
Dia melipat kedua tangannya pandangannya menatap marah kepada Andria, berjalan bolak balik dihadapannya.
"Jadi, kau berakhir di rumah pria itu karena pingsan"? tanyanya. Andria mengangguk sambil memainkan ponsel ditangannya.
"Dan mengapa bibirmu bisa terluka seperti itu"? Andria terkejut, dengan spontan dia memegang bibirnya, perlahan Andria menatap alec yang berdiri menjulang dihadapannya.
"Itu...em Ronan sedang mabuk berat jadi dia....
Alec menarik Andria agar berdiri dihadapannya, dia menyapu bibir Andria yang luka dengan jarinya.
"Apakah Ronan yang melakukannya"? kata Alec dengan berbisik tajam. Andria hanya mengangguk sekali. Alec menarik Andria lebih dekat ke tubuhnya. "Masih sakit? tanyanya.
"Sedikit".
"Kau sudah mengobatinya? tanyanya lagi.
Andria menggeleng, tatapannya masih ke Alec, "Kalau begitu aku akan mengobatinya".
Alec mencium bibir Andria perlahan, merekatkan bibirnya agar bibir Andria terbuka untuknya, dengan lembut Alec melumatnya dengan pelan hingga napas mereka saling menyahut dengan panas.
"Hari ini jangan kemana-mana, aku akan pergi sebentar dan akan kembali secepatnya". Ucap alec.
Setelah kembali mengecup andria cepat dia lalu pergi dengan ekspresi dingin dan wajahnya begitu marah.
~
Telepon berdering, pria paruh baya itu mengangkatnya ketika dia sedang sibuk menatap dokumen yang berada di hadapannya. "Halo, baiklah malam ini aku akan bertemu dengannya".
Suaranya berat dia Berdiri dan membuka lemari yang selalu dikuncinya, dia mengambil sebuah album dan membukanya, matanya menjelajahi setiap inci wajahnya, "Aku merindukanmu Kenneth", gumam pria itu.
Dia menyimpan kembali album foto itu dan memakai jasnya kemudian dia keluar dari kantornya untuk menemui pria bernama Okada Kim Alexandria.
Seseorang tengah memantaunya, pria itu memakai mantel panjang berwarna coklat dengan berpura-pura menelepon dia mengamati pergerakan tuan Anderson yang sedang menunggu lift, setelah dia masuk ke dalam lift pria itupun mengikutinya.
"Sepertinya dia akan menemui seseorang, aku akan mencari tahu". Pria itu menutup ponselnya dan mengikuti mobil SUV berwarna biru yang berada di hadapannya.
~
Andria berada di penthouse Alec, dia masih Berdiri sendiri sedang menatap hujan deras dari balik kaca, "Sepertinya tidak akan berhenti". Andria mengingat kembali kejadian kemarin, Alec mendatangi apartemen doughlas dengan wajah terlihat marah. Alec menunggu di depan pintu sambil menunggu Andria berpamitan kepada doughlas.
"Doughlas, trims sudah menolongku". Ucap Andria sambil tersenyum tipis.
"Welcome beb, jangan ragu menghubungiku jika kau membutuhkan bantuanku". Mata alec menyipit memandang doughlas yang menaikkan satu alisnya kepada alec, Sepertinya dia sengaja memanas-manasi alec dengan kata-katanya.
Alec menarik tanganku dan membawaku ke penthousenya, dia mendiamiku sepanjang malam tanpa pelukan ataupun ciuman, setelah bosan dengan diamnya Alec aku mulai memeluknya dari belakang ketika dia melepas jasnya yang di simpan di atas sofa.
"Alec, please jangan marah hemm...." bisikku memeluknya erat. Alec kemudian berbalik dan menatapku.
Dia ingin marah, tetapi dengan sedikit godaan dariku, kami akhirnya berakhir di sofa dengan saling berpelukan, meskipun begitu Alec tetap melanjutkan omelannya.
Hujan kali ini begitu deras disertai angin kencang, aku khawatir kepada alec dan menghubunginya tetapi Alec tidak mengangkat ponselnya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya hujan sedikit reda, aku keluar dari penthousenya menunggu di depan pintu rumahnya meskipun angin lumayan kencang.
Aku melihat Gery sedang sibuk memutar mobilnya dan aku berlari menujunya. "Hei Gery, mau menjemput Alec"? ucapku sambil memayungi diriku dengan tanganku.
"Ya, Miss aku akan menjemput tuan alec".
"Boleh aku ikut? aku sangat bosan di sini sendiri". Gery kemudian menunduk dan membuka pintu mobilnya kepadaku. Mobil akhirnya melaju dengan hujan yang masih turun meskipun tidak begitu deras.
Setelah 20 menit perjalanan kami akhirnya sampai ke Golden enterprise, Gery membukakan pintu mobil untukku dengan tersenyum aku mengatakan padanya sebentar lagi dia akan datang bersama alec.
