Do You Remember?

Do You Remember?
ingatan Naira



Naira membuka mata, ia merasakan pusing pada kepalanya. Naira melihat sekelilingnya, ruangan asing bagi dirinya. bahkan Naira bisa mencium bau obat obatan, Naira melihat tangannya terpasang kabel infus. setelah beberapa menit berpikir Naira sadar bahwa itu adalah rumah sakit, Naira berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sehingga sampai dirumah sakit.


"kenapa aku disini, ashh..." ucap Naira memegang kepalanya yang terasa nyeri.


beberapa menit terlihat seseorang masuk, seorang dokter menghampiri Naira yang tidak lain adalah David. David tersenyum kearah Naira dan menyuntik sesuatu pada infusnya.


"hai Naira bagaimana kabarmu?" tanya David, Naira tersenyum.


"apa yang terjadi padaku om dokter, dan kenapa aku bisa disini?" tanya Naira, David sedikit terkejut dengan itu.


"kamu tidur selama tiga hari, apakah kamu tidak ingat kalau kamu mengalami kecelakaan?" ucap David, Naira berusaha mengingat yang terjadi tapi tidak teringat apapun.


"aku tidak ingat, siapa yang membawaku kemari?" tanya Naira, David tampak berpikir.


"seorang pria, terjadi kerusakan pada lift perusahaanmu dan kamu jadi korban!" setelah David mengatakan itu, Naira teringat saat bekerja Naira mengalami kecelakaan didalam lift. kecelakaan itu terjadi bersama Adrian,


"apa Adrian yang membawaku, dimana dia?" ucap Naira berdiri, saat ingin berdiri Naira memegangi kepalanya.


"istirahatlah, tidak ada siapapun. hanya kau yang celaka, tidak ada yang bernama Adrian!" ucap David, Naira terkejut dengan itu.


"tidak om, saat didalam lift aku bersama bosku. kami berada dalam satu lift, saat dia ingin membantuku aku.. assh..." ucap Naira tidak diteruskan karena merasa sakit kepala, David membaringkan tubuh Naira.


"kamu beneran gak ingat didalam lift terjadi apa?" tanya David, Naira menggelengkan kepala pelan.


"Naira dengarkan om, kamu dibawa oleh seorang pria bernama Andi. pria itu membawamu dalam keadaan pingsan dan luka pada bagian tangan, tidak ada orang lain yang mengalami kecelakaan. mana mungkin om bohong padamu, sekarang om tanya. didalam lift apakah kamu ingat sesuatu, maksud om apa yang terjadi saat kamu di lift?" ucap David, Naira melihat keatas langit langit ruangan itu. Naira terus berpikir yang terjadi didalam lift, tapi nihil. Naira tidak mengingat apapun, yang Naira ingat masuk kedalam lift bersama Adrian dan meributkan sesuatu didalam lift.


"aku tidak ingat, tidak ingat apapun!" ucap Naira, David tampak berpikir tentang apa yang terjadi pada Naira.


"aku tidak bisa mengingat yang terjadi didalam lift, dan aku yakin aku bersama orang lain disana!" ucap Naira, David mengecek hasil laporan kesehatan Naira.


"sudah jangan dipikirkan, sekarang kamu sembuh dulu saja!" ucap David, Naira mengangguk.


"om, apakah ada yang menjengukku?" tanya Naira, David pun mengangguk.


"tentu, semua keluargamu ada menjengukmu. ibumu menangis terus, dia khawatir denganmu!" ucap David, Naira berpikir apakah Adrian menjenguknya atau tidak.


"lalu apakah ada yang lain, seperti teman atau apa gitu!" ucap Naira lagi, David tampak berpikir.


"tidak ada, sekarang kamu istirahat saja. nanti om akan hubungi papamu, om akan keluar sekarang!" ucap David, Naira mengangguk pelan. Naira melihat langit langit ruangan itu lagi, Naira merasa kecewa saat Adrian bahkan tidak datang menjenguknya.


disiang hari Naira terbangun dari tidurnya, Naira melihat Kara sedang duduk disofa bersama dengan Vano. mereka sadar saat Naira telah membuka mata, Naira tersenyum kearah mereka.


"sayang kamu sudah bangun?" ucap Nadia, Naira mengangguk.


"sudah dari tadi, kenapa tidak membangunkan Naira?" ucap Naira, Nadia mendudukan tubuh Naira.


