
"Akhhh!!!"
BRAK!! DEBUGH!!! BUGH!!!
seketika membuat Adrian terkejut dan terpenganga, seseorang yang ditabrak oleh mobil itu adalah Naira. tubuh Naira terpental dihadapannya, jarak terpental itu cukup jauh. untuk menyelamatkan Amelia, Naira mendorong tubuh Amelia dan menjadikannya umpan mobil itu. waktu terasa berhenti untuk Adrian, ia berlari tanpa peduli apapun. Amelia langsung berlari dan memangku tubuh Naira.
"Nara!!!" teriak Adrian, beberapa orang berkerumun disana. Amelia meminta tolong dan meminta ambulan untuk Naira.
"Naira.. darahnya sangat banyak.. Naira buka matamu sayang..., kepalanya tidak boleh terluka!" ucap Amelia memegang kepala Naira, Amelia menangis melihat darah pada kepala Naira.
"Nara!!!" teriak Adrian, Adrian mengangkat tubuh Naira. Adrian berlari menggendong Naira, Amelia mengikuti langkah Adrian dari belakang. setelah sampai dimobil Adrian melajukan mobilnya dengan cepat, didalam mobil Amelia menangis dan menyuruh Adrian untuk cepat sampai dirumah sakit.
"Nara bertahan sebentar, kita akan sampai!!" ucap Adrian, terlihat Naira membuka matanya sedikit. Amelia tersenyum dengan itu, tapi tidak lama Naira menutup matanya kembali.
"tidak tidak, buka matamu Naira. jangan tutup matamu, mama mohon hiks..." ucap Amelia, mendengar itu Adrian semakin marah dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
setelah beberapa menit Adrian sampai dirumah sakit, rumah sakit tempat Nadia bertugas. Adrian menggendong tubuh Naira yang penuh darah, Ia berteriak pada semua perawat dan dokter disana. "dokter, suster!! selamagkan istri saya!!" teriak Adrian. sampai seorang perawat membawa tempat tidur untuk Naira, Adrian terus menggenggam tangan Naira. Adrian tidak memperdulikan bajunya yang penuh darah, Adrian gemetar dan menangis melihat Naira tidak berdaya dihadapannya.
"Nara lihat aku, buka matamu Nara!!"
"Naira buka matamu, sayang dengarkan aku. kamu harus bertahan, dokter akan menanganimu!" ucap Adrian, setelah masuk ruang operasi Adrian melepas tangan Naira dengan berat. secara bersamaan David menghampiri mereka, David terkejut melihat Adrian dengan pakaian penuh noda darah.
"ada apa ini?" ucap David panik, Adrian menoleh kearah David dengan wajah tidak berdaya nya.
"tolong istriku, selamatkan istriku. tidak boleh terjadi apapun padanya, aku mohon padamu!!" ucap Adrian menangis, David terkejut mendengar itu. David masuk dalam ruang operasi itu, David merasa terpukul melihat keadaan Naira. secara bersamaan Nadia datang, Nadia terkejut melihat Adrian dan Amelia dengan bekas darah.
"Adrian ada apa ini?" tanya Nadia, Adrian terdiam dan masih menatap ruangan Naira.
"maafkan aku, maafkan aku!" ucap Adrian berlutut dihadapan Nadia, Nadia terdiam dan menatap Amelia.
"Amelia ada apa?" tanya Nadia lagi, Amelia menangis dengan sesenggukan.
"Naira kecelakaan, dia ada didalam!" ucap Amelia, seketika Nadia lemas dan meneteskan air mata.
Nadia membiarkan Adrian berlutut, dan ia masuk kedalam ruang operasi itu. Adrian masih masih terdiam dan berlutut, Amelia mengangkat putranya untuk duduk dengan tenang. Adrian mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Naira harus baik baik saja, Naira tidak boleh kenapa kenapa. dia hidupku ma, dia jiwa dan ragaku jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!" ucap Adrian menangis, Amelia memeluk putranya itu dan ikut merakan kesedihannya.
"harusnya mama yang disana, Naira mendorong mama untuk menyelamatkan mama!!" ucap Amelia, Adrian meminta Amelia untuk duduk dan menenangkan diri. Adrian mengambil hpnya dan berniat untuk menghubungi Kara dan juga Bagas tentunya.
