Do You Remember?

Do You Remember?
Nadira dan Adnan.



dua tahun kemudian.


langkah kaki kecil berjalan ke arah Adrian yang sedang berkutik dengan pekerjaannya, sampai ia merasakan sesuatu yang menyentuh kakinya dan Adrian pun menoleh kearah kakinya. Adrian tersenyum melihat siapa yang ia lihat, sang buah hati yang sudah mulai berjalan dengan gerakan lambat dan juga menggemaskan. bayi Nadira kini menjadi balita kecil yang menggemaskan, dengan empeng dot bayi dimulut nya. Nadira mengulurkan tangannya bermaksud meminta gendong, tidak butuh waktu lama Adrian langsung mengangkat putri kecilnya itu. Adrian mendudukan Nadira dimeja menghadap dirinya, Adrian memandangi putrinya dengan perasaan gemas. kenapa tidak, bayi kecil dihadapannya itu sangat lucu. mulut yang menyedot empeng itu tersenyum melihat Adrian, tangannya memainkan ponsel Adrian yang berada diatas meja.


"kenapa kau sangat menggemaskan hm? " ucap Adrian mencium pipi gembul Nadira, ia melihat putrinya itu semakin berisi dan juga bertambah besar. empeng itu pun lepas dari mulut Nadira, karena tertawa saat Adrian mencium pipi gembulnya.


"mam.. mam.. mam.. " ucap Nadira menepuk pipi Adrian, dengan tersenyum Adrian semakin mencium putrinya dengan gemas. secara bersamaan bayangan seseorang berdiri di depan pintu, Adrian langsung menoleh dan melihat Naira berdiri disana. dengan membawa susu ditangannya, Naira berjalan menghampiri Adrian dan tersenyum melihat kebersamaan dua orang itu.


"kau tahu dia ini sangat nakal, aku memintanya untuk diam dan akan kembali memberinya susu. dia malah berjalan sampai kesini, dia sudah hafal tempat papanya dimana! " ucap Naira, ia menggendong bayi Nadira dan tidak lupa memberikan susu yang ia bawa. Adrian yang melihat itu mengambil alih gendongan Naira, dengan tersenyum Adrian membawa putrinya dalam gendongannya.


"dia sedang aktif Naira, biarkan saja! " ucap Adrian, ia masih memperhatikan Nadira yang meminum susu dengan menggemaskan.


"iya biarkan saja, bahkan aku tidak tahu dimana baby Adnan! " Adrian terkejut mendengar itu, ia hampir lupa kalau dirinya masih memiliki seorang putra. Naira menaikkan kedua bahunya, hal itu membuat Adrian mengerutkan keningnnya. "ayo bantu cari, aku sudah cari dimana mana tapi tidak menemukannya! " ucap Naira lagi, Adrian hanya menghela nafas dan mengangguk. mereka tidak khawatir saat kehilangan satu anak mereka, ataupun keduanya menghilang. karena mereka yakin kalau kedua anak kembar itu tidak akan jauh pergi, mereka hanya akan berputar putar dirumah besarnya.


"nan... nan... nan... " gumam Nadira memukul pundak Adrian, keduanya yang akan pergi dari sana pun melihat Nadira. bayi kecil itu melihat kearah belakang Adrian, sambil terus mengoceh yang tidak dimengerti Naira begitu juga dengan Adrian. "nan... nan... " ucap Nadira berulang, Adrian pun menoleh kearah belakangnya. kemudian melihat sebuah kaki kecil dibalik sofa besar disana, kaki siapa lagi kalau bukan kaki bayi Adnan. Naira dan juga Adrian langsung berjalan kearah kaki kecil itu, terlihat disana bayi Adnan sedang memegang botol susu yang diminum nya. bayi Adnan asik menyedot susu dibotol dan mendongakkan kepalanya ketika mendengar panggilan Nadira yang terus memanggil namanya.


"sejak kapan kamu disini hm? " ucap Adrian yang berlutut di hadapan bayi Adnan, dengan tersenyum Adnan berdiri dan menggapai Adrian minta untuk digendong. dengan senyuman Adrian menggendong kedua anaknya, Naira yang melihat itu tersenyum dan tertawa kecil. Adnan menepuk pipi Adrian dengan tangan kecilnya tidak lupa sang adik mengikuti kegiatannya, membuat Naira semakin gemas dan tertawa.


"mungkin mereka kesini bersama, tapi kamu hanya melihat Nadira! " ucap Naira, Adrian tertawa dengan itu.


"Nadira memegang kakiku, kalau dia tidak memegangnya aku mungkin juga tidak akan sadar kehadiran nya! " saut Adrian, Naira menggelengkan kepalanya dan mencubit pipi Adnan dengan gemas. mereka berempat pun berjalan keluar dari ruangan itu, mereka berniat untuk melakukan aktivitas di ruang khusus. Adrian melihat beberapa pelayan rumahnya menghela nafas, karena memang sebelumnya mereka semua mencari keberadaan kedua bayi itu. Naira hanya tersenyum, dan meminta mereka semua kembali pada pekerjaan masing masing.


