
Hujan deras mengguyur sebuah kota disuatu negara, derasanya hujan membuat jalan berkabut dan tidak terlihat kendaraan yang melintas. Sebuah mobil melaju dengan sebuh kecepatan sedang, didalam mobil tersebut terdapat keluarga bahagia yang sedang bersenda gurau. Bukan alasan apapun mereka tetap tertawa dan bersenang senang, mereka menutupi ketakutan hujan yang sangat deras diluar mobil mereka.
Seorang gadis kecil menatap luar mobil dengan merinding, telinganya mendengar suara rintikan hujan yang tidak ada tanda berhenti. Ketakutannya juga menular pada seseorang yang didalam mobil, sampai suara guntur harus menghentikan mobil itu di pinggir jalan.
"Papa Nadira takut sekali, hujannya menakutkan! " Ucap gadis itu bernama Nadira, sang ibu bernama Naira pun memeluk putrinya yang ketakutan. Tidak lupa disamping nya juga terdapat anak laki laki, tidak lain adalah Adnan saudara laki laki dari Nadira.
"Kita tidak bisa pulang kalau hujannya begini terus! " Ucap Adrian yang kerap dipanggil papa, keempat manusia itu pun pasrah untuk menunggu hujan reda. Bukannya berhenti hujan sepertinya semakin deras, mereka berempat hanya saling diam tidak tahu harus melakukan apa.
"Harusnya Nadira gak minta jalan jalan tadi, sekarang kita kejebak hujan yang menyebalkan ini! " Ucap Nadira lagi, Adrian tersenyum dan mengusap kepala anaknya.
"Jangan salahkan diri sendiri, kita kan tidak tahu kapan hujan turun dan kapan hujan tidak turun! " Ucap Adrian tersenyum, Nadira dan Adnan pun tersenyum. Adrian menyipitkan matanya ketika sebuah cahaya lampu menerangi mobil mereka, bersamaan sebuah klakson mobil terdengar begitu keras membuat keempat manusia itu terkejut.
Belum sempat bicara dan masih dengan keterkejutan, sebuah mobil yang tidak tahu asalanya menabrak mobil Adrian yang berhenti. Adrian memeluk Adnan yang disampingnya begitu pun dengan Naira, mobilnya terdorong hingga berada di pembatas sebuah jembatan. Adrian terlempar keluar dijalan raya bersama Adnan, Naira sendiri berada didalam mobil tidak sadarkan diri. Setelah beberapa lama ramai seseorang yang datang disana dan mulai berkerumun, kecelakaan dua mobil membuat suara benturan yang sangat keras.
"Hei bantu wanita itu, dia terjepit disana! " Ucap seseorang berteriak, tanpa mendengar suara hujan yang masih terdengar deras. Adrian yang merasa sakit tidak peduli dan memilih untuk membuka mata, Adrian melihat Adnan yang tidak sadarkan diri didekapannya.
"Tolong putraku! " Ucap Adrian yang gemetar menahan sakit, tanpa bicara seseorang membawa Adnan menepi dan Adrian langsung tertuju ke arah mobil miliknya. Adrian berlari tidak peduli dengan lukanya, hal yang ia pedikan hanya istri dan juga anaknya. Adrian terkejut melihat Naira yang sudah diangkat oleh beberapa orang, Adrian langsung memeluk tubuh kecil istrinya dengan gemetar. Beberapa orang membawa mereka menepi, seseorang telah menelfon ambulan untuk korban kecelakaan itu.
"Nadira... " Lirih Naira, Adrian langsung menoleh kearah mobilnya. Mobil itu sudah tidak berbentuk, Adrian melihat sekelilingnya yang tidak melihat Nadira disana. Adrian berlari ke arah mobil tidak ada Nadira, ia menjadi panik dan melihat kanan kirinya.
"Apa kau melihat putriku, kami punya anak perempuan yang duduk bersama istriku! " Ucap Adrian pada seseorang, orang itu berusaha menenangkan Adrian.
"Tidak ada siapapun pak, kami hanya menemukan istri anda yang terjepit! " bagai petir menyambar hati Adrian, sampai ia benar benar tidak kuat dengan dirinya dan langsung tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian sebuah ambulan datang, ambulan itu langsung membawa korban yang ada disana. Hujan sudah mereda, dan polisi mulai berdatangan untuk melihat lokasi kecelakaan. Naira yang menutup mata terus merintih, tubuhnya penuh luka dan mulutnya tidak berhenti memanggil sang buah hati Nadira.
Sampai nya dirumah sakit, dokter dan perawat mulai merawat pasien mereka. Nadia yang masih menjadi dokter, terkejut bukan main melihat pasien yang akan ia tangani. Pasalnya ia mendapat kabar bahwa ada kecelakaan besar, tidak ia sangka anak dan menantu serta cucunya yang menjadi korban kecelakaan. Air mata Nadia tumpah bagaikan air hujan sebelumnya, ia tidak kuasa melihat luka yang ada pada ketiga manusia dihadapannya.
Jam berjalan tanpa henti, sampai sebuah ruangan menampilkan Nadia yang masih dengan tangisnya. Kara yang melihat sangat istri lemas langsung memeluk Nadia, tangisnya masih tidak berhenti dan terus menangis.
