
Selamat menunaikan ibadah puasa, untuk yang sedang menjalaninya. tetap semangat selalu, dan diberikan kesehatan selalu. Amin...
Selamat membaca :)
keesokan harinya, Naira pergi ke kantor sesuai perintah Adrian. Naira berusaha melupakan kejadian kemarin, ia melupakan perasaan gelisah yang menimpanya. ketika baru sampai, secara bersamaan mobil Adrian datang. Naira menghentikan langkahnya, ia melihat Adrian yang turun dari mobil. Naira berpikir untuk mengucapkan selamat pagi, tapi dirinya melamun ketika menatap Adrian.
dengan menawan Adrian turun dari mobil, membuat siapa saja terpana melihatnya. dengan diikuti beberapa asisten, ia berjalan angkuh masuk kedalam gedung itu. Naira hanya terdiam menatap Adrian, sejenak matanya berbinar terpana melihat ketampanan Adrian. Naira berkhayal Adrian datang padanya dan tersenyum, tapi itu semua bukan khayalan Naira. Adrian memang berjalan menghampiri Naira, membuat Naira terkesiap melihatnya.
"se..selamat pagi pak presdir!" sapa Naira yang ragu mengucapkan, Adrian mengangguk berdiri dihadapannya.
"selamat pagi, apa kabarmu?" ucap Adrian, Naira mengangguk.
"saya baik baik saja pak, terima kasih!" saut Naira tersenyum, Adrian membalas senyuman Naira. semua asisten Adrian terkejut, karena melihat bos mereka tersenyum. Naira sendiri terkejut karena bos yang ia tahu seorang pria galak dan angkuh, sekarang tersenyum untuknya dihadapan semua orang.
"hari ini kamu mulai bekerja, kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan. benar?" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan percaya diri.
"saya tau pak, pagi ini tugas saya membuat kopi untuk anda." saut Naira, Adrian mengiyakan itu.
"iya buatkan saya kopi tanpa gula!" ucap Adrian dan berlalu pergi, Naira yang terdiam hanya bisa melihat kepergian Adrian.
"kopi pahit?"
dengan senyuman, Adrian meninggalkan Naira. dalam hatinya mengatakan jika Naira ingat, Naira tidak akan membiarkan dirinya minum kopi pahit dipagi hari. Adrian ingin melihat apa yang akan dilakukan Naira, ia berharap Naira mengingat kopi kesukaannya.
****
Naira langsung pergi ke pantry, ia segera melaksanakan perintah Adrian. tanpa berpikir Naira mengambil cangkir, dan kopi yang akan ia buat. bukannya membuat kopi tanpa gula, Naira malah memberikan susu dalam cangkirnya itu. Naira masih tidak sadar dengan yang ia lakukan, Naira mengisi air panas dan mengaduknya sedikit lama.
"oh tidak!" ucapnya ketika sadar dengan kesalahannya, kopi hitam itu menjadi warna coklat. "bagaimana ini, kenapa aku bisa membuat hal lain!" ucapnya lagi. saat ingin mengganti kopi itu, Naira berpikir Adrian sudah menunggunya lama. Naira segera membawa kopi itu, dan berharap Adrian tidak memarahinya. Naira tidak sadar bahwa yang ia lakukan sekarang, adalah hal yang biasa ia lakukan untuk Adrian dulu.
dengan gugup Naira mengetuk pintu Adrian, ia langsung masuk ketika mendapat suara dari Adrian. Naira berjalan kearah meja Adrian, ia meletakkan kopi itu dengan perlahan.
"pak ini kopinya!" ucap Naira, Adrian hanya mengangguk. karena fokus dengan laptop tanpa melihat kopinya, Adrian mengambil kopi itu dan meminumnya. dengan ekspresi biasa Adrian meminumnya, Naira yang melihat itu menunggu Adrian mengatakan sesuatu padanya. tapi bukannya protes, Adrian terus menikmati kopi itu.
"pak maaf, saya membuat kesalahan!" ucap Naira lirih, Adrian terkejut dengan itu. karena ia sadar rasa kopi yang ia minum, berbeda dengan yang ia minta. dan rasa kopi itu, adalah rasa kopi kesukaannya. kopi buatan Naira favoritnya, yang sudah lama tidak ia minum. karena hanya Naira yang bisa membuat kopi itu.
"saya tidak tahu kenapa bisa membuat kopi itu, ijinkan saya untuk membuatnya lagi!" ucap Naira, saat Naira ingin pergi Adrian bersuara membuatnya berbalik melihat Adrian.
"tidak perlu, saya suka kopi ini!" ucap Adrian lembut, Naira terkejut karena Adrian menikmati kopi itu lagi. Naira tersenyum, ada perasaan familiar saat Adrian meminum kopi itu. "lain kali, buatkan kopi seperti ini setiap hari!" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu.
