
seminggu telah berlalu, dengan sabar keluarga itu menunggu Naira membuka mata dari komanya. dan selama itu juga Naira masih tertidur nyenyak bagaikan putri tidur, tapi tidak seperti cerita dongeng putri tidur. disaat pangeran datang, putri tidur itu akan bangun dari tidur panjangnya. Adrian sudah seminggu berada disana, tapi tetap Naira masih tertidur. bahkan tidak ada pergerakan apapun pada Naira, Adrian menggenggam tangan Naira dan beberapa kali mencium tangan itu. Adrian ingin melihat Naira membuka mata, dan tersenyum ke arahnya. masih terlihat jelas dimata Adrian, tubuh Naira tertabrak mobil hingga terpental jauh.
"kapan kamu bangun, ini sudah seminggu Nara..." ucap Adrian menunduk, lagi lagi ia menangis dengan mencium tangan Naira. "kamu tahu aku sudah sangat merindukanmu, aku rindu saat kamu membuat sarapan bahkan tidur disampingku. aku merindukan kamu yang bersifat manja, aku merindukan semua itu Nara. jadi cepat lah bangun, aku tidak suka jika kamu mendiamkan aku seperti ini!" ucap Adrian lagi, tapi tetap sama tidak ada jawaban dari Naira. beberapa menit kemudian terlihat Nadia menghampirinya, Adrian mengusap air matanya dan tersenyum pada Naira.
"apa kau sudah makan?" tanya Nadia, Adrian mengangguk tatapannya masih fokus pada Naira. Nadia menahan air matanya, ia memeriksa detak jantung Naira dan perkembangan Naira.
"mama Nadia, bagaimana keadaannya?" tanya Adrian, Nadia tersenyum dan menepuk pundak Adrian.
"sabarlah, dia akan baik baik saja." saut Nadia, Adrian pun terdiam dan mengiyakan. "jadi Adrian, siapa yang ingin mencelakai ibumu?". tanya Nadia, Adrian menghela nafasnya.
" polisi sedang mencari tahu itu!" saut Adrian, Nadia menatap putrinya itu dengan wajah sendu.
"Naira sangat baik, dia tidak salah menolong Amelia. tapi kenapa, kenapa Allah membuatnya terbqring koma seperti itu!" ucap Nadia mulai terisak, Adrian merangkul tubuh Nadia untuk menenangkannya.
"jangan menangis, Naira bisa mendengar dan merasakanmu. jika kamu sedih, Naira pasti sedih nantinya!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan menghapus air matanya.
"iya kamu benar, dan kamu harus makan sekarang. aku dengar kamu ada masalah pencernaan, karena tidak makan. kemarilah, aku akan memeriksa nya!" ucap Naira, tanpa bisa dibantah Adrian hanya berjalan mengikuti Nadia. karena memikirkan Naira, Adrian tidak makan teratur hingga membuat gangguan pada pencernaannya. bukan hanya makan, tidur pun Adrian tidak nyenyak. pekerjaan pun ia tinggalkan, ia memilih menemani Naira dari pada berkutik dengan pekerjaannya. tanpa disadari mereka, jari jemari Naira bergerak dengan sendirinya. tapi tidak berkunjung lama, semenit kemudian jari jemari Itu kembali diam.
****
siang harinya Adrian berada dikantor polisi, bukan hanya Adrian tapi disana juga terdapat Bagas, Kara dan juga Vano. mereka mendapat panggilan dari polisi tentang kasus tabrak lari Naira, mereka sedang melihat rekaman cctv dijalan waktu itu. terlihat disana mobil dari jauh sudah melaju kencang, dan tujuannya mengarah pada Amelia. karena Naira dekat disana, Naira mendorong Amelia hingga Naira lah yang menjadi umpan mobil itu. semua yang melihat itu tidak sanggup untuk melihatnya, perasaan sedih dan tidak tega menyelimuti mereka.
"apa kalian mengenal orang ini?" ucap polisi itu, polisi itu menjeda video rekaman itu. didalam video itu terdapat samar samar wajah seseorang didalam mobil, Adrian begitu juga dengan yang lain memperhatikan wajah itu dengan seksama.
"wajah itu tidak terlalu jelas, mungkin kalian bisa mengenalinya. atau apakah pernah saudara Amelia memiliki musuh, hingga berniat membunuhnya?" ucap polisi itu, Adrian mendelik mendengar perkataan polisi. karena Amelia selama ini tidak memiliki musuh, dan jika itu terjadi hanya satu yang tidak senang dengan Amelia. yaitu, neneknya atau Rosa.
"aku tau siapa orang itu!" ucap Adrian, Bagas dan yang lainnya menoleh. Adrian mengepalkan tangannya, perasaan marah dan suram menyelimutinya.
