Her Secret

Her Secret
Rencana 2



Salju akhirnya berhenti turun sehingga di taman di tempat kein bermain sudah di penuhi oleh beberapa anak-anak yang bermain lempar salju dan ada juga yang membuat boneka salju bersama teman-temannya.


Kein duduk di sebuah bangku kosong menatap anak-anak yang berlarian dengan senang, dia menundukkan tubuhnya mengambil segenggam salju di tangannya lalu membentuk bola, kemudian melemparkannya begitu saja di salju yang menumpuk.


"Mommy? mengapa kau tidak memanggil namaku ketika kau melihatku?" ujar kein menunduk, dia menghapus jejak-jejak air matanya, hidungnya kini memerah karena dinginnya udara.


"Mommy? Kalau kau tidak mencariku, aku yang akan mencarimu, tidak ada yang mempercayai kata-kataku mommy kalau aku melihatmu, aku sungguh melihatmu." gumam kein, wajahnya seakan lebih bersemangat dengan rencana yang dipikirkannya.


"Kein ! kein !" Suara Alec menggema di taman itu, dia berteriak-teriak mencari putranya, akhirnya dia menemukannya yang duduk seorang diri di bangku taman, dia menatap putranya dengan pandangan cemas lalu menghembuskan napas lega, syal berwarna hitam melekat di leher Alec kemudian dia melepaskan syalnya dan menutupi leher kein yang hanya mengenakan jaket berwarna biru dan topi kupluk dengan warna senada.


"Kein!" jangan pergi seperti itu lagi, kau harus mengatakan sesuatu jika kau ingin keluar dari rumah." Ucap alec menatap putranya yang sama sekali tidak memandang ayahnya.


"Kein? Kau mendengarkan ayah?" tanyanya.


"Yes dad." ucap kein masih memperhatikan anak-anak yang bermain-main di salju yang menumpuk.


"Maafkan ayah kein, tadi ayah begitu marah sampai kita tidak jadi pergi berlibur." ucap alec sambil memegang Puncak kepala kein.


"Tidak apa-apa dad, aku juga sedang tidak ingin ke sana." kein bermain dengan jemarinya.


Alec merekatkan pelukannya kepada kein, lalu Berdiri di sampingnya, "Sebaiknya kita pulang, nenek sudah membuatkan sup kesukaanmu kein." bujuk Alec yang entah mengapa kesulitan melihat tingkah putranya, dia sama sekali tidak bisa menghibur putranya yang masih merindukan Andria, sama halnya dengan dirinya.


Kein memegang tangan ayahnya lalu beranjak dari tempat duduk itu yang tepi pinggirnya sudah membentuk es.


~


Perjalanan yang di tempuh Andria cukup dekat tidak butuh waktu yang lama, pesawat itu tiba dengan selamat sampai di Seattle. Para bodyguard dengan pakaian hitam sedang berderet menunggu kedatangan pemimpin klan yaitu Leon de lucas, 'sebuah sambutan konyol' , pikir Andria yang berjalan di belakang Leon.


Seorang pria menyambut kedatangan mereka dan membuka mobil Limousine berwarna hitam kepada mereka berdua. Leon membiarkan Andria masuk lebih dahulu setelah itu dia masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana? kau tidak pusing dengan perjalanan kita tadi?" tanyanya.


'Kenapa sih dia tanya-tanya'. ucap Andria di dalam kepalanya.


"Tidak, aku baik-baik saja." ucap Andria tanpa memandangnya.


"Sebelum kita ke mansion, kita akan makan dulu di satu restaurant kau pasti sudah lapar." ucapnya lagi.


Entah mengapa Andria selalu berbicara ketus pada pria di sampingnya ini, seperti segala yang dilakukannya adalah salah, dia berada di tempat yang tidak tepat, sehingga Andria selalu merasa tidak nyaman jika dia memperlakukan Andria seolah-olah Andria adalah kekasihnya.


Andria hanya diam tidak menjawab pertanyaannya. Sekitar 15 menit perjalanan mereka tiba di sebuah restaurant mewah dengan bangunannya bergaya tudor, beberapa bodyguardnya sudah menunggu di luar lalu membukakan pintu mobil untuknya.


Andria tidak mau berjalan di samping pria ini, dia kelihatan begitu mencolok dengan orang-orang berjas hitam yang selalu mengelilinginya. Tiba-tiba dia berhenti dan berbalik menatap Andria. Tangannya terjulur membuka mengharapkan balasan dari tangan Andria, akan tetapi Andria tidak juga mengulurkan tangannya.