"iya pak, saya akan buatkan seperti itu!" saut Naira tersenyum, Adrian mengangguk dan tersenyum. "kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Naira lagi, Adrian mengiyakan. setelah kepergian Naira, Adrian rasanya ingin bersorak sekeras mungkin.
"sudah kuduga, hal yang biasa kau lakukan tidak akan hilang!" ucap Adrian, ia kembali menyesap kopinya.
setelah dari ruangan Adrian, Naira kembali ke pantry. Naira mencuci tangannya dan mengambil tasnya, Naira masih berpikir dengan kopi itu. Naira merasa ada yang aneh, karena ia begitu terbiasa membuat kopi itu.
"aku bahkan tau semua tempat yang dibutuhkan, seingatku Siska tidak memberitahuku sampai sini. dan kopi itu, dari mana aku bisa membuat kopi seperti itu. untung saja pak Adrian tidak marah, dia malah menyukai kopinya!" gumam Naira, ia meninggalkan pantry dan segera menuju ruangannya. disaat perjalanannya, seseorang memanggilnya.
"hei kamu!" teriaknya, Naira melihat kanan dan kiri. ia menunjuk dirinya sendiri, setelah orang itu mengangguk Naira menghampiri orang itu.
"ada apa ya?" ucap Naira.
"kamu anak baru kan, buatkan saya kopi!" ucap pria itu, Naira terkejut dengan itu. semua orang mencibir Naira yang terdiam, Naira menatap pria itu. "kamu tidak dengar ya?"
"kenapa aku harus dengar kamu, aku kerja disini bukan diperintah oleh kamu!" saut Naira dengan kasar, pria itu kesal dan mendirikan tubuhnya.
"kamu anak baru, kenapa sok sekali!" ucap pria itu mendorong Naira, "rasanya aku harus memberimu hukuman!" ucapnya lagi, Naira mengepalkan tangannya.
"hukuman, kamu tidak berhak menghukumku. aku adalah sekretaris pak Adrian, aku bukan pesuruhmu." saut Naira kasar, pria itu kesal dengan perkataan Naira. karena kesal, pria itu mengambil cangkir miliknya. Naira memejamkan mata, ketika pria itu menyiramkan teh ke arah Naira.
Byur!!!
Naira perlahan membuka mata, ketika tidak merasakan guyuran itu. Naira terkejut melihat punggung seseorang, ia menengok orang itu secara perlahan. dan lagi lagi terkejut, ternyata punggung besar itu milik Adrian. Naira melihat guyuran teh itu mengenai Adrian, wajah dan jasnya hampir basah dengan teh.
"pak.. sa... saya tidak ber...maksud!" ucap pria itu, Adrian menghela nafas dan mengepalkan tangan.
"siapa kau, siapa kau sampai berani memberikan perintah padanya!" teriak Adrian, suara itu membuat perhatian banyak karyawan disana. "yang bisa memberikan perintah bahkan memberikan hukuman, hanya saya. kau tidak berhak atas itu, sekretaris Naira!"
"iya pak?" saut Naira dengan cepat, Adrian menatap Naira masih dengan kekesalannya.
" pecat dia atas perintahku, aku tidak ingin melihatnya mulai hari ini!" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu. Adrian meninggalkan pria itu yang sedang memohon, Naira terdiam mengikuti langkah Adrian.
tiba tiba saja penyakit Adrian kambuh lagi, penyakit masalah pencernaan yang terjadi beberapa bulan terakhir. sebenarnya Adrian ingin pergi keruangannya Johan, berniat untuk meminta obatnya. tapi saat dalam perjalanan, ia melihat keributan dari jauh. dan melihat keterlibatan Naira, Adrian berusaha tenang tidak menunjukkan sakit perutnya itu.
"pak, terima kasih!" ucap Naira, Adrian berbalik dengan cepat. dan tanpa sengaja, tubuhnya bertabrakan dengan Naira. dengan cepat Adrian menahan tubuh Naira, ia mendekatkan tubuh Naira pada tembok.
Naira menatap wajah Adrian yang basah, pandangan mereka bertemu satu sama lain. Naira merasa pernah bertemu Adrian, tapi Naira tidak mengerti pertanyaan itu terus muncul. padahal sudah jelas jawabannya, mereka bertemu di mall tempo hari. Adrian mengusap rambut Naira yang mengganggu, tangan Naira sendiri merasakan degup jantung Adrian. tiba tiba saja, Adrian meringis kesakitan. Naira terkejut dengan itu, Adrian melepas tubuh Naira.
