Do You Remember?

Do You Remember?
Daniel



Adrian pulang dari kantor menuju rumah Amelia, Adrian telah berjanji pada Nanda untuk bermain dirumah. Adrian membeli beberapa coklat untuk Nanda, saat Adrian datang Nada langsung berlari kearah Adrian.


"jangan dihabiskan dalam satu waktu!" ucap Adrian, Nanda tersenyum dan mengangguk.


"aku sudah bilang pada temanku, kalau kakak bisa membelikanku banyak coklat. jadi ini akan ku bawa ke sekolah besok, dan akan kubagikan pada mereka." ucap Nanda, Adrian tersenyum dengan itu.


"bagus, anak pintar!" saut Adrian, Nanda tersenyum dan menunjuk jempolnya.


terlihat Amelia datang dari arah dapur, melihat itu Adrian memberi salam pada Amelia dan mencium pipinya. Amelia sangat bahagia dengan putranya itu, sesuatu yang hilang sekian lama telah kembali padanya.


"oh iya kamu mandi dulu, nanti kita makan malam bersama!" ucap Amelia, Adrian melepas jasnya dan kancing lengannya.


"iya ma, Adrian mandi dulu!" saut Adrian, Amelia mengangguk. Adrian dengan lemah berjalan menaiki tangga, Adrian masuk kedalam kamarnya.


Adrian membuka bajunya, dan ia melihat tubuhnya didepan cermin. Adrian merasa kesal jika mengingat telah membohongi Naira, Adrian selalu menyesali keputusannya yang harus berbohong.


Brugh!!!


mendengar suara jatuh, Adrian segera keluar dari kamarnya. ia berpikir seseorang terpeleset, dengan masih memakai celana Adrian berjalan keluar. Adrian terkejut melihat seseorang terjatuh didepan kamarnya, dengan cepat Adrian membantu orang itu.


"apa kau baik baik saja?" ucap Adrian mencoba mengulurkan tangan, seorang wanita itu melihat kearah Adrian. mereka saling memandang dan terkejut, karena yang Adrian lihat adalah Naira.


"Naira/Adrian!!" ucap mereka secara bersamaan, tanpa bicara Adrian menggendong Naira dan membawanya ke kamarnya. Naira sempat terkejut melihat Adrian, lalu teringat itu rumah Vano jadi tentu Adrian ada disana.


"turunkan aku!" teriak Naira, Adrian hanya diam dan mendudukan Naira di tempat tidur. Adrian menatap wajah Naira, karena pasalnya belum bertemu Naira sejak pengunduran diri itu. Adrian melihat kearah kaki Naira yang memakai sandal.


"bagaimana kamu bisa jatuh?" ucap Adrian, Naira terdiam melihat Adrian. Adrian tidak sadar bahwa saat ini dirinya menggunakan kemeja, dengan kancing terbuka seluruhnya. saat Adrian sadar Naira memperhatikan nya, ia melihat dirinya sendiri. Adrian terkejut saat melihat kancing kemejanya yang terbuka, memperlihatkan bagian dada dan perutnya. dengan cepat Adrian berbalik, dan Naira melihat kearah lain.


"maaf, tadi aku ingin mandi. karena mendengar suara jatuh, aku langsung keluar." ucap Adrian, ia segera menutup semua kancing bajunya.


"aku akan pergi!" ucap Naira berdiri, ketika ingin berdiri kaki Naira terasa sakit. Adrian melihat itu, ia mencoba untuk mendudukan Naira lagi.


"duduklah dulu, coba kulihat!" ucap Adrian, Naira melepas kakinya dari tangan Adrian.


"tidak perlu, aku hanya ingin pergi." ucap Naira berdiri, dengan berjalan tertatih Naira keluar dari kamar Adrian. Adrian kesal dengan itu, dengan berjalan cepat Adrian menggendong tubuh kecil Naira.


"lepaskan, apa yang kau lakukan! turunkan aku!" teriak Naira, Adrian tidak menghiraukannya. Adrian membawa Naira turun tangga, Naira mengingat saat kejadian itu telah ia alami dulu saat di mall. Naira terdiam dengan pikirannya, Adrian membawa Naira duduk disofa. sesaat mereka saling memandang satu sama lain, wajah mereka saling berdekatan hanya berjarak dua senti saja. mereka ada dalam pikiran masing masing, tatapan mereka saling menatap. Amelia melihat kejadian itu, Amelia melihat pandangan cinta dari Adrian untuk Naira.


