
masih hari yang sama, Adrian mengantar Naira pulang. didalam mobil Naira terdiam dengan pikirannya, Adrian merasa khawatir dengan itu. Naira yang sebelumnya baik baik saja, sekarang menjadi diam tidak tahu apa penyebabnya. Adrian memegang tangan Naira, Naira menoleh kearah Adrian yang tersenyum.
"kamu kenapa?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"aku nggak papa, hanya capek aja!" saut Naira melepas tangan Adrian, Adrian yakin ada yang tidak beres dengan Naira. Adrian menghentikan mobilnya dipinggir jalan, Naira bingung dengan itu.
"kenapa kita berhenti disini, apakah ada sesuatu?" tanya Naira, Adrian memegang kedua tangan Naira.
"kamu kenapa, katakan padaku!" ucap Adrian, Naira menatap Adrian.
"aku nggak papa, kenapa tanya itu terus!" saut Naira, Adrian menatap masih tidak percaya.
"ayo jalan, bukannya kamu ada urusan nanti?" ucap Naira, Adrian mengangguk lalu mulai menjalankan mobilnya. selama perjalanan mereka hanya diam, Adrian tidak tahu apa yang terjadi pada Naira.
"boleh aku bertanya?" ucap Naira setelah lama diam, Adrian menoleh kearahnya.
"katakan?" saut Adrian fokus menyetir, Naira menoleh kearah Adrian.
"apa kamu pernah berbohong padaku?" tanya Naira, Adrian terdiam dengan itu.
"hm.. kenapa bertanya itu?" tanya Adrian setelah beberapa detik diam.
"entah kenapa perasaanku mengatakan kalau kamu berbohong padaku, jadi aku bertanya itu!" ucap Naira lagi, Adrian mengusap rambut Naira.
"aku tidak berbohong, jika aku berbohong akan kukatakan padamu!" saut Adrian tersenyum, Naira hanya mengangguk dengan itu dan kembali diam.
setelah beberapa menit mereka telah sampai dirumah Naira, Naira turun dari mobil dan diikuti Adrian. Naira masih setia dengan diamnya, Adrian menarik tangan Naira.
"jika aku berbuat salah, maafkan aku. seperti biasa kamu diam, itu artinya aku berbuat salah!" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"kamu tidak salah, pergilah nanti kamu terlambat!" saut Naira, Adrian mengangguk. Adrian mencium kening Naira, Naira memejamkan matanya. entah kenapa Naira merasa perasaan berbeda saat Adrian melakukan itu, Naira merasakan perasaan yang tidak seperti biasa saat Adrian mencium keningnya. setelah itu Adrian masuk dalam mobilnya, dan berlalu pergi dari sana.
kamu berbohong sejauh ini, baiklah jika kamu tidak katakan. aku akan cari tahu sendiri, akan kudapatkan sendiri jika kamu tidak katakan.
didalam mobil Adrian sendiri, ia melihat Naira yang masih berdiri melihatnya. Adrian masih tidak mengerti dengan sifat diam Naira, Adrian sudah berniat untuk mengatakan bahwa dirinya adalah Adnan.
"besok akan kukatakan semua Nara, aku akan mengatakan kebohongan itu semuanya besok!" ucap Adrian, ia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
****
dengan cepat Naira masuk kedalam rumahnya, terlihat rumahnya sepi. Naira tidak melihat siapapun didalam, Naira mencoba pergi kedapur. terlihat hanya Riana disana, dan prt rumah itu.
"eh udah pulang?" ucap Riana, Naira mengangguk
"kemana semuanya?" tanya Naira, Riana mengangkat kedua bahunya.
"entahlah, mereka tadi dapat telfon dari tante Amelia. jadi mereka semua pergi, nanti kita disuruh kesana juga!" ucap Riana, Naira masih memikirkan gelang Adrian yang ia ambil.
"iya aku ada urusan sekarang, nanti berangkat malam saja!" ucap Naira berlari menaiki anak tangga meninggalkan Riana, Naira dengan cepat masuk kedalam kamarnya dan membuka laptopnya.
