Do You Remember?

Do You Remember?
lahiran.



Daniel membawa Karin kedalam ruangannya, Daniel ingin meluruskan semuanya agar Karin tidak berharap padanya. ia juga tidak ingin kesalah pahamanan terus terjadi pada Karin, bahkan terhadap Riana sendiri. karena menjaga hati Riana lebih penting, meskipun Daniel tahu benar akan menyakiti hati Karin.


"saya ingin menjelaskan semuanya, agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kita semua!" ucap Daniel, Karin merasa heran dengan itu.


"maksudnya?" heran Riana, Daniel menghela nafas dan menatap Karin.


"dari awal kita tidak pernah saling kenal, dan kamu ingin berteman dengan saya. ya saya setuju dengan pertemanan itu, tapi saya juga tahu kalau kamu tidak hanya ingin berteman melainkan berharap lebih pada saya. sebelumnya maafkan saya, sepertinya kamu tidak bisa berharap lebih dari teman pada saya.." ucap Daniel, ia menghentikan perkataanya ketika melihat Karin menatap nya.


"kenapa, kenapa tidak boleh?" tanya Karin, Daniel menghela nafas untuk kedua kalinya.


"aku sudah memiliki wanita yang harus ku jaga hatinya, aku tidak ingin membuat wanita itu salah paham dengan kedekatan kita disetiap harinya. aku sangat mencintainya, bahkan aku berniat untuk memberikan seluruh hidupku padanya. kamu bisa bahagia Karin, dengan orang yang benar benar mencintai kamu. yang pasti bukan aku, kamu harus bahagia!" ucap Daniel lagi dengan nada lembut, Karin menggelengkan kepalanya.


"aku bahagia jika bersamamu dokter Daniel, sejak pertama kali bertemu denganmu waktu itu, aku sudah tertarik denganmu. tapi aku juga tidak akan memaksa bersamamu jika kamu tidak ingin bersamaku!" saut Karin, Daniel terkejut dengan perkataan Karin. tidak disangka Karin akan bersikap tidak seperti yang ia bayangkan, kebanyakan seorang wanita yang mendapat hal itu akan menangis dan juga memohon tapi Karin malah terlihat bahagia. "aku tidak berharap padamu dokter Daniel, aku hanya ingin berteman denganmu. bolehkan aku berteman denganmu, lagi pula hubungan pertemanan lebih penting dari pada sebuah perasaan!"


"iya kita bisa berteman, terima kasih kamu sudah menghargai perasaanku. maaf jika aku menyakitimu, aku tidak bermaksud untuk itu " ucap Daniel, Karin tersenyum dan menggelengkan kepala.


"haha ... nggak kok, aku juga minta maaf sudah menempel terus selama ini. teman?" ucap Karin mengulurkan tangan, Daniel tersenyum dan menerima tangan itu.


"yah, teman!" saut Daniel, mereka tertawa satu samaain diruang Daniel.


"untung saja aku belum jatuh cinta padamu, jadi aku tidak merasa sedih!" ucap Karin, Daniel hanya tersenyum dengan lembut. "aku tahu siapa wanita yang kamu maksudkan!" ucap Karin, Daniel menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"siapa?"


"Riana kan?" ucap Karin, Daniel membalakkan matanya. "sudah terlihat dokter Daniel, jangan coba coba mengelak!" ucap Karin, Daniel tertawa untuk menutupi rasa canggungnya.


"haduh jangan dibahas, kalau sudah waktunya akan kuberitahu. sudah ayo akan kumakan masakanmu, nanti dingin!" ucap Daniel, Karin tertawa lepas diruangan Daniel. kedekatan mereka sudah tidak canggung, karena keduanya sudah menyatakan sebagai seorang teman dan hanya terikat pada suatu pertemanan saja.


****


seharian berkeliling dirumah baru, Adrian merasa lelah dan tidur dikamar yang akan menjadi kamarnya dengan Naira. Adrian membuka mata dari tidurnya, hal yang pertama ia pikirkan adalah Naira yang tidak tidur disampingnya. karena sebelumnya mereka tidur bersama, tapi bangun bangun tidak melihat Naira.


Adrian mendudukan dirinya dan melihat jam ditangannya, jam menunjukan hari sudah sore. Adrian merapikan rambutnya kemudian beranjak dari tempat tidur, dan berniat mencari keberadaan Naira. saat Adrian keluar dari kamarnya, suasana rumah itu sepi tidak ada suara apapun.


"aku harus menambah pelayan dan beberapa orang untuk keamanan, agar rumah ini tidak seperti goa!" gumam Adrian, ia tersenyum sendiri karena membayangkan suara tangisan sikembar menggema dirumah itu. bukan hanya tangisan, juga dengan tawa dan suara mereka berlarian dirumah itu.


lalu pandangan nya kearah Naira yang sedang berada disebuah kamar, lebih tepatnya kamar sikembar yang sudah ia siapkan. Naira sedang berdiri didekat ranjang bayi dan bicara sendiri dengan mengelus perutnya, terlihat sangat menyenangkan dimata Adrian.


