
Naira membuka mata ketika merasakan haus, mata Naira langsung menatap Adrian yang tertidur pulas disampingnya. Naira tersenyum dengan sendiri nya, dan melihat hari sudah sore. begitu namyaman berada dipelukan Adrian, perasaan yang ada dalam diri Naira menghilang. Naira sadar perasaan itu adalah mengisyaratkan padanya, bahwa Adrian telah menunggunya untuk datang dalam pelukan Adrian.
"jika aku harus mengatakan maaf seumur hidupku, aku akan melakukan itu untukmu suamiku..." ucap Naira lirih, karena tidak ingin membangunkan Adrian. saat ingin mencium Adrian, Naira teringat Adrian belum makan apapun dan harus meminum obatnya. Naira turun dari ranjangnya dengan perlahan, agar tidak membangunkan Adrian yang terlelap tidur dengan nyenyak.
Naira keluar dari kamarnya, ia menatap rumah besar Adrian itu. Naira terkejut melihat bingkai foto disana, yang menampilkan foto foto dirinya yang begitu ceria. Naira tersenyum sendiri dengan itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana foto itu diambil. lalu tatapannya melihat sebuah foto yang menampilkan foto anak kecil dalam mimpinya, Naira mengambil foto itu dan memperhatikannya.
"ini, bukankah mereka yang ada dimimpiku!" ucap Naira, terlihat gambar Adrian kecil menggendong Naira kecil dipunggungnya. Naira menyadari dengan cepat, bahwa mimpinya adalah dirinya dan Adrian dimasa lalu. Naira percaya dengan perkataan Adrian, yang mengatakan mereka mengenal sejak masih anak anak bahkan sudah saling mencintai. "jadi mimpi itu adalah petunjuk, untung saja aku menyadarinya dengan cepat." ucap Naira meletak foto itu, ia menghapus air matanya yang hampir menetes.
Naira berjalan menuruni anak tangga, sampainya dibawah langsung disambut oleh beberapa pelayan.
"nyonya muda, apa yang anda butuhkan?" ucap seorang pelayan, Naira tersenyum ramah pada mereka.
"bisakah aku tahu dapurnya, maksudku aku ingin memasak untuk suamiku!" ucap Naira ragu, pelayan disana malah tersenyum bahagia dengan perkataan Naira. "kenapa kalian begitu bahagia melihatku?" tanya Naira karena penasaran dengan tatapan mereka, rasa bahagia yang teroancar oleh seluruh pelayan.
"kami bahagia, sangat bahagia karena melihat nyonya lagi. rumah serasa hidup lagi dengan kehadiran nyonya, bahkan dengan setia kami merawat tuan muda tapi yang dibutuhkan tuan muda hanya nyonya!"
"hm.. aku tidak ingat apapun tentang disini, kalau kalian bersedia membantuku aku akan senang. bantu aku untuk merawat rumah ini seperti dulu, dan beritahu aku apa yang sering aku lakukan dirumah ini dulu!" ucap Naira tersenyum, semua pelayan disana mengangguk dan mengiyakan permintaan Naira.
"pasti nyonya, kami akan membantu anda!" ucap pelayan, Naira tersenyum dan berjalan untuk menuju dapur. saat ingin berjalan ke dapur, suara seseorang mengejutkan Naira.
"Naira!!!"
Naira menoleh kearah suara itu, terlihat seorang wanita dan pria yang sudah paruh baya. bisa dibilang seusia orang tuanya, siapa lagi kalau bukan Amelia dan Vano bahkan. Amelia berlari kearah Naira dan langsung memeluk Naira penuh rindu, Naira tersenyum dan membalas pelukan Amelia.
"maafkan aku, aku membuatmu tertekan!".
"tidak sama sekali, aku malah senang sudah mengingat meskipun tidak semuanya. tapi biasanya.. aku menyebutmu apa, maksudku aku biasanya memanggilmu apa?" ucap Naira ragu, Amelia tersenyum dan mengusap rambut Naira.
"aku ini mama bagi Adrian dan juga dirimu, biasanya kamu memanggilku mama Amelia. panggil aku mama Amelia seperti dulu, aku merindukan panggilan itu sejak lama!" ucap Amelia lembut, Naira mengangguk dan senang. Vano menatap putri kecilnya itu, ia sangat bahagia saat Naira sudah memiliki ingatannya meskipun tidak semuanya. Naira menatap Vano saat merasa Vano menatapnya, Naira berpikir siapa Vano dan apa hubungan mereka.
"apa kau tidak ingat pada papa Vano mu?" tanya Vano, Naira terkejut saat mendengar kata papa Vano. Naira teringat Vano adalah papa kedua baginya, meskipun tidak ingat seluruhnya Naira mengingat kedekatannya dengan Vano.
"aku ingat, tapi aku tidak ingat semua!" ucap Naira, Vano membuka kedua tangannya untuk menawarkan pelukannya.
