
hari yang sama Naira dan Siska duduk disebuah meja, mereka menunggu kedatangan Johan dan Adrian. Naira dan Siska saling bicara dan sesekali tertawa, terlihat juga dari jarak agak jauh Johan dan Adrian sedang bicara dengan seseorang. mungkin membahas tentang masalah pekerjaan, sedangkan Naira dan Siska memilih menu restoran itu. setelah itu Siska memperhatikan Naira dan melihat kalung baru yang dipakai Naira, Siska berpikir itu pemberian Adrian
"Naira kalungmu baru ya?" tanya Siska, Naira mengangguk dan tersenyum.
"apa itu pemberian pak Adrian?" tanya Siska lagi, Naira tersenyum.
"iya tadi saat dikamar dia memberikan ini, katanya ini khusus ia buat!" ucap Naira, Siska tersenyum dan mengangguk
"jadi tentang teman masa kecilmu, bagaimana?" tanya Siska, Naira terdiam dan menyentuh kalung yang ia pakai, kalung itu sama persis dengan kalung yang ia gunakan pemberian dari Adnan.
"aku menunggunya Sis, tapi dia tidak pernah datang padaku. dia memiliki dunianya sendiri disana, bahkan aku juga disini. entah kenapa hatiku meminta untuk melupakannya saja, mungkin karena disini ada seseorang yang sudah aku cintai." saut Naira tersenyum, Siska pun tersenyum dan menyentuh tangan Naira.
"keputusanmu benar, jika suatu saat dia kembali katakan padanya. dunia kalian sudah bukan dunia masa kecil, kamu punya masa depan bahkan dia juga. kamu tidak bisa hidup dengan terus menunggunya, sekarang ada pak Adrian yang akan memberimu cinta dan kepastian!" ucap Siska, Naira mengangguk dan tersenyum.
"iya Sis, semoga saja seperti itu!" ucap Naira, Siska tersenyum dan mengangguk. Naira memperhatikan jari siska yang memakai cincin sangat indah dilihat.
"jadi dia melamarmu?" ucap Naira, Siska melihat jarinya.
"tidak, ini hanya sebuah hadiah!" saut Siska meminum jus miliknya, Naira tersenyum.
"hanya hadiah,?" tanya Naira, Siska tersenyum.
"aku beranikan diriku, untuk menyatakan perasaanku padanya..." ucap Siska, Naira memasang ekspresi ingin mendengar ceritanya, Siska pun menceritakannya pada Naira.
Flashback.
kejadian dimana Naira hampir saja dilecehkan, setelah Adrian merasa tenang dan tidak terjadi apapun pada Naira. Johan membawa Siska untuk berkeliling pulau itu, mereka duduk disebuah pasir pantai disana. Siska masih khawatir dengan keadaan Naira, Johan mencoba menenangkannya.
"jangan dipikirkan, tidak terjadi apapun pada Naira. kamu jangan khawatir!" ucap Johan, Siska menoleh kearah Johan.
"pria brengsek itu, dia benar benar ingin melakukan itu. seharusnya aku tidak meninggalkan Naira sendiri, seharusnya aku membawanya tadi. itu salahku pak, aku bersalah." ucap Siska menangis, Johan mengelus rambutnya.
"ini bukan salahmu, itu sudah terjadi. makan biarkan saja, lagi pula Adrian tidak akan membiarkan siapapun yang menyentuh miliknya akan lolos!" saut Johan, Siska menyeka air matanya.
"iya benar, seharusnya biar saja dia dipukuli sampai mati." ucap Siska, Johan tersenyum.
"disini memang benar benar berbeda Siska, malam ini saya lebih menyukainya!" ucap Johan, Siska menatap Johan.
"tadi anda sudah mengatakan itu, memangnya apa yang membuat berbeda?" tanya Siska, bukannya menjawab Johan malah berdiri dan menggandeng tangan Siska dan membawanya berkeliling dipesisir pantai itu. Siska mengikuti langkah Johan, Johan tersenyum melihat Siska tersenyum.
"ada apa pak, apa anda menyukai tempat ini?" tanya Siska, Johan mengangguk dengan menggenggam tangan Siska ia membawa nya terus berjalan.
"sangat suka, apa kamu menyukai nya?!" ucap Johan. Siska mengangguk.
"iya saya suka, disini juga banyak turis." saut Siska, Johan teringat ada sesuatu dalam kantong celananya.
"aku punya sesuatu untukmu!" ucap Johan, ia menghentikan langkahnya dan menyuruh Siska untuk menutup mata. Siska menutup matanya, Siska merasakan Johan menyentuh tangannya dan memasangkan sebuah cincin disana.
