Do You Remember?

Do You Remember?
sebuah perhatian.



dimalam hari terjadi hujan deras saat Adrian mengendarai mobilnya, Adrian memilih pulang lebih awal untuk menemui Naira. semenjak Naira hamil, Adrian menjadi sering cemas dengan sendirinya. saat bekerja Adrian selalu berpikir apa yang dilakukan Naira dirumah, apakah Naira baik baik saja atau sekarang sedang bolak balik kamar mandi untuk muntah. segala pikiran cemas menghantui Adrian, saat bekerja waktu akan sangat lamban untuk Adrian pulang, tapi waktu akan begitu cepat saat dirinya dirumah bersama Naira.


setelah melewati beberapa waktu hujan deras dijalan, Adrian sampai dirumah. Adrian melempar kunci pada seorang pelayan agar memarkurkan mobilnya, dan Adrian langsung berlari masuk kedalam rumahnya tanpa memakai payung dan membuat pakaiannya sedikit basah. hal pertama yang dilakukannya adalah mencari Naira, tapi Naira tidak ada dimana pun sampai akhirnya ia menemukan Naira sedang asik memasak didapur. Adrian menghela nafas dan menatap Naira yang sedang asik memasak dan bersenandung, dengan perut besar Naira masih saja melakukan hal untuk menyenangkannya.


"haduh aku lupa garamnya, dimana garamnya..." ucap Naira celingak celinguk mencari garam, sampai akhirnya ketemu garam sedikit terletak diatas lemari dapur. "ya ampun dulu aku gampang mengambilnya, tapi sekarang aku merasa menyesal menaruhnya disini!" ucap Naira berusaha mengambil garam itu, saat bersamaan tangan Adrian terulur untuk menggapai garam itu.


"minta bantuan seseorang saat tidak bisa mengambilnya!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum. Naira menatap kemeja Adrian yang basah karena hujan, Naira berjalan cepat untuk mengambil handuk.


"kenapa kau basah seperti itu, apa tidak menggunakan payung saat masuk mobil!" ucap Naira yang berjalan menghampiri Adrian, Naira melepas jas Adrian dan menggosok rambut Adrian yang basah dengan handuk. Adrian hanya menatap perhatian Naira itu, disaat seperti itu Naira masih sangat peduli padanya. "kenapa melamun, apa kah nyawamu ketinggalan di kantor?" ucap Naira membuat Adrian tersadar dari lamunannya, Adrian tersenyum dan mencubit pipi Naira.


"aku sedang melihatmu, kamu sangat cantik hari ini!" ucap Adrian, Naira menyipitkan matanya karena tidak percaya dengan perkataan Adrian.


"jangan memujiku seperti itu, aku tau sekarang aku jelek!" ucap Naira menguncir rambutnya, Adrian mencium pipi kanan Naira dengan cepat.


"saat kau hamil, kau terlihat semakin cantik. jadi kalau hamil setiap tahun saja, bagaimana?" ucap Adrian, Naira terkejut dan mencubit hidung Adrian dengan gemas.


"kau pikir aku ini kucing, bisa melahirkan setiap tahun!" ucap Naira, Adrian tertawa renyah dengan itu. "sekarang mandilah, ganti baju dan setelah selesai turun dan makan!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mengusap rambut Naira. setelah kepergian Adrian, Naira kembali meneruskan masakannya.


setelah beberapa menit Naira menyiapkan makan malam saat Adrian sudah turun dari kamarnya, dengan telaten Naira melayani Adrian dengan senyum manis yang terukir. Adrian hanya memperhatikan Naira yang terus bergerak tanpa henti, karena merasa gemas Adrian menarik tangan Naira dan mendudukan Naira dipangkuannya.


"kenapa kamu terus mondar mandir?"


"aku sedang mengambil air, lepaskan aku!" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepala dan mencium Naira disana. "Adrian lepaskan aku ... uhmm... " ucap Naira tercela saat Adrian terus menciumnya, sampai Adrian merasa puas dan melepaskan Naira.


"duduklah, aku yang akan siapkan. perutmu ini sudah besar, kamu akan lelah jika terus melakukan hal yang tidak penting. aku tidak mau kalau kamu terlalu capek, itu bisa menyakiti kalian bertiga!" ucap Adrian berlutut dihadapan Naira yang duduk dikursi, Naira tersenyum dan mencium bibir Adrian sekilas.


"aku sangat senang melayani suamiku, dan juga itu tidak membuatku capek. kau tahu apa kata dokter, aku harus banyak gerak dan jangan malas melakukan hal kecil. hitung hitung itu adalah olahraga, aku juga bosan jika harus membaca buku setiap hari!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mengusap rambut Naira.


