Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Empat : Hati yang goyah



Jakarta, 24 Juni 2022


Mobil itu berjalan pelan. Hampir merayap diantara padatnya ibu kota.


Alunan musik pelan nan lembut mengisi celah hening yang tercipta.


Dua insan itu sibuk dengan dunianya. Tak terlihat seperti pasangan. Tak ada tautan tangan, tak ada usapan sayang.


Hanya senandung tipis yang keluar dari bibir sang pria, juga pandangan kosong yang tercetak di wajah si wanita.


"Mas!" Si wanita jadi yang pertama membuka suara. Wanita cantik bergaun pendek itu memanggil prianya tanpa menoleh. Pandangannya masih lurus kedepan.


"Hm?" Deheman halus diberikan oleh si pria. Tanpa menoleh ia lanjut bertanya "Kenapa?".


Terdapat jeda hening yang tercipta lumayan lama. Membuat kening si pria sedikit mengerut, lantas menimbulkan urgensi baginya untuk menoleh.


Tak ada yang ia dapat. Hanya pandangan lurus si wanita.


"Queen? you ok?" Tanyanya memastikan.


Bukan jawaban yang ia dapat, melainkan pertanyaan lain yang cukup menggelitik hatinya. "Wanita tadi, siapa?"


'Siapa?'


Betul. Siapa?


Harusnya pertanyaan itu bukan merupakan pertanyaan yang sulit. Tapi kenapa rasanya sulit sekali menemukan jawabannya?


Ameera itu, siapa sih dia di kehidupan seorang Manggala Jaelandra?


Kalau dibilang teman, rasanya mereka lebih dari itu.


Sahabat? sumpah! rasanya Ameera lebih dari itu!


Kekasih? Oh, ayolah? Kau anggap apa wanita yang sekarang duduk di sebelahmu ini, Manggala?


"Kok gak jawab?" Kali ini Shaqueena menoleh hanya untuk mendapati pandangan gelisah dari prianya.


Hatinya bergetar gelisah. Prasangka buruk mulai menggerayangi pikirannya.


"Mas?"


Manggala, tanpa sadar ia membiarkan lamunan menghinggapinya. bahkan saat sudah tercipta banyak space di depan mobilnya pun, ia masih berada dalam lamunannya. Alhasil kini mobilnya terselip mobil lain dan membuat keadaan stagnan itu bertahan lebih lama.


"Ya?" Manggala menghindar. Bola matanya kini mencari tujuan tatap selain bola mata sang lawan bicara.


"Jadi, siapa dia?" Shaqueena mengulangi pertanyaannya.


Hatinya dipenuhi harap, bahwa semua prasangkanya hanya angin lalu belaka. Tapi jawaban terbata yang barusan Gala lontarkan, seolah menjawab semuanya.


"Te—teman"


Sekarang Shaqueena membenci dirinya yang terbiasa menjadi terlampau peka.


......................


Sudah larut malam. Manggala meletakkan plastik bening berisi kue di atas meja makan yang sudah kosong.


Gala jarang makan malam di rumah, ia terbiasa makan di luar selepas bekerja, bersama Shaqueena. Jadi, asisten rumah tangganya tak pernah menyisakan makanan untuk Gala.


Ngomong-ngomong soal Shaqueena, wanita itu jadi pendiam setelah percakapan singkat yang terjadi di dalam mobil tadi.


Bahkan saat turun pun, tidak ada kecupan pipi yang biasa Shaqueena berikan beserta ucapan terima kasih dengan senyum manis yang menyentuh mata.


Wanita itu hanya turun tanpa ada satupun kata yang keluar dari bibirnya.


Tapi yasudah, Gala tidak terlalu memikirkan. Mungkin wanita itu hanya sedang berada dalam mood terendahnya, pikir Gala.


"Kamu baru pulang? Tumben sampai selarut ini?"


Gala tersentak. Dalam gelapnya ruang, sang Bunda tiba-tiba muncul.


Bunda berjalan mendekat, mengambil bungkusan bening itu. Mengabsen satu persatu Roti dan cookies pesanannya.


"Duh, wanginya enak banget. Tokonya dimana sih? Bunda mau deh kesana kapan-kapan"


Tak ada jawaban. Membuat Bundanya menatap heran sang putra.


"Gala?"