"sedang apa kamu?" ucap Adrian yang memeluk Naira tiba tiba, Naira yang sedang asik bicara sendiri terkejut karena perlakuan Adrian.


"aku terkejut, sejak kapan kamu datang?" saut Naira, Adrian tertawa dan menenggelamkan wajahnya pda rambut Naira.


"apa yang kamu bicarakan dengan sikembar, aku ingin tahu!" ucap Adrian, Naira tersenyum dengan itu.


"aku hanya bilang, bahwa papa mereka sudah menyiapkan kamar yang cantik buat mereka!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan masih mencium rambut wangi Naira. "Adrian bisakah kamu hentikan itu, sangat geli rasanya!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan menghentikan tingkahnya. "Adrian kenapa kau meletakkan ranjang besar itu?" tanya Naira dengan menunjuk sebuah ranjang yang cukup besar, Adrian tersenyum melihat itu.


"itu untuk kita tidur saat menjaga sikembar nantinya, jadi jika sikembar menangis kita akan langsung datang untuk menenangkan mereka!" jelas Adrian, Naira tersenyum dan merasa senang karena tidak terpikirkan olehnya tentang semua itu.


"kamu siap menjadi papa, sampai memikirkan itu semua! lalu kenapa kamu menghias ranjang ini dengan warna yang berbeda, dan kenapa harus biru dan pink?" tanya Naira lagi, Adrian menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan tersenyum.


"iya jangan pink semua, siapa tahu satunya suka warna seperti mu. warna biru, dan pink warna normal untuk perempuan!" saut Adrian, Naira tersenyum dan berbalik menatap Adrian.


"jadi kamu berharap sikembar satunya laki laki ya?" ucap Naira, Adrian menatap Naira tanpa mengatakan apapun. "hm ... aku mengecewakanmu, semuanya perempuan!" ucap Naira menunduk, Adrian tersenyum dan mengangkat kepala Naira untuk menatapnya.


"aku tidak kecewa, apapun yang didapatkan nanti aku akan menyayangi mereka. karena mereka sikembarku, lagi pula jenis kelaminnya tidak diketahui jadi aku aku boleh berharap kan?" ucap Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk.


"boleh, aku juga berharap dia laki laki!" ucap Naira, Adrian berlutut didepan perut Naira dan mengelus perut yang semakin membesar itu.


"papa dan mama tidak sabar melihat kalian di dunia ini, kalian harus sehat terus ya dan jangan membuat mama kalian susah!" ucap Adrian mencium perut itu, Naira hanya tertawa karena merasa Adrian sangat lucu.


"oh iya Adrian, tahun baru nanti kita ajak semuanya ke rumah ini ya untuk merayakan bersama. bagaimana?" ucap Naira, Adrian mengelus rambut Naira dengan lembut.


"tentu saja, bawa saja!" saut Adrian, Naira tersenyum dan mengangguk. "eh bukan kah itu minggu akhir kelahiran sikembar?" tanya Adrian dengan wajah berbinar, begitu juga dengan wajah Naira yang senang.


"terserah mau tanggal berapa, aku sangat tidak sabar melihat mereka!" ucap Adrian, Naira tertawa karena merasa geli. mereka merasa bahagia dan saling membayangkan sikembar lahir, betapa beriaiknya sikembar jika keduanya menangis secara bersamaan.


*****



*****


beberapa minggu kemudian pun berlalu, sampai hari dimana malam tahun baru pun terjadi. semua keluarga berkumpul dirumah baru Adrian, bahkan disana terdapat Daniel dan juga kedua orang tuanya. mereka telah diundang untuk merayakan pergantian tahun bersama, dan tidak lupa Sonia yang menjadi pasangan Bagas pun hadir disana.


Bagas dan juga Daniel membuat sebuah api unggun untuk menghangatkan malam mereka, tidak lupa yang lainnya menyiapkan tempat untuk memanggang makanan yang akan menjadi hidangan. saat semua orang sudah berkumpul, hanya satu orang yang tidak terlihat disana yaitu Adrian.


Adrian yang seharusnya menemani keluarga dan juga istrinya di malam tahun baru, harus melakukan perjalanan luar kota karena masalah pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Naira bahkan tidak bisa menghentikan Adrian, meskipun hatinya tidak menginginkan Adrian pergi.


"jadi kapan dia kembali?" ucap Sonia, ia berada didapur bersama Naira untuk menyiapkan beberapa piring dan juga gelas. mendengar pertanyaan itu, Naira tersenyum.


"katanya dua hari lagi, sangat menyebalkan kan!" ucap Naira, Sonia tertawa pelan mendengar itu.