"ada apa ini?" tanya Amelia, mereka tersadar dari lamunannya. Adrian langsung berdiri menjauh dari Naira, bagitu pun Naira menggeser duduknya.


"dia jatuh ma, jadi aku membawanya!" ucap Adrian, Amelia menghampiri Naira dan melihat kakinya.


"bagaimana bisa jatuh?" ucap Amelia, Naira tersenyum.


"tadi habis sholat Naira masih pake sandal basah, Naira buru buru turun eh lantainya licin. jadi Naira gak sengaja kepleset, hanya sakit dikit kok tante!" jelas Naira, Amelia mengangguk dengan itu.


"Adnan ambilkan minyak di kotak obat ya, disana ada minyak urut. Naira tante akan coba pijat sedikit ya, biar ga bengkak!" ucap Amelia, Naira mengangguk.


"iya ma, aku ambilkan sekarang!" ucap Adrian berlalu pergi, Naira melihat kepergian Adrian.


setelah beberapa menit Amelia mengurut kaki Naira, mereka mendengar suara seseorang menekan bel rumah. Amelia segera berjalan kearah pintu, saat membuka pintu terlihat Daniel berdiri disana.


"Assalamualaikum tante, Naira nya disini ya?" ucap Daniel tersenyum, Amelia tersenyum dengan itu.


"Waalaikumsalam, iya nih Naira didalam. ayo Daniel masuk dulu, tambah ganteng aja!" ucap Amelia, Daniel tertawa dengan perkataan Amelia.


"tambah gede tambah ganteng dong tante, tante apa kabar?" ucap Daniel, ia mengikuti Amelia dari belakang.


"baik Alhamdulillah, kamu gimana?" saut Amelia tersenyum, Daniel mengangguk.


"baik juga tante, Alhamdulillah!" saut Daniel, Amelia tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah kalau begitu, itu Naira!" ucap Amelia, Daniel melihat kearah yang ditunjuk Amelia. terlihat Naira disana bersama Adrian, Daniel sedikit merasa aneh dengan itu. Daniel berjalan cepat kearah Naira, Adrian melihat Daniel yang tersenyum kearahnya.


"siapa pria itu?" tanya Adrian, Naira melihat kearah yang dilihat Adrian. Naira tersenyum melihat Daniel, ia pun berdiri.


"Daniel, hai!" ucap Naira, Daniel pun tersenyum dan melambaikan tangan.


"hai, aku tepat waktu kan?" ucap Daniel, Naira menggelengkan kepala.


"tidak kok, sangat tepat waktu. kalau begitu ayo kita berangkat, aku ambil tas dulu ya diatas!" ucap Naira saat ingin pergi, Adrian menahan tangan Naira.


"kamu mau kemana?" tanya Adrian, Naira menoleh kearah Adrian.


"tidak ada urusannya denganmu, lepaskan!" ucap Naira, Adrian melepas gengaman tangan itu. Naira menaiki anak tangga dengan perlahan, Adrian menatap Daniel dari atas kebawah.


"karena kalian bertemu, akan aku perkenalkan kalian!" ucap Amelia tiba tiba, Adrian dan Daniel terdiam satu sama lain.


"Daniel kamu pasti belum mengenalnya, dia ini anak tante dari london. dan Adnan ini Daniel anaknya temen papa kamu, kamu ingat dokter David. Daniel ini anak dokter David, dan dia itu teman Naira dari kecil!" jelas Amelia, Daniel tersenyum dan mengulurkan tangan.


"Daniel!"


"ibuku memanggilku Adnan, tapi kau bisa memanggilku Adrian!"


mendengar perkataan Adrian, Daniel teringat pada dua nama yang menjadi satu orang. Daniel mengingat siapa Adnan untuk Naira dan siapa Adrian untuk Naira, saat ingin mengatakan sesuatu terlihat Naira turun sudah membawa tas dan memakai sepatu.


"ukuran kaki Nanda sepertiku, jadi aku pakai sepatunya!" ucap Naira, Amelia tersenyum dengan itu.


