
Setelah pertemuan dua malam lalu, Gala memilih menyibukkan dirinya dengan setumpuk pekerjaan. Dalih ia sedang sibuk, dan diburu waktu, berhasil menjauhkan dirinya dari Shaqueena untuk sementara waktu.
Entahlah, Gala hanya gamang. Hatinya belum siap. Semuanya terlalu tiba-tiba.
Tadinya ia pikir, waktu beberapa bulan mampu memantapkan hatinya untuk menetap. Diam pada satu tempat.
Nyatanya, waktu yang terpotong pendek secara tiba-tiba menjadikan dirinya bak pengecut yang bersembunyi dalam gelapnya hutan.
Ia merasa terengah, seperti dikejar-kejar monster tak kasat mata. Pikirannya penuh, hatinya gundah.
Menyibukkan diri hanyalah satu dari sekian cara untuk menjaganya tetap dalam keadaan waras.
Dan lagi, ia merasa tak siap bertemu dengan Shaqueena.
Gadis itu, kalau saja ia tak menggagas ide gila itu, mungkin saat ini Gala masih dapat bernapas lega. Mungkin, saat ini Gala masih bisa menatap Shaqueena dengan pandangan biasa saja, bukan dengan pandangan tajam layaknya seorang musuh yang menatap lawannya.
Gala sadar akan kemarahannya, dan hal itu juga yang membuat ia enggan bertemu dengan Shaqueena. Ia tak ingin menyakiti gadis itu. Ia tak diajari seperti itu.
Tapi, sepertinya permainan bersembunyi yang sedang Gala mainkan ini akan segera berakhir tatkala netranya menangkap gelembung pesan yang tertera jelas pada layar ponselnya.
Nama Shaqueena beserta pesan singkat tertera disana.
'Mas, sabtu ini ayo temani aku melihat venue'
Singkat, tapi nyatanya membuat Gala muak. Ia enggan membalas, tapi di sisi lain, Gala tau, kalau ia mengabaikan pesan ini maka Ayahnya akan turun tangan menyeretnya kesana.
Maka dengan separuh hati ia mengetikan balasan kepada Shaqueena. Hanya sekedar 'oke' sebagai tanda setuju, kemudian ia taruh kembali ponselnya dalam keadaan terbalik.
Tak lama, ponselnya kembali berbunyi.
Ctuk!
Gala abai. Ia pikir pasti Shaqueena mengirim pesan tak penting.
Ctuk!
Lagi, ponsel itu kembali berbunyi. Gala mengernyit. 'Apa lagi?' Tanyanya dalam hati.
Ctuk!
Pesan ketiga dan Gala tak tahan untuk tidak melihat ke ponselnya. Kemarahan yang tadi mendidih di otaknya seketika mereda kala melihat siapa pengirim pesan beruntun itu.
'A' Gala!!!'
'Sabtu ini ke toko ya???'
'Kamu udah janji mau nyicip cupcake baru buat menuku, kamu gak boleh ingkar ya A'!!! dateng ya, nanti aku buatin yang banyak supaya bisa kamu bagi ke bunda juga!!'
Tanpa menunggu waktu lama, Gala mengetik balasan 'siap Ameeraa.. aku dateng kok' lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang menghangat.
......................
Sudah hari sabtu. Sekarang baru pukul delapan dan Gala sudah siap dengan style kasualnya.
Mematut dirinya di cermin untuk yang terakhir kali kemudian tersenyum setelahnya.
Tampilannya sudah sempurna.
Ia lalu menuruni tangga, hendak keluar rumah.
Saat berada di ruang keluarga, Gala berpapasan dengan Bundanya.
"Mau kemana? Rapih amat pagi-pagi gini?" Tanya bunda heran. Ia menengok jam dinding lalu bertanya lagi, "baru jam delapan, lho, nak?"
Gala berhenti lalu membelokkan jalannya menuju sang Bunda. Ia peluk wanita paruh baya itu lalu mengucap salam "selamat pagi, Bunda!" lalu mengecup kening wanita itu. Kentara sekali perasaannya sedang baik saat ini.
Bunda mengerling nakal, lalu kemudian berseru heboh. "OH IYA!!! Kamu ada survei venue hari ini sama Shaqueena, kan?" tanya Bunda kemudian.
Tanpa sadar raut Gala mendatar. Bukan itu alasannya sebenarnya. Dan kalau boleh jujur, Gala lupa akan janji itu. Untung saja bunda mengingatkan, kalau tidak sudah dipastikan telinganya tak akan selamat dari ocehan Ayahnya.
"Tapi kok pagi banget? Ah apa kalian mau jalan-jalan dulu? duh mesranya calon pengantin" Bunda berujar tanpa sadar akan raut datar yang makin tercetak di wajah putranya.
Gala, sesegera mungkin menghempas raut datarnya dan memilih mengikuti prasangka bunda.
"Iya bun, mau jalan-jalan dulu" ujarnya kemudian.
Bunda tersenyum jahil, kemudian mendorong putranya kian mendekati pintu, menggoda sekaligus menasihati Gala sebelum pria itu melangkah lebih jauh.
"Yaudah hati-hati ya. Dah sana jalan! dijagain loh Shaqueenanya. Jangan dicolek-colek dulu. Belum sah"
Tanpa terlihat Gala merotasikan matanya. Lalu melangkah tanpa kata menuju ke mobilnya. Masuk dalam diam lalu perlahan bergerak meninggalkan perkarangan rumah.
Perlu waktu beberapa menit untuk Gala sampai pada tempat tujuannya.
Dan kala netranya menangkap bangunan sederhana dengan bau khas roti yang baru dipanggang, kedua ujungnya refleks terangkat ke atas.
Buru-buru ia turun dari mobil, melangkah menuju pintu lalu membuka dengan tidak sabar.
"A' Gala!"
"Hai Ameera!"
...****************...