Do You Remember?

Do You Remember?
Hati Naira.



disore hari Naira memutuskan untuk pergi, Naira ingin pergi tanpa sepengetahuan Adrian. dan setelah berhasil keluar dari rumah, Naira segera membawa mobilnya menuju rumah sakit. saat sampai disana, Naira berhati hati agar tidak bertemu dengan Nadia. setelah bertanya pada resepsionis, Naira langsung masuk ke dalam ruangan David. tapi disana kosong tidak ada siapapun, David tidak ada disana. Naira memutuskan untuk pergi, saat ingin pergi suara Nadia terdengar olehnya.


"bagaimana keadaan Naira?" suara Nadia, Naira pun bersembunyi dibalik lemari ruangan David.


"dia harus segera di operasi Nad, kita harus mengeluarkan gumpalan darah itu. aku takut semakin membahayakannya, lebih baik melakukan operasi itu lebih awal!" ucap David, Nadia menghela nafasnya.


"Adrian bahkan sudah bertanya pada temannya, tapi tetap sama jawabannya. sangat jarang hal seperti itu terjadi, apalagi terjadi bagian kepala dan saraf otaknya. jika melakukan operasi memiliki resiko, dan jika tidak itu sama saja membahayakannya." saut Nadia, David pun merasa pusing jika ikut memikirkannya.


"iya ingatan Naira akan terhapus, bahkan bisa dikatakan akan permanent. apa dia sudah tau tentang semua itu?" ucap David lagi, Nadia menggelengkan kepala.


"kami tidak memberitahunya, bahkan aku melarang Adrian untuk memberitahunya." saut Nadia, Naira yang masih dibalik lemari hanya terdiam dan mendengar semua itu.


"iya. minta persetujuan Adrian untuk melakukan operasi, setelah itu aku akan melakukan yang terbaik untuk putrimu!" ucap David, Nadia mengangguk dengan itu.


"iya aku akan bicarakan pada Adrian nanti, aku pergi dulu!" ucap Nadia, David pun mengangguk. setelah kepergian Nadia, David pun juga memutuskan pergi. Naira pun keluar setelah mereka pergi, Naira meremas kertas yang masih ia pegang. Naira memutuskan untuk kembali kerumah, ia ingin menanyakan semuanya pada Adrian.


setelah beberapa menit, Naira sampai dirumah. setelah memarkirkan mobil Naira masuk kedalam rumah itu, Naira mencari keberadaan Adrian disana. Naira merasa pusing memikirkan semua itu, ia memilih untuk berhenti sejenak diruang tamu. ia terkejut ketika Adrian tiba tiba memeluknya dari belakang, Adrian mencium bahu Naira.


"kamu darimana, kenapa tidak bilang padaku?" ucap Adrian membalikan tubuh Naira. Adrian melihat mata Naira yang berkaca, Adrian menjadi bingung dengan itu.


"ada apa denganmu, katakan padaku!" ucap Adrian lagi, Naira mengangkat tangannya yang sedang membawa kertas. ia menyerahkan nya pada Adrian, Adrian menerima kertas itu dengan bingung. setelah melihat kertas itu, Adrian terkejut membacanya. Adrian melihat kearah Naira yang sudah menunggu penjelasan, bahkan air mata Naira menetes disana.


"Nara dapat dari mana ini?"


"apakah itu penting sekarang, apakah tidak ada yang ingin kamu jelaskan sekarang?" saut Naira, Adrian meremas kertas itu dan membuangnya.


"katakan sesuatu?" ucap Naira saat Adrian tetap diam, Adrian menatap Naira yang menangis. Adrian menghapus air mata itu tapi Naira menghindari tangan Adrian.


"kenapa kalian tidak katakan padaku, bahkan kamu juga menyembunyikannya. apakah aku tidak berhak mengetahui semuanya, apa aku tidak punya hak mengetahui kesehatanku sendiri!"


"Nara dengarkan aku, kami tidak ingin kamu khawatir. bahkan aku tidak mau kamu memikirkan semua itu, aku takut itu akan menjadi beban untukmu." jelas Adrian memegang bahu Naira, tapi Naira melepas tangan Adrian dengan kasar.


"setidaknya tidak perlu berbohong padaku, setidaknya kamu katakan baik baik padaku. kau tahu aku tidak suka kebohongan, tapi kau selalu menyembunyikan sesuatu yang harusnya aku ketahui!" ucap Naira menangis, Adrian merangkul tubuh Naira dan menenangkannya.


"maafkan aku Naira, aku tidak berniat membohongimu. aku..." belum selesai Adrian mengatakannya, Naira mendorong tubuh Adrian.


"mau kemana?" tanya Adrian, Naira tidak menoleh dengan itu.