***
operasi berjalan begitu lama, David bahkan mengeluarkan Nadia yang menangis. karena emosi Nadia, ia tidak bisa menangani operasi itu bersama David. Nadia menangis didalam pelukan Amelia, Adrian sendiri termenung dan terus melihat pintu ruang operasi. wajah khawatir, takut, emosi, amarah, sedih, terlihat diajak Adrian sekaligus. Adrian bahkan tidak bisa menyembunyikan air matanya, air mata itu terus menetes di pipi Adrian.
tidak lama kemudian terlihat Febriyan dan Risa berlari menghampiri Nadia dan Amelia. bahkan terlihat Vano dan Kara berjalan cepat, melihat itu Nadia langsung berlari kearah Kara dan menangis disana. begitu juga yang dilakukan Amelia pada Vano, Kara dan Vano bahkan Febriyan melihat diri Adrian yang kacau penuh dengan noda darah pada pakaiannya.
"bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Kara, Amelia masih menangis tidak mau bicara. Vano menghampiri Adrian yang terdiam, Vano menarik tubuh Adrian untuk berdiri.
"bagaimana ini terjadi, katakan pada papa!" ucap Vano, Adrian masih terdiam tidak mau membuka mulutnya.
"Adrian papa sedang bicara padamu, apa yang sedang terjadi!!!" teriak Vano yang terdengar gemetar karena khawatir, seketika Adrian menangis dan memeluk Vano.
"papa!! Naraku didalam, aku tidak bisa melihatnya seperti itu. papa selamatkan Naraku, aku bisa kehilangan uang dan hartaku. tapi,.. aku tidak bisa kehilangan Nara!" ucap Adrian gemetar memeluk Vano, Vano mengelus tubuh Adrian untuk menenangkannya. secara bersamaan David keluar menghampiri mereka, mereka semua sangat cemas menunggu David berucap.
"apa kalian setuju aku melakukan operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah itu, untuk kedua kali benturan keras terjadi pada kepala Naira. jika tidak mengeluarkan itu sekarang, nyawanya akan terenggut!" ucap Adrian, seketika mereka terkejut disana. bahkan Kara mendudukan dirinya, karena dadanya yang terasa sesak.
"lakukan operasi itu, aku tidak ingin terjadi apapun pada Naira. lakukan sebisamu dokter, lakukan yang menurutmu terbaik!" ucap Adrian dengan lantang, David pun mengangguk.
"baiklah, kalian harus berdoa. kecelakaan itu membuat Naira kritis, begitu banyak darah yang keluar pada tubuhnya!" ucap David, Amelia semakin menangis dan merasa bersalah dengan itu. David kembali masuk kedalam ruang operasi, bahkan beberapa perawat mengikutinya dengan cepat dan panik.
"ini semua salahku!" ucap Amelia, semua orang menoleh disana.
"Amelia kenapa kamu bicara seperti itu, ini bukan salah siapa siapa!" ucap Vano, Amelia menangis dan menggelengkan kepala.
"ini salahku Vano, harusnya... aku yang ditabrak mobil itu... demi menyelamatkanku, Naira mendorongku... dan akhirnya dia yang menjadi umpan mobil itu. ini semua salahku, seharusnya aku hiks..." ucap Amelia dengan sesenggukan, semua orang terkejut disana. mereka juga berpikir tidak bisa berbuat apapun, karena semua itu bukan salah siapa siapa menurut mereka.
"bukan ini, bukan salahmu..."
"lalu salah siapa om!!" suara Bagas membuat mereka menoleh, terlihat Bagas berdiri dengan penampilan kusut. setelah mendapat telfon, Bagas segera datang kerumah sakit. Bagas datang tidak sendiri, melainkan bersama Sonia dibelakangnya. Bagas berjalan menghampiri Adrian, dengan cepat Bagas memberikan pukulan pada Adrian.
Bugh Bugh Bugh
pukukan berkali kali diberikan pada Adrian, Bagas tersulut emosi dan kehilangan kendalinya. Adrian yang mendapat pukulan itu hanya terdiam, dan menerima setiap pukulan dari Bagas.
"aku menyuruhmu untuk menjaganya, lalu apa ini yang dinamakan menjaganya!" ucap Bagas, Adrian masih terdiam tidak bicara.
"Bagas tenangkan dirimu.." belum sempat meneruskan perkataannya, Vano mendapat tatapan dingin dan kemarahan oleh Bagas.
"Bagas!!"