"apa kau muntah lagi?" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.


"kamu lupa ya, sikembar sudah enam bulan. dokter sudah memberikan vitamin atas perintahmu, jadi perutku sudah tidak merasa aneh aneh seperti sebelumnya!" saut Naira, Adrian tersenyum dan mencium perut Naira.


"syukurlah. perutmu semakin besar, aku tidak tega melihatmu bergerak kesana kemari!" ucap Adrian lirih, Naira memeluk Adrian dan mengusap rambut Adrian dengan sayang.


"selama kau ada disini, aku baik baik saja. aku tidak perlu khawatir dengan apapun, kau sendiri bilang aku harus percaya padamu kan. jadi tidak usah khawatir, ini membuatku sehat!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan mencium kening Naira dengan sayang.


"aku mencintaimu, bukan hanya kamu tapi juga kalian!" ucap Adrian dengan mengelus perut Naira, dengan senyuman Naira mengangguk.


"kami juga mencintaimu!" saut Naira, mereka saling melempar senyum. "baiklah ayo kita makan, jangan berjongkok seperti itu." ucap Naira lagi, Adrian mengangguk dan segera mengambil air untuk mereka. secara bersamaan, tiba tiba saja seorang pelayan datang menghampiri mereka.


" tuan, ada telfon dari rumah tuan Wijaya!"


"papa, kenapa telfon malam malam begini. berikan padaku!" ucap Naira menerima telfon itu, "halo, ada apa papa?" ucap Naira, Adrian sendiri sedang asik makan.


"maaf nyonya ini bukan tuan, ini saya pelayan rumah. itu nona Naira, tuan Riyan sedang berada dirumah sakit. ..."


"apa ... apa yang terjadi?" ucap Naira terkejut, bahkan Adrian tersedak mendengar keterkejutan Naira.


"nyonya Risa menemukan tuan Riyan pingsan di kamar mandi, lalu nyonya Risa dan nona Riana membawa tuan kerumah sakit. saya sudah menghubungi tuan dan nyonya besar, tapi sepertinya mereka sedang sibuk nona. karena itu saya menghubungi nona! "


"ya sudah mbak pelayan tidak usah menghubungi papa, coba mbak hubungi saja kakak. saya dan suami saya akan kerumah sakit sekarang, tolong jaga rumah saja." ucap Naira setelah itu menutup telfon, Naira menoleh kearah Adrian yang masih menunggu jawaban darinya. "kita harus kerumah sakit, om Riyan dirawat!"


"aku akan kesana, kamu diam disini!"


"nggak, aku ikut. aku ingin melihat om Riyan, aku mohon!" cela Naira, Adrian mengangguk karena tidak bisa menolak keinginan Naira.


"baiklah, tunggu disini aku ambilkan jaketmu dulu!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan merasa cemas memikirkan keadaan Febriyan.


****


dirumah sakit Riana sedang duduk dan menatap lampu ruang icu, lampu itu menyala yang artinya keadaan Febriyan belum dipastikan. sebelum ditemukan Febriyan tidak sadarkan diri, Riana masih mengobrol dan memberikan teh untuk Ayah nya itu. kematian kakeknya membuat Riana merasa trauma, perasaan takut selalu menghantuinya sekarang.


"kamu tenang, papamu pasti baik baik saja!" ucap Risa, Riana menoleh dan menangis dipelukan Risa.


"mama ... papa harus baik baik saja ... kenapa itu ter ... terjadi. Riana gak mau kehilangan lagi, gak mau ..."


"tenang sayang, papa pasti baik baik saja oke?" ucap Risa mengelus punggung Riana, dengan perasaan gelisah Risa melihat Riana yang menangis tanpa henti. melihat itu Risa sangat sedih, karena sebelumnya perasaan trauma atas meninggalnya pak Wijaya belum hilang dalam diri Riana.


setelah beberapa menit menunggu, Daniel keluar dari ruang ugd lengkap dengan seragam dokternya. Riana yang melihat itu langsung berlari kearah Daniel, dengan senyuman Daniel menahan tubuh Riana yang lemah.


"Daniel papaku, bagaimana keadaannya?".


"hei tenanglah, om Riyan baik baik saja. beliau bilang hanya terpeleset dari kamar mandi, tentang kenapa beliau tidak sadarkan diri. gula darahnya rendah, jadi otomatis membuatnya pusing hingga tidak sadarkan diri. tidak ada penyakit serius, jadi kau dan juga yang lain bisa tenang sekarang!" jelas Daniel, Riana langsung menemui ayahnya tanpa mengatakan apapun pada Daniel.


