Do You Remember?

Do You Remember?
terpeleset 2.



ruang hampa ini lagi, kenapa aku selalu berada ditempat gelap dan kosong ini. terasa sangat hampa dan lagi lagi aku terjebak didalam kegelapan, bahkan tidak terlihat cahaya kehidupan sama sekali. siapa yang dapat menolongku, keluar dari lubang hitam ini. meskipun semua ini mimpi, kenapa rasanya sama seperti nyata.


"Riana, jangan bersedih!"


suara yang aku tunggu terdengar, karena hanya suara itu yang membawaku keluar dari ruang hampa ini. anehnya itu adalah suara dia, suara yang menggema diseluruh ruangan adalah suara Daniel, dengan senyum dan mengulurkan tangan hampir setiap hari itu terjadi.


"aku akan mendukungmu, akan selalu seperti itu!" suara itu seakan menyihirku, mimpi yang sama selalu terjadi dalam tidurku. sebelumnya aku selalu merasa spesial saat bersamanya, merasa bahagia saat bersamanya. tapi apa hubunganku dengannya, hanyalah sebuah pertemanan dan persahabatan.


"Riana, Riana"


*


*


*


Riana membuka mata saat merasa nyeri pada kepalanya, dan tanpa disadarinya Riana tidur disebuah kasur yang bukan kamarnya. Riana melihat sekelilingnya dan ternyata itu adalah rumah sakit, Riana merintih kesakitan pada kaki dan juga kepalanya.


"apa yang terjadi padaku, kenapa aku ..." suaranya terhenti ketika ingatan muncul dikepalanya, Riana teringat terpeleset dan jatuh berguling ditangga.


Daniel yang tidur di sofa membuka matanya, pandangannya mengarah pada Riana yang duduk dengan memegang kepalanya. dengan cepat Daniel menghampiri Riana, dengan rasa khawatir dan juga panik. semalaman Daniel menunggu Riana, ia tidak tahu sejak kapan dirinya tertidur.


"apa yang kau rasakan?" ucap Daniel, Riana menoleh kearah Daniel. Riana terdiam saat Daniel sibuk memeriksa nya, ia menatap Daniel yang terlihat serius dan terlihat wajah khawatir disana.


"kakiku kenapa, sakit!" ucap Riana, Daniel tersenyum dan membaringkan Riana.


"istirahatlah, jangan angkat tubuhmu sembarangan. kakimu patah dan tanganmu terkilir. bagaimana kamu bisa jatuh dari tangga, untung saja tidak ada cedera pada kepalamu!" ucap Daniel, Riana teringat sebelum itu dirinya memikirkan Daniel hingga jatuh dan terbaring dirumah sakit.


"aku ... hanya saja ... dirumah sangat berisik ... aku terbangun dimalam hari, terus aku terpeleset dan tidak tahu lagi ... " ucap Riana, Daniel mengusap kepala Riana yang terluka akibat goresan.


"jangan ceroboh Riana, kau tahu aku benar benar takut kemarin malam!" ucap Daniel lirih, Riana hanya terdiam dan menatap Daniel. "aku takut melihat darah dikakimu, bahkan dahimu berdarah ..." Daniel terdiam ketika Riana menatapnya, Daniel menaikkan selimut Riana. "istirahatlah, kalau ada apa apa panggil aku!" ucap Daniel dan keluar dari sana, Riana yang ingin bicara hanya terdiam dan melihat Daniel keluar dari sana.


"apa dia marah karena aku, waktunya dengan wanita itu ke ganggu!"


Flashback.


"mama ... " teriak Riana membuat semua orang terkejut, semakin terkejut melihat Riana berguling jatuh ditangga.


"Riana!!!" teriak Kara dari jauh, mereka semua berlari kearah Riana. sampai Riana jatuh dilantai bawah dengan darah pada kakinya, yang dilakukan Riana hanya merintih kesakitan. "Riana, kamu baik baik saja" teriak Kara yang menopang kepala Riana, rumah itu semakin panik karena melihat darah yang keluar dari kaki Riana.


"cepat telfon ambulan!" teriak Febriyan, ingin sekali Febriyan mengangkat Riana tapi apa daya dirinya yang duduk di kursi roda.


"tidak jangan menunggu ambulan, kita bawa langsung saja!" ucap Nadia, tanpa bicara lagi Kara mengangkat tubuh Riana yang sedang kesakitan.


"sakit ... papa ..." rintih Riana, Kara berjalan cepat menuju mobilnya dengan diikuti Nadia dan juga Risa. saat Naira ingin mengikuti Bagas, langkahnya terhenti ketika Bagas menatapnya.


"kalian tunggu disini untuk menunggu kabar, aku akan menyusul mereka!" ucap Bagas, Naira menggelengkan kepalanya.


"nggak, Naira ikut kak!"


"tidak Naira, ini sudah malam pikirkan si kehamilanmu!" saut Bagas cepat, tapi Naira tetap memaksa ikut.


"Bagas biarkan dia ikut, nanti setelah Adrian datang papa akan menyusul bersamanya!" ucap Febriyan, Bagas pun mengangguk dan dengan cepat Naira mengikuti langkah Bagas memasuki mobil.


sampainya dirumah sakit, Kara menggendong Riana dan berlari kedalam rumah sakit. suara teriakan Kara didengar beberapa perawat, dan membawa tempat tidur untuk Riana. mereka berjalan cepat membawa Riana untuk keruangan ugd. samar samar Riana masih terbangun, ia masih melihat wajah Kara yang begitu panik melihatnya.


"om ..."