"Bagaimana mereka, apa mereka baik baik saja? " Tanya Kara, Nadia mengangguk tapi masih dengan menangis. Secara bersama dokter David keluar dengan dokter Daniel, mereka duduk di kursi dengan lemas dan kecemasan masing masing.
"Tidak ada yang baik dari ketiganya, mereka sama sama kritis. Tubuh mereka tidak meyakinkan, tapi masih ada harapan untuk hidup mereka! " Ucap David, mereka semua masih dengan ke khawatiran masing masing.
Belum siapapun menjawab, pintu ruangan yang tertutup rapat tiba tiba terbuka. Semua orang menoleh dan melihat Adrian berdiri disana, mereka terkejut melihat Adrian dengan sempoyongan berdiri. Bahkan ia melepas infus di tangannya, membuat darah ditangannya mengalir tanpa peringatan.
"Aku harus mencari putriku, putriku tertinggal! " Ucap Adrian dengan lemah, mereka terkejut bukan main. Kara langsung berusaha menghubungi seseorang begitu juga dengan Bagas, Daniel dan David menopang tubuh Adrian. Mereka membawa Adrian kedalam untuk perawatan, tapi Adrian menolek dengan keras mendorong tubuh keduanya. "Putriku masih disana, bagaimana bisa aku disini! "
"Adrian tenanglah, kami yang akan mencari Nadira. Kamu harus istirahat, lihat kondisimu! " Ucap Daniel, Adrian tetap melawan dan ingin pergi dari sana. Sampai keributan terjadi, terhenti ketika sebuah tamparan mendarat di pipi Adrian. Amelia yang sudah tidak sabar menampar putranya, untuk memberikan kesadaran pada putranya.
"Kami semua ada disini, kami akan mencari Nadira. Kau yang seperti ini, bagaimana kau akan mencari putrimu. Pikirkan istri dan anakmu yang ada didalam, mereka juga berjuang untuk hidup mereka. Sadarlah Adrian, jangan paksakan dirimu! " Ucap Amelia berteriak pada Adrian, ia menangis kemudian memeluk tubuh Adrian yang bergetar diakibatkan menangis. David memberi isyarat pada Daniel, dengan segera Daniel menyuntik obat penenang untuk Adrian. Seketika tubuh itu lunglai, dan perlahan tidak sadarkan diri dalam dekapan Amelia.
"Aku ingin mencari Nadira, dia menghilang! " Ucap Adrian sebelum ia tidak sadarkan diri sepenuhnya, Daniel membawa Adrian untuk kembali ke tempat tidurnya. Mereka menangis tanpa henti, berdoa yang hanya bisa mereka lakukan.
******
Hari demi hari berganti, pencarian Nadira masih dilakukan. Satu minggu setelah kecelakaan Naira membuka mata, ia langsung histeris saat mengingat kejadian itu. Naira mengatakan sang buah hati terlempar jatuh melewati pembatas pagar jembatan, semua orang terkejut begitu juga dengan Adrian. Ia sangat lemah dengan keadaannya itu, Putranya mengalami cedera otak serius, istrinya yang harus mengalami kelumpuhan pada kakinya, ditambah putrinya hilang belum ditemukan. Ia hanya bisa memeluk Naira yang menangis histeris, ia meminta putrinya agar bisa dikembalikan padanya.
Semua orang mencari keberadaan Nadira, sungai mereka telusuri tapi tidak ada tanda apapun tentang Nadira. Kara menggerakkan seluruh orang yang harus terlibat, ia ingin cucunya itu ditemukan apapun kondisinya. Tapi mereka berharap menemukan Nadira yang masih hidup, meskipun kemungkinannya sangat kecil.
Adrian yang duduk di kursi roda menatap seluruh tempat kejadian disana, air mata terus menetes di pipinya. ia terus memanggil nama Nadira dalam hatinya, tapi tidak ada hasil apapun sampai ia berteriak karena kesal sendiri.
Adrian dibawa kerumah sakit oleh Bagas, ia masuk kedalam ruangan Adnan yang tenang dengan tidurnya. tapi kehadiran Adrian membuat Adnan membuka mata, tatapan sendu itu menatap Adrian yang tampak lesu. Adrian tersenyum ketir melihat putranya, dengan lemah Adrian memeluk putranya dan menangis.
"papa... Nadira pergi ninggalin Adnan! " ucap Adnan dengan lemah, Adrian menggelengkan kepala dan membawa Adnan untuk menatapnya.
"kita akan menemukan adikmu, apapun kondisinya kita pasti akan menemukannya! " ucap Adrian, tapi Adnan tetap menangis dalam pelukan Adrian.
beberapa saat kemudian mereka keluar dari ruangan itu, mereka masuk keruangan Naira yang tidak jauh dari sana. Naira memejamkan mata bagaikan putri tidur disana, Adrian membawa Adnan untuk mendekat kearah Naira, tangan kecil yang dingin itu menyentuh pipi Naira. membuat sang empu membuka mata, Naira menoleh kearah Adnan dan kemudian tersenyum. Adnan langsung memeluk Naira tanpa mengatakan apapun, air mata yang sudah mengering itu kembali basah di pipi Naira. Ia menangis melihat sang putra dengan perban dikepala dan tangannya, bahkan ia juga melihat tubuh suaminya yang lemah duduk di kursi roda.
...****************...
pindah yuk, chanel sebelah judulnya Love Story of Twin dijamin seruu🤸‍♀️