
halo temen2, maaf ya baru up. soalnya kemarin ada kesibukan pribadi, jadi tidak bisa up dua hari.
Selamat Membaca...
***
keesokan hari nya, Naira resmi dipulangkan dari rumah sakit. mereka semua membawa Naira pulang kerumah besar Kara, Naira melihat itu terdiam dan mengagumi sosok rumah besar dihadapannya. Naira melihat sekeliling rumah itu, begitu luas halaman rumah dan terparkir mobil milik Bagas di sana. Naira menoleh kearah Kara yang memapahnya, Kara tersenyum dan mengangguk pada Naira.
"ini rumah mu Naira!" ucap Bagas, Naira masih seperti menatap rumah ini.
"dan disana, kita sering bermain dulu!" ucap Riana, Naira menoleh kearah yang ditunjuk Riana. Riana mengangguk dan tersenyum, Naira sendiri menatap senang pada Riana.
"ayo masuk!" ucap Nadia, Kara memapah Naira untuk memasuki rumah mereka. didalam rumah itu terlihat Risa dan Febriyan, Risa berjalan kearah Naira dan langsung memeluknya.
"selamat sayang, tante senang kamu sudah sehat!" ucap Risa tersenyum, Naira mengangguk. Naira melihat ke arah Febriyan, Naira terdiam dan mengangguk pelan saat Febriyan tersenyum.
"Naira kemarilah!" ucap Riana menarik tangan Naira.
"Riana hati hati!" ucap Risa, Naira terdiam dan mengikuti Riana. Naira menatap foto foto rumah itu, Riana menjelaskan semua foto disana. secara kebetulan Vano dan juga Amelia datang.
"kenapa dia tidak mengatakan apapun?" tanya Febriyan, Nadia dan Kara hanya menghela nafas.
"karena menurutnya, kita semua ini orang asing. karena itu dia memilih diam!" saut Kara, Febriyan pun mengangguk.
"karena itu kita harus sering bicara dengannya, agar dia tidak terus merasa kita adalah orang asing!" timpal Nadia, semuanya mengangguk dan mengerti. Vano hanya terdiam dan menatap Naira, ia sangat terluka melihat keadaan Naira yang sekarang.
"lihat ini, ini foto Naira kecil dan Riana kecil!" ucap Riana, Naira tersenyum dan memegang foto itu. "ini foto kak Bagas kecil, tampan kan?" ucap Riana lagi, Naira tersenyum dan mengangguk. Riana menjelaskan setiap orang difoto itu, pandangan Naira tertuju pada satu foto.
"itu siapa?" ucap Naira yang akhirnya terdengar, Riana pun menoleh dan melihat kearah yang ditunjuk Naira. Riana bingung yang akan menjelaskan, Riana tersenyum. dan memilih langsung menjawab.
"itu, itu su..."
"itu putraku, namanya Adrian!" ucap Amelia, Naira menoleh kearah Amelia yang tersenyum padanya. Amelia memberikan kode pada Riana, Riana mengangguk mengerti. "Naira dia itu putra tertua mama, dan itu foto masa kecilnya!" ucap Amelia, Naira menatap foto kecil itu.
"apa aku mengenalnya?" tanya Naira, Amelia mengangguk dan tersenyum.
"tentu saja kamu sering memanggilnya kak Ananmu!" ucap Riana yang keceplosan, semua orang terkejut karena itu. mereka menatap Naira yang diam, Naira seperti berpikir sesuatu. mereka harap Naira mengingat Adrian, kalau Adrian adalah suaminya. tapi semenit kemudian Naira mengeryitkan dahinya, Naira merasa sesuatu sedang menusuk kepalanya. bayangan setiap bayangan dirasakan Naira, bayangan hitam muncul dimata Naira.
Brukk!!
"Naira ada apa?" tanya Nadia menghampiri Naira, mereka terkejut saat Naira terjatuh dan tidak sadarkan diri. dengan cepat Bagas menggendong tubuh Naira, dan membawa Naira kekamarnya. beberapa saat David datang setelah mendapat panggilan Kara, David mengecek tubuh Naira. setelah selesai, David membawa semua orang untuk membiarkan Naira istirahat.
"apa kalian mengatakan sesuatu sebelumnya?" tanya David melihat Kara dan semuanya, Riana meremas tangannya sendiri.
