
Jakarta, Agustus 2022
Pagi itu cerah. Sinar matahari merambat ke seluruh penjuru arah, tak terkecuali kamar bernuansa biru milik seorang wira yang masih terlelap dalam tidurnya.
Ia mengerang, seakan protes akan sinar yang masuk tanpa permisi, membuatnya harus mengakhiri perjalanannya di dunia mimpi.
Matanya mengedar, Kamarnya terlihat remang namun tetap nyaman.
Perasaannya pagi ini membaik. Tak ada beban berarti yang tersisa di hati.
Setidaknya untuk hari ini, ia pikir.
Namun tentu saja, Dunia tidak pernah berjalan sesuai keinginan manusia.
Baru saja ia akan berjalan menuju kamar mandi, ponselnya yang terletak di atas nakas berbunyi, menandakan adanya pesan yang masuk.
Ia ambil benda berbentuk segiempat itu. Bibirnya langsung tertekuk dalam kala ia baca gelembung pesan dengan nama 'Ayah' yang nampak dilayar terang itu.
'Malam ini ada makan malam dengan keluarga Shaqueena'
Dan Gala tahu, Harinya tak akan menjadi setenang biasanya.
......................
Gala selesai rapat lima belas menit yang lalu. Ia kini sedang beristirahat di ruangannya, sambil sesekali memijat tengkuknya yang terasa kaku.
Harinya masih berjalan biasa. Ia belum menjumpai Shaqueena sama sekali.
Padahal biasanya, jika ada pertemuan keluarga seperti ini, Shaqueena akan datang dan merengek untuk ditemani keluar. Sekedar memilih baju baru atau menemani ia yang ingin ke salon, merupakan sebuah keharusan.
Namun, kenyataan bahwa sampai jam makan siang presensi Shaqueena masih belum ditangkap oleh netranya, membuat ia bisa sedikit bernapas lega.
Ponselnya kembali bergetar. Ia meraih benda pipih itu dengan malas.
Namun sesaat kemudian, matanya menjadi berbinar kala ia melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya.
Ameera.
Gadis itu mengirimkan foto Cupcake aneka bentuk. Ia menyebutkan kalau itu adalah menu baru yang mungkin akan ia keluarkan minggu depan, dan ia meminta Gala untuk menjadi tester jika pria itu bersedia.
Tentu saja Gala mau.
Senyum Gala mengembang. Segera ia ketik balasan untuk pesan Ameera.
Terlalu sibuk dengan ponselnya, Gala sampai tidak sadar saat Shaqueena masuk ke dalam ruangan.
Gadis itu menatap heran, juga dongkol melihat Gala yang tak menyadari presensinya.
"Chat -an sama siapa sih? sampai senyum-senyum begitu?" Tukas Shaqueena tiba-tiba membuyarkan fokus Gala.
Gala dengan tanpa sengaja, sedikit membanting ponselnya diatas meja. Menaruh asal dengan posisi layar menghadap meja.
Ia tatap Shaqueena yang berdiri di depannya dengan tangan yang tersilang di depan dada.
"Sejak kapan kamu disini?" Tanya Gala kemudian.
Shaqueena memutar bola matanya malas. "Aku udah disini sejak lima menit lalu! Kamu aja yang terlalu sibuk sampai gak sadar aku disini" Geramnya lalu memandang tajam ke arah Gala. "Bahkan aku udah ketuk pintu tadi"
Gala mengangguk-angguk lalu mengembalikan fokus ke ponselnya kala ia kembali merasakan getaran dari benda pipih tersebut.
"Ayo!" Ajak Shaqueena tiba-tiba. Gala mengangkat pandangannya.
"Kemana?" Tanya Gala kemudian.
"Lalu?" Dengan tanpa perduli Gala menjawab. Ia hanya bicara, namun tangan dan matanya fokus pada ponselnya.
Shaqueena geram. Ia menghentakkan kaki, lalu berjalan maju, dengan paksa menarik ponsel dari genggaman tangan Gala, lalu melihat sekilas ruang obrolan yang masih tertera disana.
Hatinya berdenyut kemudian.
