
Naira membuka mata setelah kepergian Adrian, Naira melihat sekelilingnya dan tidak tahu sedang ada dimana. Ia mendudukan dirinya perlahan, Naira masih melihat sekelilingnya. semenit kemudian Naira mengerti dimana dia sekarang, Naira mencoba mengingat sebelum ia sampai dirumah sakit.
saat ingin mengingat itu kepalanya terasa sakit, Naira berniat untuk berdiri dan berjalan keluar. disaat itu juga, Naira mendengar suara bising diluar. perlahan Naira berjalan ke arah pintu, ia melihat Adrian dan seorang wanita. Naira mendengar semua perdebatan mereka, dan Naira pun mengetahui sebab dari perubahan Adrian.
'ternyata karena itu, aku sudah yakin kak. kamu tidak melakukan itu dengan sengaja, maafkan aku telah salah mengira.'
"Adrian aku nenekmu, aku yang merawatmu saat kau kecil hingga kau menjadi dewasa seperti ini dan menjadi orang besar!!"
mendengar itu Naira mengurungkan niatnya untuk kembali ketempat tidur, Naira memilih untuk melihat Adrian. terlihat Rosa sudah mengepalkan tangannya, dan terlihat juga Adrian tersenyum dengan tenang.
"nenek, nenek yaa..."
"jika anda neneknya, seorang nenek tidak akan melakukan itu pada cucu dan menantunya!!!"
Naira memilih untuk keluar dan melakukan pembelaan pada Adrian. mendengar suara Naira, Adrian dan Rosa menoleh kearah Naira. Naira berjalan kearah mereka berdua, ia juga menepis tangan Adrian saat Adrian mengulurkan tangan.
"Naira apa yang kau lakukan?" tanya Adrian, Naira hanya menatap Rosa.
"anda menyebutkan kalau anda adalah neneknya, benarkah?. lalu apakah nenek melakukan hal itu pada cucunya, berusaha memisahkan cucunya pada keluarganya sendiri. anda bahkan memisahkan cucu anda pada menantu anda, pada ibunya sendiri. seharusnya anda merasa malu, malu mengatakan kalau anda adalah neneknya." jelas Naira, Rosa semakin terlihat marah dan mengepalkan tangan.
"kurang ajar, beraninya kau mengatakan itu didepanku!"
"iya aku berani, bahkan aku masih sopan berbicara dengan anda. karena anda adalah orang tua. pikirkan perasaan putramu disurga, putramu akan sedih melihatmu seperti ini. melihat ibunya sangat kejam, kejam telah memisahkan anak dari istrinya sendiri. dia pasti menderita disana, anda membuat anak dan istrinya menderita."
Plak!!!
Adrian terkejut ketika satu tamparan mendarat dipipi Naira, Naira tersenyum dengan menyentuh pipinya.
"beraninya kau menyebut putraku!!" teriak Rosa.
"aku sangat senang, anda lah orang pertama yang berani memukul wajahku!" ucap Naira menyentuh pipinya, Adrian merasa kesal dengan itu.
"aku bisa melakukan apapun. bukan hanya wajahmu, aku juga bisa menghancurkan dirimu dalam waktu singkat!" ucap Rosa, Naira masih dengan senyumnya.
"seberapa kuat dirimu nyonya, sampai kau akan menghancurkan putriku!"
suara seseorang membuat mereka menoleh keasal suara itu, terlihat disana Vano sedang berdiri dengan wajah datar nya. Vano tidak sendiri melainkan bersama Bagas dan juga Kara. mereka bertiga berjalan kearah tempat Naira berada, Naira dan Adrian sendiri merasa bingung kenapa mereka bisa berada dirumah sakit.
"siapa yang mencoba mengusik putriku?" ucap Kara, Kara menyentuh kedua pipi Naira dan melihat kekanan dan kekiri.
"benar apa yang dikatakannya, anda tidak pantas disebut sebagai nenek. dengan sifat anda seperti itu, anda kehilangan putra anda!" ucap Vano dengan tegas.
"anda tega memisahkan seorang anak dari ibunya, anda seorang ibu dan juga seorang wanita. seharusnya anda mengerti tentang perasaannya, mengerti dengan apa yang akan dia alami."
"siapa kau berhak menasehatiku, dia juga sudah memisahkan aku dari putraku. aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini!" ucap Rosa, Naira merasa kasihan dengan itu.
"seharusnya anda tidak melakukan itu, dengan melakukan itu anda melukai perasaan semua orang. dan dampaknya akan ada pada diri anda sendiri, anda dibenci oleh cucu anda sendiri." ucap Naira, tatapan Rosa masih saja terlihat emosi.
"karena cucuku terpengaruh dengan kalian semua, termasuk wanita itu. jika tidak mengenal kalian sebelumnya, cucuku tidak akan seperti sekarang ini!"
"ingat. ini terakhir kalinya anda menyentuh Naira, jika nanti aku tahu, anda melukai Naira sengaja ataupun tanpa sengaja. aku tidak akan menghormati anda lagi, aku tidak akan segan lagi!" ucap Adrian dengan nada menantang dan berani, Naira hanya menatap Adrian dengan tatapan penuh cinta.
"Adrian kau berani denganku seperti itu?"