"kami tidak ingin membangunkanmu dan mengganggu tidurmu, apakah kamu merasa baikan?" tanya Nadia lagi, Naira mengangguk. Naira melihat Vano disana dan juga Amelia, bahkan Nanda dan Bagas juga ada disana. Naira mencari seseorang tapi matanya tidak menemukan orang itu, Naira pun hanya bisa menundukkan kepala. beberapa menit terdengar suara ketukan pintu, Naira berpikir itu adalah Adrian. Naira tersenyum lebar dan melihat kearah pintu, sedetik kemudian senyum Naira menghilang saat orang lain yang terlihat.


"permisi, apakah saya mengganggu istirahat kalian?" tanya seorang pria, pria itu adalah Andi.


"tidak, kau siapa?" tanya Bagas, Andi tersenyum dan menunduk pada semua orang disana.


"sebelumnya saya akan perkenalan diri, nama saya adalah Andi. saya atasan Naira dikantor, kedatangan saya kemari ingin menjenguk Naira dan meminta maaf langsung atas kecelakaan ini!" ucap Andi menunduk, Naira menggelengkan kepala.


"pak ini hanya kecelakaan kerja, anda tidak perlu minta maaf. lagi pula saya sudah membaik!" ucap Naira, Andi mengangguk dan tersenyum.


"iya saya benar benar minta maaf Naira, dihari pertama kamu kerja harus mengalami semua ini. Naira saya ingin bertanya, apakah kamu ingin meneruskan pekerjaan di perusahaan kami?" ucap Andi, Naira tampak berpikir dengan itu.


"pak berikan saya waktu untuk menjawab nya, setelah itu saya akan menghubungi anda lagi nanti." ucap Naira, Andi mengangguk dengan itu.


"iya saya akan memberikan waktu, hubungi saya jika sudah membuat keputusan. kalau begitu saya masih ada urusan, saya permisi dulu." ucap Andi, mereka semua mengiyakan itu. setelah kepergian Andi, Kara mendekat kearah Naira. Naira tersenyum melihat Kara.


"apapun keputusanmu nanti, papa harap itu yang terbaik buat kamu!" ucap Kara, Naira mengangguk.


"iya pa, terima kasih." ucap Naira, Kara tersenyum dan mencium kening Naira.


setelah dari ruangan Naira, Nadia terduduk lesu disamping Dewi, disana juga terdapat David dan juga yang lainnya. Kara sedang membaca hasil laporan kesehatan Naira, bagitu juga dengan Vano.


"jadi apa maksudnya David?" tanya Kara, David menghela nafas dan membuka kacamata nya.


"saat aku bertanya pada Naira apa yang terjadi didalam lift, Naira tidak mengingat apapun. jadi aku tidak bisa, mengetahui apa penyebab benturan keras pada kepala Naira!" ucap David, Kara dan Vano masih tidak mengerti dengan perkataan David.


"karena benturan keras mengenai kepala Naira, membuat sesuatu terjadi pada kepalanya. ada seperti gumpalan darah dikepalanya, mungkin benturan pada dinding lift penyebab nya. tidak berbahaya, tapi aku khawatir jika tidak ditangani!" ucap David, Kara menghela nafas itu.


"operasi saja, buat yang terbaik untuk putriku!" ucap Vano dengan cepat.


"iya, jangan sampai membuat dirinya dalam bahaya!" ucap Kara menambahkan, David bertumpang dagu dan menatap Kara kemudian Vano.


"kami bisa melakukan operasi itu kapan saja, tapi itu bahaya Kara. gumpalan itu dekat otak dan sarafnya, jika kami mengambilnya itu akan beresiko. kami takut akan membuat gangguan untuk memori atau ingatan Naira, bahkan jika melakukan operasi kami takut gagal. jika gagal akan membuat kelumpuhan, jika berhasil dipastikan ingatan Naira akan mengalami gangguan. bisa hilang ingatan sebagian, bisa juga hilang sepenuhnya!" jelas David, Kara terkejut dengan itu.


"maksudmu memori Naira akan terhapus, dia akan mengalami lupa ingatan?" tanya Vano, David mengangguk.


"iya, bisa saja ingatannya hilang untuk sementara atau pun untuk permanen!" saut David, Vano menyenderkan tubuhnya dikursi. ia merasa kesal dengan jawaban David, tapi Vano juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"apa tidak ada cara lain?" ucap Kara, Nadia menyentuh punggung Kara.