Naira mencari tahu tentang Adrian, Naira mengetik nama Adrian disitus web. setelah itu muncul semua informasi tentang Adrian, bahkan foto Adrian.
Naira membaca setiap situs web tentang Adrian, lalu Naira melihat beberapa foto Adrian. terlihat beberapa foto kesuksesan Adrian, tapi hanya satu yang diperhatikan Naira. tangan Adrian yang memakai gelang, difoto terlihat Adrian memakai gelang. bahkan tertulis Adrian memiliki kebiasaan yang unik, yaitu memakai sebuah gelang yang tidak berharga sama sekali dengan dibandingkan nama dan kekayaannya.
Naira mengambil gelang yang ia dapat, Naira melihat gelang itu sama. Naira terkejut melihat gelang itu, bertuliskan nama Kak Anan & Nara. Naira meneteskan air matanya, karena Naira masih ingin mencari bukti lain.
Naira keluar dari kamarnya, ia bahkan tidak mendengar panggilan dari Riana. Riana hanya menatap Naira pergi buru buru, Naira sendiri keluar dan melajukan mobilnya.
terlihat Bagas baru saja datang, Bagas melihat kepergian Naira. dengan segera Bagas masuk kerumahnya, Bagas menemui Riana disana.
"apa yang terjadi?" tanya Bagas, Riana menoleh dan berpikir yang dibicarakan Bagas adalah Naira.
"aku tidak tahu, beberapa menit dia masuk kamar terus keluar seperti itu!" saut Riana, Bagas berlari untuk melihat kamar Naira, Riana mengikuti Bagas yang berlari.
didalam kamar Naira, Bagas melihat laptop Naira yang menyala. terlihat situs web yang belum Naira matikan, Bagas melihat nama Adrian disana. Bagas terkejut dengan itu, Riana tidak mengerti apa maksud semuanya.
"kakak ada apa?" tanya Riana, Bagas menatap Riana.
"dimana semuanya?" tanya Bagas.
"ada dirumah om Vano, katanya tante Amelia ingin menunjukkan sesuatu. kita juga disuruh kesana nanti, tapi Naira ada urusan malah pergi gitu aja!" ucap Riana, Bagas mengetahui kalau Naira sudah tahu kalau Adrian adalah Adnan.
"kamu iku kakak sekarang, cepat!" ical Bagas, Riana mengangguk dan mengikuti langkah Bagas. Bagas meninggalkan rumahnya untuk pergi kerumah Vano, karena Bagas tahu Adrian pasti ada disana.
Naira sendiri, ia melajukan mobilnya dengan kencang. setelah beberapa menit ia sampai dikantor Adrian, Naira mencari Adrian didalam ruangannya. tapi tidak ada Adrian disana, lalu ia teringat dengan Adrian yang memiliki urusan.
"pasti ada sesuatu disini!" ucap Naira, Naira masih ingin meyakinkan bahwa Adrian adalah benar Adnan. tapi Naira tidak menemukan apapun, Naira menangis dengan itu.
"apa yang aku lakukan, aku tidak bisa mencurigainya... tidak mungkin Adrian adalah kak Anan, apa yang sedang kupikirkan!" ucap Naira, saat ingin pergi Naira menjatuhkan sebuah album foto dimeja Adrian. foto itu pecah dan memperlihatkan sebuah foto, Naira mengambil foto diantara pecahan kaca itu. Naira terkejut melihat foto dirinya dan Adnan sewaktu kecil, dibalik foto dirinya yang dipajang oleh Adrian.
setelah beberapa menit ia sampai dirumah Adrian, karena terbiasa disana tidak ada yang melarangnya untuk masuk. saat masuk Naira langsung mengarah kearah kamar Adrian, bahkan Naira tidak peduli dengan Nikil yang menyambutnya.
"tuan muda sedang ada urusan nona, dia tidak ada dikamar!" ucap Nikil, Naira terus menaiki anak tangga.