...****************...


semua berjalan lancar dikehidupan keduanya, sampai bertahun tahun mereka lewati. sampai mereka yang disebut bayi pun tumbuh menjadi usia remaja, Naira yang sudah berumur tersenyum melihat foto yang dipajang, setiap dinding akan di hias dengan foto kedua anaknya. mulai dari bayi hingga mulai besar, sampai keduanya remaja dan dirinya menjadi berumur sama dengan Adrian. Naira mendengar sebuah mobil datang, dengan senyum Naira menoleh dan tentu yang ia pikirkan tepat.


gadis remaja berlari dengan seragam dan tas sekolahnya, ia berlari menghampiri Naira yang tidak lain adalah Nadira. di belakang gadis itu sang saudara kembar Adnan berjalan santai. Naira tersenyum melihat keduanya, mereka berdua langsung mencium pipi Naira secara bersamaan.


"ulangan Nadira bagus lagi! " ucap Nadira kegirangan, Naira menerima kertas yang sempat Nadira berikan. kemudian Naira menoleh kearah Adnan, dengan diam Adnan menyerahkan kertas miliknya. Naira terkejut melihat kertasa itu yang bernilai sempurna, 100 . Adnan hanya menaikkan kedua pundaknnya, Naira tersenyum dan mencium pipi Adnan dengan gemas. "Adnan gak mau ngasih contekan mama, jadinya Nadira hanya dapat nilai 98. tapi ranking Nadira dibawah Adnan, dia mendapatkan ranking satu! " jelas Nadira, Naira tersenyum melihat perbedaan kedua anaknya. Nadira terkenal gadis cerewet dan juga percaya diri yang melewati batas, mungkin itu mirip dengan ibunya. sedangkan Adnan seorang anak laki laki yang banyak diam, Adnan akan bicara kalau dirinya diperlukan untuk bicara. Adnan hanya menggunakan tindakan tanpa bicara, lebih tepatnya ia persis dengan Adrian yang tidak terlalu banyak bicara.


"he Adnan kamu juga tidak ajarin aku pas belajar, kamu biarin aku belajar sendiri meskipun aku tidak paham! " ucap Nadira melipat kedua tangannya, Adnan memasukkan kedua tangannya didalam saku celana.


"aku kakak mu, panggil aku kakak! " ucap Adnan singkat, Nadira menggelengkan kepalanya.


"gak mau! "


"kenapa, aku adalah kakakmu, aku lebih dulu lahir daripada kamu! " saut Adnan tidak mau kalah, Nadira menggelengkan kepalanya.


"tidak, kita seumuran dan hanya berbeda lima menit!" mereka berdua saling pandang, Adnan memang selalu dibuat kesal oleh Nadira. tapi hal biasa menurutnya, karena ia sadar diri kalau adiknya itu gadis yang nakal.


"apa yang kalian ributkan, hm? " suara Adrian menggema disana, Nadira tersenyum dan berlari kearah Adrian. tidak lupa ia melompat dan langsung ditangkap oleh Adrian, Nadira sangat suka saat Adrian menggendongnya. Adrian berjalan kemudian mencium kening Naira, dengan jail ia mencium pipi Naira dan alhasil mendapat pukulan kecil dari Naira.


"papa Nadira sama Adnan dapat nilai sempurna, ayo beri kami hadiah! " ucap Nadira dengan girang, Adrian tersenyum kemudian menurunkan putrinya. Adrian membawa kedua anak itu berdiri dihadapannya, Adrian duduk disofa dan tersenyum melihat keduanya.


"Kakak? " ucap Adrian menatap Nadira, dengan tersenyum Nadira menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "janji sama papa, gak boleh nakal. gak boleh ngelawan kakakmu, dan panggil dia kakak mulai sekarang! " ucap Adrian lagi, Nadira mengerucutkan bibirnya dan melihat Adnan yang berdiri di sampingnya.


"kalau gak mau manggil kak yasudah, mending diem gausah ngomong! " ucap Adnan ketus, Adrian yang mendengar itu sedikit terkejut kemudian tersenyum.


"papa boleh minta sesuatu pada kalian? " keduanya mengangguk secara bersamaan, kemudian Naira mendekat kearah Adrian dan ikut duduk disana. Naira penasaran apa yang ingin dikatakan Adrian, dengan senyum Adrian memegang tangan Adnan dan juga Nadira bersamaan. "kalian tidak boleh bertengkar, kalian harus akur dan bekerjasama hingga dewasa. kalian sama, tidak ada yang berbeda diantara kalian. Adnan sebagai kakak akan menjadi Nadira sebagai adikmu, kelak kenakalan Nadira kau yang harus mengurusnya! "


"baik pa, Adnan akan selalu menjaga adik! "


"Nadira juga, aku akan menjaga kakak! "


****


Assalamu'alaikum, apa kabar semuanya... semoga kalian sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT🙏 sudah lama banget rasanya cerita ini, dan gak tau kenapa Saya kepikiran untuk buat cerita sikembar disini. insyallah ceritanya akan disegerakan, ikutin author terus yaa🤗