
sebulan telah berlalu, hari ini adalah hari bahagia untuk Naira dan Adrian. hari dimana mereka menikah, Naira sangat cantik menggunakan kebaya berwarna putih untuk acara akad nikah. Naira keluar dari kamarnya, ketika itu juga pandangan semua tamu dan semua orang yang datang menatap satu tujuan. dengan perlahan Naira turun dari tangga, Naira menatap Adrian yang sudah menunggunya dibawah. Naira tidak menyangka hari yang selalu menjadi impiannya, hari ini telah terjadi. waktu terasa begitu cepat, hari pertunangan hingga sampai hari pernikahan.
Adrian menatap Naira tidak berkedip, dengan jas hitamnya Adrian duduk menunggu Naira. Adrian ingin mempercepat niat baiknya itu, setelah semua urusannya selesai Adrian akan fokus pada kesehatan Naira. dengan perlahan Naira duduk disamping Adrian, Adrian tersenyum dengan itu.
"apa kamu gugup?" bisik Adrian, Naira perlahan mengangguk. Adrian menggenggam tangan Naira yang gemetar, Naira menoleh ke arah Adrian.
"jangan gugup, ini akan cepat selesai." ucap Adrian lagi, Naira tersenyum dan mengangguk.
Nadia menatap putri cantiknya itu, begitu juga dengan Kara dan juga Vano. Naira tersenyum kearah mereka, Kara merangkul Nadia yang sedang terharu.
"tidak tahu, sejak kapan putriku sudah besar!" ucap Nadia, Kara tersenyum dengan itu.
Adrian siap mengucapkan ijab kabul, Naira sangat gugup dengan itu. Adrian menoleh kearah Naira, Naira tersenyum dengan perasaan gugup.
"apakah kalian sudah siap?" tanya pak penghulu, Adrian dan Naira mengangguk secara bersamaan. Adrian menerima uluran tangan pak penghulu itu, Adrian masih dengan senyumnya.
"baiklah. saudara Adrian Pratama bin Vano Alatas, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Naira Putri binti Kara Wijaya dengan maskawinnya seperangkat alat sholat dan lainnya tunai!"
"saya terima nikah dan kawinnya Naira Putri binti Kara Wijaya dengan maskawinnya yang tersebut, tunai!" dengan satu tarikan nafas Adrian mengucapkan ijab kabul itu dengan lancar.
"bagaimana saksi, Sah?"
"SAH!!!" semua menjawab sah secara bersamaan, mereka mengucapkan syukur dan memberikan doa untuk pernikahan itu. Naira tersenyum menatap Adrian, ia mencium tangan punggung Adrian. Adrian mencium dahi Naira dan tersenyum.
***
malam harinya mereka mengadakan resepsi pernikahan, setiap tamu undangan datang menghampiri Naira dan Adrian untuk mengucapkan selamat. mereka juga sudah mengganti pakaian mereka, Naira terlihat cantik dengan gaun putihnya.
Adrian telah membawa Naira ketengah acara resepsi itu, Adrian menatap Naira yang sangat cantik menurutnya. Johan yang ada disana memberikan mike untuk Adrian, Naira melihat itu hanya heran.
"selamat malam semuanya, terima kasih sudah hadir dalam acara bahagia kami. aku berharap kalian menikmati acara resepsi pernikahan kami, dan mendoakan pernikahan kami agar bahagia selalu." ucap Adrian, Naira tersenyum dengan itu.
"aku tidak tahu harus bilang apa lagi, saat kecil aku tidak pernah berpikir tentang hari ini. yang aku pikirkan hanya menyukai seorang anak kecil, nakal, centil, jail, imut dan juga sangat cantik. sampai pada akhirnya aku terpisah lima belas tahun dengannya, dan saat itu juga aku sadar telah mencintainya sejak kami bertemu. aku tidak pernah berpikir dia juga mencintaiku, aku selalu berharap bahwa dia tidak melupakan aku dan memiliki perasaan yang sama. dan ternyata benar dia menungguku dan selalu mencintaiku selama itu." ucap Adrian menggenggam tangan Naira, Naira tersenyum haru menatap Adrian.
