
malam yang sama Naira telah sampai dirumah sakit, Naira melihat disana ada Kara dan juga Nadia. Nadia sedang memeluk Dewi yang menangis, Naira berjalan kearab Kara.
"papa, bagaimana Daniel?" tanya Naira, Kara dan yang lain menoleh.
"Daniel masih didalam, om David masih merawatnya!" ucap Kara, Naira duduk disamping Dewi.
"tadi Daniel dan Naira masih bersama kok, tapi setelah itu Naira gak tau lagi." ucap Naira, Kara mengangguk dengan itu.
beberapa menit kemudian David keluar dari ruang operasi, Dewi langsung berlari kearah David. David berusaha menenangkan istrinya yang menangis itu, Naira masih merasa bersalah.
"gimana, gimana dengan Daniel?" ucap Dewi, David mendudukan Dewi.
"tenang sayang, tenang lah. Daniel sekarang sudah baik baik saja, hanya patah tulang pada tangan." ucap David, Dewi pun merasa tenang mendengar itu.
"sebelumnya aku sudah bilang untuk tidak memakai motor, tapi anak itu memang keras kepala." ucap David, Naira berdiri dihadapan David.
"om dokter bolehkan Naira masuk, Naira ingin melihat Daniel!" ucap Naira, David tersenyum dan mengusap rambut Naira.
"masuklah sayang, dia pasti senang!" ucap David, Naira mengangguk dan tersenyum. Naira langsung masuk untuk melihat Daniel, David tersenyum dengan itu.
"tadi anak itu pamit ingin bertemu Naira, karena itu aku menghubungimu saat Daniel kecelakaan!" ucap David, Kara mengangguk.
"iya tadi Naira ada dirumah Vano, entahlah apa yang terjadi!" saut Kara, mereka semua mengangguk. David menyeka air mata Dewi dan menenangkannya, Kara dan Nadia tersenyum geli dengan itu.
***
Naira duduk disamping Daniel yang tertidur, Naira memegang tangan Daniel. Naira masih merasa bersalah, Naira meneteskan air mata.
"maafin aku Daniel, seharusnya aku tidak meninggalkanmu!" ucap Naira, tiba tiba saja Daniel membuka mata.
"maka sekarang jangan tinggalkan aku!" ucap Daniel, Naira terkejut dengan itu. terlihat Daniel tersenyum kearahnya, Naira menyeka air matanya.
"Naira jangan menangis, aku gak papa kok. wajar dia cemburu karena dia itu salah paham, dan gak mau wanitanya disentuh orang lain!" ucap Daniel, Naira kesal mengingat Adrian.
"jangan menyebutnya, aku tidak suka!" ucap Naira, Daniel tersenyum.
"Naira dia sangat mencintaimu bahkan aku bisa melihat cintanya dalam waktu beberapa menit, sesekali tanyakan padanya kenapa dia berbohong padamu!" ucap Daniel, Naira terdiam dengan itu. Naira teringat dengan Adrian yang mengatakan karena nenek itu, Naira masih tidak mengerti dengan itu. belum Naira menjawab terlihat kedua orang tuanya dan orang tua Daniel datang, Naira berdiri dan berada disamping Kara.
"bagaimana keadaanmu?" tanya Dewi, Daniel tersenyum.
"tanganku sakit, kapan bisa sembuh aku ada ujian besok lusa!" ucap Daniel, David kesal dengan itu.
"sudah papa bilang kan, pakai mobil kamu. tapi kamu malah sering pakai motor, apa enaknya sih motor!" ucap David, semua orang tertawa disana.
"Naira ayo kita pulang, sudah sangat larut!" ucap Kara, Naira mengangguk.
"Dewi David kami pulang dulu, Daniel cepat sembuh ya.." ucap Kara, Naira melihat kearah Daniel.
"Daniel cepat sembuh ya, besok aku akan kesini lagi." ucap Naira, Daniel mengangguk. Kara pun membawa Naira dan Nadia pergi dari sana, dan Naira memikirkan nasib Adrian yang ia tinggalkan sendiri.
"hm.. papa boleh pinjam hp papa?" ucap Naira, Kara dengan senang hati memberikan hpnya.
"untuk apa?" tanya Nadia, Naira tidak bisa menjawab itu. Naira mengembalikan hp itu pada Kara, dan memilih diam.
"tidak jadi deh pa, Naira mengantuk!" ucap Naira, Kara dan Nadia pun tersenyum. Kara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Naira menutup matanya untuk tidur sejenak.
***
hari senin datang, Naira bersiap untuk berangkat bekerja. Naira sudah memakai pakaian rapi, dan berdandan Natural. setelah sarapan Naira pergi dengan mobilnya, dalam perjalanan Naira sedang menelfon dengan Daniel.
"gimana sudah sembuh tanganmu?" ucap Naira pada telfon.
"masih sakit sih, tapi udah mendingan. hari ini aku ujian, doakan sukses ya..."
"pasti aku doakan, semangat ya..."
