Do You Remember?

Do You Remember?
pagi hari.



Naira membuka mata dipagi hari, Naira merasa tangan seseorang memeluknya. Naira meraba tangan itu, tangan yang kuat sedang memeluk perutnya dengan erat. Naira juga melihat tangan yang sedang ia gunakan sebagai bantal, Naira tahu tangan siapa itu. Naira membalikkan tubuhnya kebelakang, ia tersenyum ketika melihat Adrian yang sedang tidur. Naira menatap wajah Adrian yang sedang pulas tidur, ia memainkan jarinya pada pipi dan hidung Adrian. seseaat Naira mendekat pada wajah Adrian, dengan lembut Naira mencium pipi Adrian.


"selamat pagi!" bisik Naira, Adrian pun mendengar suara itu. Adrian perlahan membuka matanya, ia tersenyum melihat Naira dihadapannya.


"selamat pagi!" ucap Adrian mengusap wajah Naira, Naira tersenyum.


"kamu sudah bangun, apa tidurmu nyenyak?" tanya Adrian, Naira kembali tidur dalam pelukan Adrian.


"baru saja, aku sangat bahagia melihat kamu saat buka mata!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"aku juga bahagia, biasanya aku membuka mata melihat om Nikil. tapi sekarang, aku melihatmu saat bangun pagi!" saut Adrian menutup mata, Naira memaikan jari nya di dada Adrian, yang menurutnya keras dan perut yang berotot. Adrian membuka mata ketika merasakan itu, Adrian memegang tangan Naira.


"jangan nakal dipagi hari, aku bisa melakukan itu lagi!" ucap Adrian, seketika membuat wajah Naira merah. Naira memukul dada Adrian yang tertawa, Adrian berhasil menggoda Naira.


"mandilah kak, kamu sangat bau!" ucap Naira membelakangi Adrian, Adrian langsung menarik pinggang Naira dan mengeratkan pelukannya.


"benarkah, kamu kan suka bau ku." bisik Adrian tepat ditelinga Naira, Naira yang merasa merinding mendorong tubuh Adrian.


"jangan nakal dipagi hari, aku bisa membuatmu melakukan itu lagi!" ucap Naira, dengan menirukan gaya bicara Adrian. Adrian yang mendengar itu pun tertawa, Naira pun ikut tertawa dibuatnya.


"pergilah mandi, setelah itu aku!" ucap Adrian menutup matanya lagi, Naira mengangguk dan menyingkapnya selimutnya untuk berdiri.


"aukhh!!" pekik Naira, Adrian yang menutup mata langsung terkejut mendengar itu. Adrian mendudukan dirinya, ia melihat Naira duduk dipinggir tempat tidur dan seperti menahan sakit.


"ada apa, apa yang sakit?" tanya Adrian, ia sangat khawatir sakit dikepala Naira terasa lagi. Adrian menatap Naira dan merasa heran, heran karena Naira tidak memegangi kepalanya jika sakit.


"Nara ada apa, apa yang sakit?" Adrian terkejut ketika Naira menatapnya dengan wajah sendu, Adrian mengusap pipi Naira.


"sakit!" ucap Naira, Adrian bingung dibuatnya.


"katakan padaku, bagian mana?"


"ini sakit karena mu, karena perbuatanmu kak." saut Naira, Adrian menghela nafasnya.


"apa salahku, kenapa aku yang salah?" tanya Adrian mengusap rambut Naira, Naira mengerucutkan bibirnya.


"karena perbuatanmu tadi malam, sekarang terasa nyeri. kakiku juga sakit sekarang, bagaimana ini?" ucap Naira memelas, Adrian tersenyum karena sudah paham apa yang dimaksud Naira. Adrian berdiri dan menghadap Naira, Naira hanya melihatnya kesal.


"maafkan aku, aku menyesal. tapi aku berjanji akan melakukannya dengan baik lagi." Naira terkejut mendengar itu, ia menyipitkan matanya.


"mana ada orang yang menyesal akan melakukannya lagi?" kesal Naira, Adrian tertawa dengan itu. Adrian berdiri dan langsung mengangkat Naira, dengan senyum Adrian mencium pipi Naira.


"kenapa aku tidak melakukannya, itu sangat menyenangkan. lagi pula, kamu sangat menyukainya!" ucap Adrian tertawa, Naira mencubit dada Adrian dan ikut tertawa. Adrian membawa Naira kedalam kamar mandi, saat berjalan Naira sibuk mencium pipi Adrian. entah keberanian dari mana Naira melakukan itu, yang Naira tahu sekrang ia adalah istri dari Adrian dan berhak melakukan apapun.


"apa sudah cukup menciumnya?," ucap Adrian tersenyum, Naira tersenyum dan mengangguk. "kenapa kamu sangat nakal, pipiku akan habis kamu ciumin." ucap Adrian mencium pipi Naira, Naira hanya tertawa.


"kamu suka kan, sekarang aku bebas melakukan apapun padamu!" saut Naira, Adrian menyipitkan matanya.


