
Naira berangkat ke kantor, seperti biasa Naira akan masuk kedalam ruangan Adrian. Naira membersihkan ruangan itu, sebelum Adrian datang. Naira sudah melakukan itu beberapa bulan yang lalu, dan itu sudah menjadi kebiasaan untuknya.
Naira masih kesal dengan Adrian yang tidak menghubunginya, dengan kesal ia membersihkan meja Adrian.
"kemana dia sebenarnya, bahkan tidak mengirim pesan!" gumam Naira.
"berapa hari aku tidak datang, dia tidak menaruh berkas dengan benar. kalau butuh, bingung mencarinya!" ucap Naira lagi, Naira menata setiap berkas disana. saat Naira membuka laci disana, Naira menemukan sesuatu yang sedikit aneh. terlihat sebuah gelang berwarna hitam, tidak terlalu jelas dilihat.
"aku tidak pernah melihat dia pakai gelang, coba kulihat gelang apa itu!" ucap Naira, saat ingin mengambil itu Naira dikejutkan dengan suara Adrian.
"sedang apa?" tanya Adrian tiba tiba, Naira menoleh kearah Adrian. terlihat Adrian berdiri disamping pintu, Naira tersenyum.
"aku bersihkan ini, lalu tadi aku lihat ada benda sepertinya gelang!" ucap Naira, Adrian terkejut dengan itu. Adrian berjalan cepat kearah Naira, dan memeluk Naira.
"hm.. apa yang kau lakukan?" tanya Naira, Adrian memeluk Naira dan tangannya menutup pelan laci itu.
"aku sangat merindukanmu, biarkan aku memelukmu!" ucap Adrian memeluk Naira dengan erat, Naira tersenyum dan menikmati pelukan Adrian dari belakang.
"apa tidak ada yang membersihkan ruanganmu, kenapa semua berkas berantakan. kalau mencari sesuatu akan susah, bagaimana kalau kamu buru buru mencarinya?" ucap Naira, Adrian menikmati dirinya yang memeluk Naira.
"ada kamu untukku, aku bisa memintanya padamu. dan juga hanya kamu yang boleh menyentuh barangku, jadi tidak ada yang berani masuk kemari kecuali hal penting!" saut Adrian,
"sepertinya kamu sangat mencintaiku?"
"tentu saja, aku sangat mencintaimu!!" saut Adrian, Naira tersenyum lalu mengingat kalau Adrian belum menghubunginya kemarin.
"kemarin kemana, kenapa tidak menghubungiku?" tanya Naira, Adrian teringat karena bertemu Amelia ia lupa menghubungi Naira.
"ada pekerjaan penting, jadi aku harus mengurusnya. maafkan aku ya, hari ini akan kutebus mari kita jalan jalan!" ucap Adrian, Naira melepas pelukan itu dan menatap Adrian yang sedikit berbeda pada wajahnya.
"kamu kenapa, apa kamu habis menangis. katakan padaku?.." ucap Naira, Adrian tersenyum dan membawa Naira duduk disofa.
"aku hanya lelah, tapi tenang saja. disaat bertemu denganmu, lelahku sudah hilang!" ucap Adrian menyenderkan kepalanya, Naira mengusap rambut Adrian.
"apakah sangat penting, sampai seperti itu?" tanya Naira, Adrian menganggukan kepala.
"aku akan antar sarapan kemari, kamu tunggu ya!" ucap Naira berdiri, Adrian menarik Naira hingga duduk kembali.
"aku tidak mau sarapan!" ucap Adrian, Naira menarik satu alisnya.
"tapi aku mau, aku belum sarapan!" ucap Naira berbohong, Naira selalu mengatakan itu agar Adrian mau makan. rencana Naira selalu berhasil, dan benar sekrang Adrian terkejut dan menatap Naira.
"bagaimana bisa, aku akan pesan makanan!" ucap Adrian, Naira menarik lengan Adrian.
"aku yang akan pergi, kamu disini!" ucap Naira, Adrian mengiyakan itu. dengan senyum Naira pergi dari sana, Adrian melangkah kearah mejanya. ia membuka laci tadi, ia mengambil gelang itu lalu menyimpan dikantong jasnya.
"maaf Naira aku belum bisa mengatakannya, entah kenapa aku sangat takut jika harus jujur." ucap Adrian melihat foto Naira pada hpnya, Adrian tersenyum sendiri melihat itu.
Adrian mulai membuka laptopnya, sambil menunggu Naira ia berniat untuk mengerjakan pekerjaannya.
Tok tok tok~
suara ketukan pintu terdengar, Adrian bingung siapa yang datang. Adrian merasa tidak ada janji pada siapapun, Adrian menutup laptopnya dan membenarkan jasnya.