"Nara kamu adalah wanita terhebat setelah ibuku, tidak ada seorang wanita sehebat dirimu. dan terima kasih sudah menungguku, terima kasih sudah setia menungguku kembali. Nara hari ini aku ingin mengatakan pada semua orang, kalau kamu adalah istriku, kamu milikku seutuhnya. aku mencintaimu, dan sangat mencintaimu lebih dari apapun." Naira meneteskan air mata dengan perkataan Adrian, Adrian mengusap air mata itu.
"terima kasih sudah memilihku menjadi pasangan hidupmu, terima kasih juga kamu telah memilihku untuk menjadi istrimu. kak Anan aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu!" saut Naira, Naira memeluk Adrian dengan erat. mereka yang ada disana bertepuk tangan, Bagas kembali mengambil mike yang dipegang Adrian.
"hei Adrian!" ucap Bagas, Naira dan Adrian melepas pelukan itu. Bagas tersenyum kearah Naira tapi sebaliknya saat menatap Adrian.
"aku tidak tahu sejak kapan kedua adikku besar dan dewasa, lalu sekarang salah satu adikku menikah. setelah ini adikku yang lain akan menikah, waktu berjalan begitu cepat. dan benar kata Adrian, sikecil yang nakal, cerewet, centil, jail, dan cengeng. sekarang berdiri dihadapanku bahkan kalian semua, dia sudah menikah dan menjadi istri seseorang." ucap Bagas, Naira berdiri bersama Riana mereka tersenyum haru dengan perkataan kakaknya itu.
"aku Bagas kakak Naira, mewakili para orang tua untuk bicara. Adrian aku serahkan adikku ini padamu, mulai hari ini kamu menggantikan tugasku dan tugas orang tuanya. kau harus menjaganya dan jangan pernah menyakitinya dan melukainya. jika kau melakukan semua itu, aku akan mengambil adikku darimu kapan saja yang aku mau!" ucap Bagas, Adrian tersenyum dengan itu. Adrian mengangguk dan mereka berpelukan disana, semua keluarga merasa senang dan juga bahagia.
"dan kau sekarang tidak akan kuganggu saat berduaan, dia milikmu sekarang!" ucap Bagas, Adrian dan Naira tertawa dengan itu. Naira berjalan kearah Bagas dan langsung memeluk kakaknya itu.
"aku sangat menyayangimu kak, terima kasih!" ucap Naira, Bagas tersenyum dan mencium dahi Naira.
"aku lebih menyayangimu!" saut Bagas, Naira tersenyum dan mencium pipi kanan dan kiri Bagas. Riana yang melihat itu juga berjalan kearah mereka, dan ikut memeluk kakaknya itu.
setelah mengatakan itu tamu kembali mengucapkan selamat, Naira dan Adrian tersenyum dengan ramah. saat melihat Siska, Naira sangat senang. mereka berdua saling memeluk, Adrian yang melihat itu hanya tersenyum pada Johan.
"akhirnya kalian menikah, aku sangat bahagia!" ucap Siska, Naira tersenyum dan mengangguk.
"iya, kau harus menyusulku!" ucap Naira, Adrian menyenggol lengan Johan. Johan terkejut dibuatnya, Johan hanya tersenyum dan mengangguk.
"kak Bagas juga, dia harus cepat menikah. usianya sudah tua, tapi belum mencari pasangan!" ucap Riana, Bagas hanya menahan kekesalannya.
"kau saja sana cari suami, awas saja kalau sampai mencari pacar hanya untuk bermain main. aku akan menguncimu di gudang dan menikahkanmu dengan paksa!" ucap Bagas, Riana kesal dengan itu. mereka pun akhirnya berdebat disana, Naira hanya tertawa melihat pertengkaran itu.
"kalian melupakan aku!!"
suara seseorang membuat Siska dan Naira menoleh, bukan hanya mereka Adrian dan Johan pun menoleh. terlihat Sonia berdiri membawa bunga dan kotak hadiah, Siska dan Sonia yang melihat itu sangat terkejut dan senang. bukan hanya mereka, Bagas terkejut melihat itu. ia tidak percaya, kalau dirinya melihat Sonia. Bagas hanya diam agak jauh, Sonia berjalan melewati Bagas untuk menghampiri Naira.
"selamat untukmu Naira dan Adrian, kejutan!" ucap Sonia, Naira tertawa dengan itu.
"aku sangat terkejut, kapan kamu datang?" tanya Naira, Sonia tersenyum.
"baru saja. setelah mendapat kabar dari Adrian, aku langsung kemari untuk membuat kalian terkejut. dan lihat kalian semua terkejut,!" ucap Sonia, Siska dan Naira pun mengangguk.