"Ameera" Ujarnya lirih membuat Gala berdiri dari duduknya.
"Kembalikan, Shaqueena!" Titah Gala. Tangannya berusaha mengambil kembali ponselnya, dan tanpa perlawanan Shaqueena kembalikan.
"Kamu sebaiknya gak terlalu dekat sama dia, Mas!" Shaqueena memperingati. Matanya tajam memandang Gala. Membuat Gala mengangkat satu alisnya heran.
"Kenapa? kami hanya teman"
Hah? siapa yang coba ia bohongi? Batin Shaqueena memaki.
"Pernikahan kita akan dimajukan!" Ujar Shaqueena kemudian.
Mata Gala membelalak. Ia kaget, tentu saja. "Jangan asal bicara, Shaqueena!"
"Aku tidak. Memang kamu pikir untuk apa acara makan malam ini kalau bukan untuk membahas pemajuan tanggal pernikahan kita, Mas?"
Gala membeku di tempat. Ia memang tidak menaruh curiga atas ajakan makan malam yang tiba-tiba ini. Tapi bukannya ini keterlaluan? ia bahkan belum menyetujuinya.
"Sebaiknya kamu jaga jarak dengan wanita itu sebelum aku membeberkan lebih banyak lagi kepada Ayah kamu, Mas!" Ancam Shaqueena sebelum beranjak keluar ruangan.
"Dan sebaiknya juga, kamu temani aku sekarang, karena aku sudah meminta izin Ayah untuk bawa kamu keluar sekarang" Sambungnya sebelum tubuhnya benar-benar menghilang di balik pintu.
Meninggalkan Gala dengan pikiran yang berkecamuk, diam dan mematung.
......................
Benar kata Shaqueena. Pertemuan ini membahas soal majunya tanggal pernikahan mereka.
Sedari tadi para tetua sibuk membicarakan rencana pernikahan yang dipercepat. Tanpa meminta pendapatnya, seakan ia akan setuju begitu saja.
Tidak ada yang benar-benar memperhatikan bagaimana ekspresi Gala mengeras sekarang. Hanya Shaqueena yang tersenyum menang sambil sesekali menjawab pertanyaan dari orang tua mereka.
"Shaqueena gimana? siap kan kalau pernikahan kalian lebih cepat?" Ini Papa Shaqueena bertanya, sambil menatap lembut dan mengelus pucuk kepala putrinya.
Shaqueena tentu senang, tinggal satu langkah lagi dan Gala akan menjadi miliknya, seutuhnya. "Tentu senang, Papa. Aku gak sabar rasanya nikah sama Mas Gala" Ucap Shaqueena yang menimbulkan gelak tawa keluar dari orang tua mereka.
"Wah.. semangat sekali anakku ini" Kini mama Shaqueena yang ikut berbicara. Ia tatap jahil putrinya sebelum mengalihkan pandangan ke arah Gala. "Mas Gala gimana? Seneng gak kalau pernikahannya di majuin?" Tanya Mama Shaqueena kemudian.
Senang? Tentu saja tidak. Pekerjaannya sedang sibuk-sibuknya, ditambah hatinya mulai goyah. Bukankah ini pemaksaan namanya.
Ingin sekali Gala meneriakkan penolakannya. Tapi dapat Gala rasakan tatapan mengancam dari sang Ayah di balik matanya. Rasanya menusuk, mengancam Gala untuk tidak mengatakan hal yang berkonotasi negatif. Memaksanya untuk mengatakan 'Ya' sebagai jawaban.
Gala telan semua pahitnya.
Seingatnya ia sudah cukup dewasa, usianya sudah dua puluh lima. Tapi tetap, ia tidak bisa menentukan sendiri jalan hidupnya.
Gala tertawa miris. Menertawakan hidupnya.
Maka, secepat kilat ia ubah raut wajahnya. Bak aktor profesional ia tersenyum teduh bagai tak ada badai yang barusan menerpa hatinya. Menjawab dengan pasti seakan ia yakin. Memenuhi perannya sebagai bidak catur terbaik milik sang Ayah.
"Iya, saya juga senang"
...****************...