"hm.. benar. sekarang mandilah, nanti panggil aku jika sudah selesai. aku harus menelfon seseorang, hati hati saat mandi!." ucap Adrian menurunkan Naira, Naira mengangguk dan tersenyum. setelah itu Adrian meninggalkan Naira, Adrian berjalan untuk mencari hp nya. Adrian berniat menghubungi temannya, teman yang berada di London.


"halo?"


"halo Adrian, bagaimana kabarmu. maafkan aku, aku tidak bisa datang ke hari pernikahanmu." (bahasa inggris).


"tidak masalah, aku ingin bertanya padamu!" (bahasa inggris).


"iya katakan, aku siap membantumu!" (bahasa inggris).


"apa kau pernah melakukan operasi untuk penyakit darah beku?" (bahasa inggris).


"iya pernah kenapa?" (bahasa inggris).


"aku butuh bantuanmu, istriku memiliki darah beku dalam tubuhnya. bisakah kau mengobatinya, lakukan hal apapun untuk menghilangkan itu." (bahasa inggris).


"iya baiklah, coba beritahu padaku hasil laporan sebelumnya. aku harus melihat laporan itu, untuk memastikannya!" (bahasa inggris).


"iya, akan aku kirimkan nanti. terima kasih John!" (bahasa inggris).


"hei santai, kau temanku aku akan membantumu jika kau membutuhkan ku!" (bahasa inggris).


"iya, baiklah!" (bahasa inggris).


setelah mengatakan itu, Adrian menutup telfonnya. Adrian menggenggam hpnya itu, ia melihat foto Naira yang terpasang pada walpaper hp nya.


"Nara semuanya akan baik baik saja, aku akan lakukan apapun untuk memastikan kamu baik baik saja!" ucap Adrian tersenyum, lalu ia menutup telfonnya dan berjalan kearah kamar mandi. Adrian berniat untuk masuk dan menggoda Naira, sekalian untuk melakukan mandi bersama.


setelah membersihkan diri, Naira berdiri dihadapan cermin. Naira tersenyum dihadapan cermin, Adrian sendiri keluar dari kamar mandi. Adrian sudah memakai celana dan telanjang dada, ia melihat Naira langsung memeluk Naira dari belakang. Naira tersenyum melihat itu, Adrian mencium rambut Naira yang wangi.


"kemana kita hari ini?" tanya Adrian, Naira tampak berpikir dengan itu.


"tidak, aku ingin bersamamu. aku mengambil cuti seminggu!" ucap Adrian, Naira merasa risih saat sifat Adrian sangatanja dan terus mendekatinya.


"kamu kenapa kak, kenapa sangat manja seperti ini?" tanya Naira, Adrian tersenyum saat Naira menatapnya.


"aku suka memelukmu, apalagi tubuhmu yang kecil ini. aku menantikan semua ini selama bertahun tahun, berdua bersamamu dalam satu rumah, satu kamar, pokoknya melakukan berdua denganmu!" saut Adrian, Naira tersenyum dan menangkup kedua pipi Adrian.


"sangat manis, kalau begitu tidak perlu sarapan. kita berpelukan saja itu akan membuat perut kenyang, bagaimana?" ucap Naira, Adrian tertawa dengan itu.


"tidak, kamu harus makan. perutmu ini pasti lapar, ayo kita turun dan sarapan!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan berdiri dari pangkuan Adrian. semenit kemudian Naira teringat pada nenek Adrian, Naira berpikir Adrian tidak mengatakan tentang pernikahan mereka pada neneknya itu.


"kak!"


"hm?" saut Adrian dengan singkat, ia sedang memakai kemejanya. Naira membantu mengancingkan kancing kemeja itu, Adrian tersenyum dengan itu.


"apa kamu bilang pada nenek Rosa?" tanya Naira, seketika raut wajah Adrian berubah pada Naira.


"bilang apa?" singkatnya, Naira masih sibuk dengan kancing baju Adrian.


"tentang pernikahan kita, apa kamu tidak bilang padanya?" saut Naira, Adrian menyelesaikan kancing itu dengan cepat.


"aku memang tidak bilang, aku tidak ingin pernikahan kita terjadi masalah karena dia!" saut Adrian, Naira mengangguk dengan itu. Adrian menoleh kearah Naira, ia melihat Naira yang cemberut.


"jangan pernah menyebutnya lagi, aku tidak suka mendengar tentangnya!" ucap Adrian, Naira menoleh kearah Adrian. Naira menatap Adrian, mereka saling menatap satu sama lain. Naira tahu perasaan Adrian untuk neneknya itu, Adrian sangat membenci neneknya itu. Naira tersenyum dan mengangguk, melihat senyum itu tatapan Adrian menjadi lemah.


"maafkan aku, aku tidak akan membahasnya lagi!" ucap Naira memeluk Adrian, Adrian menghela nafas dan membalas pelukan Naira.


"iya, terima kasih!" ucap Adrian, Naira mengangguk.


"aku akan kekantor sebentar, setelah itu aku akan pulang. dan kamu jangan lupa sarapan, oke?" ucap Adrian, Naira mengangguk. Adrian mengecup bibir Naira sekilas, Naira tersenyum dan wajahnya bersemu merah.