"maafkan aku, aku terlambat dan tidak menyaksikan adegan romantis kalian!" ucap Sonia, Naira tersenyum dan mengangguk.
"tidak masalah, kamu datang aku sudah sangat senang!" ucap Naira, Sonia mengangguk dengan itu. ia memberikan hadiahnya untuk Naira, dengan senang Naira menerima hadiah itu.
"kau harus menyusul ya!" ucap Naira, seketika Sonia terdiam dan melirik Bagas. Bagas bicara dengan Adrian dan juga Johan, Naira yang tahu itu hanya tersenyum.
"apa dia menghubungimu?" tanya Naira, Sonia menggelengkan kepala.
"tenang saja, dia akan leleh olehmu!" saut Naira, Sonia mengangguk dan tersenyum
setelah bertemu Naira, Sonia pamit untuk mencari makan. perut Sonia yang lapar, mulai berdemo untuk meminta makan. Sonia sibuk memilih makanan disana, tanpa disadari ada seseorang yang sedang menatapnya.
"hm... makanan Indonesia ini, sangat lezat. berapa tahun aku tidak makan ini, aku sudah menjadi bule!" gumam Sonia dengan menikmati makanannya, Sonia lupa dunia saat memakan semua itu.
"halo nona, siapakah kamu?" tanya seseorang, Sonia pun menoleh keasal suara. terlihat seorang pria berdiri, Sonia tidak menyukai penampilan pria itu.
"hm.. maaf, aku tidak biasa bicara dengan orang asing!" ucap Sonia, pria itu malah menarik tangan Sonia.
"sombong sekali, aku hanya bertanya siapa dirimu!"
"lepaskan, tindakanmu sangat tidak sopan. aku sudah katakan tidak tertarik bicara dengan orang asing, dan aku tidak suka membuat keributan!" jelas Sonia, bukannya melepaskan pria itu malah mencengkram tangan Sonia lebih erat.
"lepaskan!"
"jika tidak..."
"jika tidak aku akan menghancurkan tanganmu!" ucap seseorang, Sonia dan pria itu pun menoleh keasal suara. terlihat Bagas berdiri dengan tampan, pria itu pun melepaskan tangan Sonia.
"ini hari bahagia adikku, aku tidak ingin membuat keributan. jadi segera pergi dari hadapanku, sekarang!" tanpa bicara pria itu pun pergi, Sonia memegangi tangannya.
"maaf atas ketidak sopanan mereka, kau tidak apa?" tanya Bagas, Sonia mengangguk. Sonia menatap Bagas yang memakai setelan jas yang cocok untuknya, mata Sonia tertuju pada dasi yang digunakan Bagas. dasi itu adalah dasi pemberian nya, Sonia tersenyum dengan itu. secara kebetulan pakaian mereka cocok, dan sangat serasi jika dilihat seperti pasangan.
"aku baik baik saja, terima kasih!" ucap Sonia, Bagas mengangguk dan pergi dari sana. Sonia terkejut dengan itu, ia tidak menyangka Bagas secuek itu padanya.
"apa kau tidak senang melihatku?" tanya Sonia, Bagas menatap wajah Sonia yang terus menatap dirinya.
"kenapa, apa menjadi masalah?" tanya Bagas, Sonia menyipitkan matanya. Bagas berbalik lagi untuk pergi dari sana, Sonia kesal dengan itu.
"terima kasih karena memberiku hadiah, dan maaf aku tidak bisa menghubungimu!" teriak Sonia, Bagas tersenyum dan meninggalkan Sonia sendiri. Bagas menyadari karena dia belum berterima kasih, bahkan belum menghubungi Sonia. Sonia yang kesal kembali memakan makanannya, ia melampiaskan kekesalannya pada makanan itu.
setelah berjam jam mengadakan acara resepsi pernikahan, Adrian membawa Naira pulang kerumahnya. beberapa pelayan menyambut mereka, Naira mengagumi rumah besar milik Adrian yang terhias bunga bunga cantik dan lampu berkelap kelip. Naira tertawa kecil dengan itu, Adrian menoleh kearah Naira yang tertawa itu. karena merasa gemas Adrian langsung menggendong Naira, membuat Naira terkejut dengan itu.
"apa yang kau lakukan?" tanya Naira, ia merasa malu ketika melihat beberapa pelayan wanita mengatakan iri terhadap dirinya.