"aku tidak mencari tuan muda mu, aku mencari kebenaran!" saut Naira masuk kedalam kamar Adrian, Naira menutup pintu kamar itu. didalam kamar Naira membongkar setiap isi kamar itu, Naira menemukan sesuatu didalam lemari Adrian. sebuah kotak kayu disana, Naira membuka kotak itu. terlihat kotak itu berisi beberapa foto Kara sekeluarga, dan beberapa foto lainnya. Naira juga menemukan foto masa kecilnya, dan juga foto berdua saat dirinya dengan Adrian. seketika Naira menangis disana, Naira tidak bisa menahan air matanya.
"tidak mungkin..!" ucap Naira menangis, Naira jatuh kelantai dan meremas gelang serta foto Adrian.
****
Adrian sedang berada dirumah Vano, disana juga ada Kara dan yang lainnya. mereka senang saat bertemu Adrian, begitu juga dengan Adrian yang merasakan kebahagiaan yang ingin ia rasakan dari dulu.
"aku tidak menyangka Adnan benar benar datang!" ucap Febriyan, Adrian hanya tersenyum.
"dari awal aku sudah melihatnya, bahkan dia berani dekat dengan putriku!" ucap Kara, semua orang tersenyum.
"oh iya, bagaimana Naira tidak mengetahui identitasmu?" tanya Febriyan,
"aku mengganti nama, Adrian. Naira belum menyadari apapun, tapi aku akan mengatakan semuanya besok. aku tidak ingin ada kebohongan lagi!" saut Adrian, semua orang mengangguk disana.
"tidak besok, Naira sudah tahu hari ini!"
teriak Bagas, mereka semua menoleh. Bagas berjalan diikuti Riana, Adrian masih terdiam karena terkejut dengan perkataan Bagas.
"Naira sudah mencari tahu tentangmu, aku melihat laptopnya di kamar. dia mencari tahu disitus web, sekarang dia pergi entah kemana. aku pikir dia sedang mencarimu untuk meminta kebenaran!" ucap Bagas lagi, Adrian merogoh kantong jasnya. ia tidak menemukan gelangnya, dan benar Naira telah menemukan gelang itu. tanpa bicara Adrian berlari keluar, dan melajukan mobilnya pergi dari rumah Vano.
"Naira angkat telfonku!" ucap Adrian, ia melajukan mobilnya dengan cepat. setelah beberapa menit Adrian sampai dikantornya, Adrian langsung berlari keruangannya. tapi Adrian tidak menemukan Naira, ia hanya melihat sebuah figora tergeletak dilantai. Adrian melihat foto itu, foto Naira dan foto mereka saat kecil. Adrian panik dengan itu, ia mencoba menghubungi Naira. tapi disaat bersamaan Nikil menelfonnya dan mengatakan Naira ada dirumahnya, dengan segera Adrian menuju rumahnya.
***
Naira keluar dari kamar Adrian, Naira membawa kotak sebelumnya. perasaan Naira sudah sangat susah ditebak, yang Naira rasakan adalah kekecewaan karena Adrian sudah membohonginya.
secara bersamaan Adrian sampai dirumahnya, Adrian berlari masuk dan melihat Naira. Adrian terdiam melihat Naira berdiri memegang sebuah kotak, Adrian tahu benar kotak apa itu. Naira terdiam, berjalan melewati Adrian.
"Naira?" ucap Adrian menarik tangan Naira, Naira menghentikan langkahnya.
"apa yang kamu lakukan disini?" tanya Adrian, Naira tetap membelakanginya.
"kamu tau benar, apa yang sedang aku lakukan!" ucap Naira dengan nada bicara yang berbeda, Adrian menarik Naira dan menatapnya.
"aku ingin menjelaskan semuanya, tapi.."
"aku benci orang yang berbohong, karena sekali orang itu berbohong akan terus berbohonguntuk menutupi setiap kebohongannya!" ucap Naira, Adrian menatap Naira yang tidak menatapnya sama sekali.