"masuk!!" ucap Adrian, terlihat seorang pria muncul dari balik pintu. Adrian sempat terkejut melihat siapa yang datang, terlihat Bagas berdiri dengan angkuhnya berjalan menghampiri Adrian.
"apa kabarmu, apakah aku datang diwaktu yang salah?" ucap Bagas, Adrian tersenyum dan mempersilahkan Bagas untuk duduk.
"tidak, aku hanya terkejut kau tiba tiba datang." ucap Adrian, Bagas melepas kancing jasnya dan kancing kera kemejanya.
"oh iya, maafkan aku. maaf membuatmu terkejut, tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu!" ucap Bagas, Adrian menatap Bagas dengan penuh tanya.
"katakan?" ucap Adrian, Bagas menatap Adrian serius.
"siapa kamu sebenarnya?" Tanya Bagas, Adrian terdiam dengan pertanyaan Bagas.
apa dia tahu siapa aku, apa kak Bagas sudah curiga dari awal.
"namaku Adrian, siapa lagi. waktu itu aku sudah mengatakannya!" saut Adrian, Bagas menatap Adrian.
"kamu bisa membohongi Naira, tapi kamu tidak bisa berbohong padaku!" ucap Bagas, Adrian tertegun mendengar itu. Adrian tidak pernah berpikir, semudah itu Bagas mengetahui siapa dirinya. Adrian berdiri dari duduknya dan menghampiri Bagas.
"sejak kapan kau mencurigaiku?" ucap Adrian, Bagas tersenyum dengan itu.
"ternyata benar, kau Adnan!" saut Bagas, Adrian tersenyum dan mengangguk. entah apa yang terjadi pada Bagas, ia sangat marah hingga memukul Adrian.
Bugh!!!
Adrian tersungkur disofa, terlihat mulutnya mengeluarkan darah. bukannya marah Adrian malah tersenyum, Bagas mendudukan dirinya.
"kenapa Naira tidak tahu tentangmu?" tanya Bagas, Adrian mendudukan dirinya dan tersenyum.
"karena aku tidak memberitahunya!" saut Adrian.
"kenapa kau tidak memberitahu nya?" tanya Bagas lagi.
"aku tidak bisa, dia hanya mencintai Adrian sekarang. bukan mencintai Adnan, bahkan dia melupakan Adnan!" saut Adrian, Bagas menatap nya.
"aku rasa, aku harus memukulmu lagi!" ucap Bagas, Adrian terdiam dengan itu.
"Naira tidak suka kebohongan, dia benci pada orang yang suka berbohong!" ucap Bagas, Adrian menoleh kearah Bagas.
"wanita itu penyebabnya, karenanya aku harus berbohong!" saut Adrian, Bagas mengerti siapa yang dimaksud dengan wanita itu.
"aku datang khusus bertemu keluargaku, bukan hanya itu. aku juga ingin menemui kalian, aku ingin mengatakan pada Naira kalau aku Adnan. tapi wanita itu tidak akan membiarkan semua itu, wanita itu punya banyak cara untuk melukai kalian. bahkan dia mengirim mata mata untuk mengawasiku, dia lebih berkuasa dari pada aku. karena itu dihari pertama datang, aku hanya bisa melihat kalian dari jauh. bahkan aku menempatkan Naira sebagai sekretaris ku, agar aku bisa bersamanya selalu." ucap Adrian, Bagas terdiam melihat wajah Adrian yang penuh beban. dalam pikir Bagas menyesal telah memukul Adrian, karena Bagas bisa merasakan beban Adrian.
"yang aku lakukan hanya bisa berbohong, bahkan Naira telah membuka hatinya. dia sudah tidak ingin mengingat Adnan, karena itu aku berbohong padanya. aku tetap mengaku sebagai Adrian, karena dia mencintai Adrian!" ucap Adrian lagi, Bagas menghela nafasnya.
"apa kau juga belum mengaku pada ibumu?" ucap Bagas, Adrian tersenyum.
"aku tidak bisa menahan diriku, aku sudah mengaku dihadapannya. dia tidak membenciku sama sekali, aku harap jika Naira tau nanti dia juga tidak akan membenciku!" saut Adrian, Bagas menggelengkan kepala.
"kau harus mengaku padanya, sebelum dia tau sendiri. Naira akan sangat marah, marah karena kau membohonginya!" ucap Bagas, Adrian terdiam dengan itu.
"Adnan atau Adrian, yang mana aku harus memanggilmu?" ucap Bagas.
"Adrian saja!" saut Adrian.
"oke Adrian, aku sebagai yang paling tertua dari kalian. aku sarankan, katakan pada Naira. terima keputusannya nanti apapun itu, jangan terus membohonginya seperti ini." ucap Bagas, Adrian mengangguk.