"kenapa, apa kamu malu. sekarang kamu istriku, dan tidak ada yang bisa mengganggu hal romantis kita. termasuk kakakmu!" ucap Adrian, Naira yang mendengar itu tertawa lalu mengalihkan kedua tangannya pada leher Adrian. Adrian menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka, setelah sampai Naira melihat kamar itu terhias sangat cantik. Naira teringat saat pertama kali disana, ia merawat Adrian yang sedang sakit demam dan mengigau. lalu Naira teringat pada lemari Adrian yang penuh dengan pakaian wanita, Adrian mengatakan pakaian itu untuk calon istrinya. Naira pun beranggapan calon Istrinya itu, Sonia.
"kak Anan, boleh aku bertanya?" ucap Naira, Adrian sedang mengganti pakaiannya.
"hm.. katakan!" ucap Adrian menoleh, Naira hanya berpikir takut membuat Adrian marah. Naira pun menggelengkan kepala, Adrian yang melihat itu mendekati Naira.
"ada apa, katakan apapun yang ingin kamu tanyakan. bukankah kamu istriku, kamu berhak menanyakan apapun pada suami mu ini!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.
"hm... iya, dulu kamu bilang menyediakan baju untuk calon istrimu. apakah calon istrimu itu Sonia, atau yang lain?" tanya Naira, Adrian menatap Naira tanpa menjawab.
"jika kamu tidak ingin jawab, maka tidak usah. lupakan, aku akan ganti baju!" ucap Naira berdiri, Adrian pun menarik tangan Naira. ia membawa Naira kehadapan cermin besar dikamar itu, Adrian berdiri dibelakang Naira.
"ada apa, apa yang kamu lakukan?" tanya Naira menatap Adrian pada pantulan cermin, Adrian tersenyum dan memeluk Naira dari belakang.
"calon istriku itu, sekarang menjadi istriku. dan semua pakaian yang aku siapkan itu untuk istriku ini, kemarilah!" ucap Adrian menarik tangan Naira, Adrian membuka sebuah pintu agak lebar didalam kamar itu. Naira terkejut ketika kamar itu dibuka, kamar itu penuh dengan koleksi pakaian, sepatu, tas dan juga beberapa perhiasan berlian berkilauan. Adrian tersenyum melihat Naira, Naira menoleh kearah Adrian.
"semua ini untuk istriku sekarang, hanya istriku yang mendapat semua ini dari ku!" ucap Adrian, Naira tersenyum bahagia dengan itu. Naira memeluk Adrian karena senang, Adrian merasa bahagia dengan kebahagiaan Naira. Adrian pun membantu Naira untuk berganti pakaian, dengan malu Naira membiarkan Adrian melepas resliting gaunnya. Adrian yang melihat wajah Naira tersenyum, Adrian mencium pundak Naira dan membuat Naira langsung menoleh kearah Adrian.
"ada apa?" tanya Adrian, dengan wajah merah Adrian menggelengkan kepala. Adrian tersenyum lalu menggendong Naira, Naira hanya menunduk malu dihadapan Adrian.
"aku bahkan belum membuka gaunmu, kenapa kamu sudah sangat malu!" bisik Adrian, wajah Naira semakin merah.
"kak Anan, hentikan. jangan terus berkata seperti itu, aku merasa...."
"merasa apa?" tanya Adrian dengan menidurkan Naira, Adrian menatap mata Naira. wajah Adrian semakin dekat pada wajah itu, Naira menutup mata. Adrian mengingat tentang operasi Naira, Adrian menjadi melemah.
"katakan kamu tidak akan melupakan aku, katakan Naira!" ucap Adrian, Naira langsung membuka mata. Naira melihat wajah Adrian yang sendu menatapnya, Naira mendudukan dirinya.
"kenapa kamu mengatakan itu, aku tidak akan melupakan dirimu kak. sekarang kamu suamiku, bagaimana bisa aku melupakanmu!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mencium tangan Naira.
"iya, jangan melupakan aku tanpa ijinku. ingat itu!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. Adrian mengusap wajah Naira dan mulai mendekati wajah itu, Naira tersenyum dan mengalungkan tangannya pada leher Adrian. Adrian tersenyum dan terus mendekat untuk mencium Naira, Naira menutup mata saat Adrian sudah menciumnya. dengan mencium Naira, Adrian perlahan menidurkan Naira dan ciuman itu turun keleher Naira.
