Do You Remember?

Do You Remember?
menyukaimu.



Naira tidak mengatakan apapun saat Adrian mengigau, tapi hatinya terasa terenyuh mendengar suara Adrian. perasaan kasian dan merasa bersalah timbul dalam hatinya, tapi Naira tidak tahu kenapa semua itu malah muncul padanya.


seseorang datang mengambil alih mobil Adrian, orang itu berniat mengantar Naira untuk pulang terlebih dahulu. karena Adrian tidur dengan pulas pada pangkuan Naira, Naira mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Naira berniat membiarkan Adrian tidur hingga bangun dengan sendirinya, karena Naira merasa kasihan ketika melihat Adrian sakit dan terlihat lemah.


entah sejak kapan Naira tertidur, saat membuka mata Adrian sudah duduk disampingnya dan menatap Naira dengan senyuman. Naira merapikan rambutnya dan tersenyum, Adrian tersenyum dan melihat tengah kepalanya yang masih terasa sakit. sebenarnya Adrian sudah bangun sejak seseorang datang dan mengambil alih mobilnya, karena tidak ingin pergi dari pangkuan Naira Adrian berpura pura tidur dan bahkan memberikan isyarat pada orang itu untuk tetap diam.


pada saat sudah tidak merasakan pijatan Naira, Adrian mendongakkan kepala dan melihat Naira tertidur pulas. Adrian mendudukan dirinya dan menatap Naira yang sedang tidur, Adrian juga meminta supir yang ada didepan untuk turun dari mobil. karena Adrian ingin sendiri dengan Naira didalam mobilnya, bahkan Adrian mencuri satu ciuman dibibir Naira mengecupnya dengan sekilas.


"pak, sejak kapan anda bangun?" tanya Naira yang akhirnya bicara, Adrian tersenyum pada Naira. entah sudah berapa kali Adrian memasang senyuman itu dalam satu hari, dan senyuman yang banyak itu hanya diberikan pada satu orang yaitu Naira.


"baru saja, mungkin aku membuatmu bangun?" saut Adrian, Naira menggelengkan kepala.


"tidak pak, maaf saya ketiduran!" ucap Naira, Adrian mengangguk dengan itu.


"terima kasih Naira, saya berhutang hari ini pada kamu!" saut Adrian tersenyum, Naira membalas senyuman itu.


"saya hanya membantu pak, dan tidak termasuk hutang kok. anda tenang saja, oh iya ini obat anda tolong diminum ya!" pinta Naira, Adrian menerima obat itu dan mengangguk.


"iya saya pasti minum, dan maaf karena keadaan saya yang tiba tiba sakit kamu jadi belum makan malam!" ucap Adrian menyesal, Naira tersenyum dan menggelengkan kepala pada Adrian.


"iya pak, tidak apa apa. lain kali juga bisa!"


"lain kali, itu artinya saya boleh mengajak kamu makan malam lagi?" ucap Adrian dengan cepat, Naira terdiam dengan itu. Naira merasa salah bicara dan tidak seharusnya bicara seperti itu.


"iya seperti itu pak, anggap saja iya!" ucap Naira lirih, Adrian mengangguk dan berpura pura tenang. dalam hatinya bersorak gembira, karena kekasih hatinya itu mengatakan hal yang ia inginkan. "pak kalau begitu saya pulang dulu, itu rumah saya!" ucap Naira menunjuk rumahnya, Adrian mengangguk.


"iya saya sudah tau!"


"maksud anda sudah tau?"


"ya.. pasti saat berhenti disini, ini pasti rumah kamu kan!" ucap Adrian meralat ucapannya, Naira mengangguk dengan itu. hampir saja lupa, Naira teringat dengan Adrian yang sedang mengigau. Naira menatap Adrian dan masih ragu untuk bertanya, Adrian yang melihat itu merasa Naira menyimpan satu pertanyaan dimatanya.


"apa kamu punya pertanyaan?" ucap Adrian, Naira terkesiap dan mengangguk pelan. "katakan, tanyakan saja apa yang kamu tanyakan!" ucap Adrian lagi, Naira menarik nafas dan menatap Adrian.


"tadi anda tidur, dan dalam tidur itu anda sempat mengigau. anda mengatakan bahwa anda merindukan seseorang, lalu kenapa anda menyebut nama saya pak?" ucap Naira dengan pelan, Adrian yang mendengar itu terkejut. tapi Adrian tidak terkejut karena ia mengigau, ia terkejut saat mengigau seperti itu dihadapan Naira. Adrian bingung harus menjawab apa, karena ia selalu mengigau seperti itu dirumahnya.


"saya mungkin tidak sengaja, karena beberapa bulan terkahir saya tidak enak tidur karena setiap tidur saya akan mimpi buruk ataupun mengigau seperti itu!" ucap Adrian, ia berdoa agar Naira mempercayainya.