"em.. aku membuatnya khusus untukmu, terima kasih sudah menjadi rekan saya selama ini!" ucap Johan, Siska terdiam menatapnya.
"entah kenapa saat saya menemani Adrian membuat kalung khusus, saya juga ingin membuatkannya untukmu!" ucap Johan membelakangi Siska.
"terima kasih sudah menjadi teman saya, kemana pun saya pergi kamu selalu menemani saya dan membantu pekerjaan saya. saya sangat senang memiliki rekan sepertimu!" ucap Johan lagi.
"Siska saya ingin mengatakan kalau..."
"saya menyukaimu pak!" belum selesai Johan berucap suara Siska menghentikannya, Johan berbalik untuk melihat Siska. terlihat Siska tersenyum dan meneteskan air mata.
"bisakah saya mengisi hatimu, bisakah saya menjadi orang yang paling penting dalam hidup anda. saya ingin menjadi teman, rekan, sahabat bahkan menjadi orang paling anda cintai. saya ingin anda mencintai saya, karena saya sangat mencintai anda. apakah boleh saya mencintai bos saya sendiri?" ucap Siska, Johan terdiam membatu dengan pengakuan Siska.
"entah kapan saya memiliki perasaan pada anda, saya sangat senang jika selaku bersama anda. perjalanan bisnis, rapat, keperluan, pekerjaan semua anda lakukan itu hampir setiap saat bersama saya, mungkin karena itu saya mulai mencintai anda. aku tidak tahu tentang perasaan anda pada saya, saya hanya ingin mengatakannya kalau saya mencintaimu pak Johan!" ucap Siska lagi menunduk, tanpa menjawab Johan melangkahkan kakinya mendekat kearah Siska. tanpa mengatakan apapun Johan menarik tengkuk Siska, dan mencium bibir Siska. Siska sempat terkejut dengan itu, tapi perlahan Siska membiarkan apa yang dilakukan Johan.
"apa kau tidak kelah bicara?" ucap Johan melepas ciuman itu, Siska merasa sangat malu dan hanya menutup mata.
"kenapa kamu mendahului saya, seharusnya saya yang katakan semua itu. Siska lihatlah aku, tatap aku!" ucap Johan, Siska mendongakkan kepala dan mulai menatap Johan. kedua nya saling menatap, terlihat jelas dimata keduanya memiliki perasaan yang sama.
"bisakah kamu memberikan hatimu untukku, Siska biarkan aku menjaga hatimu. biarkan aku mencintaimu, ijinkan aku untuk selalu melindungimu. berikan aku cintamu, maka alan kuberikan cinta seluruh dunia ini untukmu. Siska bisakah aku mencintaimu, bisakah?" ucap Johan, Siska tersenyum dan mengangguk. tanpa ragu Siska memeluk Johan dengan erat, Johan membalas pelukan itu..
"aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" ucap Siska, Johan melepas pelukan itu dan menatap Siska.
"jangan menangis, aku juga sangat mencintaimu!" ucap Johan, Siska mengangguk dan tersenyum. Johan mendekati wajahnya pada Siska, untuk mencium Siska lagi. tanpa penolakan Siska membalas ciuman itu, malam itu menjadi malam yang paling bahagia untuk mereka yang telah menyatakan cintanya.
Flashback off.
"ya.. malam itu first kiss ku, dia yang mengambilnya!" ucap Siska menunduk, Naira memukul lengan Siska.
"jangan pura pura sedih, kau bahagia kan?" ucap Naira, Siska tertawa dan mengangguk.
"hm.. aku pikir pulau ini memberikan kita cinta, benarkan?" ucap Naira, Siska mengangguk dan tertawa lagi.
"iya, tapi Naira maafkan aku ya. seharusnya aku tidak ninggalin kamu waktu itu, kalau saja aku disana semua itu tidak akan terjadi!" ucap Siska, Naira tersenyum dan memegang tangan Siska.
"jangan dipikirkan, semua sudah berlalu. bukan salah siapa siapa, karena tidak ada yang menginginkan hal itu!" ucap Naira, mereka saling tersenyum.
setelah beberapa menit Adrian dan Johan menghampiri mereka, mereka duduk dikursi yang disediakan oleh Siska dan Naira. Adrian tersenyum melihat Naira begitu sebaliknya.
"kalian membicarakan apa, sepertinya dari jauh aku lihat sangat asik?" tanya Johan tersenyum, Siska pun tersenyum.
"hanya masalah nanti malam Naira ingin berkeliling dipantai, dan dia ingin sekali pak Adrian membawanya berkeliling!" ucap Siska mengetiokan matanya, Naira menendang kaki Siska.