"hm... kak Anan!!" ucap Naira mendorong tubuh Adrian, Adrian terkejut dan langsung menatap Naira.
"ada apa?" tanya Adrian, Naira memeluk Adrian untuk menyembunyikan wajah malunya.
"matikan lampunya, aku sangat malu sekarang!" bisik Naira, Adrian tersenyum dengan itu. Adrian menarik tubuh Naira, Naira tersenyum saat Adrian menatapnya.
"gadis nakal bisa malu ternyata!" ucap Adrian, Naira mengerucutkan bibirnya membuat Adrian tertawa kecil. Adrian pun mencium Naira kembali, Naira tersenyum dan menikmati ciuman itu lagi.
"Nara aku mencintaimu, sangat mencintaimu!!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan Adrian pun mematikan lampu kamar itu.
'ingat ini Naira, jika ingatan mu hilang. ingat lah kalau kamu istriku dan aku suamimu, ingatlah betapa bahagianya kita saat bersama.'
****
*kejadian secara bersamaan.
setelah pesta itu, Bagas harus terjebak untuk mengantar Sonia. Bagas mengantar Sonia untuk mencari hotel, mereka berkeliling kota itu. karena tidak menemukan hotel, Bagas pun memilih apartemennya untuk ditinggali Sonia. Bagas pun menjalankan mobilnya menuju apartemen miliknya, Sonia hanya terdiam didalam mobil sesekali ia melirik Bagas.
"apa kau akan terus melirikku tanpa bicara?" tanya Bagas, Sonia terkejut lalu tersenyum kaku.
"eh anu.. itu.. lihat ini... jalan sangat sepi sekarang!" ucap Sonia gugup, Bagas tersenyum mengetahui kegugupan Sonia.
"terima kasih!" ucap Bagas, Sonia menoleh kearah Bagas.
"untuk apa, aku yang harus berterima kasih!" ucap Sonia, Bagas menggelengkan kepala.
"terima kasih untuk hadiahmu, aku menyukainya dan sekarang aku memakainya!" ucap Bagas, Sonia tersenyum dengan itu.
"kenapa kau tidak menghubungiku, bukankah aku sudah menulis nomerku?" ucap Sonia, Bagas masih tersenyum.
"aku tidak ingin menghubungimu hanya untuk terima kasih!"
"kenapa?" tanya Sonia merasa heran, Bagas menoleh kearah Sonia.
"karena aku ingin bertemu denganmu untuk mengatakan terima kasih!" saut Bagas, Sonia menatap Bagas tanpa berkedip. setelah beberapa menit mereka sampai di apartemen yang dimaksud, Bagas membawa Sonia masuk dan juga membuka password apartemen nya.
"lihat ini, jangan lupakan passwordnya!" ucap Bagas, Sonia masih menatap Bagas.
"aku tidak akan lupa, mungkin hanya melupakanmu saja yang tidak bisa!" gumam Sonia, Bagas mendengar itu dan langsung menoleh kearah Sonia.
"apa?"
"eh iya, aku akan mengingatnya. terima kasih ya atas bantuanmu, Selamat istirahat!" ucap Sonia, Bagas mengangguk dengan wajah datar.
"hm.. bisakah kau tersenyum saat pergi?"
"kenapa?" singkat Bagas, Sonia tersenyum.
"karena jika kau dengan wajah datar, aku tidak menyukainya. kalau wajahmu tersenyum, aku sangat menyukainya." ucapan Sonia seketika membuat Bagas tersenyum, Sonia pun tertawa dengan itu.
"sudahlah, aku pergi dulu. Selamat malam!" ucap Bagas, Sonia tersenyum dan mengangguk. Bagas pun melangkah pergi dari sana, Sonia hanya menatap punggung Bagas yang berjalan menjauh.
"jika kau menoleh, kau menyukaiku!" ucap Sonia, Sonia terus berharap agar Bagas menoleh untuk yang terkahir. semenit kemudian Sonia terkejut ketika melihat Bagas menoleh, bahkan memberikan senyuman dan lambaian tangan untuknya. Sonia tersenyum malu tapi senang didalam hatinya, dia masuk kedalam kamarnya dan bersorak didalam. Bagas yang melihat itu tertawa kecil, Bagas menggelengkan kepala dan pergi dari sana.
****
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