"siapa?" ucap Bagas.
"Rosa!" ucap Vano, Bagas dan Kara terkejut disana. Vano mengangguk dengan tatapan mereka, Kara mengepalkan tangannya.
"siapakah Rosa?".
"Rosa adalah neneknya, dan ibu mertua dari Amelia!" ucap Bagas geram, Adrian menatap Bagas dengan tatapan tajam.
"dia bukan nenekku, dan dia juga bukan ibu mertua dari ibuku." ucap Adrian menekan, mereka saling menatap disana. Vano dan Kara berusaha memisahkan mereka, agar tidak terjadi keributan disana.
"baik pak polisi, terima kasih atas bantuan anda. kalau begi kami pamit, terima kasih atas kerja keras kalian!" ucap Kara bersalaman dengan polisi, Polisi itu mengangguk dan mengiyakan. mereka keluar dari kantor polisi, Vano menepuk punggung Adrian yang sedari tadi terdiam.
"aku akan mencarinya, aku pasti akan menemukannya!" ucap Adrian melihat Vano, Vano mengangguk dan menenangkan Adrian.
"dimana kau akan menemukannya, dia pasti sudah sadar kesalahannya dan melarikan diri dari sini!" saut Bagas, Adrian menatap Bagas yang sedang menatapnya.
"tidak!" ucap Kara, Bagas dan Adrian pun menoleh. bukan hanya mereka, Vano melihat kearah Kara.
"aku sudah pernah bilang, aku tidak mengusik dirinya. jika dia mengusik keluargaku bahkan putriku, aku tidak akan segan lagi padanya. dia tidak akan bisa lari dari tangan seorang Kara, aku akan menemukan dia meskipun dia berada dilaut sekali pun!" tegas Kara, Bagas mengangguk dengan itu.
"iya om, tidak akan kubiarkan dia hidup tenang!" ucap Bagas menambahi perkataan Kara, Vano dan Adrian hanya mengangguk dengan perkataan itu.
****
setelah dari kantor polisi, Adrian memutuskan untuk pergi menemui Naira. sebelum itu, Adrian meminta Kara dan Vano untuk pulang terlebih dahulu. Naira masih dengan tidur cantiknya, Adrian mengelus rambut Naira. ia sangat merindukan Naira, Adrian masih sedih saat melihat tidak ada perubahan dari Naira.
"hai Nara, apa kabar?" ucap Adrian dengan mengelus rambut Naira, Adrian tersenyum dalam kesedihannya.
"Nara lagi lagi kamu diam, aku udah bilang kan kalau aku tidak suka kamu mendiamkan aku!" ucap Adrian, ia menatap Naira yang terdiam.
"kalau sakit ngomong Nara, aku akan mengobatinya. kalau kamu gak ngomong bagaimana aku bisa tau, katakan Nara!" ucap Adrian menunduk, Adrian menyembunyikan tangisnya di pundak Naira.
"Nara aku mencintaimu, sangat mencintaimu. kamu harus cepat bangun, rumahku sangat sepi tanpa kamu Nara. semua orang merindukanmu, kakakmu, Papamu, mamamu semuanya merindukanmu. bahkan Nanda mencarimu, katanya dia ingin kamu mengajarinya pelajaran matematika. kamu sangat suka matematika kan, jadi ayo bangun dan ajari Nanda pelajaran matematika." gumam Adrian dipundak Naira, Adrian terus bergumam disana. "kalau aku merindukan senyummu, aku ingin melihatmu tersenyum. dan aku belum makan, aku ingin memakan masakanmu. hanya kamu, yang bisa memasak makanan kesukaanku. jadi Nara cepat bangunlah, kamu tidak ingin aku sakit kan. bangunlah..."
apa yang terjadi Adrian telah dilihat oleh Bagas dari jauh, bahkan disana juga ada Sonia yang berdiri disamping Bagas. sebelum datang, Bagas menjemput Sonia untuk melihat Naira. Bagas menceritakan tentang semua yang terjadi dikantor polisi, Sonia tidak menyangka kalau Rosa melakukan hal itu. mereka melihat Adrian seperti itu, mereka membiarkan Adrian bicara dengan Naira.
Sonia menggandeng lengan Bagas, Sonia memutuskan untuk kembali ke apartemennya. mereka berjalan keluar dari rumah sakit, Bagas melajukan mobilnya untuk mengantar Sonia. didalam perjalanan mereka hanya terdiam, sesekali Sonia menatap wajah Bagas yang fokus menyetir. wajah Bagas masih menunjukkan kesedihan, Sonia berpikir untuk menghibur Bagas agar bisa tersenyum.