"kenapa pa, apa aku salah?. kalau saja dulu om Vano tidak datang dikeluarga kita, maka bunda Nadia tidak akan pergi dari rumah. aku akan bisa melihat kelahiran adikku, dia bahkan muncul dan membawa masalah baru. dia membawa tante Amelia dan juga pria itu, wanita asing yang memiliki masalah pada keluarganya. sejak kalian datang selalu saja ada masalah, kalian semua memang pembuat masalah!"
Bugh!!!
Adrian memberikan satu pukulan untuk Bagas, Adrian menarik baju Bagas dengan marah dan kesal.
"jangan pernah menghina ibuku pembawa sial, siapa kau berhak mengatakan hal buruk pada ibuku?" ucap Adrian, Bagas mendorong tubuh Adrian dengan kasar.
Plak!!
satu tamparan pada pipi Bagas, tamparan itu ia peroleh dari Risa. terlihat wajah Risa penuh dengan kemarahan, Risa marah ketika Bagas mengatakan hal yang tidak sopan. Bagas yang mendapat itu terdiam, matanya masih tersorot merah menatap Adrian.
"apa aku mengajarimu tentang ini, aku memang bukan mamamu tapi apa aku mengajarkan ini padamu!" teriak Risa, Bagas hanya terdiam dengan semua amarahnya. Bagas melihat kearah Adrian yang terdiam, Bagas menarik Adrian membuat semua orang terheran dengan itu.
"kemari!!" ucap Bagas menarik Adrian, Bagas menyeret Adrian keluar dari rumah sakit. semua orang terkejut dengan itu, bahkan menjadi perhatian banyak orang.
"mulai hari ini dan saat ini juga, kau tidak akan pernah bertemu dengan adikku. tidak akan kubiarkan adikku bertemu denganmu, meskipun kau suaminya sekalipun!." teriak Bagas, Adrian terkejut dengan itu.
"apa maksudmu, aku harus disini karena dia istriku!" teriak Adrian menarik kera baju Bagas, Bagas mendorong tubuh Adrian.
"aku tidak peduli, ingatlah pesanku. jika kau melukainya, menyakitinya ataupun menghilangkan secuil darinya, aku akan mengambil adikku itu darimu. kapanpun dan apapun yang terjadi, perkataanku tidak pernah main main!" ucap Bagas dengan penuh kemarahan, Adrian terkejut dengan itu karena tidak pernah melihat Bagas sangat marah. bahkan Sonia yang berdiri disana pun terkejut, Bagas yang begitu baik dan sopan dihadapan semua orang. sekarang menjadi liar karena marah, karena telah menyakiti adik kesayangannya.
"sudah cukup!, Vano bawa Adrian, Bagas sedang marah sekarang!" ucap Kara, Vano mengangguk dan menarik Adrian. Adrian enggan meninggalkan rumah sakit itu, pikirnya masih ingin bersama Naira yang sedang berjuang hidup dan mati.
"Adrian setelah tenang kita akan datang, ayo pulang dan bersihkan dirimu!" ucap Vano, Adrian pun mengangguk dan berjalan lemah mengikuti Vano.
setelah melihat mereka pergi, Bagas berjalan cepat meninggalkan Kara dan yang lain disana. Sonia yang melihat itu, mengikuti langkah Bagas. Bagas menatap pintu kaca ruang operasi, Bagas bersandar dipintu itu dan menangis. Sonia yang melihatnya ikut menangis, ia mendekati Bagas berniat untuk menyenangkannya.
"kenapa ini terjadi, kenapa harus adikku..." gumam Bagas menangis, Sonia mengelus punggung Adrian.
"Bagas tenanglah, Naira gadis yang kuat dia pasti baik baik saja. jangan lemah, jika kau lemah bagaimana kamu menjadi kekuatan Naira!" ucap Sonia, Bagas menoleh kearah Sonia yang tersenyum. Sonia mengusap air mata Bagas, ia merasakan tangan Bagas yang gemetar sedang menyentuh tangannya.
"ya, terima kasih!" ucap Bagas, Sonia tersenyum dan mengangguk.
***
malam pun tiba, belum ada kabar dari operasi Naira. disana hanya tinggal Kara dan juga Nadia, bahkan Sonia berada disamping Bagas. Febriyan dan Risa memilih untuk berdoa dirumah, dan membiarkan Riana yang menggantikan mereka. mereka semua masih menunggu kepastian dari David, David belum keluar dari ruang operasi itu sejak siang. Sonia melihat ke khawatiran mereka, ia pergi untuk mengambil air putih. Sonia memberikannya pada Kara dan juga Nadia, bahkan Sonia memberikan air itu pada Bagas dan juga Riana. tapi Bagas menolak, Sonia tetap menyodorkan air putih itu.