"kemarilah peluk papa, papa sangat merindukan putri kecil papa!" ucap Vano, Naira langsung berlari dan memeluk Vano. Naira merasakan kehangatan dipelukan Vano, Naira bahkan mengeratkan pelukannya. Vano mencium dan mengusap rambut Naira, membuat Naira geli karena Vano mencium pipi Naira. karena bulu jenggot tipis Vano, membuat Amelia dan Naira tertawa bersama.
"dimana Adrian?" tanya Amelia, Naira menoleh kearah Amelia.
"dia sedang tidur, sekarang aku berniat memasak untuknya. karena ada mama Amelia, bisakah mama membantuku?" tanya Naira, Amelia mengangguk dengan senang.
"iya ayo, sebelum Adrian bangun kita akan memasak dan makan malam bersama nanti!" ucap Amelia menggandeng tangan Naira, Vano sedikit kesal dengan itu. karena masih ingin mengobrol dengan Naira, Amelia hanya menertawakan Vano yang terlihat kesal.
"dasar wanita!" ucap Vano, Naira dan Amelia pun berkutik didapur dengan bantuan beberapa pelayan. Vano memilih untuk mandi sebentar menyegarkan diri, ia memilih kamar mandi dibawah dekat dapur.
setelah beberapa menit Vano keluar dengan kaos biasa, dan dikejutkan dengan kehadiran Adrian yang seperti orang bingung. terlihat Adrian berjalan cepat kearahnya, Vano melihat Naira dan Amelia yang masih sibuk memasak.
"pa, dimana Naira?" tanya Adrian terlihat panik, Vano melihat kanan dan kirinya. ia merasa Adrian belum sadar dari tidurnya, dan langsung mencari Naira begitu melihat tidak disampingnya.
"tidak ada Naira, papa yang membawamu pulang karena pingsan dikantor!" ucap Vano bohong, karena ingin menjaili Adrian.
"tidak pa, Naira yang mengantarku. bahkan Naira sudah mengingatku kalau aku suaminya, bahkan dia setuju pulang kerumah!" tegas Adrian yang terlihat kesal, Vano menahan tawa melihat itu. ia berusaha menenangkan Adrian untuk terus meluruskan rencananya yang menjaili Adrian.
"papa tau kamu sangat merindukan Naira, tapi tidak ada Naira ataupun semuanya masih sama. apakah kamu bermimpi?" ucap Vano bersikap tenang, rasa ingin tertawa Vano ingin meledak saat melihat Adrian yang panik.
"tidak mungkin, tidak mungkin itu mimpi!" ucap Adrian sedih, Vano terkejut dengan itu. ia tidak menyangka Adrian berekspresi itu, bahkan Adrian menangis membuat Vano panik.
"hei Adrian ada apa denganmu?" ucap Vano, Adrian malah menangis dalam pelukan Vano.
"kenapa mimpi pa, kenapa!!!" ucap Adrian dengan suara serak, Vano merasa tubuh Adrian gemetar karena menangis. Vano menyesali perbuatannya, dan lupa kalau tubuh Adrian masih lemah karena stres dan tekanan.
"ada apa ini?" ucap Amelia, Vano menoleh kearah Amelia yang memegang spatula. Amelia menghampiri mereka karena melihat Adrian memeluk Vano, Amelia terkejut melihat Adrian menangis.
"Adrian kamu kenapa, apa ada yang sakit?" tanya Amelia khawatir, Adrian bergantian memeluk Amelia dengan erat. Vano menyesali telah berbuat jail pada Adrian, ia hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Adrian kamu mimpi apa, kenapa menangis!" mendengar suara itu Adrian semakin menangis, karena tiba tiba mendengar suara Naira ditelinganya.
"aku mimpi Naira kembali, dan sekarang aku mendengar suaranya... aku sudah gila, aku benar benar gila...." ucap Adrian, Vano masih menahan tawa mendengar itu. Amelia yang kasian mengelus punggung Adrian, Amelia sangat ingin tertawa melihat kondisi anaknya.
"oh, begitu ya. kalau begitu tidur saja, agar kau bisa bermimpi aku lagi!" ucap Naira lagi, Adrian melepas pelukan Amelia.
"mama.. jangan meniru suara...." ucap Adrian terhenti ketika melihat Naira berdiri dihadapannya, Naira tersenyum dengan cantiknya melihat Adrian. sebelumnya Adrian berpikir itu adalah suara Amelia, tapi suara itu memang suara Naira. tanpa bicara lagi Adrian berjalan kearah Naira, dan langsung memeluknya.
"ini nyata kan?" ucap Adrian, Naira merasa sesak saat Adrian memeulknya dengan erat.
"aku nyata, uhuk uhuk... Adrian aku merasa sesak!" ucap Naira mendorong tubuh Adrian, Adrian terkejut dan menatap Naira. itu bukan mimpi, semuanya nyata tapi kenapa Vano melakukan itu padanya. Vano panik ketika Adrian menatapnya dengan tajam, Vano tersenyum canggung.
