Her Secret

Her Secret
Keinginan andria



Udaranya semakin dingin di luar sana, kabut menyelimuti pemandangan di sekitar villa, mungkin sekarang sudah lewat tengah malam, meskipun tadi gerimis tetapi langit malam yang cerah menggantikan awan yang mendung hingga gerimis berhenti sedikit demi sedikit. Andria mengerjap dia membuka matanya perlahan, menatap kegelapan di ruangannya hanya cahaya dari jendela yang mengisi kegelapan di kamarnya.


Kakinya beradu dengan kaki seseorang yang lebih besar, hangat dan nyaman terasa dari pancaran tubuh di sampingnya, Andria menengok ke samping kiri dan merasakan napas teratur yang terdengar damai.


Andria menatap alec yang sedang tertidur lelap, meskipun sore tadi Andria memukul-mukul tubuh alec dengan bantal dan sempat menendangnya agar menjauh darinya tapi pria arogan ini tidak menyerah untuk mendapatkanku malam ini. Akhirnya aku menyerah dan larut oleh gairahnya, tubuhku yang letih terasa segar kembali, kepalaku yang pusing yang biasanya datang ketika fajar entah mengapa menghilang dalam sekejap.


Andria mengendus wangi dari tubuh alec dan memeluk kehangatannya, dia bergumam dalam tidurnya dan menarik tubuh Andria sambil memeluknya erat. "Tidur". Ucapnya.


"Alec? Alec bangun", Bisik Andria.


Alec yang tertidur pulas merasakan bisikan hangat di telinganya sehingga dengan mata yang berat dia membuka kedua matanya. "Hmm Andria ada apa"?


"Aku lapar"! ucap Andria dengan wajah merengut.


"Lapar? Alec menatap jam yang ada di atas nakas, Sekarang pukul 2 pagi, Alec mengucek kedua matanya, lalu duduk di sebelah Andria, dia sedikit menguap, "Kau ingin makan sesuatu"? tanyanya.


"Em ya, aku ingin makan masakanmu". ucap Andria sambil tersenyum.


"Masakanku? Alec berpikir sebentar lalu bangkit dari tempat tidurnya sambil menguap menahan kantuknya.


Andria masih berbaring di tempat tidur sambil menunggu masakan Alec yang entah apa yang di masaknya. Andria akhirnya menyusul Alec ke dapur hanya mengenakan kemeja Alec yang kebesaran lalu duduk di pantry memandang alec yang sibuk memasak.


"Sedang buat apa"? tanya Andria.


"Sandwich". jawab alec sambil menguap. Tiba-tiba bibir Andria membentuk kerucut. "Aku benci keju". Ucapnya, Alec yang sedang sibuk membuat sandwichnya lalu berhenti dari pekerjaannya, dia kemudian mengambil keju yang berada di dalam sandwich.


"Tambahkan telur didalamnya", Perintahnya.


Tanpa berkata-kata Alec mengambil telur di dalam kulkas dan membuatkannya untuk Andria.


"Aku tidak suka jika telurnya terlalu matang". ucap Andria, Alec kembali mengambil telur di kulkas dan membuat telur yang diminta oleh andria tanpa berkata-kata.


"Sudah jadi makanlah sayang". Alec mengambil tempat duduk di sampingnya sambil menatap andria yang melahap makanannya. "Enak? kau suka"? tanyanya.


Andria mengangguk, "Enak, aku menyukainya jika kau yang membuatkanku". Alec tersenyum puas melihat Andria makan dengan lahap.


Setelah kenyang dengan sandwichnya, Andria menatap alec yang terkantuk-kantuk di pantry, "Alec? Alec...". panggil Andria yang mengguncang tubuh alec.


"Aku ingin menonton film", bisiknya. Alec membawa Andria keruang nonton dan menyalakan tv untuknya, Alec berbaring di sofa sambil memeluk Andria yang lagi menonton film tengah malam. "Apa yang ingin kau tonton"? tanya alec memutar-mutar Chanel TV.


"Emm action, aku ingin nonton film action". jawab Andria.


"Tidak ! itu akan mempengaruhi bayi kita, bagaimana jika nanti anak kita suka berkelahi dan suka membangkang"? ucap alec mencari-cari Chanel yang layak di tonton.


Andria memberengut, tiba-tiba matanya berkaca-kaca, "Ok baiklah sayang, jangan menangis". bujuk Alec mencari-cari film yang ingin di tonton Andria. Akhirnya film yang di cari andria tidak ada, Alec lalu mengambil ponselnya untuk mencari film yang ingin di tonton Andria tetapi Andria menolaknya dia ingin nonton film dari TV.


Alec lalu menghubungkan ponselnya dengan tv agar Andria menonton film actionnya lewat tv. "Andria kau bisa menonton film actionmu sekarang". ucap alec yang berbalik menatap Andria yang sudah tertidur lelap di sofa.


Alec menghembuskan napasnya masih dengan matanya yang berat, dia begitu kelelahan, akhirnya dia menyerah dan ikut berbaring di sofa bersama Andria hingga pagi menyingsing.


