Do You Remember?

Do You Remember?
Mimpi.



keesokan harinya Naira dan Adrian kembali kerumah, kerumah mereka sebelumnya. Adrian dan Naira duduk tenang didalam mobil, Adrian terus menggenggam tangan Naira tanpa melepasnya sama sekali. Naira merasa gugup dengan itu, meskipun dirinya tahu kalau istri Adrian dan mungkin itu untuk pertama kalinya setelah kecelakaan.


"Adrian..." panggil Naira pelan, Adrian menoleh dan tersenyum.


"ada apa?"


"apakah masih merasakan mual, atau sakit perut?" tanya Naira lirih tersirat ke khawatiran disana, Adrian mengusap rambut Naira dengan lembut. Adrian masih tidak percaya sekarang Naira duduk disampingnya, bahkan cinta dimata Naira terlihat dimatanya. perasaan cinta dan tattapan penuh cinta yang diindukan Adrian, kini ia rasakan kembali pada orang yang sama.


"jika ada kamu, bagaimana aku bisa sakit?." ucap Adrian, seketika Naira tersipu malu dan pipinya tampak merah karena malu. Adrian menahan tawanya, ia mengusap pipi Naira dengan lembut. "aku sudah sembuh, tenang saja!" ucap Adrian lagi, Naira mengangguk dan menunduk.


"sebesar apa cinta kita?" tanya Naira lagi, Adrian menatap Naira yang terlihat sedih mengatakan itu. Adrian tersenyum dan mencium tangan Naira yang ia pegang sedari tadi.


"coba bayangkan, disaat usiamu 5 tahun kamu mencium ku yang saat itu berusia 9 tahun. bayangkan betapa cintanya kamu ke aku, dan rela menungguku datang selama 15 tahun." jelas Adrian, Naira menatap Adrian karena terkejut. tersirat tidak percaya disana, tatapan wajah lucu Naira membuat Adrian tertawa kecil. "uhuk uhuk... aku tidak bohong Naira, (menghela nafas)" ucap Adrian dengan terbatuk, ia memegangi dadanya yang tersenggal.


"kamu gak papa kan, mana air!" ucap Naira, ia memberikan air mineral untuk Adrian. diminumnya air itu dan membuat Adrian lega, kemudian Adrian mengangguk pelan. "kita kembali kerumah sakit ya, tunggu kamu sehat dulu. pak puter balik, kembali kerumah sakit!" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepala dengan cepat.


"tidak perlu, cepat antar kami pulang." ucap Adrian pada supir pribadinya, supir itu mengangguk dan melanjutkan menyetir. Adrian tersenyum pada Naira, Naira menatap Adrian dengan kekesalannya. "aku ingin pulang kerumah, setelah itu istirahat pasti akan lebih baik nanti!" ucap Adrian lemah, Naira mengangguk dan mengusap perut Adrian.


"apakah mual?" Adrian menggelengkan kepala, ia memegang tangan Naira dan menciumnya. "biasanya orang mual itu sedang hamil Adrian, bagaimana kalau kamu hamil?" ucap Naira yang sengaja ingin membuat lelucon, tentu saja perkataannya itu membuat Adrian terkejut.


"Naira jangan membuatku tertawa, kau tidak tahu kalau aku... uhuk uhuk..."


"maaf maaf, aku hanya ingin membuat lelucon!" ucap Naira menyesal, Adrian tertawa dengan masih lemahnya.


"aku harap ini bukan mimpi, jika memang mimpi aku tidak mau bangun Naira!"


"bukan mimpi, ini semua nyata!" Adrian tersenyum dan mencium kening Naira.


Naira terus mengajak ngobrol Adrian, agar Adrian melupakan sakitnya. sesekali Adrian dibuat tertawa oleh Naira, sampai beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah besar Adrian. Naira melihat rumah besar itu, Naira mengagumi halaman rumah yang begitu penuh bunga dan terdapat air mancur ditengah tengahnya. Naira tidak menyangka Adrian memiliki rumah seperti itu, apalagi sebelumnya dia menjadi istrinya. itu artinya Naira adalah nyonya rumah itu, dan pemilik rumah itu.


Naira membantu Adrian turun dari mobil, perlahan Naira memapah Adrian yang kemah berjalan. tidak ketinggalan beberapa pelayan menyambut mereka, para pelayan bahagia melihat Naira setelah sekian lama.


"apa kabar nyonya muda, kami sangat merindukanmu!" ucap seorang pelayan, Naira tersenyum canggung dengan mereka. Naira merasa mengenal mereka mungkin itu ingatannya yang dulu, tapi tetap saja kecanggungannya itu tidak bisa ditutupi.


"iya halo, kabarku baik." ucap Naira tersenyum, para pelayan itu sangat bahagia mendengarnya.


Naira membaringkan tubuh Adrian, Naira membuka jaket Adrian dengan telaten dan menyelimuti Adrian. setelah beberapa menit Adrian memejamkan matanya, Naira mengusap dahi Adrian dengan lembut dan mencium kening Adrian.


pandangannya menatap kamar itu, kamar bernuansa pink itu sangat imut. Naira berpikir kamar itu memang dirinya yang mengatur, karena terlihat semuanya seperti hal kesuakaannya. sampai pandangannya berhenti pada foto besar di dinding, foto itu adalah foto pernikahan nya dengan Adrian. terlihat bahagia difoto itu, Naira tersenyum sendiri kemudian menatap Adrian yang tertidur.


