Do You Remember?

Do You Remember?
masa lalu.



Riana duduk dikursi yang berada dikamarnya, kursi yang menghadapkan dirinya keluar jendela jika duduk. Riana melihat langit malam yang cerah penuh bintang, Riana menatap bulan yang bersinar terang dimalam itu. tiba tiba saja terpikirkan Adrian dalam otaknya, tapi Riana memejamkan matanya untuk menghilangkan bayangan Adrian yang muncul.


sejak kapan dirinya tertarik, sejak kapan ia menyukai Adrian, bahkan sampai jatuh cinta, ia tidak tahu sejak kapan semua itu terjadi


tiba tiba terdengar suara ketukan pintu, terlihat pintu terbuka dan penampilan Risa disana. Riana tersenyum melihat Risa yang datang, dengan membawa buah ditangannya. Riana menghampiri Risa dan mengambil alih yang dibawa Risa, dengan senyuman Riana menyuruh Risa duduk.


"mama ngapain disini, mending mama panggil Riana tadi!" ucap Riana, Risa tersenyum dan mengisi rambut Riana.


"gak papa, mama pengen menemui kamu!" ucap Risa, Riana mengangguk dengan itu. "gak terasa kamu sudah besar, tahun depan kamu lulus. setelah itu bekerja, lalu menikah!"


"mama terlalu banyak berpikir, jangan pikirkan Riana menikah!" ucap Riana, Risa tersenyum dengan itu.


"kamu anak mama, jadi sebagai orang tua mama memikirkan hari pernikahanmu kelak. ngomong ngomong apa kamu sudah memiliki calon, atau harus mama yang carikan!"


"mama!!, Riana gak mau memikirkan pernikahan dulu!"ucap Riana, Risa tertawa karena Riana yang metasa malu. semenit kemudian terlihat wajah Riana sendu, Risa memperhatikan wajah itu. "Riana jatuh cinta, tapi..."


"tapi apa?"


"tapi pada orang yang salah, Riana..."


"Adrian!" ucap Risa dengan cepat, Riana terkejut Risa memotong perkataannya dengan menyebut nama Adrian. Riana menatap Risa yang sedang menatapnya, Riana menghindari tatapan Risa karena tidak ingin Risa melihat kebenaran dimatanya.


"kenapa... ma..mama menyebut Adrian!" ucap Riana menghindari Risa, dengan cepat Risa menarik tangan Riana untuk menghadap nya.


"apa mama salah?" ucap Risa, Riana terdiam tidak berani menatap Risa. "mama sudah curiga dari beberapa hari yang lalu, kamu melamun menatap Adrian. foto dihpmu, kau memotong sebagian foto Naira dan membiarkan foto Adrian disana. kenapa hal itu terjadi Riana, kenapa?" ucap Risa yang mulai menahan marah, Riana hanya terdiam. "apa kamu mau menjadi orang jahat, apa kau mau menjadi orang jahat yang merebut suami dari adikmu sendiri!" ucap Risa mendorong tubuh Riana, Risa mengelap air mata yang keluar dipipinya.


"jangan menangis ma, Riana hanya... hanya mencintai Adrian, Riana tidak mempunyai niat untuk merebut Adrian dari Naira. " ucap Riana, Risa mendorong Riana karena kesal.


"mama pernah mengalami semua itu, karena terus memikirkan hal itu mama memikirkan hal kotor dan menjijikan. setelah semua yang mama lakukan, mama sadar telah melukai banyak orang dan..." ucap Risa terhenti karena teringat padanya dimasa lalu, Risa menangis karena tidak bisa membayangkan jika Riana melakukan hal seperti yang ia lakukan dulu pada Nadia. Riana terkejut dengan perkataan Risa, ia juga tidak mengerti apa maksud dengan perkataan ibunya itu.


"mama tidak ingin melihat putri mama hancur, karena apa yang terjadi padamu akan membuat dirimu hancur dan hanya ada penyesalan pada akhirnya..." ucap Risa, Riana masih berdiri mematung disana. Risa menatap Riana yang tidak mengatakan apapun, Risa memeluk Riana dengan lembut.


"Riana cemburu mama, Riana cemburu pada kebahagiaan mereka. Riana jatuh cinta pada Adrian untuk pertama kalinya, dan..." ucap Riana lirih, Risa menatap Riana yang mulai menangis.


"jangan, jangan mempunyai pikiran itu. mama tidak ingin kamu seperti mama, masa lalu mama tidak ingin terulang lagi!" ucap Risa lalu pergi meninggalkan Riana, tanpa bicara Riana berdiri dan mengelap air matanya.


"seperti mama, masa lalu apa maksudnya itu?" ucap Riana, ia penasaran dengan perkataan Risa. Riana berniat untuk mencari tahu semua itu, apapun yang terjadi ia harus mengetahui semuanya yang dimaksud Risa.


tapi bagaimana, bagaimana dirinya mencari tahu. pada siapa dirinya harus bertanya, dan siapa yang akan memberinya jawaban.


Riana keluar dari kamarnya, ia mencoba mencari Risa untuk menanyakan semuanya. tapi tidak melihat Risa dimana mana, hanya melihat Nadia yang sedang duduk bersama Kara dan juga Febriyan.


"Riana kemarilah!" ucap Febriyan yang melihat Riana, dengan senyuman Riana menghampiri Febriyan dan duduk disebelah ayahnya.


"ada apa pa?" ucap Riana, Febriyan tersenyum dan mengelus rambut Riana.