"Naira percayalah padaku, aku tidak pernah berbohong padamu!" ucap Adrian, Naira menghempaskan tangannya.
"jangan sentuh aku, aku benci padamu!!!" ucap Naira menatap Adrian dengan mata yang penuh kemarahan, Adrian bisa melihat mata itu penuh kebencian.
"Naira kenapa kamu..."
"kenapa, kenapa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku?" ucap Naira meneteskan air mata, Adrian terkejut dengan itu.
"15 tahun bukan waktu yang sebentar, itu waktu yang lama. apakah kamu pernah mencari tahu tentangku, apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana keadaanku!!" ucap Naira menangis, Adrian menyentuh tangan Naira tapi lagi lagi Naira menghempaskan tangannya.
"diusia 6 tahun, seorang anak kecil tahu apa. anak kecil yang seharusnya bermain dan bersenang senang, malah memikirkan seseorang untuk kembali padanya. disetiap harinya ia berharap agar orang yang dia tunggu kembali, bahkan tanpa sadar semua itu merenggut masa remaja gadis itu. gadis yang seharusnya mengenal cinta dan merasakan hati berbunga saat mengenal cinta, tapi gadis itu hanya hidup dengan sebuah harapan. sebuah harapan yang selalu ada, hingga 15 tahun lamanya! apakah kamu pernah memikirkan itu, aku sudah mulai melupakannya dan membuka hati untuk orang lain. tapi malah orang itu juga yang menyakitiku, fengan mempermainkan perasaanku. aku sangat kesal, aku benar benar kesal hiks..." tangis Naira pecah, Naira bahkan menjatuhkan kotak yang ia pegang.
"aku tidak berniat berbohong padamu, aku ingin jujur dari awal. tapi aku tidak sanggup Naira, maafkan aku!" ucap Adrian memohon maaf, Naira menyeka air matanya.
"aku pernah bilang padamu, jika kau berbohong padaku. akan kupertimbangkan bisa dimaafkan atau tidak, dan sekarang jawabanku tidak bisa dimaafkan."
"kamu mempermainkan perasaanku, aku seorang manusia. tidak bisa seenaknya kamu mempermainkanku, aku sangat membencimu!" teriak Naira, Adrian meneteskan air mata.
"Naira dengarkan aku!" ucap Adrian saat Naira ingin pergi, Adrian menarik Naira hingga jatuh dalam dekapannya.
"Naira maafkan aku, aku ingin menjelaskan semuanya. kamu tidak boleh membenciku, Naira aku Adnan seharusnya kamu bahagia!" ucap Adrian
"bahagia, ya aku akan bahagia jika kau mengatakannya dari awal. kamu sudah mempermainkan perasaanku, bagaimana aku akan bahagia, katakan padaku bagaimana!" Adrian terdiam dengan itu, Naira mencoba melepaskan tubuhnya dari Adrian.
"lepaskan, mulai sekarang aku tidak ingin melihatmu lagi. aku membenci Adnan maupun Adrian, lepaskan!" ucap Naira mendorong Adrian, Naira berlari kearah mobilnya dan melajukan mobilnya pergi dari sana. Adrian tidak bisa mengejar Naira, yang ia lakukan hanya diam menatap kepergian Naira.
"bagaimana kamu melakukan itu padaku, kamu tidak boleh membenciku!" ucap Adrian, Adrian sangat marah dan mengepalkan tangannya.
didalam mobil Naira menangis sesenggukan, Naira membayangkan betapa bahagianya saat bersama Adrian. tapi ketika Naira memikirkan kebohongan Adrian, Naira menjadi kesal dan menangis.
"harapanku hanya satu... bertemu denganmu dan hidup bersamamu, tapi kenapa saat bertemu denganmu ini semua terjadi... hiks.. kamu mempermainkan cintaku hiks..., ada apa denganku!! hiks.. haaa.... hiks... kenapa hatiku sangat sakit, aku benci karena dia membohongiku hiks..." ucap Naira menangis, ia menangis didalam mobil.