"Bagas berhenti!" ucap Sonia, sepontan Bagas menghentikan mobilnya. Bagas menoleh kearah Sonia, Sonia melihat kearah luar.
"ada apa Sonia, kamu mengejutkanku!" ucap Bagas memijat tengah dahinya, Sonia hanya tertawa kecil dengan itu.
"lihatlah, itu permen kapas. ayo kita kesana dan beli!" ucap Sonia, Bagas menoleh kearah yang ditunjuk Sonia. sedetik kemudian ia menoleh kearah Sonia, Sonia tersenyum dan mengangguk.
"tidak, jangan seperti anak kecil. aku tidak suka yang manis!"
"tapi aku suka, kau tahu di London jarang ada permen kapas. Bagas kita kesana ya, aku mohon!" saut Sonia berwajah melas, Bagas geli dengan wajah Sonia yang seperti itu. Bagas pun menyerah dan memutar mobilnya, Sonia senang dengan itu. saat Bagas ingin turun, Sonia menarik tangan Bagas membuat Bagas menoleh kearahnya.
"kamu mau kemana?" tanya Sonia, Bagas merasa sangat gemas dengan Sonia.
"ayo beli bersama, sambil jalan jalan sebentar cari angin!" ucap Sonia menggandeng tangan Bagas, Bagas terdiam dan mengikuti langkah Sonia yang menarik tangannya. Sonia menarik tangan Bagas, untuk berjalan membeli permen kapas yang dimaksud. "pak berikan dua permen kapas!" ucap Sonia pada penjual permen kapas, Bagas hanya menatap Sonia yang bertingkah seperti itu. setelah mendapat permen nya, Sonia menawarkan satu permen itu pada Bagas. Bagas menolaknya, Sonia pun tidak peduli dan memakan permennya.
"kenapa kau tidak suka yang manis?" tanya Sonia dengan memakan permennya, Bagas berjalan dengan memasukkan tangannya di kantung saku celananya. mereka berdua berjalan menyusuri jalan, Sonia berpikir berhasil membuat Bagas tenang.
"dari dulu aku tidak suka manis, tapi aku menyukai kedua adikku yang manis!" saut Bagas, Sonia pun mengangguk mengerti. mereka duduk disebuah bangku pinggir jalan disana, Bagas menatap Sonia yang masih asik memakan permen kapasnya.
"kapan terakhir kau memakan permen ini?" tanya Bagas menunjuk permen Sonia, Sonia tersenyum dan menggelengkan kepala.
"aku blasteran, dan aku tidak pernah datang ke Indonesia. jadi aku tidak pernah makan permen kapas ala Indonesia, rasanya sangat berbeda dengan buatan disana!" jelas Sonia, Bagas tersenyum dengan itu. Bagas terheran heran ketika Sonia lancar dengan bahasa Indonesia, padahal dari kecil Sonia berada di London.
"lalu kenapa kau bisa bahasa Indonesia dengan lancar, bahkan tidak terlihat kalau kau orang bule!" saut Bagas, Sonia menoleh kearah Bagas dan tersenyum.
"karena ibuku orang Indonesia, setiap bersama ibu aku selalu memakai bahasa ibu. kalau bersama ayah, aku akan menggunakan bahasa Inggris!" ucap Sonia, Bagas mengangguk dan mengerti perkataan Sonia. "Bagas ini sangat manis apakah kau tidak mau beneran?" ucap Sonia lagi menyodorkan permen kapas itu, Bagas melihat permen kapas di pipi Sonia. tangan Bagas perlahan mencapai pipi itu, Bagas mengusap pipi Sonia dengan lembut.
Deg Deg Deg~
Sonia terkejut Bagas menyentuh pipinya, jantungnya bahkan berdetak sangat cepat. Sonia terdiam membatu dengan itu, mata biru Sonia menatap mata coklat milik Adrian. mereka saling menatap dan terhanyut dalam tatapan itu, dengan perasaan tidak menentu Sonia menatap Bagas.
"huwaaa!!!"
suara tangisan membuyarkan tatapan mereka, Sonia dan Bagas menoleh keasal suara secara bersamaan. terlihat seorang anak kecil terjatuh, jatuh dihadapan tempat mereka duduk. Sonia memberikan permen yang ia pegang pada Bagas, Sonia menghampiri anak kecil itu.
"hei kamu kenapa?." tanya Sonia terdengar lembut, Bagas terdiam dan tersenyum melihat itu.
"aku jatuh dan balonku telbang!" saut anak kecil itu dengan pelat, Sonia tertawa kecil dengan itu.
"apa ini sakit?" tanya Sonia mendirikan anak itu, anak itu mengangguk dengan wajah yang menggemaskan.