Dengan tidak sabar dia akhirnya mengalah dan mundur menghampiri andria, lalu mengambil tangannya untuk di genggam. Penolakan Andria membuat Leon berdesis, "Cobalah terus melawanku dan aku akan melakukan lebih dari sekedar menggenggam tanganmu." Ancamnya.


Andria menatap tajam padanya dan akhirnya mengikuti kata-katanya.


Restauran bergaya Perancis itu begitu mewah dan elegan hanya segelintir orang yang bisa keluar masuk dari tempat mewah ini, dua orang pelayan mengantar kami ke tempat yang sudah di sediakan, tempat khusus untuk tamu VIP dengan ruangan tertutup dan pemandangan indah dari luar jendela.


Tanpa menanyakan apa yang diinginkan andria, dia memesan begitu saja makanannya tetapi Andria tidak memperdulikannya. dia terus menatap pemandangan dari kaca besar yang terpampang di hadapannya.


Dia tidak menyadari sejak tadi Leon memperhatikan setiap gerak gerik Andria, lalu memiringkan kepalanya sedikit tersenyum menatapnya.


"Apa?" ucap Andria.


"Tidak, hanya ingin memandangmu saja." ucapnya santai, Andria tidak memperdulikannya, dia tidak mau memandang pria dihadapannya ini.


"Aku ingin ke toilet." ucap Andria sambil berdiri lalu mengambil tasnya, tetapi mata Leon begitu tajam yang memperhatikan semua gerak gerik Andria.


"Kenapa kau membawa tasmu?" tanyanya.


Andria mengernyitkan alisnya lalu menatapnya, "Karena segala kebutuhanku ada di dalam sini, aku perlu membawanya bersamaku." ucap Andria ketus.


"Ok, morelli akan menemanimu." ujarnya.


Andria mendengus lalu berbicara dengan suara lebih keras, "Aku bukan tawananmu, aku hanya pergi ke toilet, mengapa Morelli harus ikut bersamaku?" ucap Andria dengan mata tajamnya memandang leon.


"Morelli!" ucapnya, Seorang wanita pirang yang cantik segera membuka pintu dan berdiri dihadapan Leon.


"Ya tuan." ucapnya kaku.


"Antarkan nona Julia ke toilet." ucap Leon seperti tidak mendengarkan segala kata-kata andria, dia masih duduk dengan tenang memandang Andria yang menatap marah padanya.


Andria keluar dari ruangan itu matanya melirik di setiap sudut-sudut ruangan dipenuhi dengan penjaga-penjaga Leon, sial ! bagaimana caranya agar aku bisa lari darinya, mereka ada di mana-mana', pikir Andria.


Mereka berbelok sedikit lalu menemukan toilet wanita, Andria masuk ke dalam dan Morelli menunggunya di luar pintu. Andria menutup pintu lalu mengintip dari balik pintu, setelah itu dia menelusuri semua tempat agar Andria bisa melarikan diri dari sana.


Hanya jendela kecil di atas tembok, Andria menatapnya dan merasa tubuhnya bisa melewati jendela itu, tetapi bagaimana caranya agar dia tidak ketahuan? dia kembali mengintip di setiap halaman di penuhi dengan penjaga de lucas. 'Sial',


Seorang wanita yang mengenakan pakaian cleaning servis masuk sambil membersihkan cermin di atas westafel, seketika matanya bertemu dengan mata Andria melalui pantulan cermin, tiba-tiba senyum terbit di wajah cantiknya.


~


Tempat itu masih berdiri kokoh, segelintir orang keluar masuk ke dalam tempat itu sambil membawa bungkusan, tulisan besar yang terlihat baru mewarnai kaca jendela yang bertuliskan 'good eat good cheaken'.


"Jaga istrimu Ronan, jangan biarkan dia keluar di cuaca seperti ini sayang apalagi dia sedang mengandung, kau harus lebih memperhatikannya." ucap nyonya Weltson.


Ronan mengenakan mantel dan syalnya lalu mengecup pipi ibunya, " Oky mom..aku pergi, dan jangan buka tokonya terlalu larut, mom harus banyak istirahat ok!" Dia tersenyum dan kemudian masuk ke dalam mobil menuju ke apartemennya di Seattle.


Nyonya Weltson mengantar putranya hingga ke pintu depan sambil melambaikan tangannya.