"aku tidak akan mengatakan sebesar apa cinta kita, dengan melihat foto pernikahan kita aku sudah bisa tau. betapa besarnya cinta kita dan tatapanmu itu penuh dengan cinta, yang artinya kamu sangat mencintaiku." ucap Naira lembut, Naira mengusap air mata nya yang menetes. " aku berjanji Adrian, mulai hari ini aku akan menjagamu. aku akan selalu ada disaat kamu sakit, disaat kamu susah dan juga disaat kamu membutuhkan aku. aku akan terus berjalan dengan hanya menggadeng tanganmu, dan mulai hari ini rumahku adalah dirimu tempatku berpulang adalah dirimu. aku tidak tahu seberapa besar cintaku dulu padamu, tapi aku akan mencintaimu lebih besar dari sebelumnya." ucap Naira tersenyum, Naira mencium pipi Adrian sekilas. Naira terkejut ketika Adrian membuka matanya perlahan, ditatapnya Naira dengan lembut. Adrian yang akan tidur, tidak jadi karena mendengar Naira berbicara.


"sejak kamu kehilangan ingatanmu, aku selalu menunggu saat ini tiba. kamu berada disampingku dan mengatakan cinta padaku, kenapa kamu mengatakannya saat aku tidur." ucap Adrian kemudian mendudukan dirinya, Naira membantu Adrian untuk duduk. "aku selalu berdoa untukmu, setiap doa ku selalu menyebut namamu. jangan ingat masa lalu Naira, sekarang kita akan membuat masa depan kita dan melupakan masa lalu yang telah berlalu. aku ingin hidup normal denganmu, kamu menjadi istriku dan melahirkan seorang anak untukku. aku ingin memiliki keluarga yang lengkap, dan itu hanya dengan dirimu!" tangannya terulur untuk menghapus air mata Naira, dengan lembut Adrian menggelengkan kepalanya.


"bantu aku Adrian, bantu aku untuk memulai kehidupan denganmu lagi. beri aku kesempatan lagi untuk mengenalmu, aku akan memenuhi janji yang sudah pernah aku buat dulu. sesuai permintaanmu mari kita hidup normal, mari kita kita membuat masa depan kita mulai sekarang. aku tidak akan menyusahkanmu lagi, aku juga tidak akan membuatmu menderita lagi!" ucap Naira tersenyum, Adrian merasa bahagia dan langsung memeluk Naira.


"aku bahagia, terima kasih Naira. terimakasih, aku mencintaimu!" ucap Adrian memeluk Naira dengan erat, Naira mengelus punggung Adrian dengan lembut.


"aku juga Adrian, aku tidak pernah sebahagia ini. maafkan aku,.." ucap Naira, Adrian menggelengkan kepala dan menghapus air mata Naira.


"setelah hari ini, aku tidak ingin melihatmu menangis. aku tidak suka melihatnya, berjanjilah kau hanya akan menangis jika aku yang memberi ijin!" ucap Adrian, Naira mengangguk dan tersenyum. Naira memeluk tubuh Adrian lagi, Adrian mengeratkan pelukannya dan diciumnya pundak Naira. setelah beberapa menit mereka akhirnya tidur pagi itu, untuk pertama kalinya setelah empat bulan lebih Adrian tertidur memeluk istrinya.


****


Adrian terbangun dari tidurnya, ia merasa tubuhnya yang panas. Adrian membesarkan suhu kamar nya, setelah itu memiringkan tubuhnya kesamping untuk melihat Naira tapi ia terkejut Naira tidak ada disampingnya. Adrian langsung duduk dan melihat sekitarnya dan tidak mendapati Naira disana, Adrian ingat sebelumnya bersama Naira dan masih pulang bersamanya. Adrian melihat hari sudah hampir malam, tidak mungkin dirinya tidur sangat lama.


Adrian berjalan keluar dari kamarnya, semua tampak seperti sebelumnya. tidak ada tanda tanda kehadiran Naira, dan tatapannya melihat Vano disana. Adrian berjalan cepat kearah Vano, ia tidak memperdulikan sakit dikepalanya yang masih terasa.


"pa, dimana Naira?" tanya Adrian, Vano menoleh dan melihat ke kanan dan ke kirinya. tapi merasa tidak melihat siapapun, Vano mengangkat bahunya.


"tidak ada Naira, papa yang membawamu pulang karena pingsan dikantor!"


"tidak pa, Naira yang mengantarku. bahkan Naira sudah mengingatku kalau aku suaminya, bahkan dia setuju pulang kerumah!" tegas Adrian, Vano mencoba menenangkan putranya itu.


"papa tau kamu sangat merindukan Naira, tapi tidak ada Naira ataupun semuanya masih sama. apakah kamu bermimpi?" ucap Vano, Adrian terkejut dan rasa bahagia sebelumnya langsung lenyap ditelan perkataan Vano. mimpi, semuanya hanya mimpi.


"tidak mungkin, tidak mungkin itu mimpi!"