"jangan menangis ya, aku akan menyembuhkan lukamu!" ucap Sonia, Bagas yang mendengar itu semakin menarik untuknya dilihat. Bagas terkejut saat Sonia mengangkat tangannya, ia bingung dengan apa yang dilakukan Sonia.
"hei kuman kuman kecil, pergilah dari kakinya. jika tidak aku akan memberikan obat panas untukmu, cepat pergi. ikuti aku, pergilah pergilah huss..."
"pelgilah pelgilah huss..." ucap anak kecil itu, Sonia tertawa bersama dengan anak kecil itu. Bagas yang melihat itu tertawa dari jauh, Bagas menutup wajahnya saat tertawa.
"sudah sembuh, tidak akan sakit lagi. oh iya aku punya permen kapas, kemarilah!" Sonia membawa anak kecil itu, Sonia mengambil permennya dari Bagas dan memberikan pada anak kecil itu.
"ambil ini, lupakan balonmu yang terbang!" ucap Sonia, dengan senang anak kecil itu menerimanya.
"telima kasih tante cantik, muachh!!" ucap anak kecil itu dan mencium pipi Sonia, Bagas terkejut dengan itu. Sonia hanya tertawa dan mencium balik anak kecil itu, semakin membuat Bagas terkejut dan berdiri dari duduknya.
"kenapa aku merasa kesal, Bagas bodoh!" gumam Bagas, Sonia melihat kepergian Bagas.
"eh Bagas mau kemana?" tanya Sonia, Bagas tidak mendengarnya dan hanya jalan menuju mobilnya. "anak manis hati hati ya saat jalan, tante pergi dulu. dadah!!" ucap Sonia melambaikan tangan, anak kecil itu pun berlari pergi dari sana. Sonia berjalan mengejar Bagas, karena langkah Bagas yang cepat Sonia harus berlari.
"Bagas berhenti, aku masih ingin jalan jalan!" teriak Sonia, Bagas menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Sonia.
"mau kemana, ini sudah sangat sore!" ucap Bagas, Sonia akhirnya menyerah dengan itu. Sonia mengikuti Bagas menaiki mobil, Bagas tersenyum melihat Sonia cemberut.
"Bagas aku akan pulang!" ucap Sonia, Bagas terdiam dan mengurungkan niatnya menjalankan mobil.
"kenapa?" tanya Bagas, Sonia menoleh kearah Bagas.
"rumahku bukan disini, aku tidak bisa terus menjadi bebanmu. lagi pula kita bukan siapa siapa, hanya seorang teman yang kenal beberapa waktu lalu!" ucap Sonia, Bagas kesal dengan itu. Bagas berfikir, Sonia hanya menganggapnya sebagai teman. Bagas sendiri memiliki perasaan pada Sonia, saat ingin mengatakannya Bagas tidak sanggup.
"kapan kamu pergi?" tanya Bagas dengan menjalankan mobilnya, Sonia menatap Bagas tidak percaya. Sonia berfikir, kenapa Bagas tidak mencegahnya pergi. Sonia juga berfikir, Bagas tidak pernah memiliki perasaan padanya. padahal dirinya mempunyai perasaan lain pada Bagas.
"lusa, bisakah kamu mengantarku ke bandara?" ucap Sonia, Bagas menggelengkan kepala.
"tidak mau, kamu pergilah sendiri!" saut Bagas, Sonia terdiam dan menatap kearah luar mobil. Bagas menoleh kearah Sonia, ia menatap Sonia yang terdiam. saat sampai diapartemen, Bagas langsung pergi tanpa mampir. Sonia berdiri melambaikan tangan pada Bagas, Bagas yang melihat itu hanya tersenyum sekilas.
"kalau saja kamu mencegahku pergi, maka aku tidak akan pergi Bagas!" ucap Sonia menatap kepergian Bagas, setelah itu ia masuk kedalam gedung apartemen milik Bagas.
didalam mobil Bagas sedang menatapnya melalui spion mobil, Bagas menatap Sonia yang berdiri hingga menghilang. Bagas menghela nafas dan meminjat tengah kepalanya.
"jika aku mencegah mu pergi, apa kamu tidak akan pergi Sonia?" tanya Bagas pada dirinya sendiri, Bagas sadar telah menyukai Sonia bahkan telah jatuh cinta pada Sonia.
***
halo semua, apa kabar? (semoga semuanya sehat dan baik2 saja)
Naira nya lagi istirahat nih, jadi author menceritakan kisah Bagas dan Sonia sedikit. jangan bosen ya, tetap tunggu kelanjutan ceritanya!!" terima kasih, selalu jaga kesehatan ya...
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