"om dokter tadi aku keceplosan berkata tentang Adrian, terus Naira terdiam dan tiba tiba pingsan gitu!" ucap Riana, David mengangguk dengan itu.
"sudah kukatakan jangan memaksanya untuk mengingat, buat dia perlahan untuk mengingatnya. jika kalian mengatakan nama seseorang padanya, dia akan berusaha mengingat nama orang itu. kalian mengatakan kak Anan, dulu dia terus memanggilnya dengan nama itu. aku pikir, ingatan yang kuat sedang bekerja dan membuatnya pingsan!." jelas David, Kara mengangguk dengan itu.
"lalu bagaimana, Adrian itu suaminya. dia harus tau tentang Adrian!" ucap Nadia, David memegang pundak Nadia.
"jangan, jangan paksa dia mengingat Adrian. jadi sementara biarkan Adrian datang dulu, setelah itu biarkan Naira mengingat Adrian secara perlahan. biarkan Adrian memperkenalkan dirinya dengan caranya sendiri, yang terpenting tidak dengan cara memaksa!" jelas David, semua orang disana mengerti dan berharap Adrian bisa mengendalikan dirinya. mereka khawatir Adrian memaksa Naira mengingat, tapi mereka percaya pada Adrian tidak akan melakukan semua itu.
***
siang harinya Naira telah sadar, Naira tetap diam seperti semula. akhirnya Riana membawa Naira disupermarket untuk membeli kebutuhan wanita, Naira melihat supermarket itu seperti tidak asing. bagaimana tidak, supermarket itu biasa digunakan Naira untuk membeli kebutuhan. Naira memilih beberapa makanan ringan dan juga yang diinginkan, Riana sendiri asik dengan hpnya.
"Naira ayo kesana, aku butuh sesuatu disana!" ucap Riana, Naira yang tidak bicara hanya mengangguk. Naira mengikuti langkah Riana dengan mendorong trolinya, Riana asumik memilih beberapa barang yang ia butuhkan.
"Naira kamu juga boleh beli, pilih yang kamu mau oke?" ucap Riana lagi, Naira mengangguk dan tersenyum. "Naira ayo lah, katakan sesuatu. jangan terus mengangguk dan tersenyum, aku ini saudarimu!" ucap Riana gemas, melihat itu akhirnya Naira tertawa kecil.
"masih tidak mau bicara?" tanya Riana, Naira hanya terdiam. Riana pun mengangguk dan melanjutkan kegiatannya. tiba tiba Riana berhenti dihadapan troli Naira, Naira terkejut dan segera menghentikan trolinya.
"aduh Nai, aku ketoilet dulu. kamu ambil pembalut itu ya, aku akan kembali!" ucap Riana memegang perutnya, Naira tidak bisa berkata apapun karena Riana langsung berlari menjauh. Naira yang ditinggal sendiri hanya melihat kiri dan kanan, Naira sangat bingung ditempat itu. Naira melihat barang yang diminta Riana, tempatnya terlalu tinggi untuknya. Naira ingin meminta tolong, tapi terlalu malu untuk meminta tolong.
"bagaimana ini?" gumamnya pelan, akhirnya Naira pun mencoba mencapainya. meskipun harus berjinjit, Naira tetap ingin menggapai itu. disaat bersamaan kakinya tergelincir dan membuatnya jatuh terduduk, semua barang itu menimpanya satu persatu.
Bugh Bugh Bugh
sejenak Naira berpikir pernah mengalami kejadian itu, Naira terdiam sampai sebuah tangan terulur untuknya. Naira mendongakkan kepala, ia melihat seorang pria tersenyum padanya. Naira mendirikan tubuhnya tanpa memegang tangan pria itu, Naira mengambil setiap barang terjatuh.
"akan aku bantu!" ucap pria itu, Naira hanya terdiam dan tidak menjawab. pria itu mengambil setiap barang yang jatuh dan meletakkan ditempatnya semula. Naira menatap pria itu, ia merasakan sesuatu yang tidak asing untuknya.
"apa yang kamu butuhkan, biar aku membantumu!" ucap pria itu lagi, Naira menggelengkan kepala dan menunjukkan yang ia pegang. "oh oke, sudah kamu dapatkan ya!" saut pria itu, Naira tersenyum dan mengangguk. Naira pun menjalankan trolinya, tapi roda troli itu mengenai kaki pria itu. Naira terkejut, ketika pria itu berteriak.
