
~Az Kim Alexandria (POV)
Kepalaku begitu berat sayup-sayup kudengar suara seseorang berbicara, mengapa mereka ribut sekali? aku mencoba membuka mataku tapi sungguh tidak mungkin, aku tertidur tanpa tahu aku ada dimana.
Ruangan itu sungguh besar dan hangat, wangi parfum maskulin menghantam hidungku, perabotan tertata rapi meskipun tidak banyak, bernuansa hitam dan putih, aku ada dimana? Pikirku.
Dengan canggung aku duduk di atas tempat tidur berseprei putih sangat halus dan bersih, menatap disetiap sudut ruangan, seseorang membuka pintu kamar, aku melihat wajahnya membuatku sangat terkejut mengapa pria ini ada di sini?
"Kau..kenapa kau ada di sini?!" tanya Andria dingin menatapnya.
"Mungkin karena ini adalah apartemenku." jawab Alec santai. Dia membawa makanan Sepertinya itu bubur, napasku tidak beraturan. "Mengapa aku bisa ada di sini?" tanyaku lagi.
Dengan perlahan dia menaruh makanan itu diatas nakas dan melipat tangannya di hadapanku. "Makanlah sebelum kau pulang, aku membawamu ke sini karena kau tidak mau kerumah sakit Andria." jelasnya.
Aku segera berdiri merapikan pakaianku, aku melihat handuk kecil yang sedikit basah jatuh diatas tempat tidur. Dengan canggung aku berdiri.
"Tidak perlu, aku akan pulang saja." Jawabku dingin. Aku melangkah menuju pintu tapi tangannya menggenggam lenganku menghentikanku.
"Apa yang kau lakukan?" kataku marah padanya.
Dengan kasar dia menarikku, membuatku berdiri dihadapannya, menatapku tanpa sedikitpun berbicara. "Kau harus makan sebelum pergi Andria, kau tahu berapa lama kau tidur? kau melewatkan makan siang dan malam." Makanlah, aku tidak mau kau keluar dari apartemenku dengan perut kosong." Dia tersenyum sinis menatapku.
Alec tidak tinggal diam, dia menarik tanganku kembali, menyentakku dan mengangkat tubuhku. Andria meronta-ronta di pelukannya. "Apa yang kau pikir kau lakukan??" desisnya.
"Aku sudah bilang, aku akan membiarkanmu pulang jika kau sudah makan, tapi kau betul-betul keras kepala." Bentaknya.
Dia mendudukkan Andria di sofa lalu mengambil bubur diatas nakas dan menaruh dipangkuannya. "Sekarang makanlah, kau seperti anak kecil Andria, sangat sulit menyuruhmu makan."
Aku betul-betul marah, baru kali ini aku diperlakukan dan tubuhku diangkat seperti ini. Tubuh Andria begitu lemah hingga tidak mampu melawan, dengan perlahan dia mengambil sendok yang ada diatas bubur lalu mengaduk-aduknya.
Aku harus pergi dari sini, jadi tidak ada pilihan lain selain mendengarkan kata-kata pria ini yang melipat tangan dihadapanku.
Alec berdiri, lalu meninggalkan Andria yang masih mengaduk makanannya. "Aku bisa menonjok pria itu, tapi keadaanku sangat lemah, penyakit sialan ini kambuh lagi." gumam Andria.
Alec kembali ke kamar lalu menaruh bungkusan dihadapannya, "minumlah obat ini setelah makan Andria." Aku tidak mau menatapnya, mengapa dia peduli padaku? aku hanya bertemu dengannya beberapa kali, pria ini sangat aneh.
Aku betul-betul menghabiskan makanan itu, perutku begitu keroncongan, tidak ada pilihan lain egoku tidak bisa mengalahkan rasa laparku. Aku menatapnya, "Aku pergi." Tanpa mengucapkan terima kasih aku melewatinya begitu saja, dia kembali menghentikan langkahku.
Aku melotot padanya, "Tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?" tanyanya. Dengan marah aku mencoba lepas dari genggamannya, "terima kasih misalnya?" senyumnya sinis, tangan alec masih menggenggam tanganku. Mataku tidak berhenti melotot padanya.
"Lepaskan aku brengsek!" aku mencoba melawannya tapi dia menangkap tanganku yang lainnya.
"Kau harus ingat Andria, aku lebih kuat darimu, kau boleh pulang, Gery akan mengantarmu." Dia melepaskan tanganku, masih menatap tajam padaku. Pria gila ini lihat saja aku akan membalasnya. Pikir Andria marah.