"jangan ikuti aku, aku ingin sendiri sekarang!" ucap Naira melepas tangan Adrian dan berlalu pergi. Adrian yang melihat itu hanya terdiam menatap kepergian Naira. Adrian kesal dengan kecerobohannya, ia ceroboh karena tidak membuang kertas itu lebih awal.


Naira masuk kedalam kamarnya, dengan menangis Naira menutup pintu kamar itu. tubuh Naira merosot dibalik pintu, ia menangis terseduh seduh memeluk lututnya. Naira tidak tahu harus melakukan apa, Naira hanya mengingat perkataan David dan Nadia. bahkan ia mengingat ucapan Adrian, yang berkali kali mengatakan agar tidak melupakan semua tentang mereka. Naira semakin menangis dibuatnya, rasa tidak berdaya menyelimuti hatinya saat ini.


Naira bahkan mengingat, kalau dirinya pernah melupakan hal yang sepele. hal sepele pun dapat ia lupakan, bagaimana dengan hal penting yang telah terjadi dalam hidupnya. hal yang sudah ia lalui dengan Adrian, hal yang pernah ia lalui dengan beberapa orang yang mengenalnya.


dimalam hari Adrian masuk kedalam kamarnya, sejak sore Adrian pergi kerumah Kara. Adrian menceritakan pada mereka jika Naira sudah tahu, dan menimbulkan ke khawatiran mereka semua. Adrian melihat Naira yang tidur meringkuk, Adrian melepas pakaiannya dan memilih untuk membersihkan diri sebelum tidur. Naira yang masih menangis menghapus air matanya, ia memilih untuk memejamkan matanya.


setelah selesai mandi Adrian pun menghampiri Naira, ia melihat air mata yang membekas dipipi Naira. Adrian mengusap bekas air mata itu secara perlahan, agar tidak membangunkan Naira.


"maafkan aku Naira, aku tidak bermaksud membohongimu. aku tidak ingin membuatmu sedih dan memikirkan semua itu. aku tidak takut saat kamu marah dan membenciku, yang aku takutkan adalah jika kamu melupakan aku. kamu pernah bilang jika kamu melupakan aku, aku harus mengingatkanmu lagi. dan aku mengiyakan itu. tapi jujur Nara, aku tidak sanggup melakukan itu!" ucap Adrian mengelus rambut Naira, Adrian memiliki kesedihannya sendiri. "selamat malam istriku, semoga mimpi indah!" ucap Adrian lagi mencium kening Naira, ia menarik selimut Naira untuk menyelimuti istrinya itu. karena Naira memilih untuk sendiri, Adrian pun memilih untuk tidur ditempat lain. merasa Adrian telah pergi, Naira membuka matanya. Naira menangis lagi, ia menahan isak tangisnya dengan selimut.


"aku tidak tahu kak Anan, aku berjanji tidak akan melupakanmu!" ucap Naira menangis, ia terus terisak dimalam itu.


****


tiga hari berlalu, Naira masih betah didalam kamarnya. Jangankan bertemu Adrian, Naira bahkan tidak menerima makanan yang dikirim pelayan. Naira selalu diam jika Adrian memanggilnya, Adrian hanya bisa khawatir dan tidak bisa melakukan apapun. setiap hari Adrian memilih untuk ke kantor, dan saat pulang menempatkan diri untuk melihat Naira yang sudah tertidur, ataupun jika bangun Naira tidak mau bertemu dengannya.


hari ini Naira bangun disiang hari, Naira membersihkan kamarnya dan melangkah ke arah kamar mandi. Naira memilih untuk membersihkan dirinya, karena sudah beberapa hari ia tidak menyentuh air.


setelah keluar dari kamar mandi Naira terlihat sangat segar, Naira duduk didepan cermin menatap dirinya. mungkin hati Naira sudah membaik, ia tersenyum menatap dirinya dicermin. Naira memilih keluar kamarnya, saat itu juga beberapa pelayan melihat Naira terkejut.


"siangnyonya, apa yang nyonya inginkan?" tanya seorang pelayan, Naira tersenyum menuruni anak tangga.


"dimana tuan?" tanya Naira melihat sekeliling, Naira mencari keberadaan Adrian.


"tuan pergi pagi pagi sekali, tuan akan pulang malam ini nyonya!" ucap pelayan itu, Naira mengangguk mengerti.


"kami senang nyonya akhirnya keluar dari kamar, beberapa hari terakhir Nyonya berdiam diri membuat tuan sangat khawatir." ucap pelayan itu lagi, Naira tersenyum dengan ramah.


"iya, bisakah kalian membuatkan aku susu coklat hangat?" ucap Naira, pelayan itu tersenyum dan mengangguk. Naira berjalan kembali masuk kamarnya, ia sendiri merasa bersalah telah mendiamkan Adrian. Naira berpikir ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan Adrian, bahkan ia sudah memiliki rencana untuk itu.