"untuk saat ini kami belum memastikan, dan juga kalian tenang saja itu tidak akan mengganggu kesehatan Naira!" ucap David, Kara mengangguk.


"tenanglah!" ucap Nadia pada Kara, Kara pun tersenyum dan mengangguk.


"apa kabarmu Naira?" tanya Siska, Naira pun tersenyum dan mengangguk tanpa menjawab. pandangan Naira melihat kearah pintu, tapi apa yang diharapkannya tidak juga muncul.


"hei cantik... kami disini, kenapa melihat pintu!" saut Siska, Naira pun menoleh dan tersenyum.


"hm.. apa Adrian tidak bersama kalian?" tanya Naira, Johan hanya diam tidak menjawab.


"dia tidak bersama kami, kenapa?" ucap Siska, Naira mendadak lesuh dengan jawaban itu.


"aku tidak melihatnya sama sekali, aku menunggunya dari tadi" ucap Naira, Siska dan Johan saling melihat dengan itu.


"pak Adrian tidak datang kekantor selama 3 hari, aku pikir dia menemanimu selama hari itu." saut Siska, Naira sedikit terkejut dengan itu.


"kemana dia, apakah ada sesuatu terjadi pada nya?" ucap Naira, Siska melihat kearah Johan yang terdiam.


"apa kamu tahu dimana pak Adrian?" tanya Siska, Johan menatap kearah Siska.


"aku juga tidak mendengar kabar dari nya, aku selalu disuruh menggantikan nya oleh tuan Nikil!" saut Johan, Siska mengangguk dengan itu.


"tidak masalah, kalau kamu bekerja juga akan melihatnya!" saut Siska, Naira pun tersenyum dan mengangguk.


malam itu mereka saling berbincang bersama, Johan yang ada disana hanya melihat dan mendengar dua gadis itu mengobrol. setelah malam semakin larut, Siska dan Johan pun berpamit pulang. Naira yang sendirian hanya memikirkan Adrian, kemana Adrian, dan sedang apa Adrian.


****


keesokan harinya Naira memutuskan untuk kembali bekerja setelah diperbolehkan pulang, Naira sampai dikantor setelah menelfon Andi. Naira berharap agar bertemu Adrian disana, karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. bahkan Adrian tidak menjenguknya sekali pun, Naira berpikir jika ia tetap bekerja maka ia akan bertemu dengan Adrian.


setelah sampai, Naira langsung bertemu dengan Andi. Andi memberikan keputusan untuk Naira, agar Naira bersedia untuk kembali ke perusahaan Tama Group's atau perusahaan sebelumnya ia bekerja. tanpa menolak Naira menyetujui itu, bahkan Naira bersedia untuk langsung mulai bekerja.


setelah keluar dari dari perusahaan itu, Naira menuju perusahaan milik Adrian tempat sebelumnya ia bekerja. sampainya di perusahaan itu, Naira menghela nafas dan melangkah untuk masuk. dilangkah pertama Naira terkejut ketika Siska berlari kearahnya, bahkan diikuti Denis.


"Naira!!!" teriak Siska, Siska berlari dan langsung memeluk Naira.


"hei, pelan pelan tanganku masih sedikit sakit!" ucap Naira, Siska tersenyum dan melepas pelukan itu.


"hm.. satu minggu lebih tidak melihatmu, kamu semakin cantik saja!" ucap Denis, Naira tertawa dengan itu.


"terima kasih." ucap Naira, Denis mengangguk dan tersenyum.


"Naira aku sudah membersihkan mejamu, ayo kita lanjutkan disana, Denis jangan menggodanya dipagi hari!" ucap Siska, Denis hanya mengangguk dan tertawa.


"bagaimana kamu tahu, aku akan datang?" tanya Naira, mereka berjalan menuju lift.


"Johan menghubungiku, kata pak Andi kamu setuju kembali kesini!" saut Siska, Naira pun mengangguk.


"iya aku juga sudah tanda tangan kontrak, jadi aku akan menetap disini lagi!" ucap Naira, Siska dan Denis senang dengan itu.


