
Seattle, Mansion Alexander.
Ide itu muncul begitu saja di kepala kein, ia menatap hujan dari jendela kaca di kamarnya, hujan deras yang tidak mau berhenti, matanya bergerak-gerak mengikuti air yang mengalir dari jendelanya. Dia kemudian melangkah dan mengambil kertas dari dalam laci di mejanya dan mengambil pensil berwarna warni dari dalam tasnya.
Kein berpikir sebentar, kemudian mulai menuliskan sesuatu untuk ayahnya, kein adalah anak yang cerdas sekarang ini usia kein menginjak 10 tahun. Wajahnya yang begitu mirip dengan Alec yang tampan serta kulit dan warna matanya yang berwarna coklat begitu mirip dengan ibunya.
Setelah menuliskan surat, kein bersiap-siap mengenakan jaket anti hujannya, dia membawa tabungannya dan mengeluarkan berlembar-lembar uang dari celengannya, serta perlengkapan lainnya di dalam tas. Dengan sembunyi-sembunyi dia keluar dari mansion itu padahal banyak bodyguard yang berjaga di luar mansion tapi tidak ada seorangpun yang melihat kein keluar dari mansion.
Kein naik ke dalam bis dan duduk di sudut seorang diri, kali ini kein menuju pike market place dimana kein dulu bersama ibunya pernah berkunjung ke sana, berjalan-jalan hanya berdua dengan ibunya, ingatan itu membawa kein berangkat ke tempat itu.
Setelah turun dari bis, dia berjalan-jalan dan menengok orang-orang yang berjalan dan berlalu lalang di sekitarnya, tetapi mata coklatnya melihat punggung yang begitu di kenalnya, tanpa ragu kein berlari dan memeluknya.
~
~
~ Motel di dekat pike market place.
"Daddy?" Ucap kein.
Alec dengan cepat memeluk kein begitu erat. Suara air dari kamar mandi mengalihkan perhatian Alec.
"Kau bersama siapa kein, ayah sangat khawatir!"
"Kein bersama mommy, dad."
Ucap kein polos, hal itu membuat Alec terkejut, Suara langkah kaki yang baru saja keluar dari kamar mandi membuat alec mengalihkan perhatiannya dan menatap wajah wanita di hadapannya, matanya membelalak, bibirnya sedikit terbuka, dia begitu terkejut.
"Andria??" Ucap alec, yang menatap wajah Andria dengan mata tidak percaya.
Andria mengernyitkan alisnya, menatap kein lalu menatap alec, apakah dia ayahnya? Dia memanggilku Andria, dia mengenalku? Pikir andria.
Tanpa berkata-kata Alec berjalan dan perlahan mendekati andria, kini air mata jatuh di pipinya, dia begitu dekat dengan wajah istri yang dicintainya, tangannya memegang wajah andria dan menatapnya lekat-lekat.
"Kau Andria, kau andriaku !" Ucap alec menangis dihadapan andria, dia lalu memeluk erat tubuh andria, dan merengkuhnya kuat-kuat.
"ini bukan mimpi kan?" Ucapnya, suaranya bergetar, membuat Andria mengusap wajah alec yang menangis dan menatapnya dalam-dalam.
"Siapa kau? Apakah..apakah kau suamiku?" Ucap Andria perlahan.
Suara Andria membuat alec kembali memeluknya erat, tetapi dia langsung tersadar dengan kata-katanya.
"Kau tidak mengenalku? Kau tidak mengenal kami?" Ucap alec terkejut.
Andria menunduk, "Aku..aku tidak mengenal siapapun, sewaktu aku tersadar aku hanya melihat seorang pria dan dia mengaku tunanganku."
Ucap Andria kepada alec.
"Siapa..siapa pria itu Andria?" Tanya alec, wajahnya berubah begitu marah, rahangnya mengeras.
"Namanya Leon de Lucas." Ucap Andria.
Tiba-tiba kepala Andria sangat sakit sekali karena dia begitu bekerja keras untuk mencoba mengingat tentang dirinya, akhirnya dia jatuh pingsan di tubuh alec, dengan cepat alec menahan tubuhnya dan memeluknya.