"Eh iya bun?" Melamun lagi rupanya.


"Tadi kamu dari mana? Sama Queen?"


"Gak dari mana-mana. Cuma macet aja"


Gala menyengir. Ia dudukan dirinya di pantry. Mengambil gelas, menuang cairan bening untuk membasahi tenggorokannya.


"Eh? Apa toko rotinya yang terlalu jauh?"


Gala menggeleng. "Gak kok, Bun. Tokonya dekat sama kantor. Searah juga sama jalan pulang"


"Terus kok lama?"


Gala diam sebentar. Ia menimang, haruskah ia memberitahu bundanya soal Ameera?


"Bun. Ingat Ameera, gak?" Tanya Gala lirih.


Bunda berpikir sejenak. Mencoba mengenali nama familiar yang barusan keluar dari mulut anaknya.


"Anaknya Pak Damar?" Anggukan Gala berikan. "Iya anaknya Abah"


"Kenapa sama Ameera?"


"Toko roti itu, Ameera yang punya"


"Eh!! serius?" Gala mengangguk lagi. Matanya ia tujukan ke arah gelas dalam genggamannya.


"Tadi aku ngobrol-ngobrol dulu sama Ameera. Sampai lupa waktu. Ingat-ingat tadi di samperin sama Queen di toko"


Tanpa sadar, senyum kecil terbit di wajah Gala, "Tadi kita ngomongin masa kecil kita Bun, haha, lucu banget waktu itu. Inget gak bun yang waktu aku kabur sendirian ke villa, terus aku—"


"Gala!"


"Eh?" Gala bingung karna Bunda yang tiba-tiba memotong ucapannya. Tak biasanya Bunda seperti ini. Selalunya, bunda akan mendengar semua keluh kesah juga cerita tentang hari-hari Gala tanpa menyela.


"Kamu ada apa sama Ameera?"


Eh?


"Bunda bisa liat ya, tatapan kamu waktu cerita soal Ameera, kamu ada perasaan sama dia?"


"Bun?"


"Jawab, Manggala!"


Gala termenung. Dia memang ada perasaan pada dara cantik itu. Tapi dia yakin itu dulu.


Benar, kan?


"Gak ada—Bun" Nada ragu itu lirih terdengar. Bunda menghela napasnya.


Wanita yang sudah menginjak usia separuh abad itu menyusul putranya untuk duduk. Ia genggam—elus tangan putranya sebelum kembali melontarkan kata.


"Gala, sebelum menjodohkan kamu dengan Shaqueena, Bunda sudah pernah tanya, bukan? Apa kamu punya pacar atau belum? Dan kamu masih ingat kan, jawaban apa yang kamu berikan?"


Gala mengangguk. "Aku jawab belum, Bun" Ia jawab belum karna memang saat itu ia *Single.


Ameera tidak ingin berpacaran kala itu*.


"Lalu saat Bunda kenalkan kamu dengan Shaqueena, apa bunda paksa kamu untuk dekat dengan dia?"


Manggala menggeleng. "Tidak"


"Jadi, pilihan untuk bersama Shaqueena adalah pilihan siapa?"


"Aku, Bun"


"Jadi Gala, Bunda mohon. Karena kamu sudah memilih Shaqueena untuk menjadi pendampingmu, bahkan kalian sudah bertunangan, Lho, ini.—"


"—jaga kepercayaannya, jaga hatinya. Kamu sudah memilih. Jadi sekarang adalah tanggung jawab kamu untuk menjaga hati untuk tidak lagi jatuh pada hati yang lain. Kamu bisa kan, Nak?"


Gala diam. Harusnya dia bisa dengan mudah menjawab 'Iya' pada Bundanya sekarang.


Harusnya.


Namun nyatanya, sulit. Kata iya seolah menghilang dari kamus lidahnya. Ia tak bisa mengucapkannya, dan ia tak tau mengapa.


"Bun, aku mau tidur dulu, selamat malam" Gala kabur. Lagi dan lagi.


"Gala..."


"Bun, tolong. Gala capek"


Bunda menghela napas. Melepas genggamannya pada tangan sang anak. Membiarkan sosok tegap itu berjalan pergi menuju kamarnya.


"Bunda harap kamu tidak membuat kesalahan, Nak" bisik bunda pada heningnya gelap malam.


...****************...