****


Adrian pergi untuk bertemu dengan Bagas, ia mendatangi Bagas dikantornya. Adrian ingin membahas tentang operasi yang harus dilakukan Naira, dan Adrian berpikir ia hanya bisa bicara dengan Bagas. meskipun menurutnya menyebalkan tapi Bagas tetap kakak dari Naira dan mungkin bisa membahas semua itu dengannya.


setelah memberikan foto hasil tes Naira, Adrian diminta oleh temannya John untuk menghubunginya melalui video call. Adrian pun setuju dan mengajak Bagas untuk ikut serta mendengarkan. saat ini Bagas dan juga Adrian sedang menunggu panggilan dari John, sesekali Bagas menatap Adrian dengan intensif.


"kenapa kau menatapku?" tanya Adrian saat sadar Bagas terus memandanginya, Bagas menggelengkan kepala.


"hanya saja tampangmu berbeda!" saut Bagas, Adrian menyipitkan matanya.


"aku tahu, tampangku semakin lebih tampan setelah menikah. bukankah begitu, kakak?" ucap Adrian, Bagas merasa jijik mendengar itu. Adrian tertawa melihat muka Bagas, dan setelah beberapa menit terlihat panggilan masuk pada laptop Adrian. Adrian segera menekan tombol sambungkan, setelah itu muncul gambar John.


"bagaimana John?" (bahasa inggris)


"aku sudah membacanya, awalnya aku pikir penggumpalan darah itu terjadi dibagian tubuh yang pernah aku lakukan. tapi saat membaca tes ini, ternyata gumpalan darah itu berada didalam kepalanya. dan kau tahu Adrian, aku tidak pernah menangani kasus darah beku pada bagian itu."(bahasa inggris)


"lalu bagaimana, apakah bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkannya?" (bahasa inggris)


"Adrian kau pasti sudah diberitahu oleh dokter disana, hanya memiliki satu jalan. jalan itu adalah melakukan operasi pada istrimu dan memiliki resiko yang tinggi. jika kau ingin istrimu sembuh dan menghilangkan darah beku itu, kalian juga harus siap menerima resikonya!" (bahasa inggris). setelah mendengar Penjelasan John, Adrian hanya bisa diam dan pasrah.


"apakah menangani itu sama saja, maksudku apakah cara kerja dokter disana dan disini sama?" (bahasa inggris) tanya Bagas, John menganggukan kepala.


"iya sama saja, dan aku sarankan kalian cepat melakukan operasi itu." (bahasa inggris).


Bagas pun mengangguk dengan itu, setelah mengatakan itu John mematikan panggilan video itu. Bagas menutup laptop itu dan beralih melihat Adrian, Adrian masih terdiam melihat hpnya. Bagas merasakan ke khawatiran Adrian, karena Bagas juga sangat khawatir.


"kita akan melakukan operasi itu Adrian, aku akan bilang pada om Kara dan bunda Nadia. kau harus setuju, karena sekarang dia juga istrimu!" ucap Bagas, Adrian hanya mengangguk.


"hei ayolah, kenapa kau murung. bukankah kau tadi sangat narsis, tenanglah Naramu pasti baik baik saja!" ucap Bagas, Adrian tersenyum.


"iya, Naira harus baik baik saja!" saut Adrian, Bagas mengangguk dengan itu.


mereka memutuskan untuk pergi kerumah Kara, mereka ingin membicarakan semua itu pada keluarga mereka. Adrian juga menghubgi Vano dan juga Amelia. sebenarnya hati Adrian sangat takut, takut jika Naira melupakan ingatan tentangnya.


sampainya dirumah Kara, Adrian dan Bagas menceritakan semuanya. semua isi rumah itu menjadi khawatir, Nadia sendiri tidak bisa melakukan apapun meskipun dirinya seorang dokter. Nadia sangat kecewa pada dirinya, disaat dia bisa menyembuhkan seseorang tapi takut saat ingin menyembuhkan anaknya sendiri. pagi menjelang siang, bahkan siang sudah menjelang malam. mereka tidak bisa memikirkan cara apapun, Adrian pun ingat bahwa mengatakan pada Naira akan pulang cepat.


"aku harus pergi, Naira pasti menungguku!" ucap Adrian.


"iya pergilah, istrimu pasti menunggu dirumah." ucap Kara, Adrian mengangguk.


"mama akan mengunjungi Naira dan kamu besok!" ucap Amelia, Adrian mengangguk dan mencium punggung tangan Amelia.


"dengar Adrian, jangan katakan apapun pada Naira. takutnya akan membuat dia kepikiran dan akan memperburuk semuanya!" ucap Nadia, Adrian mengiyakan itu.


"iya ma, Adrian pasti ingat!" setelah mengatakan itu Adrian mencium punggung tangan Nadia, ia berjalan cepat menuju mobilnya.


Adrian menjalankan mobilnya dengan cepat, pikiran Adrian sangat kacau hari ini. Adrian tidak bisa berpikir apapun, yang ia pikirkan hanya Naira dan Naira.