"iya sebenarnya papa membohongimu, papa hanya ingin menggodamu. tapi papa lupa kalau kamu masih sakit, jadi papa hanya diam!" ucap Vano tersenyum menatap Amelia, Naira menahan tawa melihat Adrian kesal.
"Vano!!" ucap Amelia, Vano berjalan untuk menjauhi amukan Amelia. Adrian mengahadang diri Vano yang ingin kabur, Amelia sudah memainkan spatula yang dipegangnya.
"mau kemana papa, mama hajar saja dia!" ucap Adrian, Amelia menarik telinga Vano dan membawanya menjauh dari Adrian. Naira tertawa terbahak ditempatnya, melihat Vano diam saat Amelia menjewer telinganya. kemudian Naira menatap Adrian yang menatapnya, Naira berjalan kearah Adrian dan menyentuh dahi Adrian.
"sudah tidak demam, kamu mandi dulu setelah itu kita makan malam!" ucap Naira tersenyum, Adrian mencium tangan Naira yang menyentuh dahinya. sesaat hatinya hancur karena mengira semuanya adalah mimpi, tapi bahagia kembali ketika melihat Naira nyata dihadapannya.
"papa keterlaluan, dia membohongiku seperti itu!" ucap Adrian, Naira tertawa kecil dengan itu.
"kamu lucu saat menangis, seperti anak kecil yang manja kehilangan mainannya..."
"bukan mainan!" saut Adrian dengan cepat, Naira terkejut dan terdiam. Naira tersenyum dan mengusap pipi Adrian, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu.
"iya sudah lupakan, mandilah ayo aku bantu!" ucap Naira, Adrian memegang kedua tengkuk Naira dan menatap mata Naira.
"kamu bukan mainan, kamu itu adalah temanku dan juga kehidupanku. karena itu seorang anak kecil yang kehilangan temannya akan menangis, tidak peduli seberapa kuat anak kecil itu. jika kehilangan teman hidupnya pasti sedih dan akan berlanjut menangis!" ucap Adrian dengan tegas, Naira mengangguk dan menangkup kedua pipi Adrian.
"baiklah sikecil, sekarang mandilah untuk menyegarkan diri!" ucap Naira tersenyum, Adrian pun tersenyum.
"sikecil butuh ciuman, maukah kakak mencium sikecil ini!" ucap Adrian, Naira membalakkan matanya. seketika wajah Naira tersipu malu, membuat wajah itu menjadi merah merona. "kenapa, sikecil ini harus dicium loh!" ucap Adrian lagi, Naira mencubit telinga Adrian dengan gemas.
"mandilah, aku tidak akan menciumu!"
"bagaimana kalau aku memaksa?" bisik Adrian, Naira terkejut dan langsung melepaskan diri dari Adrian. Naira berlari untuk menuju kamarnya, Adrian tersenyum dan berjalan untuk mengejar Naira.
"jangan ikuti aku, kamu mandi dibawah saja!" teriak Naira berlari dengan kaki kecilnya menaiki anak tangga, Adrian berjalan cepat untuk mengikuti langkah Naira.
"aku akan mandi diatas denganmu, tunggu aku!"
"Adrian jangan kemari, aku akan memukulmu!"
perdebatan itu didengar oleh Amelia dan juga Vano, mereka mengintip Adrian dan Naira dari arah dapur. mereka merasa senang melihatnya, apalagi melihat wajah Adrian yang berubah drastis saat melihat Naira. sesaat Amelia menatap Vano, karena masih ingin memberi Vano pelajaran. Vano sendiri merasa hawa dingin menusuk dibelakang, lalu bulunya begidik ngeri.
"Lia dengar aku, aku hanya ingin menjailinya. aku sudah katakan tadi kan!" ucap Vano terbata, Amelia masih menatapnya tanpa ekspresi. "aku minta maaf, aku tidak tahu kalau Adrian sangat lemah."
"huh... seharusnya jangan seperti itu, kalau dia kenapa kenapa bagaimana?" ucap Amelia kesal, Vano memeluk Amelia dengan gemas.
"haha... iya aku salah, maafkan aku ya. jangan kesal lagi, kamu akan semakin tua nanti!" ucap Vano tertawa, Amelia langsung melototi Vano. Amelia mencubit perut Vano karena gemas, bukannya kesakitan Vano semakin tertawa.
"akhirnya aku melihat putraku bahagia!" ucap Amelia tersenyum, Vano mengangguk dan ikut tersenyum. "Vano menurutmu cucu laki laki atau cucu perempuan?" ucap Amelia lagi, Vano seperti memikirkan perkataan Amelia.
"keduanya?" ucap Vano, Amelia tertawa dengan itu. kebahagiaan Amelia tertular pada Vano, Vano tertawa karena senang sudah melihat istrinya tertawa lagi.
****
yeeahh... bukan mimpi, wkwk siapa yang ketipu... maaf kan author ya hehe...
jangan lupa like, komen dan vote kalian😍