"minumlah, kau akan tenang nanti!" ucap Sonia, Bagas pun akhirnya menerima dan meminumnya dengan sekali teguk.
"terima kasih!" ucap Bagas, Sonia mengangguk dan tersenyum. Sonia kembali mendudukan dirinya disamping Bagas, ia menatap wajah Bagas dari samping. wajah yang awalnya emosi, sorot mata tidak bersahabat dan liar karena kemarahan, sekarang terlihat sendu, penuh perasaan panik, khawatir, dan mempunyai rasa kesedihan yang terdalam. Sonia menyentuh tangan Bagas, membuat Bagas menoleh kearahnya.
"maafkan aku, aku sampai lupa sama kamu!" ucap Bagas terdengar lembut, Sonia terkejut dengan itu.
"ayo kuantar pulang!" ucap Bagas berdiri, Sonia menggelengkan kepala. belum Sonia menjawab, David keluar dari ruang operasi. David menghampiri Kara dan Nadia, terlihat wajah lelah pada David.
"bagaimana David?" tanya Nadia, David menggelengkan kepala. semua orang menjadi panik dengan itu, secara bersamaan terlihat Adrian berlari kearah mereka. Bagas yang ingin menegur, menghentikan niatnya saat Sonia menahan tangannya. Sonia menggelengkan kepala, dan Bagas pun menuruti kemauan Sonia.
"bagaimana keadaan Naira?" tanya Adrian,
"masa kritisnya sudah lewat, bahkan operasi pengeluaran gumpalan darah itu berhasil." semuanya merasa lega mendengar pernyataan David, Nadia tersenyum bahagia.
"tapi Naira dinyatakan koma. dan dipastikan koma itu tidak tahu bertahan sampai kapan, Nadia kamu pasti paham dengan itu!" ucap David lagi, senyum lega yang awalnya terpancar seketika menghilang dalam sekejap.
"kenapa seperti itu David, kenapa?" tanya Nadia, Kara menahan tubuh Nadia yang melemah.
"kecelakaan itu membuatnya menjadi lebih buruk, saraf saraf perangsangnya menjadi lemah. meskipun dia bangun, dia hanya bisa mendengar suara dan merasakan sentuhan kalian tapi tidak bisa menjawab kalian." jelas David, Nadia terduduk dan menangis terseduh dalam rangkulan Kara. Bagas sendiri menahan air matanya dengan memeluk Riana yang menangis. Adrian mengusap wajahnya dengan kasar, ia berusaha keras menahan tangisnya.
"kalian bisa pulang sekarang dan beristirahat dirumah, biarkan Naira sekarang istrahat. Kara jaga kesehatanmu dan juga Nadia, doa kalian adalah semangat Naira. doa kan saja Naira cepat siuman, itu akan membuatnya lebih baik!" ucap David, Kara mengangguk dan membawa Nadia berjalan untuk pulang diikuti Riana. Adrian menatap Naira yang terbalut perban dikepala dan juga tubuhnya, tanpa disadari ia meneteskan air mata dipipinya. Adrian mengepalkan tangannya, ia sangat ingin menemukan siapa yang ingin mencelakai ibunya.
"pergi dari sini, untuk apa kau datang kesini!" ucap Bagas, Adrian menoleh kearah Bagas.
"dia istriku, aku mempunyai hak sebagai suaminya disini!" saut Adrian, Bagas mengepalkan tangannya.
"cari pelaku kecelakaan itu, jika kau memang suaminya!"
"iya, aku janji akan menemukan pelakunya. jika aku menemukan dia, akan kehancurkan dia dan seluruh yang dia miliki hingga tidak tersisa." saut Adrian, tanpa bicara lagi Adrian pergi dari sana. Bagas menatap kepergian Adrian, ia memijat dahi tengah nya. Bagas menatap Naira yang sedang nyenyak tidur, hati Bagas bersedih ketika melihat adik kesayangannya itu terbaring tidak berdaya. bahkan hatinya terluka, ketika melihat luka disekujur tubuh Naira.
****
ini hanya sebuah cerita dan inspirasi dari author, semuanya hanya sekedar untuk bersenang senang. jika ada kesalahan atau yang lainnya tolong dimaafkan ya😁 terima kasih😍
Jangan lupa like, komen dan berikan vote kalian😍