriku begitu rewel, dia tahu sebentar lagi dia akan memiliki adik, jadi dia begitu manja padaku.


Andria tersenyum mendengarnya. Andria menggendong gadis kecil bernama jenny di pelukannya, untung saja rambut panjang jenny berwarna hitam menutupi wajah Andria sehingga pada saat dia keluar dari toilet para bodyguard itu tidak menyadarinya.


Andria membantu wanita itu sampai keparkiran lalu menurunkan jenny. "Aku sungguh berterima kasih, kau sangat membantuku." Ucapnya.


"Tidak apa-apa nyonya, aku senang membantu anda, aku permisi." Ucap andria.


"Kau mau kemana, biar aku yang akan mengantarmu." Senyumnya. Andria tentu saja menerima tawaran itu, dia lalu segera naik ke mobil Audi berwarna biru. Matanya menjelajahi bandara dan melihat orang-orang Leon sedang sibuk mencarinya.


~


Pria itu berjalan dan masuk ke dalam ruangan khusus VIP sambil tertunduk di depan tuannya Leon.


"Tuan Leon kami kehilangan nona Julia." Ucap varoni tidak memandang wajah leon, dia tertawa pelan lalu berdiri di depan varoni, seketika dia memukul beberapa kali wajah varoni hingga berdarah sampai varoni jatuh ke lantai.


"Bagaimana kalian menjaganya? Kalian semua tidak berguna!" Desisnya. "Tunda keberangkatanku ke italia dan cari Julia sampai ketemu, kalau perlu kerahkan semua orang-orang de Lucas di setiap sudut kota Seattle, kau mengerti !"


"Baik tuan." Ucapnya, dia keluar sambil menghapus jejak darah yang menetes di bibirnya. Dia memerintahkan seluruh orang-orangnya berpencar agar memeriksa seluruh tempat itu.


"Sial !" Teriak Leon.


"Aku tidak akan membuatnya jadi mudah Andria, aku sudah mencoba lembut dan bermurah hati padamu, tidak ada yang boleh menolakku, Menolak Leon de lucas, TIDAK ADA!!" Suaranya menggema di ruangan itu.


Pelarian Andria membuatnya benar-benar marah, dia betul-betul harus pergi dari Seattle karena laporan dari varoni bahwa orang-orang alec mulai mencurigai kematian nyonya Alexander, jadi Leon berencana membawa Andria ke Italia hari itu juga.


~


Wanita yang bermurah hati itu memberikan tumpangan kepada Andria, akhirnya dia menurunkan Andria di sebuah motel dekat pike place market di depan sebuah pasar yang berada di dekat sebuah danau dan terkenal dengan dua dagangan utamanya yaitu bunga dan seafood.


setelah mengucapkan terima kasih, Andria berjalan di antara pasar dan berhenti di tepi danau memperhatikan lalu lalang orang-orang yang berbelanja di sana. Sekarang dia harus mencari tempat untuknya menginap malam ini.


Tiba-tiba sebuah pelukan keras mendarat di punggungnya, seorang anak kecil berlari dan memeluknya kuat-kuat.


"Mommy?" Ucap bocah laki-laki itu yang tidak lain adalah kein.


Andria berjongkok dan menatapnya, "dimana orang tuamu sayang?" Tanyanya.


Kein dengan wajah bingung masih menatap wajah Andria, "kau ibuku." Ucapnya polos.


Suara anak ini sangat mirip dengan suara-suara yang selalu memanggilnya, terkadang kepalanya begitu sakit dan dia mendengar suara bocah laki-laki yang memanggilnya 'mommy'. Perlahan andria memeluknya ada kerinduan yang teramat dalam yang dirasakannya. Tiba-tiba saja air matanya berjatuhan, rasa sakit dihatinya dapat di rasakannya.


"Bawa aku mommy! Jangan tinggalkan kein lagi." Ucapnya di gendongan Andria.


Andria menepuk-nepuk punggungnya, kein memeluk erat Andria dia takut ibunya akan pergi lagi dari sisinya.


Andria menatap kekiri dan kekanan tetapi tidak ada seorangpun yang kehilangan seorang anak, Andria masih memeluknya erat setelah beberapa jam menunggu di sebuah bangku di dekat danau, tidak ada seorangpun yang datang untuk mencarinya, akhirnya andria membawanya pergi ke tempat dimana dia dapat beristirahat untuk malam ini.


~


Mansion Alexander di Seattle,


Seorang pelayan wanita berlari-lari tetapi dengan wajah ketakutan menuju ruangan Mr. Alexander, dia mengetuk-ngetuk keras padahal di dalam Alec sedang berbicara serius bersama walch.


"Masuk!" Ucap alec.


"Tuan...tuan, gawat!" Wajah pelayan wanita itu begitu pucat.


Alec berdiri dari tempat duduknya dan menatapnya. "Katakan padaku, ada apa."


"Tuan kein..tuan kein meninggalkan surat ini di atas meja tuan." Ucapnya.


Alec lalu membaca tulisan tangan kein dengan menggunakan pensil berwarna.


'Dad, aku pergi mencari mommy, aku akan membawa pulang mommy, aku akan segera kembali'.


Alec memejamkan matanya, lalu meremas surat yang ada di tangannya, "Walch, segera kerahkan semua orang-orang kita, dan periksa alat pelacak yang aku sematkan di kalung kein, periksa di mana lokasinya." Ucap alec cepat.


"Baik sir!"


Dengan terburu-buru Alec mengenakan mantelnya lalu keluar dari mansionnya mencari putranya kein. Beberapa mobil hitam sudah bergerak menyusuri keberadaan kein, Alec mengenakan earphonenya lalu bergegas menghubungi walch.


"Kau sudah mendapatkan posisinya." Ucap Alec.


"Sudah sir, saya akan menghubungkannya di ponsel anda." Ucapnya.


Sebuah titik hijau kecil dapat terlihat jelas di ponsel alec. Dengan menancapkan gas di mobilnya dia menuju ke pike place market, di sana ada sebuah motel tidak begitu besar, di sanalah kein berada.


"Di sebuah motel?" Ucap alec mengernyitkan alisnya. Apa yang dilakukan kein di motel? Pikirnya.


Tidak lama kemudian mobil sport Alec telah berhenti di depan motel tempat kein berada, dengan tergesa-gesa dia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam motel mencari titik keberadaan kein, akhirnya dia menemukan nomor pintu kamar tempat kein berada, ketukan keras di pintu itu terdengar oleh kein.


Dengan perlahan kein membuka pintu kamarnya dan menatap ayahnya yang berdiri dengan wajah marah.


"Daddy?" Ucap kein.