"tentang masalah wanita itu, jangan khawatir. keluargaku, bukan keluarga kita. keluarga kita akan kita lindungi, tidak akan kubiarkan nenekmu itu melukai keluarga kita terutama Naira." ucap Bagas, Adrian terkejut saat Bagas tidak marah padanya. bahkan Bagas menganggapnya keluarga, Adrian tersenyum dan mengangguk.
"katakan segera pada Naira, ku harap dia menerimamu!" ucap Bagas, Adrian mengangguk.
"ya, kau dengan siapa kemari?" tanya Adrian melepas pelukan mereka, Bagas melihat jam ditangannya.
"aku dengan sekretaris ku, aku akan mencarinya sekarang!" ucap Bagas, mereka keluar bersama dari ruangan Adrian.
ditempat Naira sendiri sedang membawa sarapan untuk Adrian, saat akan naik lift Naira kesusahan untuk memencet tombol angka. tiba tiba tangan seorang wanita terulur menekan tombol lift, Naira menoleh dan melihat wanita itu tersenyum.
"lantai berapa?" tanya wanita itu, Naira tersenyum.
"lantai 8, terima kasih!" saut Naira, wanita itu mengangguk dan memencet tombol lift.
"apa kita pernah bertemu?" tanya Naira, wanita itu mengangguk dan tersenyum.
"kamu melupakan aku, aku sekretaris kakakmu!" ucap wanita itu, Naira terkejut dengan itu.
"jika kamu disini, kakak juga disini?" ucap Naira wanita itu mengangguk, beberapa menit kemudian lift terbuka. secara bersamaan Adrian dan Bagas ingin masuk kedalam lift, Naira keluar dengan membawa nampan ditangannya.
"kamu!" ucap Adrian, Adrian mengambil nampan yang dibawa Naira.
"kakak!" ucap Naira, Bagas tersenyum lalu melihat kearah sekretaris nya.
"Dinda mari kita kembali," ucap Bagas, sekretaris nya yang bernama Dinda itu mengangguk.
"kok cepat sekali, Naira akan buatkan kopi!" ucap Naira, Bagas menarik hidung Naira.
"kakak sudah dari tadi disini, kakak ada rapat hari ini. kakak akan pergi sekarang, Adrian aku pergi!" ucap Bagas, Adrian mengangguk.
"iya kak, hati hati!" ucap Adrian, Naira terkejut saat Adrian memanggil kakaknya sebagai kakak.
Bagas masuk lift bersama sekretaris nya, dan pergi dari sana. Adrian tersenyum saat Naira menatapnya, tanpa bicara Adrian melangkah dengan membawa nampan yang dibawa Naira sebelumnya. dengan cepat Naira mengikuti Adrian dari belakang, Naira sangat penasaran dengan kedatangan Bagas.
"kenapa kamu menatapku terus, ayo makan!" ucap Adrian, Naira menyendok makanan dan memasukkan pada mulut Adrian.
"kenapa kakakku datang?" tanya Naira, Adrian membuka laptopnya.
"hanya ingin bicara denganku!" saut Adrian, Naira menyuapkan satu sendok lagi.
"kenapa?" tanya Naira lagi, Adrian menatap Naira.
"apanya kenapa, dia ingin melihat adik iparnya." ucap Adrian memainkan mata, Naira sangat kesal dengan itu. Naira menyuapi Adrian sampai makanannya habis, setelah itu Naira keluar dari ruangan Adrian. belum sempat keluar, Adrian menarik Naira.
"apa yang kamu lakukan!" ucap Naira saat Adrian memeluknya, Adrian tersenyum.
"kenapa kamu kesal, aku hanya bercanda. kakakmu datang untuk pekerjaan, hanya itu saja!" ucap Adrian, Naira mengangguk.
"iya aku percaya, sekarang lepaskan." Adrian melepas pelukan itu, Naira menatap Adrian yang tersenyum.
"ayo kita jalan jalan, bagaimana?" tanpa Naira menjawab, Adrian meletakkan nampan yang Naira pegang. Adrian menarik tangan Naira keluar dari ruangannya, Naira terkejut dengan itu.
"apa yang kamu lakukan, Adrian lepas. banyak yang lihat, lepaskan tanganku!" ucap Naira, Adrian tidak peduli ia berjalan terus menuju lift. Naira sangat kesal saat semua karyawan melihatnya, sebenarnya hubungan mereka sudah diketahui semuanya tapi Naira belum terbiasa dengan dengan itu. saat sudah masuk lift, mereka pergi dari sana. setelah itu Adrian membawa Naira kedalam mobilnya, Adrian tidak memberikan kesempatan Naira untuk bicara.