"tenang Riana, sebentar lagi kakimu tidak akan sakit lagi!" ucap Kara, Riana mengangguk pelan dan berusaha menahan sakit.


disaat Riana yang masih setengah sadar, Riana melihat Daniel sedang berdiri sedikit jauh. tapi hal itu membuatnya terkejut, dengan melihat kedekatan Daniel bersama wanita bernama Karin. Riana ingin sekali memanggil Daniel, ingin sekali mencela pembicaraan mereka lagi. tapi Riana tidak bisa, yang ia bisa lakukan hanya menahan sakit pada tubuhnya.


"ada apa, saya disini!"


"untung dokter masih disini, dokter tolong ada pasien gawat darurat!" ucap perawat itu, Daniel pun melonggarkan dasinya dan kancing pada tangannya.


"maaf nona Karin, saya harus pergi!" ucap Daniel, Karin yang melihat itu merasa kecewa.


"tapi aku ... " Daniel pergi dari sana, ia malas saat meladeni Karin yang terus mengganggunya.


"bagaimana keadaannya?" tanya Daniel berjalan bersama perawat. "untung aku belum pulang, kenapa Karin itu terus mengikutiku!" gumam Daniel, mereka berjalan cepat menuju ruang ugd.


"kami menyuntikkan obat anti nyeri dokter dan sekarang dia tidak sadarkan diri, dokter sepertinya kaki kanannya patah!" ucap seorang perawat, Daniel mengangguk. langkahnya terhenti ketika melihat Kara dan juga Nadia, bahkan juga terdapat Risa yang menangis disamping Nadia.


"kalian, ada apa kalian disini?" tanya Daniel, tiba tiba saja Risa berjalan cepat kearahnya.


"Riana jatuh dari tangga, ku mohon selamatkan dia Daniel!" ucap Risa, seketika membuat Daniel terkejut. karena tidak pernah menyangka pasien yang dimaksud adalah Riana, tanpa menjawab Daniel berjalan cepat keruang ugd. disana penampilkan tubuh Riana yang terlelap akibat obat bius, darah terlihat dikaki dan juga kepala Riana. Daniel tahu benar seperti apa tangga rumah Kara, Daniel langsung memeriksa Riana dengan rasa khawatir.


"Riana kamu bisa dengar aku, buka matamu!" ucap Daniel pelan, Riana hanya mengeryitkan dahinya dan tidak menjawab. Daniel memeriksa dan semuanya normal, membuat kelegaan pada hati Daniel. "kalian balut luka pada kakinya, tolong hati hati dan pelan pelan saja!" ucap Daniel, perawat yang disana mengangguk.


"Daniel bagaimana?" tanya Risa yang melihat Daniel keluar dari ruang ugd, Daniel tersenyum dan mencoba menenangkan Risa.


"tidak ada hal serius, hanya saja kakinya patah!"


"tapi kepala nya terluka, bagaimana?" ucap Febriyan yang sudah disana, Daniel masih tersenyum.


"hanya terluka kecil bagian belakang, tapi tidak serius!" ucap Daniel, mereka semua merasa lega dengan itu. Daniel sendiri merasa lega, "kalian pulang saja, ini sudah malam kalian semua terlihat lelah!" ucap Daniel lagi, semuanya saling memandang disana.


"Adrian bawa Naira pulang, besok acara kalian berdua!" ucap Febriyan, Naira dan Adrian saling memandang.


"tidak tidak, kalian semua pulanglah."


"kalau kami semua pulang, terus yang menjaga Riana siapa Daniel?" ucap Naira, Daniel tersenyum kepada mereka semua.


"aku masih disini, kebetulan aku lembur malam ini. om dan tante jangan khawatir, Daniel yang akan jaga Riana malam ini!" ucap Daniel dengan yakin, Risa pun tersenyum dan mengangguk. setelah mendapat kepastian itu, mereka pulang dengan saran Daniel.


Flashback off


****


Riana terdiam ketika semua orang datang menatapnya, rasa takut dan juga khawatir terlihat jelas diwajah Riana. takut Risa akan memarahinya, karena hal ceroboh yang ia lakukan sampai masuk rumah sakit.


"bagaimana bisa jatuh?" tanya Febriyan, Riana tersenyum dan menggaruk kepalanya.


"Riana terpeleset pa, tapi Riana gak papa kok kalian gak usah khawatir!" saut Riana, Febriyan menggelengkan kepalanya.


"kamu tahu nggak, kita semua itu khawatir. kami gak bisa tidur semaleman, dan sekarang kamu malah tersenyum begini!" ucap Naira yang duduk disamping Riana, dengan tersenyum Riana mencubit pipi Naira yang mengembang.


"bukannya hari ini tujuh bulannya si kembar, kenapa kalian malah disini?" ucap Riana, Naira tersenyum dan mengusap rambut Riana.


"kamu ini terluka, jadi kami menunda acaranya. kita nunggu kamu sembuh, terus ..."


"gak perlu, jangan seperti itu Naira. jangan ditunda karena Riana, kalian kan sudah merencanakan acaranya. Riana gak papa kok gak ikut disana, tapi jangan ditunda!" saut Riana cepat, terlihat wajah memohon Riana disana. Riana tidak ingin merusak acara kebahagiaan Naira, apalagi itu adalah acara yang penting.


"itu benar, lagi pula ada aku yang akan menjaga Riana!" ucap Daniel tiba tiba, Riana menyipitkan matanya melihat Daniel. "kalian tidak perlu mengkhawatirkan Riana, dia sudah baik baik saja. hanya harus tinggal untuk pemulihan kakinya, jangan tunda hal yang peting!" jelas Daniel, semua orang disana mengangguk dan setuju dengan pendapat Daniel.


"kalau begitu tante titip Riana ya Daniel, tante percaya pada kamu!" ucap Risa, Daniel mengangguk dan tersenyum.


***


Jangan lupa like, komen dan vote kalian😍