"maafkan aku, aku benar benar tidak sengaja!" ucap Naira akhirnya membuka suaranya, pria itu terdiam mendengar suara Naira sampai tidak sadar Naira menyentuh kakinya.
"hei jangan, kakiku tidak apa tenanglah!" ucap pria itu mendirikan Naira, Naira terlihat panik dan khawatir. lagi lagi Naira merasa semua itu pernah terjadi, tapi entah kapan itu terjadi.
"maafkan aku, apa kamu tidak apa?" tanya Naira lagi, pria itu tersenyum dan menggelengkan kepala.
"bisakah kamu membantuku?" ucap pria itu, Naira terdiam dan menatap pria itu. "kalau kamu diam, artinya kamu tidak mau!" ucap pria itu, lagi, Naira pun mengangguk pelan.
"papah aku kesana, biarkan aku duduk!" pinta pria itu, Naira melihat kearah yang ditunjuk pria itu. sebuah bangku kecil diluar, Naira pun mengangguk dan mencoba memapah pria itu. perasaan Naira tidak tenang, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Naira memapah pria itu sampai di bangku tersebut, Naira merasa takut kaki pria itu bengkak. "hm.. nona apakah kamu tidak mau bicara lagi?" ucap pria itu, Naira terdiam dan hanya menatap pria itu.
"oke terima kasih sudah memapahku!"
"maaf, aku tidak sengaja." ucap Naira lirih, pria itu tersenyum dan mengeluarkan sesuatu di dalam kantungnya. pria itu menarik tangan Naira tanpa ada penolakan dari Naira, ia meletakkan sebuah jepit rambut ditelapak tangan Naira.
"untukmu!" ucapnya, Naira melihat jepit rambut itu dan ia merasa pernah melihat jepit itu sebelumnya. Naira menatap pria itu lagi, dan hanya mendapat senyuman dari pria itu.
"sebagai hadiah, apa kamu tidak suka?" tanya pria itu, Naira meletakkan jepit itu kembali ditelapaj tangan pria itu
"maaf, kita tidak saling kenal. dan hadiah seperti itu, aku tidak perlu mendapatkannya. terima kasih, aku pergi dulu!" ucap Naira dengan cepat, ia kembali masuk kedalam supermarket itu. pria itu hanya menatap kepergian Naira, ia tersenyum menggenggam jepit rambut itu. pria itu pun meninggalkan supermarket itu dengan senyuman.
didalam Naira masih memikirkan pria itu, Naira melihat tangannya sendiri dan masih merasakan sentuhan yang menyentuh hatinya. Naira tidak pernah merasakan itu sebelumnya, sudah beberapa orang yang memperkenalkan diri pada Naira tapi ia merasakan kali ini berbeda. Naira terus mendorong trolinya sampai tanpa sadar Riana menahan troli itu, Naira terkejut dan mendongakkan kepala.
"kamu darimana?" tanya Riana, Naira menggelengkan kepala. "aku mencarimu disana, tapi malah disini!" ucap Riana membawa alih troli itu, Naira menghela nafasnya.
"maaf, tadi aku membantu seseorang!" ucap Naira, Riana menoleh dan tersenyum mendengar Naira bicara
"siapa?" tanya Riana, Naira menoleh kearah belakang dan menunjuk kesuatu arah. tapi Naira bingung saat tidak melihat siapapun, Riana tampak ikut bingung dengan itu.
"jadi?" ucap Riana, Naira menoleh dan menggelengkan kelapa. "kita harus cepat pulang, setelah ini kita akan mampir kerumah om Vano!" ucap Riana lagi, Naira masih saja melihat ke tempat Adrian berada sebelumnya.
"bisakah kita langsung pulang?" ucap Naira, Riana menoleh kearah Naira dan menggelengkan kepala.
"iya pulang kerumah om Vano, kita istirahat disana malam ini. aku sudah menghubungi om Kara, dan dia setuju!" ucap Riana, Naira pun mengangguk. Naira masih merasa tidak enak, entah ada dengan dirinya.