~


Seminggu setelah kepulangan kami dari villa akhirnya tibalah hari yang kami nantikan, pernikahanku dengan Alec akan segera di selenggarakan, semua orang di kediaman Anderson sedang sibuk menyiapkan pesta pernikahan Andria.


Sekarang ini andria tengah duduk di pangkuan alec di kantornya, sementara Alec sedang menelepon rekan bisnisnya sambil mengusap rambut Andria yang berbaring di pelukannya.


"Ok, Sean kau bisa menyerahkan filenya besok, sampai jumpa di Vancouver". ucap alec sambil menutup ponselnya.


Alec menatap Andria yang berbaring di pelukannya, "Kau tidur"? tanyanya.


"Mmm...,aku akan mual jika tidak didekatmu Alec". bisik Andria memeluk erat tubuh alec dan menghirup wangi tubuhnya.


"Aku ingin makan jika kau yang memasaknya".


Suara ketukan terdengar dari pintu kantornya.


"Masuk", ucap alec.


Dia berjalan dengan percaya diri sambil memperbaiki gaunnya yang kependekan, dia menata kembali rambutnya hingga membentuk gelombang yang seksi. "Selamat siang...sir"! sapaanya tiba-tiba terhenti melihat seorang wanita tengah berbaring di pelukan Alec.


Jenat menatap Andria yang memeluk erat Alec dengan tatapan heran dan matanya membelalak penuh tanya.


"Ada apa? tanya alec menyadari pandangannya tertuju pada Andria yang lagi tidur di pelukannya.


"Oh ya, sir ini dokumen dari LN enterprise dari seattle, saya mengantarkan langsung....er, dan anda bisa membacanya". Ucapannya terhenti matanya fokus memandang Andria.


"Kau boleh keluar", perintah alec.


"Alec kenapa berisik sekali"! bentak Andria padanya, dia memukul tubuh alec dengan seenaknya lalu kembali memeluknya dengan erat.


Wajahnya melongo mendengar bentakan Andria pada Mr. Alexander yang terkenal pemarah arogan dan sukar untuk di dekati siapa saja, siapa wanita itu? pikir Jenat, dia sejak lama mengincar Alec hingga sekarang, dia sangat penasaran wanita seperti apa yang mampu merebut hati Mr. Alexander?


"Apa yang kau lakukan? keluar"! bentaknya.


Jenat terkejut, dengan wajah merah dia keluar dengan marah dan malu.


"Sial ! siapa wanita itu"? dia bersedekap lalu menatap pintu ruangan alec, dia sangat penasaran, kelebihan apa yang dimiliki wanita itu dibandingkan dirinya yang seksi.


Andria keluar dari ruangan alec karena pusing di kepalanya sudah sedikit mereda dia hendak pulang ke rumahnya karena Mrs. Anderson meneleponnya untuk segera pulang dan makan siang dengannya lagi pula dia sangat bosan bersama alec dengan segala pekerjaannya dan berkas-berkasnya yang menumpuk di atas mejanya.


Andria berjalan melangkah menuju lift dan melihat seorang wanita sedang mengamatinya, sambil melipat kedua tangannya.


"Siapa kau? apa hubunganmu dengan Mr. Alexander"? tanyanya.


Andria menatap Jenat dari ujung kaki hingga ke kepala, "Seorang jalang lagi"? gumaman Andria membuat Jenat berdesis.


"Apa kau bilang? mengapa wanita sepertimu bisa mendapatkan tuan Alexander....". Bunyi Ding keras membuat Andria berjalan ingin masuk ke dalam lift. Tetapi di halangi oleh Jenat yang merasa tidak terima jika Andria bersama alec karena sudah begitu lama dia mengincar Alec.


"Katakan apa hubunganmu dengan Mr. Alexander"? desis jenat.


Andria tersenyum miring, "Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu". kata Andria yang malas meladeninya.


"Karena..karena Mr. Alexander adalah... kata-katanya tiba-tiba berhenti melihat Alec berjalan menghampiri Andria dan memeluknya.


"Ada masalah"? tanya alec kepada Andria.


Andria mengangkat bahunya, "Entah, wanita ini menghalangi jalanku Alec, aku tidak tahu apa maunya", ucap Andria.


"Siapa kau, mengapa kau menghalanginya"? ucap alec dengan marah.


"Saya..saya". Wajah Jenat memerah tidak tahu apa yang akan di katakannya.


"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di perusahaanku". Ucap alec tanpa menatap wajahnya. Seketika tubuh Jenat membeku, Setelah mereka berdua masuk ke dalam lift, Jenat terduduk di lantai merasakan getaran hebat di tubuhnya, air matanya tiba-tiba jatuh menetes.


Andria melipat kedua tangannya, memikirkan bahwa di perusahaan Alec masih banyak wanita-wanita seperti tadi yang kapan saja bisa menggoda alec.


"Ada apa sayang"? ucapnya.


"Entahlah, tiba-tiba suasana hatiku menjadi buruk". ucap Andria sambil membelakangi Alec.


Alec lalu memeluk Andria membenamkan tubuhnya di dekapan alec, "Aku hanya menginginkanmu Andria, kau tahu itu jadi jangan marah lagi hemm". bisiknya, Andria mengangguk lalu mengecup kilat bibir alec.