"pak minum ini!" ucap Naira, Adrian mengambil minum itu. saat tangan Adrian menyentuh tangannya, Naira melepas tangan Adrian dengan cepat.
"pak apa yang terjadi, apa anda sakit?" tanya Naira, Adrian mengangguk. Naira menatap Adrian yang berkeringat, ia berpikir itu teh sebelumnya tapi ternyata bukan. itu adalah keringat Adrian, keringat menahan sakit. "pak saya bantu berdiri ya?" ucap Naira lagi, Adrian mengangguk. Naira memapah tubuh Adrian, Naira merasa aneh ketika Adrian merangkulnya.
jangan perdulikan itu dulu Naira, cepat bantu dia dulu.
setelah keluar dari lift, Naira menidurkan Adrian di sofa ruangan Adrian. Naira memegang kepala Adrian yang demam, Johan yang sudah disana sedang menghubungi dokter. karena menahan sakit, Adrian sampai tidak sadarkan diri.
"apa pak Adrian sakit?" tanya Naira, Johan mengangguk dengan itu.
"beberapa bulan ini, pak Adrian mempunyai masalah pada asam lambungnya. bisa dikatakan, karena tidak makan dengan teratur. bahkan sampai terjadi gangguan pada pencernaannya!" jelas Johan, Naira menoleh kearah Adrian dan mengusap keringat Adrian.
apakah sangat sakit sampai ditahan seperti itu, jangan dirasakan kumohon.
Naira terkejut dengan tindakannya, Naira mendirikan tubuhnya dan berdiri agak menjauh. sampai seorang dokter datang, dokter itu mengecek keadaan Adrian. Naira masih menatap Adrian dengan ke khawatirannya,
"apa yang dia minum terkahir?" ucap dokter itu, Naira mengingat kalau Adrian baru saja meminum kopi buatannya.
"pak Adrian meminum kopi susu yang aku buat, apakah ada masalah?" ucap Naira pelan, dokter itu mengangguk.
"untung saja dicampur susu, seharusnya dia diberikan sarapan. kalau begitu aku akan berikan resep baru, tolong dibelikan obatnya ya!" ucap dokter itu, Naira berpikir resep baru. itu artinya sudah berapa kali Adrian minum obat, apakah separah itu.
"ini resepnya, kalau begitu saya permisi!" ucap dokter, Naira memegang resep itu. saat Naira ingin pergi, Johan menahan Naira.
"berikan resepnya, aku akan membeli obatnya. kamu temani dia saja, aku akan kembali dengan cepat!" ucap Johan, Naira mengangguk pelan. setelah kepergian Johan, Naira melangkah mendekat kearah Adrian. Naira duduk disamping Adrian, ia menatap Adrian yang tertidur.
"kenapa, kenapa aku merasa sakit melihatmu seperti ini. ada apa denganku, kenapa aku seperti ini." ucap Naira lirih, Naira merasa sedih yang sangat dalam. bahkan tanpa sadar, Naira meneteskan air matanya. Naira berjalan keluar dari sana, ia berniat membuatkan bubur untuk Adrian.
beberapa saat kemudian, Adrian membuka matanya. saat ia tersadar, Ia sadar bahwa dirinya pingsan lagi. Adrian menghela nafas, dan memijat kepalanya yang terasa pusing. saat ingin berdiri, ia terkejut Naira sedang berada disampingnya. Naira terduduk dilantai dan sedang tertidur dilengannya, Adrian perlahan mendirikan tubuhnya. ia langsung menggendong Naira, dan mendudukannya di sofa. sejenak Adrian menatap wajah Naira yang tertidur, kemudian ia melihat sisa air mata dipipi Naira.
"apa dia menangis, kenapa dia menangis?" ucap Adrian mengusap pipi Naira, Adrian tersenyum mengusap pipi itu. karena tindakannya itu, Naira terbangun dan menatap Adrian.
"maaf, saya ketiduran!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mendudukan dirinya. Naira melihat bubur yang sempat ia buat, saat dipegang bubur itu hampir dingin. "pak tadi saya buat bubur, tapi sudah dingin. saya akan panaskan sebentar!" ucap Naira lagi, saat ingin pergi Adrian menahan tangan Naira.
"tidak perlu, saya tidak ingin makan!" ucap Adrian, Naira mengeryitkan dahinya. "ada apa?" ucapnya lagi, Naira mendudukan dirinya dan mulai mengaduk bubur ditangannya.
"anda belum sarapan, jadi anda harus makan. dan masalah asam lambung itu, saya sudah tau saat dokter datang. karena itu saya membuat bubur ini, agar pencernaan anda juga lancar!" ucap Naira, Adrian terdiam dengan itu. Naira memberikan mangkuk bubur itu, perlahan Adrian menerima itu. saat ingin memakan, Adrian batuk sedikit keras. Naira dengan cepat memberikan air, sampai Adrian merasa lega dengan itu.