"iya, aku tidak takut lagi. sebelumnya anda telah memisahkan aku dari ibuku, tapi sekarang aku tidak akan melakukan hal sama. aku tidak ingin terpisah dari orang orang yang aku cintai dan mencintaiku, aku tidak bisa jika harus kehilangan mereka. ini lah keluargaku, ini kehidupan ku!" jelas Adrian, seketika hati Rosa sangat terpukul mendengar perkataan Adrian. Rosa berusaha menahan amarahnya serta air mata yang akan keluar dari matanya.
"iya nenek, Adrian benar." saut Sonia tiba tiba, mereka menoleh kearah Sonia yang berdiri bersama Johan dan Siska.
"anda menyuruhku datang untuk memisahkan mereka, tapi aku tidak bisa. satu hari saja disini aku sudah memahami mereka, mereka saling mencintai. bagaimana aku bertahan sampai beberapa hari, dan tidak mungkin juga aku sebagai seorang wanita memisahkan wanita dari kekasihnya!" ucap Sonia, Naira terkejut mendengar itu. Sonia tersenyum kearah Sonia, ia memegang kedua tangan Naira.
"maafkan aku Naira, sebelumnya kami ingin menjelaskan padamu sebelum semuanya terlambat. disaat kami ingin pergi malah terjadi hal yang tidak kami bayangkan, maafkan aku." ucap Sonia menyesal, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala.
"tidak tidak, kau sangat baik jangan katakan itu!" saut Naira, Sonia tersenyum dan memeluk Naira.
"sudah cukup, cukup kalian semua melakukan hal ini padaku. aku akan mengingatnya, aku akan membalas kalian semua!" ucap Rosa yang semakin membenci mereka, Rosa merasa sangat marah ketika tidak ada berdiri dipihaknya.
"tunggu dulu!" ucap Kara saat Rosa ingin meninggalkan tempat itu, mereka semua menoleh kearah Kara termasuk Rosa sendiri. Kara tersenyum menghadap Rosa, tapi senyum itu bisa dikatakan senyum penuh arti.
"aku tidak akan mengusik anda. tapi jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada keluargaku, terutama putriku. jangan salahkan aku, jika aku melakukan hal yang akan membuat anda mengingat namaku. Kara Wijaya!" ucap Kara menekan kata namanya, Rosa semakin marah dengan itu. tanpa menjawab Kara, Rosa meninggalkan mereka semua dengan perasaan marah.
semuanya tersenyum bahagia disana, saat sudah melihat kepergian Rosa. Naira dipeluk oleh Bagas, dan Adrian sendiri berpelukan dengan Vano. Bagas yang melihat Adrian menatap Naira, ia menyembunyikan Naira dibelakangnya.
"he sialan, kenapa adikku bisa ada disini?" tanya Bagas, Adrian yang mendengar itu mendapat sorotan dari Kara dan Vano. Adrian hanya terdiam dan menatap Naira, Naira menyingkirkan tubuh Bagas dari hadapannya.
"kalian, bagaimana kalian bisa tahu aku ada disini?" tanya Naira, Kara dan Vano tersenyum.
"aku dan om Kara ada urusan dengan perusahaan Adrian, saat kami sampai disana kami tidak menemukan kalian. disaat itu juga kebetulan temanmu ini menghubungiku, katanya kamu ada dirumah sakit. saat itu juga, aku nelfon om Vano." jelas Bagas, Naira hanya mengangguk mengerti.
"dan disaat sampai, kami melihat dia menamparmu dan mengatakan hal kasar!" jelas Bagas lagi, Bagas menyentuh pipi Naira.
"apa sakit?" tanya Bagas, Naira mengangguk.
"apa mama tau tentang ini?" tanya Naira pada Kara, Mara menggelengkan kepala.
"tidak, mamamu belum tahu." saut Kara, Naira tersenyum.
"kalau gitu jangan beritahu mama, nanti mama khawatir!" ucap Naira, Kara mengangguk dengan itu. Mereka pun membawa Naira untuk kembali pemeriksaan, sesekali mereka tertawa dan bercanda. Sonia yang orang asing pun, seakan akan sudah seperti keluarga sendiri bagi mereka.
Rosa pulang dengan keadaan marah, ia menghancurkan semua barang barang yang ada dikamar nya. Rosa berteriak dan menangis didalam kamarnya, Rosa sangat terpukul dan juga sangat emosi karena merasa kalah dari mereka.
"nyonya besar, ada apa dengan anda. anda baik baik saja kan, buka pintunya nyonya. saya takut diusia nyonya, nyonya akan sakit!" teriak seorang pelayan diluar kamarnya, Rosa melempar lampu mejanya ke arah pintu.
"pergi, aku tidak butuh kalian!!!" teriaknya, suara pelayan itu pun sudah tidak terdengar lagi.
"lihat saja, aku akan memberikan kalian balasan yang setimpal. Amelia, kau sudah merenggut putraku dariku. sekarang kau merenggut cucuku dariku juga, aku akan menghancurkanmu. aku akan menghancurkan kalian semua, semuanya!!!!" ucap Rosa dengan memegang foto Amelia, ia meremas foto itu. Rosa merasa kesal ketika mengingat perkataan Kara, ia sangat membenci keluarga itu. Rosa berniat akan membalaskan dendamnya, secepat mungkin dan bagaimanapun caranya.