"apakah sudah tau tentang Adrian?" tanya Naira, Siska menggelengkan kepala. belum sempat dijawab, terdengar suara mobil yang datang. mereka bertiga langsung menoleh, dan mereka yakin itu adalah mobil Adrian.


dan benar, setelah itu Adrian keluar dari mobil itu dengan pakaian serba hitam. Adrian berjalan diikuti Johan, dengan senyum Johan berjalan melihat beberapa orang berdiri. berbeda dengan Johan yang tersenyum, Adrian memasang tampang angkuh tanpa senyum diwajahnya. bahkan Adrian tidak membalas senyuman beberapa orang yang tersenyum padanya, menurut mereka itu sudah biasa dengan sifat Adrian.


Adrian melihat Naira dari jauh dan berjalan kearahnya, Naira tersenyum melihat itu. menurut Naira, wajah yang ia rindukan sedang berdiri dihadapannya. rasanya Naira ingin sekali berlari dan memeluk tubuh Adrian, dan melepas semua kekesalannya. bukannya membalas senyuman itu, Adrian berdiri menatap Naira dari atas kebawah.


"kenapa kau ada disini?" tanya Adrian dengan nada angkuh, Naira merasa ada yang berbeda dari Adrian biasanya.


"aku diminta untuk kembali kemari dan..."


"siapa yang memberikan perintah?" saut Adrian ketika Naira belum selesai menjelaskan.


"pak Adrian, aku dan Andi sepakat mengembalikan Naira pada perusahaan ini dan posisi seperti sebelumnya!" saut Johan, Adrian menatap Johan.


"tanpa bicara padaku?" tanya Adrian, Johan terdiam dengan itu.


"seharusnya kau bicara padaku dan minta persetujuanku. sekarang pecat dia, aku tidak ingin melihatnya disini!" ketus Adrian, Siska, Johan, Denis bahkan Naira terkejut dengan itu. Naira terkejut dengan perkataan Adrian, Naira tidak pernah berpikir Adrian melakukan itu.


"apa maksudmu Adrian, bukan nya..."


"aku sudah mengatakannya, pecat dia. aku tidak ingin mengulang kata itu lagi," saut Adrian saat Johan belum meneruskan perkataannya. setelah mengatakan itu, saat Adrian ingin pergi Naira menahan lengannya.


"kenapa aku harus dipecat, aku sangat senang saat datang kemari. apakah kamu tidak bahagia melihatku, bukankah kamu..." ucap Naira, Adrian melihat tangan Naira yang menyentuh lengannya.


"bahagia?, untuk apa bahagia. bukankah kamu yang menyuruhku untuk tidak mendekatimu lagi, dan juga aku akan menurutimu saat kau mengatakan pergi. maka aku akan pergi, aku akan melakukannya." ucap Adrian, perlahan Naira melepas tanganya dari lengan Adrian.


"sekarang, aku akan menjauhimu. aku tidak akan mendekatimu lagi, dan jika kau tidak memaafkan aku tidak masalah. sekarang, itu tidak penting lagi," ucap Adrian lagi, tanpa ijin air mata keluar dari mata Naira.


"apakah kamu kak Adnan?" ucap Naira pelan, Adrian menatap Naira dengan tatapan acuh dan tidak memperdulikan air mata Naira.


"bukan, nama ku Adrian Pratama. bukan hanya sekarang, tapi sejak dulu. dan inilah aku, sifatku, kehidupanku sejak dulu!" saut Adrian, setelah itu berjalan pergi menjauh. tanpa memperdulikan Naira, Adrian terus berjalan dengan angkuhnya masuk kedalam lift.


"ada apa dengannya hiks..., kenapa dia seperti itu?" ucap Naira menangis, Siska mencoba menenangkannya.


"aku akan pergi, Siska bawa Naira keruangan yang biasa kalian tempati. dan Naira kamu tidak akan dipecat, aku akan bicara dengan Adrian!" ucap Johan, Siska pun membawa Naira pergi. Johan mencoba untuk mendatangi Adrian, karena Johan ingin mengetahui perubahan Adrian.


****


halo semua, maaf ya kalau tidak ada kabar beberapa hari dari author. dikarenakan author ada kesibukan ujian, saat ingin up author malah jatuh sakit beberapa hari terakhir. dan juga terima kasih yang sudah sabar menunggu up, jangan bosen ya. semoga kalian tetep suka dengan ceritanya, dan terus mengikuti alurnya.๐Ÿ™๐Ÿผ


jangan lupa like, komen dan vote kalian๐Ÿ˜