"haha iya terima kasih, eh iya kamu hari pertama kerja ya..."
"iya hehe, ini lagi dijalan kok menuju lokasi!" ucap Naira lagi,
"baiklah, semangat ya. udah matikan bahaya kalau mengemudi sama nelfon, jangan lupa berdoa"
"oh oke, ini juga udah hampir sampai. oke kamu jangan lupa berdoa ya, semoga berhasil!" ucap Naira, lalu mematikan telfon itu. Naira telah sampai diperusahaan tempat ia diterima bekerja, setelah memarkirkan mobilnya Naira masuk kedalam perusahaan itu.
Naira melihat sekeliling perusahaan itu, dan benar semua gedung itu terlihat baru dan bahkan beberapa pekerja bangunan masih ada. Naira menghampiri resepsionis disana, dan disambut hangat oleh resepsionis itu.
"ada yang bisa saya bantu?" ucap resepsionis, Naira tersenyum.
"saya Naira Putri, saya diterima bekerja disini. bisakah saya bertemu dengan pak Andi, beliau yang mengirim surat penerimaan pada email saya!" ucap Naira, resepsionis itu mengangguk.
"tunggu sebentar ya nona, saya akan hubungi tuan Andi!" ucap resepsionis itu, Naira tersenyum dan mengiyakan.
"nona silahkan anda tunggu dilobby, pak Andi masih ypm
Naira menunggu beberapa menit, setelah itu terlihat seorang pria berdiri dekat resepsionis. Naira berpikir itu adalah pria bernama Andi, Naira pun berdiri dan mencoba untuk menghampirinya. secara bersamaan resepsionis itu membawa pria itu pada Naira, dengan cepat Naira berjalan.
"pak, ini nona Naira Putri. dia sudah menunggu anda sejak tadi!" ucap resepsionis, pria itu tersenyum.
"halo nona Naira, nama saya Andi. bisakah kita bicara diruangan saya?" ucap pria bernama Andi, Naira mengangguk.
"bisa pak!"
"mari silahkan, oh iya kamu buatkan kami kopi!" ucap Andi, resepsionis itu mengangguk dan pergi dari sana. Naira mengikuti langkah Andi, mereka menaiki lift. Naira merasa tidak enak saat menaiki lift itu, seperti merasakan guncangan.
"tidak apa, memang semuanya masih dalam proses pemulihan. ini tidak bahaya kok, kalau kamu kurang nyaman bisa menaiki tangga!" ucap Andi, Naira mengangguk dengan itu. setelah sampai diruangan Andi, Naira dipersilahkan duduk.
"pak saya ingin bertanya, apakah saya benar diterima diperusahaan ini?" ucap Naira, Andi tersenyum.
"tentu saja, bahkan saya sudah mengirim CV mu pada presdir kami. dan presdir kami menerima kamu, dengan data data yang kamu kirim itu sudah menunjukkan kamu sangat unggul!" ucap Andi, Naira mengangguk dan tersenyum.
"jadi pekerjaan mu adalah, menjadi sekretaris. karena sebelumnya saya membaca kamu menjadi sekretaris, karena presdir kita butuh sekretaris jadi kamu yang saya beri tugas itu!" ucap Andi, Naira sedikit terkejut dengan itu.
"anda yakin saya dijadikan sekretaris, apakah tidak dijadikan lebih rendah dulu?" ucap Naira, Andi tersenyum dengan itu.
"untuk apa, saya sudah membaca semuanya. kamu pantas menjadi sekretaris, sekarang pergilah kelantai 14 dan temui presdir kita. katakan padanya kamu sekretaris barunya dan mulai bekerja hari ini!". ucap Andi, Naira mengangguk.
"baik pak, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Naira lalu berlalu pergi, Andi mengubungi seseorang.
"aku sudah menyuruhnya datang, tunggu saja!" ucap Andi lalu mematikan telfon nya.
Naira smpai dilantai 14, ia melihat ada satu ruangan yang hanya ada sendiri. Naira merasa merinding dengan itu, Naira juga khawatir bertemu dengan presdir yang akan ia temui. perlahan Naira mendekat kearah ruangan itu, setelah mengetuk pintu Naira mendengar suara seorang pria mengatakan masuk. secara perlahan Naira membuka pintu ruangan itu, didalam ruangan itu sangat menarik baginya. terlihat seorang pria duduk membelakangi Naira, Naira mendekat kearah orang itu.
"halo pak, nama saya Naira Putri. saya ditugaskan untuk menjadi sekretaris anda, dan pekerjaanku dimulai dari sekarang!" ucap Naira, pria itu berdiri dari duduknya.
"saya sudah tahu, apakah kamu ingin tahu tentang saya?" tanya pria itu tanpa menoleh, Naira sedikit bingung untuk menjawab itu.
