
'kejadian beberapa menit yang lalu...
Naira diajak Siska untuk makan siang dikantin, Naira pun setuju dan mengikuti Siska. pada saat ditengah perjalanan, Naira merasakan harus kekamar kecil. Naira pun berbelok ke arah toilet, sedangkan Siska memilih untuk menunggu.
Naira segera masuk untuk membuang air kecilnya itu, saat Naira merapikan pakaiannya terdengar beberapa orang masuk kedalam toilet. Naira mendengarkan beberapa wanita mengobrol, tapi Naira tidak peduli dengan itu.
"apa kau tahu, ada seorang wanita yang mencari pak Adrian!" mendengar nama Adrian, Naira pun berniat untuk tetap didalam dan mendengarkan mereka bicara.
"benarkah siapa?"
"aku tidak tahu, yang aku tahu cantik, tinggi berambut merah. suaranya sangat lembut didengar, bahkan jalannya pun sangat mempesona!"
"apa iya kekasih pak Adrian?"
"ngawur, Naira kan kekasih pak Adrian!"
"haha kekasih, mereka kan sudah putus. kamu gak inget apa, saat Naira mengundurkan diri."
"tapi dia balik lagi!"
"balik tapi diusir kasar oleh pak Adrian, dan beritanya udah nyebar kok!"
Naira yang mendengar itu hanya terdiam didalam toilet, Naira mengontrol dirinya untuk tidak menemui mereka dan tetap mendengar dari dalam.
"tapi sebenarnya pak Adrian cocok loh dengan Naira!" Naira tersenyum mendengar itu.
"iya tapi bagaimana lagi, pak Adrian bebas memilih. kasihan Naira juga sih, ah udah deh ayukk!"
"iya ayuk!"
setelah mereka pergi, Naira pun keluar dari toilet itu. Naira merasa penasaran, dengan maksud mereka yang mengatakan kekasih Adrian. Naira segera keluar dari toilet dan mencari wanita yang mereka maksud.
"dimana wanita itu, kenapa tidak ada dimana mana!" gumam Naira, sejenak Naira teringat pada Siska yang menunggunya.
"aku lupa, Siska menungguku!!" saat membalikkan badan, Naira menabrak seseorang.
"akhh maafkan aku, apa kau tidak apa?" tanya Naira, Naira terkejut ketika melihat seorang wanita tersenyum kearahnya.
"hm.. aku tidak apa, apa kau baik?" tanya lembut wanita itu, Naira mengangguk. Naira menatap wanita cantik dihadapannya, berambut merah, tinggi, kulit putih dialah wanita yang Naira cari.
"hello, apa kau oke?" ucap wanita itu, Naira pun tersadar dari lamunannya.
"iya aku oke, maaf ya!"
"iya aku juga tidak melihat jalan tadi!" ucapnya,
"memangnya sedang mencari apa, siapa tahu aku bisa membantumu?" ucap Naira, wanita itu terlihat senang dan tersenyum kearah Naira.
"iya, aku mencari ruangan Adrian apakah kau tahu?" tanya wanita itu, Naira terkejut dengan itu.
'siapa dia, kenapa dia berani memanggil nama Adrian.'
"hm.. kau melamun lagi, apakah kau tahu?" ucap wanita itu lagi, Naira pun tersenyum.
"kau siapanya Adrian itu ya?" tanya Naira, wanita itu tersenyum.
"aku, aku tunangannya!"
jawaban wanita itu membuat jantung Naira terasa berhenti, Naira terkejut bahkan sampai tidak tahu harus berkata apa. tanpa mengatakan apapun, Naira berlari kearah lift meninggalkan wanita itu. keinginan Naira sekarang hanya ingin bertemu Adrian dan harus mendapat semua jawaban yang ingin ia tanyakan. karena lama menunggu lift, Naira memutuskan untuk naik tangga darurat. Naira berlari sekuat tenaga menuju ruangan Adrian, dengan menahan tangisnya.
'teganya kau melakukan ini, apa karena ini kau berubah dalam waktu singkat. beraninya kau melakukan ini padaku, aku sudah menunggumu selama 15 tahun. tapi kau...'
Naira terus berjalan menuju ruangan Adrian, Naira bahkan tidak mendengar suara yang menyapanya. bahkan disana terdapat Siska dan Johan yang sedang berdebat, mereka juga melihat kehadiran Naira.
"Naira aku mencarimu..." perkataan Siska terhenti ketika Naira tidak mendengarnya, dan mereka terkejut Naira membuka pintu Adrian dengan kasar.
"ikut aku!" ucap Johan saat Siska ingin menghampiri Naira, Johan menarik tangan Siska menjauh dari sana.
Flashback off
"ternyata ini ruanganmu, aku sudah mencarinya kemana mana!"
mendengar suara itu, Adrian menoleh kearah belakang Naira. terlihat seorang wanita cantik berdiri didepan pintu, wanita dengan kulit putih dan berambut merah. Adrian menatap wanita itu seakan tidak percaya, karena Adrian tahu benar siapa wanita itu.