"tapi kenapa anda mengatakan merindukan saya, apakah setiap hari begitu?"


"iya, maksud saya itu saya akan mengatakan nama yang saya liat sebelum tidur. maka seperti itu Naira, apa kamu merasa tidak enak?" umtanya Adrian, dengan cepat Naira menggelengkan kepala.


"ya sudah kalau begitu, saya kembali dulu!" ucap Naira kemudian turun mobil, sebelum turun Adrian menarik tangan Naira. hingga membuatnya jatuh dalam dekapan Adrian, Naira terkejut dengan tindakan Adrian yang seperti itu. Naira tidak menginginkan hal itu terjadi, tapi hatinya tidak bisa berbohong karena menyukai pelukan Adrian.


"biarkan seperti ini, saya ingin memelukmu sebentar!" bisik Adrian dengan mengeratkan pelukannya, Naira hanya terdiam dan tidak bergerak. perlahan tapi pasti, Naira menggerakakan tangannya untuk membalas pelukan Adrian. Naira juga mengelus punggung Adrian, merasakan itu Adrian semakin mengeratkan pelukannya.


"saya lelah Naira, saya capek dengan keadaan saya seperti ini." ucap Adrian lagi, Naira tidak mengerti dengan perkataan Adrian dan ia memilih untuk tetap diam. Adrian melepas pelukannya dan menatap Naira yang terdiam, Naira sendiri menatap wajah Adrian.


"apakah sudah ada orang lain didalam hatimu?" tanya Adrian, Naira terkejut dengan itu. karena tidak menyangka Adrian akan bertanya seperti itu, dan apa maksud pertanyaan yang diucapkannya.


"ma... maksud anda apa pak Adrian?" ucap Naira dengan gagap, Adrian menyelipkan rambut di belakang telinga Naira. Adrian tersenyum menatap Naira.


"karena jika tidak ada, saya ingin mengisi hati kamu yang kosong. saya akan memberikan hati saya padamu, saya menyukai kamu Naira!" ucap Adrian menyatakan perasaannya, Naira terkejut dengan itu. Naira tidak percaya Adrian tiba tiba menyatakan perasaannya. Naira terdiam dan menatap Adrian, Naira ingin mencari letak kebohongan Adrian yang mengatakan menyukainya. tapi ia tidak menemukan kebohongan itu, dan semua dikatakan Adrian serius dan tulus.


"maaf pak, ini sudah larut saya pergi dulu!" ucap Naira melepas tangan Adrian, bukannya lepas Adrian mengeratkan cengkramannya.


"bolehkah Naira, bolehkah saya menyukaimu?" ucap Adrian lagi, Naira melepas tangan Adrian dengan kasar.


"saya harus pergi, permisi!" ucap Naira turun mobil dan langsung berlari meninggalkan Adrian, didalam mobil Adrian hanya terdiam dan menatap kepergian Naira. semenit kemudian ia tersadar, karena melakukan hal bodoh dengan mengatakan hal seperti itu.


dibalik jendela kamarnya Naira menatap mobil Adrian yang belum pergi. Naira tidak percaya Adrian mengatakan menyukainya, dan itu membuat jantung Naira berdegup kencang. karena belum pernah seseorang mengatakan itu padanya, dan sekarang yang mengatakan itu adalah bosnya yang baru bertemu dengannya kemarin.


"bagaimana dia bisa nenyukaiku, apakah itu lelucon?" ucap Naira sendiri, tidak berapa lama mobil Adrian pergi dari sana. Naira berlari kearah kasurnya, ia menutup dirinya dengan selimut. bahkan ia menutup telinganya, suara Adrian yang menyukainya terus menggema di telinganya.


****


keesokan harinya Naira datang ke kantor seperti biasa, Naira sebenarnya ragu datang karena takut bertemu Adrian. ia berjalan dengan perlahan masuk gedung kantor Adrian, dadanya terus berdebar karena tidak harus berbuat apa saat bertemu Adrian nanti. sampai suara seseorang memanggilnya dan membuatnya terkesiap.


"Naira!!!"


Naira menoleh keasal suara keras yang memanggilnya, terlihat Siska berjalan kearahnya dengan senyuman.


"aku memanggilmu dari tadi, apa yang kamu lamunkan?" ucap Siska tersenyum, Naira menggelengkan kepalanya.


"tidak ada Siska, hanya saja aku sedikit mengantuk!" saut Naira, mereka berjalan ke arah lift.


"kenapa mengantuk, apa kamu tidak tidur?" tanya Siska, Naira mengangguk pelan dengan itu. karena benar adanya ia terjaga semalaman, karena suara Adrian menyukainya terus menggema di telinganya. saat tangannya ingin menekan tombol lantai lift, seseorang menghadang pintu lift itu sehingga terbuka kembali. Naira membulatkan matanya ketika melihat tangan siapa itu, dan ternyata tangan Adrian. Adrian yang membuatnya tidak tenang, sekarang berdiri dihadapannya.