"keterlaluan, ini masih jam kerja. kamu mau bawa aku kemana, ini masih pagi!" ucap Naira, Adrian menjalankan mobilnya dan pergi dari sana.
"lalu kenapa, aku presdirnya apa yang mereka bisa lakukan?" ucap Adrian, Naira tersadar kalau Adrian bisa melakukan apapun. Naira hanya kesal dengan itu, Adrian tersenyum.
"aku mencintaimu." ucap Adrian, Naira sedikit tersenyum dengan itu.
"tidak menjawab?" ucap Adrian, Naira tersenyum dengan itu.
"iya aku mencintaimu juga, presdir tukang atur!" ucap Naira sedikit berteriak, Adrian tertawa dengan itu. didalam mobil mereka tertawa bersama, mereka saling melihat dengan penuh cinta dimata mereka.
setelah beberapa menit mereka sampai disebuah mall, Adrian membawa Naira kesana mulai dari menonton film, belanja dan lainnya. Naira sangat bahagia berjalan berdua dengan Adrian, begitu pun sebaliknya. setelah beberapa jam, mereka duduk disebuah restoran untuk makan siang.
terlihat Naira duduk memilih menu makanan, sedangkan Adrian sedang bicara ditelfon. setelah menelfon Adrian duduk dihadapan Naira, ia memandangi Naira yang sedang bingung memesan menu.
bagaimana caraku mengatakan semuanya Nara, apakah kamu mau memaafkan aku jika kamu tau yang sebenarnya.
"kenapa menatapku terus?" tanya Naira, Adrian tersadar dari lamunannya. Adrian tersenyum dan memegang tangan Naira, Naira membalas senyumannya.
"karena kamu sangat cantik, aku jadi semakin mencintaimu." ucap Adrian, Naira tersenyum dengan itu.
"tentu saja, aku sudah sangat cantik sejak lahir!" ucap Naira dengan menyibakkan rambutnya, Adrian tersenyum dengan itu.
"ya... kamu cantik dari dulu dan narsis!" saut Adrian, Naira sedikit terkejut.
"dulu, Memangnya kamu tau aku dulu?" tanya Naira, Adrian terdiam dengan itu. belum Adrian menjawab seorang pelayan datang, datang membawa menu pesanan mereka.
"hm.. sayang aku ke toilet dulu, jangan kemana mana!" ucap Adrian membuka jasnya, Naira mengiyakan itu.
"jangan lama lama, nanti makananmu dingin!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan pergi dari sana.
beberapa menit Naira menunggu, Adrian belum kembali. Naira melihat makanan mereka sudah hampir dingin, Naira mencoba menelfon Adrian. saat menelfon Adrian, suara hp berdering pada kantong jas Adrian. Naira mengambil itu dan ternyata itu hp Adrian. secara bersamaan sebuah benda keluar dari kantong Adrian, Naira melihat itu mencoba mencarinya.
"kemana itu?" ucap Naira, ia merogoh dibawah meja yang susah ia gapai. setelah berusaha Naira mendapatkan itu, Naira terkejut melihat benda itu. benda yang menurut Naira sangat familiar, benda yang sudah lama Naira tidak melihatnya. sekarang benda itu terlihat, terlihat dihadapannya bahkan sedang dipegang olehnya.
"aukh.. maaf tuan!"
"tidak masalah!"
mendengar suara Adrian, Naira memasukkan benda itu dalam tasnya. dengan cepat merapikan jas Adrian, terlihat Adrian tersenyum dan duduk dihadapan Naira. Naira hanya terdiam, Adrian bingung dengan itu.
"kamu kenapa." tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala pelan.
"tidak apa, makananmu dingin. cepat makan!" saut Naira, Adrian masih heran.
"Naira kamu kenapa sayang, apa terjadi sesuatu?" tanya Adrian lagi, Naira menatapnya.
"tidak Adrian, aku tidak apa. setelah ini antar aku pulang ya, mumpung masih sore aku ingin istirahat!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan tersenyum.
"oke, makanlah dulu. setelah itu akan kuantar pulang, istirahat lah dirumah!" ucap Adrian, Naira hanya diam dengan pikirannya melihat makanannya.
gelang itu yang aku lihat pagi tadi, gelang itu milik kak Anan. aku tahu benar, aku ingat benar. apa maksud semua ini, apakah Adrian adalah kak Anan. lalu kenapa dia berbohong padaku, kenapa dia mempermainkan perasaan ku.
***
halo temen2 maaf ya kalau up nya lama atau tidak up, karena authornya ada kesibukan. tapi pasti diusahain buat up ya, jadi terimakasih yang selalu sabar menunggu up nya.🤗
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