"tidak, itu tidak benar. dia berbohong, tadi itu kita bercerita tentang dia dan anda pak Johan!" saut Naira, Siska terkejut dengan itu begitu juga dengan Johan. Siska dan Johan merasa malu bersamaan, Adrian hanya diam dan tersenyum tipis.
"jangan terlalu jujur, kasian mereka menahan malu. kalau itu yang kamu inginkan, aku akan membawamu berkeliling nanti!" ucap Adrian lembut, Naira mengangguk dan tersenyum.
"kita bisa pulang besok, jadi malam ini terakhir malam kita disini!" ucap Johan.
"loh bukannya lagi pancaroba, apa tidak berbahaya?" tanya Naira, Adrian memegang tangan Naira.
"tidak, cuaca nya berubah. dipastikan besok aman, jadi kita akan kembali lebih awal!" ucap Adrian, Naira mengangguk.
"pak bagaimana dengan proyekmu, apakah dibatalkan?" tanya Naira lagi, Adrian tersenyum.
"tentu saja, aku sudah tidak ingin proyek itu."
"untuk apa minta maaf pada ******** itu, seharusnya dia yang minta maaf. lagi pula aku masih bisa mendapatkan proyek lain, aku sudah tidak peduli dengan proyek itu." ucap Adrian sedikit meninggi, Naira terdiam dengan itu.
"pak Adrian benar Naira, untuk apa minta maaf. dia yang membuat masalah, jadi itu sudah pelajaran yang pantas untuknya!" ucap Siska, Naira mengangguk.
"iya itu benar!"
suara seseorang membuat keempat orang itu menoleh, terlihat Fandi duduk dikursi roda menghampiri mereka. Naira terkejut melihat Fandi, ia sedikit mundur dibelakang Adrian. bahkan Johan dan Siska menutupi Naira, mereka berpikir Naira masih ketakutan melihat Fandi.
"untuk apa kau disini?" tanya Adrian dengan angkuh, terlihat Fandi tersenyum dengan itu.
"aku hanya ingin bertemu dengan nona Naira, ada sesuatu yang ingin aku katakan!" ucap Fandi, Adrian melotot kearahnya.
"jangan bicara, melihatnya saja tidak akan kubiarkan kau melakukannya!" ketus Adrian meskipun terlihat tenang, Fandi melihat kearah Naira yang menatapnya ketakutan.
"nona Naira saya ingin minta maaf padamu secara pribadi, saya tidak tahu apa ya g sedang saya pikirkan dan lakukan malam itu. setelah saya berpikir memang ini salah saya, bahkan saya mengatakan banyak hal buruk pada mu. semua ini pantas saya dapatkan, saya tidak marah pada Adrian!" jelas Fandi, beberapa orang berbisik disana. banyak yang mengatakan Naira tidak perlu memaafkannya, pria itu telah membuat Naira menjadi ketakutan.
"jika kamu tidak mau memaafkan saya tidak masalah, saya hanya ingin mengatakan itu saja. saya juga tidak memaksa kamu untuk memaafkan saya!" ucap Johan lagi, perlahan Naira melangkah maju dari belakang Adrian. dengan memegang tangan Adrian, Naira tersenyum.
"pak Fandi itu hanya kecelakaan, saya sudah memaafkan anda. itu sudah berlalu jadi tidak perlu diingat lagi, yang lalu biarlah berlalu!" ucap Naira, Naira tersenyum kearah Adrian. Adrian mengangguk dan tersenyum.
"iya terima kasih, sebagai permintaan maaf saya telah mengasetkan pulau ini atas namamu. tolong diterima maka saya akan merasa kamu telah benar benar memaafkan saya, bagaimana?" Naira terkejut, ia melihat pada Adrian. Adrian hanya menatap Fandi dan tidak mengatakan apapun.
"em.. saya tidak bisa..."
"dia tidak perlu mendapat apapun darimu, aku bisa membeli pulau mana pun yang aku inginkan. bahkan aku akan membeli pulau ini jika Naira menginginkan," ucap Adrian, Naira melihat wajah Fandi yang kecewa.
"pak Fandi, sudah saya katakan. saya sudah memaafkan anda, dan saya tidak meminta apapun. juga anda tidak perlu memberikan apapun!" ucap Naira, Fandi pun tersenyum.
"iya, terima kasih. kalau begitu saya permisi!" ucap Fandi, Naira mengangguk. setelah kepergian Fandi, Adrian duduk ditempatnya. Naira menatap Adrian yang mendiamkannya, Johan dan Siska pun tampak bingung harus bagaimana.