"apa sudah penuh?" tanya Adrian dengan tenang, Siska yang melihat itu senang karena dibelakang Adrian juga ada Johan.


"silahkan masuk pak, sangat luas didalam!" ucap Siska senang, dengan mendahului Adrian Johan masuk dan berdiri disamping Siska. dengan perasaan yang canggung, Adrian berdiri disamping Naira. saat ingin menekan tombol lift, Adrian dan Naira melakukan hal itu secara bersamaan. dengan cepat Naira memundurkan tangannya, setelah menekan tombol lantai Adrian melipat kedua tangannya.


apa dia marah padaku, tidak dia tidak boleh marah padaku.


anggap saja tidak terjadi apapun.


secara bersamaan Adrian dan Naira saling menoleh, dengan cepat mereka membuang muka mereka pada arah berlawanan. Naira mencengkram rok spannya sendiri, Adrian sendiri mengepalkan tangannya dan menahan rasa malu. tiba tiba saja lift berhenti, Adrian melihat berhenti dilantai yang berbeda.


"pak Adrian saya berhenti disini ya, dan Naira saya akan bawa teman kamu ini!" ucap Johan menarik tangan Siska, Naira ingin mencegahnya tapi langkah Johan sangat cepat hingga pintu liftnya tertutup kembali. Adrian hanya terdiam tidak mengatakan apapun, Naira pun memilih untuk diam.


jika Adrian membiarkan semua ini berlanjut, Naira tidak akan mau bicara lagi dengannya. Adrian menoleh kearah Naira, dan secara bersamaan Naira menoleh kearah Adrian. kali ini mereka saling menatap satu sama lain, tangan Adrian menekan tombol berhenti pada liftnya karena ia tidak ingin lift tiba tiba berhenti saat ia bicara dengan Naira. Naira terkejut lift itu berhenti dan melihat kurang dua lantai yang harus dilewati.


"saya yang menghentikannya!" ucap Adrian, Naira menoleh kearah Adrian yang masih menatapnya.


"kenapa pak, nanti ada yang menaimi lift ini bagaimana?" ucap Naira dengan ragu, Adrian hanya tersenyum menatapnya.


"lift ini khusus presdir, dan yang berhak menaikinya adalah kita dan mereka berdua!" ucap Adrian, Naira teringat bahwa Siska membawanya naik lift khusus presdir. tidak heran Adrian bisa muncul dilift itu, Naira tersenyum canggung. "kamu tidak tidur?" ucap Adrian lagi, karena sedari tadi Adrian melihat mata Naira yang lelah dan sedikit menghitam disana. Naira mengangguk pelan dan menundukkan kepala.


"kenapa tidak tidur?" tanya Adrian lagi, Naira mendongakkan kepala dan menatap Adrian.


"bagaimana saya bisa tidur, setelah anda mengatakan hal semacam itu pada saya kemarin malam!" saut Naira dengan cepat, kemudian terdiam kembali. Naira menyesal mengatakan itu, kecanggungan semakin bertambah. Adrian pun menekan tombol lagi dan menunggu lift sampai. sesudah sampai pintu lift terbuka, dengan cepat Naira berjalan keluar. Adrian mengikuti langkah Naira dari belakang, Naira sendiri terus bejalan keruangannya. saat ingin masuk, Adrian menarik tangan Naira membuat Naira terdiam ditempat.


"jika kamu tidak menyukai saya hari ini, saya pastikan kamu akan menyukai saya dalam waktu singkat!" ucap Adrian, Naira menoleh dan menatap Adrian yang tersenyum padanya.


"ingat Naira, kamu akan mengatakannya padaku nanti!" ucap Adrian dan berlalu pergi keruangannya, Naira masih berdiri mematung dengan perkataan Adrian. perkataan Adrian membuatnya berdebar, suara hati dan detak jantung berderu satu sama lain. perasaan aneh saat bertemu Adrian saat pertama kalinya, kini semakin dirasakan Naira.


"dalam waktu singkat, apa maksudnya. dan bagaimana mungkin, aku menyukai presdir ku sendiri!"


****


Assalamualaikum semuanya... gimana cerita Adrian dan Naira nya, semoga semakin seru ya... oh iya author buat cerita baru loh, judulnya Pahit & Manis. author ingin kalian juga membacanya dan semoga kalian menyukai isi ceritanya, dan author juga butuh saran/kritikan like dan dukungan kalian.


udah author hanya mau bilang itu, oh iya SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA bagi yang menjalankan.


Jangan lupa like, komen dan vote kalian😍.


note: Dan jangan lupa mampir di Pahit & Manis.