"kalau diijinkan, biarkan saya menyuapi anda!" ucap Naira, Adrian mengangguk pelan. Naira tersenyum dan mulai menyendok bubur, sedikit demi sedikit masuk kedalam mulut Adrian. "pak?"
"hm?" singkat Adrian pelan, Naira terus menyuapi Adrian tanpa ragu.
"kenapa pria sepertimu, bisa memiliki asam lambung dan masalah pencernaan?" ucap Naira, Adrian menoleh kearah Naira. dia menatap Naira tanpa menjawab, Naira merasa canggung dengan itu. "maaf pak, saya lancang!" ucap Naira lagi, Adrian tersenyum dengan itu.
"karena suatu masalah, saya jadi sering lupa makan. mungkin bukan lupa, hanya saja tidak berselera untuk makan." saut Adrian, Naira terdiam menatap Adrian. "tapi masalah itu sudah selesai, mungkin sekarang saya bisa tenang makan dengan baik!" ucap Adrian lagi menoleh kearah Naira, Adrian menatap Naira yang sedang menatapnya. ingin sekali sekarang Adrian memeluk Naira, melepaskan semua kerinduan yang rasakan. Naira sendiri ingin memeluk Adrian, ingin sekali memberikan ketenangan untuknya.
"terima kasih Naira, saya sudah kenyang!" ucap Adrian, Naira tersadar dari lamunannya.
"iya pak, saya akan bersihkan ini dulu!" ucap Naira berdiri, Adrian mengangguk dengan itu. "auuhh!". saat ingin pergi dari sana, kaki Naira tersandung karpet lantai. hingga membuatnya terhuyung, dengan cepat Adrian menangkap tubuh Naira yang hampir jatuh. karena sakit diperut Adrian, Adrian tidak bisa menahan tubuh Naira dengan benar. sampai akhirnya, tubuh Naira dan Adrian jatuh diatas sofa.
Naira memejamkan mata karena panik, ia tidak tahu kalau jatuh diatas Adrian. perlahan Naira membuka mata, dan lagi lagi wajahnya sangat dekat dengan Adrian. tangan Naira merasakan degup jantung Adrian lagi, Adrian sendiri menatap Naira tanpa berkedip. perlahan tangan Adrian memeluk tubuh Naira dan tidak ada penolakan dari Naira.
tanpa mengetuk pintu, Johan masuk kedalam ruangan Adrian. Jahat terkejut melihat adegan pelukan itu, Johan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. bahkan mereka tidak sadar, Johan datang dan berdiri agak jauh.
"ehem!" suara Johan berdehem, membuat mereka terkejut. Naira mendirikan tubuhnya, ia merapikan pakaiannya. begitu juga dengan Adrian, ia mendudukan dirinya dan menatap Johan.
"maaf pak!" ucap Naira, Adrian mengangguk pelan. Johan menghampiri mereka, ia memberikan kantung kresek berisi obat yang ia beli.
"Naira ini obat untuk bosmu, dan pastikan dia meminum obat kali ini. ini sudah kasus ke lima aku membeli obat dan dia tidak minum obatnya. susah untuk menyuruhnya, bahkan makan saja tidak mau!" ucap Johan, Naira terkejut dengan itu. Naira membaca keterangan obat itu, ia membaca setiap bacaan disana.
"tiga kali sehari, itu artinya pagi, siang dan malam!" ucap Naira, diangguki oleh Johan. "baik pak Johan, saya akan lakukan sesuai perintahmu!" ucap Naira lagi, Johan mengangguk. Naira berpamit keluar dari sana, Johan dan Adrian memperhatikan kepergian Naira sampai hilang dibalik pintu.
"rasakan sekarang, dia akan memaksamu dengan keras kepalanya!" ucap Johan meledek, Adrian tersenyum dengan itu.
"apa dia menangis tadi?" tanya Adrian, Johan menggelengkan kepala. "lalu kenapa aku melihat bekas air mata dipipinya?" ucap Adrian lagi, Johan tersenyum dengan itu.
"dia khawatir padamu Adrian, aku melihatnya tadi sebelum membeli obat. dia pasti diam diam menangis, meskipun dia tidak mengerti kenapa dia harus menangis." ucap Johan, Adrian tersenyum dan mengangguk.
"tidak masalah, dia tidak mengingatku yang dulu. tapi sekarang aku pastikan, dia tidak akan pernah melupakan aku untuk kedua kalinya." saut Adrian dengan yakin, Johan tersenyum dan menepuk pundak Adrian.
****
Jangan lupa like, komen dan vote kalian😍