"pakai saja, memangnya kalian mau kemana?" tanya Amelia, Naira tersenyum kearah Daniel.


"tadi kuta membuat acara untuk mengenang masa kecil, jadi kami mau bermain ditempat yang pernah kita datangi dulu!" jelas Naira, Amelia mengangguk dengan itu.


"gimana kalau makan malam dulu, tante sudah masak banyak. lagi pula ini baru jam 7malam, papamu juga akan pulang Naira!" ucap Amelia, setelah mengatakan itu terdengar suara mobil datang. yang mereka yakini adalah Vano, dan benar terlihat Vano berjalan kearah mereka.


"wah ada perkumpulan apa ini?" ucap Vano, Amelia mencium punggung tangan Vano begitu juga dengan mereka bertiga.


"Naira kemari dari sore, dan Daniel datang katanya mau jalan jalan mereka. dan aku bilang tunggu sebentar, kita makan dulu kebetulan kamu datang!" ucap Amelia, Vano mengusap rambut Naira.


"iya sayang maaf ya, tadi papa mau pulang sore tapi gak jadi karena rapat. sekrang kita makan aja dulu, kebetulan Ada Adnan disini!" ucap Vano, Naira terkejut dengan itu. pasalnya Naira lupa kalau disana masih ada Adrian, Naira melihat kearah Adrian.


"aku akan mandi, kalian makan saja!" ucap Adrian dan berlalu pergi, mereka pun berjalan kearah dapur dan memulai untuk makan malam. beberapa menit kemudian terlihat Adrian berjalan kearah mereka, Adrian duduk dihadapan Naira. Naira tidak melihatnya sama sekali, Naira menikmati makan malamnya.


"Daniel kita harus pergi sekarang, nanti tempatnya ramai kalau sampai malam!" ucap Naira berdiri, Daniel pun mengiyakan itu.


"papa Vano, tante Amel. Naira pergi dulu, besok Naira kesini lagi kalau ada waktu!" ucap Naira, Vano tersenyum dan mencium kening Naira.


"Iya hati hati ya, Daniel jangan ngebut bawa motornya. dia anak om, jangan sampai lecet!" ucap Vano, Daniel memberi hormat pada Vano.


"siap om, beres!. kalau begitu Daniel pamit ya, ayo Nai!" ucap Daniel, Naira mengangguk. tanpa menyapa Adrian, Naira terus berjalan dengan digandeng Daniel. Adrian kesal dengan itu, ia menggenggam garpu dengan erat ditangannya.


"kamu kenapa?" tanya Vano saat melihat wajah kesal Adrian, Adrian meletakkan garpu yang ia pegang dengan kasar.


"aku tidak nafsu makan, ma Adnan masuk kamar dulu!" ucap Adnan berdiri, Vano dan Amelia mengerti perasaannya.


"pengusaha besar, harta melimpah, tidak terkalahkan tapi lemah karena cinta, marah karena cemburu dan wanita menjadi kelemahannya.!" ucap Vano, Adrian menghentikan langkahnya.


"apa maksud papa?" ucap Adrian, Vano tertawa.


"bukannya papa dulu gitu, memangnya papa tidak pernah muda?" ucap Adrian, Vano terdiam dengan itu. Amelia menahan tawanya, karena yang dikatakan Adrian itu benar.


"lagian siapa yang cemburu dengan kuda nil itu, Naira hanya milikku!" ucap Adrian, Vano tertawa dengan itu.


"jangan sebut nama orang sembarangan Adnan, duduk dan makan!" ucap Amelia, Vano menghentikan tawanya.


"seharusnya kamu ijinin papa untuk katakan pada Naira, alasan dan sebab kamu bohong pada nya!" ucap Vano lagi, Adrian menggelengkan kepala.


"tidak perlu pa, Adnan ingin menjelaskan itu nanti. kalau Naira sudah ingin bicara pada Adnan lagi, biarkan Naira keras kepala dulu!" saut Adrian, Vano mengangguk dengan itu.


"mama yakin kalian akan bersatu nanti, sekarang biarkan Naira merasakan kemarahannya sampai hilang. kamu harus bersabar, tapi buktikan juga kalau kamu memang mencintainya!" ucap Amelia, Adrian mengangguk.