"terima kasih Daniel, semoga kau menjadi dokter yang sukses seperti orang tuamu!" ucap Risa, Daniel mengangguk dan tersenyum. setelah mendapat hasil ujiannya empat bulan yang lalu, Daniel resmi mendapat gelarnya sebagai dokter. juga mendapatkan surat ijin prakteknya, dirumah maupun dirumah sakit. Daniel mengingat disaat dirinya harus menghibur Riana, dirinya harus pergi ke luar kota untuk mengurus kelulusannya dan acara pemberian gelarnya.


saat Daniel ingin masuk keruangan Febriyan, terlihat Naira dan Adrian sedang berjalan. secara bersamaan, Bagas terlihat berjalan disamping mereka.


"Naira!!!" panggil Daniel, seketika semua orang itu menoleh kearah Daniel. mereka berjalan cepat menghampiri Daniel, "mereka ada didalam!" ucap Daniel, Bagas mengangguk dan berjalan masuk.


"sedang apa kau disini?" tanya Adrian, Naira menoleh kearah Adrian.


"menurutmu, dengan pakaianku seperti ini, sedang apa aku?" ucap Daniel, Adrian melihat Daniel dari atas kebawah. Adrian heran melihat pakaian Daniel, yang lengkap dengan pakaian dokter.


"Adrian dia dokter Daniel, apa kau lupa?" ucap Naira memainkan alisnya, Adrian menoleh kearah Naira.


"dia, dokter?" Naira mengangguk, Daniel tersenyum merasa kesal dengan perkataan Adrian. karena perkataan itu terdengar mengejek, Adrian sama sekali tidak tahu jika Daniel sudah menjadi dokter.


"baiklah tuan posesif, aku tidak ingin berdebat denganmu. masuklah!" ucap Daniel, Adrian menahan tawanya yang disenggol oleh Naira. mereka bertiga masuk kedalam, Febriyan langsung tersenyum melihat Naira.


"tidak apa om, papa dan mama tidak disini jadi Naira yang kesini!" ucap Naira, Febriyan tersenyum dan mengusap lengan Naira.


"kamu harusnya istirahat, sudah banyak orang disini!"


"aku sudah bilang padanya, harusnya dia dirumah saja. tapi dia bersih keras kemari, marahi saja dia aku ikhlas!" saut Adrian, Naira tersenyum kearah Febriyan terlihat sangat manis. Febriyan tiba tiba teringat wajah Angel pada senyum Naira, terbayang sosok wajah Angel disana.


"Angel ..." ucap Febriyan lirih, suara itu didengar oleh Risa.


"ada apa?" ucap Risa, Febriyan menoleh dan menggelengkan kepala.


"tidak apa, berapa bulan sikembar?" ucap Febriyan tersenyum, entah kenapa dirinya membayangkan Angel.


"sudah enam bulan, oh iya rencananya besok kami ingin melihat jenis kelamin sikembar!" saut Naira senang, semuanya ikut tersenyum dengan itu.


"kalian maunya apa?" tanya Risa, Naira tersenyum kearah Adrian.


"perempuan!" ucap Naira, Adrian mendelik mendengar itu. "aku dan Adrian sudah membayangkan, ada tiga orang Naira didalam rumah kami!" ucap Naira lagi, Adrian menggelengkan kepalanya.


"bayangkan saja, satu Naira saja sudah bikin pusing. apalagi tiga Naira, kelar hidupmu Adrian!" ucap Daniel, semua orang tertawa disana termasuk Naira.


setelah obrolan yang tidak penting, mereka keluar dari ruangan Febriyan untuk memberi waktu istirahat. Daniel terus melihat kearah Riana, Riana yang cerewet, Riana yang lincah tidak terlihat lagi disana. dan saat bersamaan Riana menoleh kearah Daniel, hal itu membuat Daniel kelagapan.


"baiklah Riana pulang dengan kakak, Adrian ajak Naira pulang karena sudah malam!" ucap Bagas, Adrian mengangguk. Daniel ingin sekali menawarkan tumpangan pada Riana, tapi keinginannya terhenti karena takut pada Bagas disana.


"dokter Daniel?" ucap seseorang, Daniel dan yang lain menoleh. terlihat seorang wanita cantik berdiri disana, dengan senyum Daniel menyapa.


"iya, ada yang bisa saya bantu?" saut Daniel, wanita itu berjalan kearah Daniel dan memberikan sebuah paperbag.


"terima kasih sudah menyelematkan ayah saya kemarin, ini ada sedikit hadiah untukmu!" ucap wanita itu, Riana melihat itu membuat ekspresi tidak suka.