"gak papa kok, kamu kok kayak orang bingung?" saut Febriyan, Riana menggelengkan kepala dan tersenyum.


"nggak kok pa, oh iya Riana mau kekamar dulu. ada tugas yang belum selesai, permisi semuanya!" ucap Riana sopan dan segera pergi dari sana, Riana berlari masuk kedalam kamarnya.


"ada apa dengannya?" ucap Kara, Febriyan menggelengkan kepala.


"Entahlah, mungkin karena skripsi yang akan ia buat!" saut Febriyan.


Keesokan harinya Riana keluar dari kamar dan berniat untuk pergi ke kampus, secara kebetulan Riana berpapasan dengan Risa. bukannya menyapa Risa malah berpura pura tidak melihat Riana, melihat kejadian itu Riana hanya terdiam dan merasa Risa marah padanya. Riana duduk dimeja makan, tanpa bicara Risa menyiapkan sarapan untuk Riana. hal aneh itu diperhatikan oleh Febriyan dan juga Nadia, biasanya kedua orang itu akan ramai dipagi hari.


"Riana bagaimana harimu nak?" tanya Febriyan, Riana menoleh dan tersenyum.


"baik pa, kalau gitu Riana langsung berangkat ya!"


"duduk!" ucap Risa ketika Riana ingin pergi, Febriyan terkejut dengan itu. ada apa dengan ibu dan anak itu, kenapa bersikap seperti itu.


"Riana pergi dulu!" ucap Riana lalu pergi, Risa kesal dan meletakkan piring dengan kasar hingga membuat suara yang sedikit bising.


"tenang Risa, dia hanya tidak mau makan. mungkin sedang tidak mood, atau sedang datang bulan!" ucap Nadia tersenyum, Risa menghela nafsnya.


"nanti kamu bawa bekal untuknya, dia harus sarapan!" ucap Risa lalu pergi kedapur, Risa masih kesal dengan kejadian malam itu. tapi Risa tidak menyadari membuat Riana seperti itu, dan sekarang Risa khawatir Riana tidak menyentuh sarapannya.


*****


dihari berikutnya Riana duduk disebuah cafe, Riana duduk dengan ditemani secangkir kopi disana. sepertinya Riana sedang menunggu seseorang, karena beberapa kali Riana melihat ke arah jam ditangannya.


"halo cantik!" suara seseorang membuat Riana mendonggakkan kepala, terlihat Daniel berdiri dan tersenyum padanya. "maaf, nunggu lama ya?" ucap Daniel lagi kemudian duduk dikursi nya, Riana tersenyum dan menggelengkan kepala.


"nggak kok, paling beberapa menit yang lalu!" ucap Riana, Daniel mengangguk dan mulai mememasan menunya.


"jadi kamu minta ketemuan disini untuk apa?" ucap Daniel, Riana hanya memutar jarinya pada cangkir kopi miliknya. Riana bingung harus memulai dengan kata apa, karena sejujurnya Riana tidak ingin menceritakan pada Daniel.


"ikut aku ke Semarang, kamu mau nggak?" saut Riana dengan cepat, Daniel terkejut dan membalakkan matanya. Riana ingin mencari tahu tentang perkataan Risa, dan hanya memiliki satu cara yaitu menemui nenek dan kakeknya atau lebih tepatnya kedua orang tua Kara.


"kamu mau ngapain ke Semarang?"


"aku... aku.. oh aku kangen sama kakek nenek, mereka kan udah gak bisa ke jakarta lagi. jadi aku berpikir untuk kesana, dan hanya mengajak kamu sih!" ucap Riana berbohong, Daniel menatap Riana yang terlihat gugup.


"udah bilang om dan tante?"


"udah, papaku setuju kok. kamu mau ya anterin aku, aku kan gak mungkin luar kota naik mobil sendirian!" ucap Riana membujuk Daniel, Riana berharap Daniel tidak menolak permintaannya. karena harapan satu satunya adalah Daniel, tidak ada orang lain lagi.


"oke!"


"sungguh?"


"iya aku anterin, kapan kita pergi?" Riana terlihat senang dengan itu.


"besok, besok pagi kita berangkat!"


dan benar Riana pergi pagi hari bersama Daniel, tanpa pamit Riana meninggalkan rumah itu tanpa diketahui seseorang. Daniel yang mengira Riana sudah berpamitan pun membawa Riana ketempat yang ingin dituju, selama perjalanan itu Riana merenung tanpa bicara.


"hei kau ini, aku sudah mau mengantarmu. tapi kamu malah begini, ayo senyum!" ucap Daniel, Riana menoleh dan tersenyum.


"aku gak sabar aja ketemu nenek, masih lama ya?" ucap Riana, Daniel melihat jam ditangannya dan mengangguk.


" lama sih, kita baru setengah jam perjalanan. kamu tidur aja gak papa, nanti aku bangunin!" ucap Daniel, Riana mengangguk. terdengar suara getar hp Riana, tertulis disana nama mama tersayang. Riana berpikir semua orang dirumah itu sadar kepergian Riana, dan mungkin sedang mencari dirinya sekarang. bukannya mengangkat telfon itu, Riana mematikan telfon nya dan juga menoaktifkan hpnya. Riana menghela nafasnya dan memejamkan matanya, ia berniat untuk istirahat sejenak. Daniel yang melihat itu merasa curiga, curiga masalah apa yang dialamai Riana sampai dirinya lesuh seperti itu.


maafin Riana ma, Riana hanya ingin tahu masa lalu mama.