Do You Remember?

Do You Remember?
Episode Empat Belas : Perasaan Benci



"Gimana?" Ameera bertanya dengan mata berbinar. Ia mengharapkan pujian keluar dari bibir Gala.


Wajah Gala sulit ditebak. Laki-laki itu hanya menampilkan raut datar kala mengunyah kue di dalam mulutnya.


Semangat Ameera turun drastis saat Gala tak kunjung mengucapkan apapun.


"Gak enak ya?" Tanyanya sedih. Ia berangsur mengambil piring yang masih berisi beberapa potong cupcake dia hadapan Gala. Tapi, Gala menahannya.


"Siapa bilang?" Tanya Gala lagi. Wajahnya lalu berubah menjadi jahil. Membuat Ameera yang melihatnya pun merasa kesal. Buru-buru ia layangkan pukulan kecil ke lengan yang lebih tua. "Ish!! nyebelin!" Ambeknya kemudian.


Gala tertawa melihat wajah kesal Ameera. Ia mengambil cupcake lainnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. "Mana pernah kue buatanmu gak enak?"


"Dih dihhhh!! Bisa aja omongannya. Manis banget!" Omel Ameera sebelum berdiri meninggalkan Gala.


"Ah!"


Gala menoleh ke arah Ameera, lalu bertanya "Kenapa?"


"Kamu gak ada janji apa-apa gitu hari ini?"


Gala menggeleng, "Enggak, aku free"


Ameera tersenyum lebar, "Yess!!! Kalo gitu kamu harus jadi kelinci percobaan ku hari ini ya, A'!! Gak ada alasan kenyang, terus kabur!!"


Gala mengangguk mengiyakan, "Iya, udah sana bikin kue lagi yang banyak!!" Lalu tersenyum tanpa mengacuhkan ponsel yang dari tadi bergetar kiat di saku celananya.


'Aku tunggu di gedung X jam 3 ya mas'


'Jangan telat!'


'Jemput aku bisa gak?'


'yaudah deh ketemuan disana aja! inget jangan telat!'


'Mas?'


......................


Shaqueena memberengut kesal. Sudah lewat satu jam dari janji temunya dengan Gala, namun Laki-laki itu belum terlihat batang hidungnya.


Ia sudah merasa tak enak dengan Staff WO yang juga ikut menunggu Gala.


Panggilannya tidak diangkat sedari tadi. Pesan yang ia kirim pun tak dibalas. Hanya dibaca.


Rasanya ia ingin marah, tapi ia tidak bisa. Setidaknya tidak disini.


Setengah jam kemudian berlalu. Shaqueena sudah jengah, begitupun dengan staff tadi.


"Masih lama, Mbak? Bisa sekarang saja, nggak? Waktu saya tidak banyak!"


Dapat Shaqueena tangkap nada kesal disana. Shaqueena jadi serba salah. Ia tak ingin melakukannya sendiri, tapi kalau begini, bisa-bisa rencana mereka ngaret.


"Duh yaudah deh sekarang Gak papa, maaf ya, Mas!" Ucapnya tak enak.


Baru saja mereka akan memulai, Gala tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Shaqueena.


"Maaf saya terlambat" Ucapnya singkat.


Shaqueena menghela napas lega, walau kesal, setidaknya ia tidak akan sendirian dalam mengambil keputusan nanti.


"Dari mana aja sih, Mas?" Tanya Shaqueena.


"Tadi ketemu investor sebentar" Jawab Gala.


Shaqueena mengangguk paham tanpa menaruh curiga. Lebih baik ia cepat memulai dari pada mendebat Gala.


Satu persatu Hall mereka lihat, kebanyakan Shaqueena yang bertanya. Gala hanya mengikuti dalam diam.


"Suka yang mana, Mas?" Shaqueena bertanya pada Gala tanpa menoleh ke arah pria itu.


Mendengar jawaban Gala, Shaqueena lalu menoleh. Dilihatnya pria itu tengah sibuk dengan ponselnya, mengetik sesuatu dengan senyum kecil yang tersemat. Shaqueena kesal. Bukan jawaban ini yang ingin ia dengar.


"Mas. Aku nyuruh kamu kesini bukan cuma buat jadi pendengar. Aku butuh masukkan dari kamu, Mas!" Sentak Shaqueena


Gala mengangkat wajahnya, menjatuhkan pandang pada wajah kesal Shaqueena.


"Kamu yang mau pernikahan ini, jadi semua aku serahin ke kamu. Aku ngikut aja"


Hati Shaqueena berdenyut nyeri. Entah mengapa ucapan Gala barusan seakan mengiris hatinya, menyenggol egonya.


Ia diam setelahnya. Mengabaikan Gala lalu kemudian berfokus pada Staff WO didepannya.


Hatinya sudah tidak nyaman. Yang ia inginkan hanya hari ini segera berakhir dan ia segera keluar dari sini.


Jujur, ia malu. Apalagi saat wanita yang merupakan staff WO yang duduk di hadapannya, menghadiahinya dengan tatapan heran.


Setelah selesai, Gala dan Shaqueena berjalan keluar. Mereka berjalan tanpa suara.


"Antar aku pulang, Mas!" Pinta Shaqueena saat mereka berdua sudah sampai diparkiran.


"Aku tadi kesini sama supir. Tidak bawa mobil sendiri" Aku gadis itu kemudian.


Gala hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.


Shaqueena mengikuti, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


Saat mobil itu berjalan keluar, mata Shaqueena tanpa sengaja menangkap presensi tas kertas dengan tulisan yang ia tau betul dari mana asalnya.


Ameera's Bakery Home


Lagi, hatinya kembali berdenyut.


'Investor katanya. Sudah mulai bohong rupanya' Keluhnya dalam hati.


"Mas" Panggil Shaqueena pelan.


"hm?"


"Jujur sama aku, kamu tadi habis kemana?"


Gala menoleh sekilas, sebelum mengembalikan atensinya ke jalan. "Aku bilang ketemu investor"


"investor nya Ameera ya?"


Tubuh Gala menegang seketika. "Jangan ikut campur"


"Berhenti, Mas!"


"Aku sama dia cuma teman"


"Kamu pikir aku percaya?"


"Terserah kamu saja. Aku sudah cukup mengalah dengan kemauan kamu yang ingin pernikahan ini dipercepat. Sekarang aku mohon kamu cukup tau diri untuk tak mencampuri urusanku sampai kita menikah nanti"


"..." Shaqueena diam seribu bahasa. Ia katup kan kedua bibirnya. Menahan tangis akan lukanya oleh perkataan Gala barusan.


Mas Galanya berubah. Dulu memang dingin, tapi saat Gala setuju untuk menjadi tunangannya, Gala menjadi hangat, sedikit demi sedikit.


Namun sekarang, kala Ameera kembali hadir dalam hidup Gala, Galanya kembali ke awal.


Ke Gala yang tidak tersentuh.


Shaqueena benci. Shaqueena benci pada dirinya, juga pada Ameera.


...****************...