"itu sudah tugasku sebagai dokter, tidak perlu seperti ini!" tolak Daniel dengan senyuman, tapi wanita itu tetap menyodorkan hadiah itu.


"aku mohon, terima hadiah ini. ayahku yang memberikannya, ambil yah?" saut wanita itu dengan cepat, mau tidak mau Daniel menerima hadiah itu dengan senyuman.


"baiklah, jika lain kali seperti ini saya tidak akan terima!" ucap Daniel, wanita itu tersenyum dan mengangguk.


"nama ku Karin, salam kenal!" ucap wanita bernama Karin, Daniel mengulurkan tangannya dan mengangguk.


"salam kenal!" saut Daniel tersenyum, setelah itu Karin pergi dari sana. Adrian mendekat kearah Daniel, Adrian mengambil hadiah itu.


"oh sekarang Daniel menjadi dokter muda populer!" ucap Naira, Daniel tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"sekarang hadiah, besok nomer telefon, besoknya kencan kemudian tunangan dan juga menikah!" ucap Adrian, Riana tersentak dengan perkataan Adrian.


"sudah kau pulang sana, Naira ajak suamimu pulang!" ucap Daniel kesal, Adrian tertawa dan membawa Naira pergi dari sana. secara bersamaan Bagas juga mengajak Riana pulang, dengan diam Riana mengikuti langkah Bagas. Daniel hanya menatap kepergian mereka, rasanya ingin sekali Daniel menghentikan Riana dan menawarkan diri untuk mengantar pulang. tapi keinginannya kalah dengan ketakutan terhadap Bagas, ia hanya bisa menghela nafas dan pergi keruangannya.


"kapan aku bisa bicara denganmu lagi!"


****


sanpainya dirumah Naira merasa kesal, ia membanting pintu mobil dan berjalan cepat kerumahnya. Adrian yang melihat itu merasa bingung karena mood ibu hamil yang satu itu, begitu cepat berubah dari pada cuaca.


"kesalnya aku!!" ucap Naira, Adrian hanya menatap dengan kebingungan. "aku tahu Daniel menyukai Riana, kenapa tidak ada tindakan sih!" ucap Naira, dari jauh Adrian hanya tersenyum mendengarnya.


"iya kamu kenapa kesal sendiri, biarkan Daniel yang melakukan dengan caranya sendiri!" saut Adrian, Naira masih dengan gumamnya membuka jaket nya.


"sekarang ada yang mengincar Daniel, bagaimana kalau wanita itu pantang menyerah mendekati Daniel. lalu Daniel berpindah hati, dan ..."


"heii, apa yang kau pikirkan. jangan seperti drama korea, dan berhenti menonton drama korea setiap harinya!" saut Adrian, Naira terdiam dan berjalan kearah dapur untuk minum.


"jika aku tidak melihat drama ko ... aduhh!" Adrian terkejut mendengar itu, langkah cepatnya menuju Naira tanpa melihat sekelilingnya.


"apa yang sakit, mana bilang padaku!" ucap Adrian dengan cepat dan mendudukan Naira disofa, Naira memegang perutnya dan mengerutkan dahinya berulang kali.


"mereka menendang dibagian itu, dan auch !!" ucap Naira, mendengar itu Adrian hanya terdiam tanpa bicara. menendang, hal itu adalah sesuatu yang diharapkan nya sejak lama. Adrian memegang perut Naira dan merasakan tendangan disana, semakin terasa tendangan itu ditangan Adrian.


"mereka menendang Naira, aku ... " Naira tersenyum dan memegang tangan Adrian.


"kau senang merasa tendangan mereka, sedangkan aku merasa mulas ditendang mereka!" ucap Naira, Adrian tertawa dan mencium perut Naira.


"mereka tahu kau sedang kesal, jadi mereka memberitahumu agar tidak kesal dan agar terus tersenyum!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.


"oke sayang, mama tidak kesal lagi. jadi ukhh!!" tendangan itu terasa lagi, tapi setiap tendangan membuat rasa bahagia Adrian bertambah.


terima kasih Naira, kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan kini aku rasakan darimu. aku benar benar bahagia, aku pastikan kalian bertiga bahagia selamanya.


*****


Assalamualaikum semuanya, maaf ya author baru up.


karena sudah beberapa hari author sakit, dan tidak dibolehin pegang hp karena berpengaruh. tapi sekarang sudah agak sehat, dan boleh pegang hp lagi hihi. karena kalo gak pegang hp itu rasanya tanganku gatel, apa2 harus ada hp.


oke itu aja selamat membaca, semoga kalian semua sehat dan selalu dalam perlindungan Allah. Amiin...


Jangan lupa like, komen dan vote kalian jangan lupa😍