"sekrang duduk dan makan, jangan suka marah nanti cepat tua!" ucap Vano membuat Amelia dan Nanda tertawa, Adrian hanya menurut dan duduk disebelah Vano. Adrian mulai memakan makanannya, Amelia dan Vano tersenyum saat saling melihat.


****


Naira dan Daniel berjalan disebuah tempat wahana, Naira sangat senang disana. disana mereka membeli tiket dan mulai memainkan wahana sesuka mereka, Naira dan Daniel melupakan segala masalah yang terjadi pada mereka. setelah beberapa jam bermain mereka keluar dari tempat wahana itu, mereka berjalan bersama disebah jalan yamg ramai dengan banyak penjual, mereka berhenti pada penjual minuman, Naira menikmati jus yang ia pegang begitupun dengan Daniel.


"jadi pria itu kah?" tanya Daniel, Naira menoleh kearahnya.


"pria yang kau tunggu beberapa tahun?" ucap Daniel lagi, Naira mengangguk.


"dan pria yang telah membohongimu?" ucap Daniel, Naira menatap Daniel.


"iya benar, kenapa membicarakannya?" saut Naira, Daniel tersenyum.


"jadi dia pria yang kamu cintai, lumayan!" ucap Daniel, Naira menghentikan langkahnya dan menatap Daniel.


"bisakah kita tidak bicara tentang dia!" saut Naira, Daniel menoleh ia tersenyum dan mengangguk.


"untuk apa kau marah padanya, kalian sudah bertemu seharusnya kamu senang dan merasakan cinta yang belum kamu rasakan!" ucap Daniel, Naira terdiam dengan itu.


"Naira bisakah aku mencintaimu?" ucap Daniel tiba tiba, Naira terkejut dengan itu.


"a.. apa yang kau katakan?" ucap Naira, Daniel memegang tangan Naira.


"aku hanya ingin mengatakan kalau aku sangat mencintaimu, Naira bisakah aku mencintaimu?" ucap Daniel lagi, Naira tidak percaya dengan perkataan Daniel yang mengejutkannya.


"Daniel, kamu tahu kan aku..."


"aku tahu, kamu tidak akan bisa mencintai orang lain selain dia. Naira aku hanya ingin mencintaimu, meskipun cinta itu hanya sepihak." saut Daniel, Naira menatap Daniel yang tersenyum padanya.


"sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Naira, Daniel melepas tangan Naira dan duduk disebuah bangku disana.


"sejak kita masih sma, kamu tahu kenapa aku minta motor pada papaku. karena aku ingin mengajakmu jalan jalan, dan mengatakan kalau aku mencintaimu." ucap Daniel, Naira duduk disamping Daniel dan tetap menatapnya.


"aku pikir kamu seperti gadis gadis lain, jika tidak punya motor bagus ataupun mobil kamu tidak mau menjadi pacarku. tapi kamu tidak seperti mereka, bahkan kamu mau pulang jalan kaki bersamaku. dan aku sadar dihari aku tahu, hatimu sudah dipenuhi olehnya. aku memilih untuk diam, dan menyimpan semua rasaku padamu!" jelas Daniel tersenyum, Naira merasakan perasaan Daniel yang sedih menceritakan semua itu.


"dan aku tahu saat kamu hanya menganggapku sebagai sahabat, sejak itu aku hanya menyimpan rasaku agar kamu tidak membenciku dan menjauhiku. Naira jangan benci aku, setelah pengakuanku ini!" ucap Daniel, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.


"tidak, aku tidak membencimu sama sekali. maafkan aku Daniel, aku tidak bisa membalas cintamu. Daniel kamu juga tahu sejak dulu, aku selalu menganggap kamu itu sahabatku." ucap Naira, Daniel tersenyum.


"iya aku tahu, aku..." belum Daniel berucap, sesuatu masuk kedalam mata Naira. Naira berteriak dengan itu, Daniel panik melihat nya.


Adrian mencoba untuk mencari keberadaan Naira, setelah itu ia melihat seseorang dari jauh. Adrian meminggirkan mobilnya, Adrian keluar dari dalam mobilnya. Adrian melihat Naira dan Daniel dari jauh, Adrian berjalan cepat kearah mereka.


Brugh!!