****
setelah dari supermarket, Riana melajukan mobilnya menuju rumah Vano. Naira merasakan angin yang berhembus, Naira tersenyum melihat jalanan yang tidak sedang macet. tiba tiba Naira teringat pria itu, ia melihat tangannya lagi. Naira seperti merasa akrab dengan tangan itu, tapi Naira tidak mengerti maksud hati nya sendiri.
setelah beberapa menit mereka sampai dirumah Vano, Amelia langsung menyambut mereka dan memeluk Naira. begitu juga dengan Vano, Vano tersenyum dan mencium kening Naira. Naira melihat sekeliling rumah itu, dan tampak tidak asing untuknya.
"kamu sering bermain disini, dan disana!" ucap Vano, Naira menoleh kearah Vano dan terdiam menatap Vano. "Naira aku papamu, aku bukan orang asing. bisakah papa melihat kamu seperti sebelumnya, lincah dan ceria?" ucap Vano menyentuh tangan Naira dan meletakkannya pada pipi nya. Naira tersenyum dan mengangguk.
"iya, aku memang tidak ingat apapun. tapi dengan melihatmu, aku merasakan kamu sangat baik. kamu seperti papa Kara, maaf aku tidak bermaksud melupakanmu!" ucap Naira pelan, Vano tersenyum dan memeluk Naira.
"tidak masalah, asalkan jangan menganggapku sebagai orang asing. mengerti?" ucap Vano, Naira mengangguk dan tersenyum.
"sudah sudah, bersihkan diri kalian dulu. berikan padaku, aku akan masak makan malam untuk kita semua!" ucap Amelia mengambil belanjaan mereka, Riana menarik tangan Naira untuk melaksanakan perintah Amelia. beberapa menit kemudian mereka berdua turun, tampak diri mereka sudah sangat segar. Riana berjalan kearah ruang tamu, berbeda dengan Naira yang berjalan ke arah dapur.
Naira tidak melihat Amelia, ia hanya melihat seseorang yang berdiri membelakanginya. Naira berpikir itu adalah Vano, ia mencoba untuk mendekati Vano.
"papa Vano, mama Amelia kemana?" tanya Naira dengan lirih, Naira menunggu Vano itu menoleh. Naira merasa orang itu tidak asing, dan tubuhnya sedikit lebih besar dari Vano. "kamu bukan papa Vano ya, maafkan aku!" ucap Naira, saat akan pergi Naira terkejut saat tangannya ditarik. Naira menoleh dan terkejut lagi melihat wajah orang itu.
"kamu!" ucap Naira, orang itu tersenyum dan melepas tangan Naira. orang itu adalah pria yang ia temui di supermarket, pertemuan pertama membuatnya merasa aneh dan pertemuan kedua semakin membuatnya aneh.
"hai kita ketemu lagi?" ucap pria itu, Naira terdiam dengan itu. "apa kamu tidak ingin mengenalku?" ucap pria itu mengulurkan tangan, Naira tetap diam menatap pria itu. "hm... sepertinya tidak mau!"
"dia anak mama Naira!" ucap Amelia, Naira menoleh kearah Amelia. Vano dan Amelia tersenyum menghampiri mereka, Naira berjalan kearah Vano.
"ada apa, apa kamu takut padanya?" tanya Vano saat Naira merangkul tangannya, Vano menatap kearah pria itu. pria itu berjalan kearah Naira dan Vano, dengan senyum ia melihat Naira.
"aku tidak membuatnya takut, hanya saja dia tidak bicara dengan orang asing. sekarang perkenalkan, namaku Adrian!" ucap pria itu yang tidak lain adalah Adrian, Adrian masih dengan senyumnya mengulurkan tangan. dengan perlahan Naira mengulurkan tangan, Amelia dan Vano saling melihat. mereka berharap tidak akan terjadi apapun pada Naira, Naira terdiam menatap Adrian.
"maaf aku terlambat memperkenalkan diri, karena aku baru datang!" ucap Adrian, Naira masih terdiam saat Adrian tersenyum padanya.
"apa kamu yang difoto itu!" ucap Naira menunjuk foto dimeja, Adrian menoleh dan melihat foto itu adalah foto masa kecilnya. Adrian menganggu dan tersenyum, Naira akhirnya tersenyum.
"karena itu aku merasa mengenalmu, hai" saut Naira, Vano dan Amelia tersenyum karena tidak terjadi apapun pada Naira. Adrian yang melihat senyum Naira tersenyum, Naira melepas tangan Adrian.
"ada hubungan apa antara kamu dan aku?"