"kenapa kalian menatapku, apakah dengan menatapku kalian akan kenyang?" tanya Adrian, Naira tampak masih bingung.
"siapa tadi yang ingin minta maaf?" ucap Adrian, mereka menoleh kearah Naira.
"minta maaf apa, baru muncul orangnya saja sudah takut!" ucap Adrian lagi, Siska dan Johan tertawa melihat Naira kesal.
****
malam harinya Adrian menggandeng tangan Naira, mereka menyusuri pantai dan menikmati angin malam disana. Naira sangat bahagia dengan itu, begitu juga dengan Adrian. mereka saling tersenyum, mereka mendudukan diri mereka diatas pasir. Naira yang tidak memakai jaket merasa kedinginan, tapi Adrian memasangkan jaketnya.
"sangat dingin, pakai ini!" ucap Adrian, Naira tersenyum.
"sepertinya Johan sudah melamar Siska?" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum.
"hanya satu yang belum!" ucap Adrian, Naira menatapnya.
"apa yang belum?" tanya Naira, Adrian tersenyum dan menidurkan dirinya diatas pasir dan menatap bulan bintang dilangit.
"malam yang indah bukan?" tanya Adrian, Naira tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada laut.
"benar benar indah, suasana yang menenangkan!" saut Naira, Adrian mendudukan dirinya dan memeluk Naira dari belakang.
"kita akan kembali besok ya?" ucap Naira, Adrian mengangguk dan menumpangkan dagunya pada bahu Naira.
"iya, kenapa?" Naira menggelengkan kepala.
"tidak tahu kenapa, aku selalu ingin bersamamu. rasanya aku telah jauh darimu begitu lama, jadi saat kamu sudah bersamaku aku tidak ingin kita berjauhan lagi!" ucap Naira, Adrian tersenyum.
"aku berjanji padamu, kita tidak akan berjauhan lagi. aku akan terus bersamamu, kita akan terus bersama apapun keadaannya!" ucap Adrian, Naira terdiam.
"apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Adrian, Naira berbalik dan memeluk Adrian.
"iya kamu tidak boleh meninggalkan aku, aku tidak ingin ditinggalkan!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan memegang tengkuk Naira.
"aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi padamu aku akan terus bersamamu!" ucap Adrian, Naira mengangguk. Adrian menyeka air mata yang keluar dipipi Naira, sesaat mereka saling menatap.
"Naira?" ucap Adrian, Naira menatapnya.
"Naira bolehkah aku, maksudku aku ingin..." ucap Adrian dengan ragu, Naira tahu apa yang di inginkan kekasihnya itu. Naira tidak menyangka, Adrian akan meminta ijin padanya.
"hm.. lupakan, ayo kita istirahat!" ucap Adrian berdiri, saat ingin berdiri Naira menarik tangan Adrian hingga wajahnya mereka dekat.
"ingin ini (cup)" ucap Naira dan mencium bibir Adrian sekilas, Adrian terkejut dengan itu. Naira sangat malu, ia berdiri dengan cepat. tapi dengan cepat Adrian menarik Naira, hingga berada dalam dekapannya.
"bolehkah aku menciummu hari ini?" ucap Adrian, dengan malu Naira mengangguk pelan. Adrian tersenyum dan menarik pinggang Naira, Naira menyentuh dada Adrian dan merasakan detak jantung yang cepat.
"aku mencintaimu!" ucap Adrian yang perlahan mendekat ke wajah Naira, Naira memejamkan matanya karena merasa Adrian sudah hampir menciumnya.
HIK!!!
saat hampir mencium Naira, Adrian terkejut ketika mendengar Naira cegukan. Naira menutup mulutnya dan merasa sangat malu. Naira berdiri membelakangi Adrian, Adrian tertawa dengan itu.
"maaf hik... aku ter.. hik.. terlalu gugup hik... hik..." ucap Naira disela cegukannya, Adrian tersenyum dan mengelus punggung Naira.
"sangat bodoh, kenapa harus gugup." ucap Adrian, Naira menatapnya dengan masih cegukan.
"kamu.. hik.. ini menyik.. hik.. menyiksa.. hik.." ucap Naira, Adrian tertawa.
"iya ayo kita kembali, kamu harus minum!" ucap Adrian, Naira mengangguk. Adrian menggandeng tangan Naira, dan membawanya kembali ke hotel. Adrian melihat Naira yang cegukan dengan menggigit jarinya, Adrian tersenyum dan menggelengkan kepala.
hampir saja, kenapa harus cegukan.
memalukan, kenapa harus gugup sampai cegukan sih.
***
jangan lupa like, komen dan berikan vote sesuka kalian😍