Andri berlari dan masuk kedalam perusaahan Alec, beberapa orang masih ada di dalam sana tetapi sepertinya sebagian orang sudah pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Andria menekan tombol lift paling atas dan beberapa saat bunyi liftpun berdentang.
"Alec, aku mengikutimu sampai ke Vancouver karena aku harus melakukannya, kudengar-dengar kau memiliki kekasih di sini? ucap wanita itu.
"Bukan urusanmu rose, aku sibuk..pergilah". Alec terdengar marah mendengar rengekan wanita itu.
"Bukankah kau sengaja datang ke Seattle untuk menemuiku? mengapa kau menunda kembali acara pertunangan kita"?
Deg, seketika jantung Andria berdetak, pertunangan? apa maksudnya?
"Jadi, setelah kau menyingkirkan Kiren, kau ingin menyingkirkanku juga? teriak wanita itu, bukankah kau baik-baik saja ketika kita bersama di Seattle mengapa setelah kau berada di Vancouver kau berubah?
"Wanita itu memperingatiku tentang seorang gadis bernama Andria, siapa dia Alec"?! teriaknya kembali.
Andria menutup mulutnya, tangannya bergetar mendengar percakapan mereka.
"ALEC, Please jangan mengacuhkanku, aku mencintaimu". Wanita itu terisak-isak menangis. Alec memandangnya dia lalu berdiri dari tempat duduknya menghampiri wanita itu.
"Rose, aku sudah mencoba bersama denganmu selama ini, tapi..tidak ada cinta diantara kita". Wanita itu masih menangis dihadapan Alec.
"Aku mencintaimu Alec tidak bisakah kita mencoba"? apakah wanita bernama Andria begitu berarti bagimu? jadi, bagaimana denganku... setelah apa yang kita lakukan bersama selama ini, kau ingin mencampakkanku demi wanita itu"?
"Rose, apa kau lupa mengapa kita bisa bersama? kita bersama selama ini karena kita sama-sama saling diuntungkan satu sama lain...kita bersama bukan karena cinta, hanya Saling menguntungkan tidak lebih". bentak alec yang membuat wanita itu bertambah tangisnya.
"Cium aku Alec, please..aku begitu sedih karenamu"! ucap wanita itu sambil memohon.
Alec memegang bahunya, dan hendak mendorong tubuh wanita itu yang berjinjit di hadapan alec, tetapi bunyi ponsel alec berdering di atas meja.
Alec mengambil ponselnya, "Sebentar lagi aku akan turun Gery", perintahnya.
Tiba-tiba matanya menatap tajam kearah pintu, dan melihat Andria berdiri di sana wanita itupun berdiri dan memandang Andria dengan mengernyitkan alisnya, "Siapa kau"? ucapnya.
"Andria"? bisik alec.
Andria maju selangkah di depan pintu kantor Alec, "Jadi, kau pergi ke Seattle untuk bertemu tunanganmu"? wajahnya cukup tenang tetapi hatinya terasa sakit, dan matanya mulai memanas dia berjuang agar tidak mengeluarkan air matanya didepan Alec.
"Oh jadi kau wanita bernama Andria? kau wanita yang ingin mencuri tunanganku". Ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
"DIAM ROSE" ! bentak Alec.
"Seharusnya aku yang marah Alec, aku ini tunanganmu". Teriak wanita bernama rose.
"Andria biar aku jelaskan"! Alec mendekati Andria dan mengacak-acak rambutnya. Andria menatap tajam alec, Andria mundur menjauhinya dengan tatapan marah dan benci.
"Jangan kau coba mendekatiku, brengsek"! sambil menggertakkan giginya.
"Andria please dengarkan dulu ucapanku, kumohon".
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan, semuanya cukup jelas yang kudengar". Alec tetap menghampiri Andria dengan wajah putus asa, "Andria please, dengarkan aku".
Tamparan keras mendarat di wajah alec, tetapi dia tetap berdiri tegak dengan wajah memerah dan menatap andria dengan putus asa, wanita itu kini mendatangi Andria dengan wajah marah, siap menerjangnya dengan kuku panjangnya, tetapi tiba-tiba Andria berbalik dan kembali menampar pipi cantiknya yang putih.
Wanita itu kini jatuh terduduk dilantai, "Andria apa yang kau lakukan". Teriak Alec, dengan wajah sangat kecewa dan marah Andria menatap alec.
"Jangan. pernah. kau. muncul. dihadapanku lagi". Ucap andria, wanita bernama rose itu menangis dan memegang pipinya. "Andria please dengarkan aku, Andria...ANDRIA ! Alec berteriak-teriak memanggil andria sehingga suaranya terdengar bergema di ruangan itu.
Andria berlari secepatnya dan menahan air matanya, dia menuju lift dan untuk kedua kalinya seperti Dejavu dia bertemu dengan Gery di pintu masuk dengan memandang andria bingung. "Miss"? tetapi Andria pergi begitu saja melewatinya dan keluar dari sana.
"Aku membencimu Alec, benar-benar membencimu". gumam andria, dia berlari di tengah hujan sambil menunggu bus yang tidak kunjung datang.