Adrian menarik Daniel dan mendorong nya sampai jatuh ketanah, Naira terkejut dengan itu. terlihat wajah Naira sangat marah, Adrian menoleh dan menggenggam tangan Naira dengan erat.


"beraninya kau menyentuh wanitaku!" teriak Adrian, Daniel mendirikan tubuhnya.


"apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku!" teriak Naira, Adrian menatap Naira kesal.


"aku yang harus bertanya, kamu berciuman dengannya?" ucap Adrian, Naira terkejut dengan itu.


"berciuman, apa maksudmu dengan berciuman. kau pikir aku bisa melakukan itu disini, kau pikir aku wanita seperti itu?" ucap Naira, Adrian tidak memperdulikan Daniel ia menarik tangan Naira untuk membawanya ke dalam mobilnya.


"lepaskan tanganku, Adrian!!"


"berteriak saja, akan aku lakukan sesuatu yang dapat membuat kamu malu sendiri disini. kamu pasti paham apa yang aku maksud,!" ucap Adrian, Naira terdiam dengan itu. Naira melihat kearah Daniel, Daniel mengangguk dan tersenyum. Adrian memasukkan Naira kedalam mobilnya dengan paksa, Naira sangat kesal dengan itu. Adrian melajukan mobilnya, tidak memperdulikan teriakan Naira.


"turunkan aku sekarang, aku akan melompat!" ucap Naira mengancam, Adrian menghentikan mobilnya dipinggir jalan. tanpa bicara Naira turun dari mobil Adrian, dengan cepat juga Adrian menyusul Naira. Adrian meraih pinggang Naira dan memeluknya dari belakang, Naira terdiam dengan itu.


"Naira maafkan aku, aku bisa jelaskan semua!" ucap Adrian, Naira melepas pelukan itu.


"aku tidak berciuman disana, lagi pula jika aku berciuman kenapa!" ucap Naira, Adrian kesal dengan itu.


"iya aku tidak peduli, dengarkan aku sekali saja. aku akan jelaskan kenapa aku membohongimu, kenapa aku melakukan itu!" ucap Adrian, Naira hanya diam menatapnya.


"aku berbohong padamu karena ingin melindungimu, aku ingin melindungimu dari nenek itu!"


"berbohong saja terus, aku tidak ingin mendengar kebohonganmu. sekarang pergilah, aku bisa pulang sendiri!" saut Naira, Adrian menarik tangan Naira yang akan pergi.


"Naira dengar dulu!" ucap Adrian, secara kebetulan taksi lewat disana. Naira melepas tangan Adrian, dan menghadang taksi.


"taksi, berhenti!" ucap Naira, ketika taksi itu berhenti Naira masuk kedalam taksi itu.


"pak jalan!"


"Naira dengarkan aku, pak jangan jalankan mobilnya!" ucap Adrian, Naira tidak memperdulikan nya.


"Naira aku tidak berbohong, memang seperti itu!".


"pak saya bilang jalan, apa bapak tidak dengar!" ucap Naira lagi, supir taksi itu mengangguk dan menjalankan mobilnya. Adrian menendang taksi itu, ia sangat marah ketika Naira tidak mau mendengarkan nya. didalam taksi Naira melihat Adrian yang kesal, tiba tiba Naira terfikir dengan ucapan Adrian beberapa menit yang lalu. hp Naira bergetar, terlihat papa tercinta menelfonnya.


"halo pa?" ucap Naira tersenyum sendiri.


"Naira kamu dimana sayang?"


"Naira mau pulang kok pa, Memangnya kenapa?"


"kamu kerumah sakit kota sekarang, Daniel kecelakaan sayang!"


"apa!!, Daniel kecelakaan!!"


"iya tadi papa dapat telfon dari om David, katanya Daniel jatuh dari motor. belum tau apa penyebabnya sekarang dia masih diruang operasi, sebelumnya dia pergi untuk mengajakmu karena itu papa telfon kamu sekarang!"


"oke pa, Naira kesana sekarang." ucap Naira lalu menutup telfon itu.


"pak kita kerumah sakit kota ya, cepat pak!"


"siap mbak!"


Naira merasa sangat terkejut setelah mendengar itu, ia khawatir pada keadaan Daniel. Naira merasa bersalah karena meninggalkannya, Naira juga berpikir itu kesalahan Adrian telah membawanya paksa.