"Sonia?"
"akhirnya aku melihatmu, kau sangat tampan!" ucap Sonia tersenyum, lalu Sonia melihat Naira yang berdiri agak jauh.
"hei kau gadis itu, haii!" ucap Sonia, Naira pun tersenyum.
"apa kau habis menangis?" tanya Sonia, Naira mengelap pipinya dan menggelengkan kepala.
"tidak kok, ini keringat. tadi saat kau bilang mencari Ad maksudku pak Adrian, aku langsung berlari keruangannya." saut Naira, Sonia tersenyum manis.
"aku belum memperkenalkan diri, namaku Sonia kau pasti sudah tau siapa aku!" ucapnya mengulurkan tangan, Naira dengan senyumnya mengulurkan tangannya.
"iya aku tahu, kau tu-na-ngan pak Adrian!" ucap Naira menekan kata tunangan dan menatap Adrian, Adrian masih berdiri menatap Naira.
"kau siapa?"
"namaku Naira, aku sekretaris pak Adrian!"
"wahh nama yang ind.. eh namamu siapa?" tanya Sonia lagi, Naira tersenyum.
"namaku Naira, kenapa?" saut Naira, Sonia tampak berpikir dan mengeja nama Naira berulang kali.
"tidak, sepertinya aku pernah mendengar namamu!" ucap Sonia melihat kearah Adrian, Adrian sendiri menarik nafasnya.
"Naira pergilah, aku harus bicara dengannya empat mata!" ucap Adrian, Naira terdiam menatap Adrian tanpa menjawab.
"Naira, aku tidak ingin mengatakan itu dua kali!"
"saya tidak akan mengganggu kalian, saya permisi!" ucap Naira, saat ingin pergi Adrian menarik tangan Naira.
"aku akan bicara denganmu setelah ini!" ucap Adrian, Naira melepas tangan Adrian.
"tu-na-ngan anda sedang menunggu, saya banyak pekerjaan mungkin tidak akan bisa bicara dengan anda!" saut Naira lalu pergi, Adrian tidak mencegah itu.
'aku tidak ingin mengerti, aku tidak ingin tahu..'
Adrian masih terdiam menatap kepergian Naira, Adrian sangat terpukul ketika melihat Naira pergi dengan menangis.
'kenapa seperti ini, hal ini semakin menjadi rumit. baru kemarin tapi sekarang, tidak. tidak akan kubiarkan ini terus berlanjut, Naira tidak bisa terus salah paham padaku.'
"jadi dia yang bernama Naira?" perkataan Sonia membuat Ardian tersadar dari lamunannya, Adrian menoleh kearah Sonia yang tersenyum manis.
"apa yang sudah kau lakukan, kenapa kau datang?" ucap Adrian, Sonia tersenyum dan tertawa kecil. Sonia adalah teman masa kecil Adrian di London, disekolah Adrian tidak suka berteman kecuali dengan Johan dan Sonia termasuk. Sonia adalah teman wanita Adrian setelah Naira, mereka sangat dekat satu sama lain.
"kau tidak tahu penderitaanku Adrian, dia yang menyuruh ayahku untuk mengirimku. sangat menyebalkan!" ucap Sonia mendudukan dirinya, Adrian bingung dengan apa yang dikatakan Sonia.
"siapa, siapa yang kau maksudkan?" tanya Adrian, Sonia malah mengangkat kedua bahunya.
"siapa lagi yang kau sebut penyihir, apakah ada lagi?" saut Sonia, Adrian pun mengerti siapa yang dimaksud Sonia itu.
"apa rencananya kali ini!"
"rencananya adalah, menikahkan kita!" jawab Sonia, Adrian terkejut dengan itu. Adrian tidak habis pikir, setelah mengancamnya sekarang neneknya itu membuat rencana lain.
"jadi apakah itu Naira?"
"iya, dan kenapa kau mengatakan padanya kalau kau adalah tunanganku!" Sonia tertawa kecil, Adrian hanya menatap Sonia dengan wajah datar.
"hei ayolah, lihat ini!" ucap Sonia menunjukan sebuah earphone kecil ditelinganya, Sonia memberikan itu pada Adrian.
"penyihir itu memberikan ini padaku, karena itu aku mengatakan pada semua orang kalau aku ini tunanganmu atau kekasihmu. sekarang sudah aku matikan, tenang saja!" ucap Sonia, Adrian sangat kesal karena lagi lagi neneknya itu membuat ulah. saat Adrian ingin menghancurkan benda itu, Sonia menahan nya dan menggelengkan kepala.
"kau menambah masalahku Sonia, aku bahkan belum menyelesaikan masalahku dengannya!" ucap Adrian, Sonia tertawa kecil.
"haha, tidak berubah. dia terlihat sedih, kau harus menghiburnya!" ucap Sonia, Adrian mengangguk dengan itu.
"tapi Adrian, aku rasaa... aku suka pada Naira!"
****
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍
semua itu semangat untuk author, terima kasih🤗