"pekerjaan itu benar benar penting, sampai dia berani meninggalkan istrinya!" ucap Sonia yang masih tertawa, Naira hanya ikut tertawa dan tidak mengatakan apapun. "sini piringnya aku bawa, kamu bawa wadah itu saja!" ucap Sonia menunjuk sebuah wadah sedikit besar, Naira mengangguk dan perlahan berjalan kearah wadah itu.


"aku akan minta oleh oleh pada Adrian, awas saja kalau dia tidak membawa oleh oleh!" gumam Naira, ketika ingin mengangkat wadah yang terlihat ringan itu, tiba tiba saja perutnya merasa bergejolak dan merasa tidak nyaman. "aduh perutku kram!" ucap Naira dengan memegang perutnya yang seperti akan jatuh kebawah, rasa sakit kram itu menjalar keseluruh pinggang hingga punggung nya. secara kebetulan Sonia datang untuk melihat Naira, dirinya terkejut ketika melihat Naira yang merintih kesakitan dengan memegang perutnya.


"Naira ada apa?" tanya Sonia yang berlari pada Naira, tanpa menjawab Naira terus mengerutkan dahinya. "Naira ..."


"haduh sakit, perutku sakit ukh !!" ucap Naira, Sonia yang tidak kuat menopang tubuh Naira akhirnya meleset kebawah dan memangku Naira.


"apakah mau lahiran?" tanya Sonia, Naira menggelengkan kepala. Naira terus berkeringat dan beberapa kali mengerutkan keningnya, hal itu membuat kepanikan dirasakan oleh Sonia.


"aduh ... aku tidak kuat, ini ... ini sakit sekali ... " rintih Naira, dengan memegang perutnya wajah Naira semakin pucat.


"Bagas !!! " teriak Sonia yang tidak tahu harus melakukan apa, sang pemilik nama yang dipanggil langsung berlari dengan cepat kearah Sonia. "Bagas, tolong sepertinya Naira akan melahirkan!" ucap Sonia lagi, Bagas langsung mendekat diikuti Daniel dan yang lain.


"Haduhh ... sakit ... aukhh!!" rintih Naira lagi, dengan cepat Bagas mengangkat tubuh Naira.


"aku akan membawanya kerumah sakit, Daniel hubungi dokter kandungan Naira!" ucap Bagas cepat dengan membawa Naira, Daniel mengangguk dan mulai berkutik dengan hp nya. Bagas membawa Naira masuk kedalam mobilnya, dan diikuti yang lain.


setelah beberapa menit mereka semua sampai di rumah sakit, Bagas langsung menggendong Naira untuk masuk kedalam rumah sakit itu.


"em ... Adrian ... sakit ..." rintih Naira saat berbaring ditempat tidur rumah sakit, Naira menggenggam tangan Bagas dengan kuat karena merasa kesakitan.


Ridwan yang sedang menikmati malam tahun baru langsung datang ketika dihubungi oleh Daniel, dengan pakaian seadanya Ridwan berlari menghampiri Naira. ia memeriksa keadaan Naira, "ini terlalu cepat, setidaknya menunggu seluruh pembukaan nya selesai!" ucap Ridwan, dengan suara Naira yang terus merasa sakit. "tapi dengan kesakitan yang dirasakan Naira, hal ini mungkin akan melakukan operasi!"


"tidak mau ... ukh ... aku ingin ... lahiran mereka ... normal, aku ingin ... melahirkan mereka ..." ucap Naira memotong pembicaraan Ridwan, semua orang menatap kearahnya.


"tidak bisa Naira, itu ..."


"gak mau ... Naira mau ... lahiran normal ... ukhh!" ucap Naira, Ridwan memberikan isyarat pada seorang perawat untuk membawa Naira. "Adrian ... "


"kakak akan menelfonnya!" ucap Bagas, melihat Naira kesakitan Bagas merasa tidak tega. "lakukan apapun untuknya!" minta Bagas, Ridwan mengangguk dengan yakin. Ridwan memasuki ruangan Naira dan mulai melakukan proses lahiran itu, lampu darurat pun menyala dan membuat mereka tmsemua tidak tenang.


"Adrian tidak mengangkat telfonnya, bagaimana ini kak?" ucap Riana, Bagas kesal dan mencoba menelfon Adrian lagi.


"Vano hubungi asisten Adrian, cepat!" ucap Amelia terdengar khawatir, Vano pun mengiyakan itu dan mulai berkutik dengan hp nya.


"Kara kamu juga hubungi siapa saja yang pergi dengannya, Naira butuh suaminya sekarang!" ucap Nadia yang sama khawatirnya, Kara hanya mengangguk dan mencoba menelfon seseorang.


didalam ruangan Naira terus merintih kesakitan, sakit yang ia rasakan bahkan hampir membuatnya pingsan. Naira terus berdoa agar bisa melahirkan kedua anaknya dengan selamat, meskipun harus mengorbankan hidupnya.


"Adrian ... kamu dimana ..."