Alec segera menghubungi walch dan menyuruh orang-orangnya datang ke tempatnya, dia akhirnya tahu siapa yang selama ini menyembunyikan andrianya, tetapi dia juga tahu siapa clan de Lucas itu, dia adalah clan yang berbahaya, orang-orangnya di tempatkan pada setiap titik kota di amerika, dan sekarang mereka berada di Seattle.
Alec membaringkan tubuh Andria di atas tempat tidur di temani oleh kein yang selalu berada di sampingnya.
Alec kembali menghubungi walch, agar mereka bertemu di lokasi yang di tunjukkan oleh Alec, sangat berbahaya membawa Andria sekarang ini, bisa saja orang-orang clan de Lucas menghalangi mereka dan kembali membawa Andria, tetapi tentu saja alec tidak akan membiarkan hal itu terjadi, mereka harus menghadapi Alexander grup, dan alec akan mengerahkan semuanya agar istrinya dapat selamat dan kembali kepadanya.
~
"Sir, aku menemukan keberadaan nona Julia." Ucap salah satu pria di dalam mobil berwarna hitam.
"Bagus, jangan pernah membiarkan dia pergi, kami akan segera ke sana." Ucap varoni.
"Baik sir."
Alec mengedarkan pandangan di setiap sudut di dekat motel itu dan melihat ada mobil berwarna hitam yang sejak tadi berada pas di depan motel tempat Andria menginap.
"Sial ! Berapa lama lagi walch akan tiba?" Ucap alec kembali menekan ponselnya.
"Walch mereka di sini, berapa lama lagi kau akan tiba?" Ucap alec, wajahnya begitu khawatir, karena dia hanya bersama kein apalagi Andria sedang pingsan.
Alec berdiri di depan pintu kamar, sesekali mengintip dari lubang pintu masuk, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarnya.
"Nona julia..saya varoni, bukalah nona Julia sebelum kami yang akan mendobrak pintu ini." Ucapnya.
"Sial!", Umpat Alec..apa yang harus dia lakukan? Matanya menatap kepada kein yang memeluk ibunya dan Andria yang masih tidak sadarkan diri.
Tetapi sesuatu menghentikan suara ketukan itu, entah berapa banyak langkah kaki yang didengar oleh alec, dan terdengar percakapan di antara mereka, Alec mengintip dan melihat walch sedang berhadapan dengan varoni beserta anak buahnya masing-masing saling berhadapan, tetapi sepertinya orang-orang clan de Lucas tidak bersuara lagi mereka kalah jumlah.
Kembali terdengar ketukan pelan.
"Sir, saya walch..mereka telah pergi."
Alec mendengarnya dan mengambil napas lega, dia akhirnya membuka pintu kamar dan membiarkan walch masuk.
"Mereka telah pergi sir." Ucap walch. "Mereka kalah jumlah dan mereka memutuskan untuk pergi, tetapi sepertinya mereka belum putus asa sir, sebaiknya anda dan nyonya segera pergi dari sini."
Alec dengan cepat mengangkat istrinya ke pelukannya, dia mengecupnya sebentar lalu mengangkatnya, sementara walch memegang kein mengikuti Ayahnya yang berjalan di depan.
~
Puluhan bodyguard berbaju hitam sedang berdiri di depan sebuah motel, orang-orang menatap mereka dengan wajah terheran-heran, Alec segera naik kedalam mobil Limousine berwarna hitam yang dibukakan oleh salah satu bodyguardnya diikuti oleh kein dan walch.
Tidak lama kemudian barisan mobil mengiringi mobil yang dinaiki Alec dengan pengawalan yang sangat ketat sampai-sampai mobil-mobil yang lainnya mengalah tidak mau mencari perkara ketika melihat mobil-mobil yang berjejer rapi mengawal sebuah mobil Limousine.
"Untuk saat ini kita tunda dulu, sebaiknya kita kembali, kita tidak bisa menghalangi kepergian mereka, kita kalah jumlah." Ucap varoni berbicara melalui earphonenya.
"Kita akan memikirkan rencana selanjutnya." Ucapnya sambil menatap puluhan mobil di depan mereka yang sudah menjauh.
@
Jgn lupa like dan Comentnya yaaaa supaya lebih semangat lanjutin ceritanya βΊοΈπππ