"hm iya pak, bisakah saya tahu tentang anda!" ucap Naira, terlihat senyum tipis terukir pada wajah pria itu. Naira terkejut saat meligat
"nama saya Adrian Pratama, saya presdir perusahaan disini. saya juga senang kamu menjadi sekretaris saya lagi, dan mulai hari ini kamu bisa bekerja!" ucap Adrian dengan bangga, Naira terkejut sampai membuka mulutnya.
"apa yang kamu lakukan disini?" ucap Naira, Adrian melihat kanan kirinya.
"terserah aku, ini perusahaan milikku." ucap Adrian, Naira terkejut dengan itu. pasalnya Naira tidak tahu, Adrian memiliki perusahaan lain.
"sekretaris baruku mari kita pergi untuk rapat, dan disana adalah meja baru untukmu!" ucap Adrian dengan gaya bicara berbeda, Naira merasa kesal dengan itu.
"ayo?" ucap Adrian, Naira memaksa tersenyum.
"iya pak, silahkan anda terlebih dahulu!" ucap Naira, Adrian mengangguk dan berjalan mendahui Naira.
mereka berdua berjalan beriringan, Naira dengan sikap sebelumnya mengikuti Adrian dari belakang. sifat Adrian kembali menjadi angkuh dihadapan semua orang, Naira merasa sedikit senang dengan itu. karena pasalnya Adrian hanya bersifat manis dihadapannya, meskipun semarah apapun dirinya.
"jarang sekali presdir kita datang!" ucap seorang karyawan wanita.
"iya benar, dia itu anak baru tapi sudah beruntung bisa langsung dengan presdir!" ucap karyawan wanita lain.
"lihatlah pak Adrian itu sangat sempurna, tampan, kaya, tinggi, menawan, berwibawa. akhh semuanya deh, aku mau banget kalau harus deket deket dia tiap hari!" ucap beberapa karyawan disana, dan didengar oleh Naira begitu juga dengan Adrian. setelah masuk dalam lift, Naira kesal dengan karyawan yang mengagumi Adrian.
"dasar wanita ganjen, sudah tau ada orangnya malah membicarakannya!" ucap Naira, Adrian menahan senyumnya.
"jadi kamu kesal, atau kamu cemburu?" ucap Adrian, Naira terkejut dengan itu.
"tidak, aku tidak cemburu. jangan sembarangan, hanya saja tidak suka melihat wanita bergosip!" ucap Naira, Adrian tersenyum.
"aku senang dengan itu, kamu ternyata bisa cemburu. apakah itu artinya kamu masih mencintaiku, atau tetap mencintaiku sampai kapan pun?" ucap Adrian mendekat kearah Naira, Naira menahan tubuh Adrian.
"jaga kesopanan anda, lift nya akan bergoyang!" ucap Naira, belum berhenti berucap lift itu benar benar bergoyang. Naira menjadi panik, Adrian mencoba mendiamkan tubuhnya.
"diam jangan bergerak, jika kamu gerak liftnya akan goyang goyang!" ucap Adrian, Naira mepet disudut lift karena takut. Naira mengangguk dengan yang dikatakan Adrian, Naira memeluk berkas yang ia pegang dan menutup mata.
"aku merasakan ini dengan pak Andi, aku sudah takut dari awal!" ucap Naira, Adrian sadar bahwa perusahaan barunya itu masih dalam pemulihan. tiba tiba saja mereka berdua merasakan lift itu berhenti, Naira dan Adrian saling menatap.
"aku akan hubungi seseorang, Nara kemarilah tetap dalam dekapanky!" ucap Adrian, Naira terkejut saat Adrian memanggil nama nya Nara. saat Naira ingin menggapai tangan Adrian, Naira berteriak saat merasakan lift itu turun dengan kecepatan tidak normal.
"akhh!!!" teriak Naira, dengan cepat Adrian menggapai tubuh Naira dan memeluknya. setelah beberapa detik lift itu berhenti, Adrian melihat lift itu berhenti dilantai 10. didalam lift itu lampu peringatan pun menyala, bahkan beberapa lampu juga pecah didalam sana.
"Naira kamu gak papa kan?" ucap Adrian, Naira menatap Adrian.
"aku takut, apa kamu baik baik saja?" ucap Naira memegang pipi Adrian, Adrian mengangguk.
"aku yang salah, mereka sudah mengirim pesan padaku u tuk tidak naik lift. tapi aku tidak membacanya, bahkan disini tidak ada sinyal sama sekali!" ucap Adrian, Naira memeluk tubuh Adrian.
"kita harus keluar dari sini, aku tidak ingin hal ini terjadi pada kita. tidak mau!" ucap Naira, Adrian menikmati pelukan Naira yang selama ini ia rindukan.
"iya, ayo kamu bisa berdiri kan?" tanya Adrian, Naira mengangguk. tapi lagi lagi lift itu berjalan turun dengan kasar, membuat tubuh Naira dan Adrian terpental kearah dinding saat tiba tiba lift itu berhenti lagi. benturan yang mereka alami cukup kuat, hingga membuat keduanya tidak sadarkan diri.