Do You Remember?

Do You Remember?
merindukan.



setelah bekerja seharian, Naira membereskan mejanya. ia merenggangkan ototnya. Naira merasa pegal dan juga kram pada lehernya. kemudian Naira melihat kantung kresek obat milik Adrian, ia berpikir banyak hal yang terjadi. kegelisahannya bertambah saat melihat Adrian sakit, ada perasaan yang tidak bisa diartikan oleh Naira.


dengan seharian penuh ia merawat Adrian, sarapan hingga makan siang. dan sejak siang Adrian tidak memanggilnya, malah memberikan pekerjaan untuknya. Naira memeluk dirinya sendiri, ia mengingat dan merasakan pelukan Adrian yang sedang ia papah. bahkan Naira mengingat detakan jantung yang dirasakan tangannya, terasa jelas detak jantung itu.


kenapa aku selalu merasa aneh, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. apa yang terjadi padaku, kenapa ini.


Siska memperhatikan wajah Naira yang melamun, Siska melihat itu tersenyum dan menghampiri Naira. Siska sedih karena tidak seperti dulu dengan Naira, ia merindukan saat saat yang mengasikkan dengan Naira. ingin sekali rasanya Siska mengatakan semuanya tapi karena kasihan, Siska membiarkan waktu yang berjalan untuk menentukan.


"gimana, lancar?" ucap Siska, Naira terkesiap dan mengangguk.


"iya, hari yang melelahkan!" ucap Naira, Siska tertawa kecil dengan itu.


"ayo pulang, sekalian makan yuk!" ajak Siska, saat Naira ingin mengiyakan, ia ingat kalau belum memberikan obat untuk Adrian.


"maaf Siska, aku harus kasih obat untuk pak Adrian. bisakah lain kali?" ucap Naira, Siska tersenyum dan mengiyakan itu.


"oke, lain kali ya. sudah janji loh, kalau begitu aku duluan ya." ucap Siska, Naira mengangguk dan melambaikan tangan. setelah kepergian Siska, Naira bergegas keluar dari ruangannya.


Naira teringat kalau Adruan sedang sibuk, ia hanya berdiri didepan pintu. Naira juga ragu untuk mengetuk pintu, karena takut mengganggu Adrian yang sibuk. akhirnya ia memutuskan untuk membuat makanan untuk Adrian, ia berjalan untuk menuju pantry.


"aku bisa membuat ini, dan bahan bahannya juga cukup." ucap Naira, ia mengikat rambut dan memakai celemek. Naira mempersiapkan semuanya dan siap memasak untuk Adrian, setelah beberapa menit masakan yang dimaksud telah selesai. Tanpa disadari Naira, selama memasak seseorang telah memperhatikannya.


"semoga membantu melancarkan pencernaannya, dan semoga dia menyukainya!" ucap Naira melihat masakan yang ia buat, ia tersenyum sendiri melihat itu. Naira yakin masakannya itu enak dan sehat, dan ia juga berharap Adrian menyukai masakannya. tidak lupa Naira juga menyiapkan air putih dan obat Adrian diatas nampan itu, setelah semuanya siap, Naira membawa nampan makanan itu menuju ruangan Adrian.


"mencari muka!" ucap seseorang, Naira menoleh kearah suara itu. terlihat dua orang wanita berdiri disana, mereka memperhatikan Naira dari atas ke bawah.


"maaf?" ucap Naira yang tidak mengerti, bahkan memasang wajah polosnya. kedua wanita itu menatap meremehkan kearah Naira, dan kemudian salah satu wanita itu mendekati Naira.


"kamu karyawan baru, tapi begitu perhatian pada presdir. kamu ingin mencari muka didepannya ya, atau kamu berusaha untuk merayunya?" ucap wanita itu memainkan rambut Naira, Naira menghela nafasnya.


"aku melakukan ini karena sudah ditugaskan, dan ini sudah tugasku untuk memenuhi tanggung jawabku. permisi!"


"heh!!" saut wanita itu, ia menarik tangan Naira dengan kasar. untung saja Naira bisa menahan nampan yang ia bawa, jadi tidak sampai terjatuh karena tarikan wanita itu. Naira menatap wajah wanita itu, dengan perasaan kesal dihatinya.


"kamu hanya sekretaris, bukan istrinya. kenapa ya ada orang tidak tau malu seperti kamu, apa kamu ingin mendapatkan uang!" ucap wanita itu meremehkan Naira, Naira semakin kesal dan mengepalkan tangannya. karena pada dasarnya ia ingin bekerja, hanya untuk pengalaman saja. dan soal uang tidak perlu ditanya, sekali ia meminta kepada Kara apapun bisa dibelinya. termasuk membeli mulut pedas mereka, yang berkata tidak memikirkan akibatnya.


"aku tidak pernah mengusikmu, aku disini berniat kerja memang untuk mendapat uang dan sama saja dengan dirimu. jadi jangan pernah mengusikku, dan jangan samakan aku dengan kalian yang mencari keuntungan sendiri. permisi!" ucap Naira dengan tegas dan berani, wanita itu kesal karena perkataan Naira. wanita yang berdiri sedikit jauh, memajukan kakinya. ia berniat untuk menjegal kaki Naira, agar membuat Naira terjatuh bersama nampan yang ia bawa.


"auch!!" ucap Naira setelah tersandung, nampan itu terlepas dari tangan Naira. Naira tidak sempat untuk menggapai nampan itu, dan juga ia terjatuh berlutut bersamaan dengan jatuhnya nampan yang ia pegang.


PRANG!!! PYAR!!!


Naira terkejut melihat itu, perasaan sedih terpancar dimatanya. makanan yang susah payah ia buat, sekarang menjadi terbuang sia sia. Naira menoleh kearah dua wanita itu, Naira sangat kesal tapi ia tidak bisa melakukan apapun. karena posisinya yang masih rendah, Naira tidak bisa melawan mereka.


"kasian, sekarang sudah jatuh. bagaimana pak presdir mau makan, dan ini sangat menjijikan!" ucap wanita itu, dengan meledek kakinya menginjak makan itu. Naira mendirikan tubuhnya dan membersihkan pakaiannya, ia hanya menundukkan kepala untuk menyembunyikan kekesalannya. "apa, apa kau ingin marah?" ucap wanita itu lagi, ia mendorong tubuh Naira hingga membuat Naira terhuyung ke belakang. Naira yang merasakan sakit pada lututnya, membuatnya tidak seimbang, hampir saja jatuh jika tidak ada sebuah tangan menopangnya.


Naira tidak merasakan sakit, bahkan ia merasakan tangan hangat seseorang. Naira langsung membuka matanya, ia mendongakkan kepala dan melihat wajah tampan Adrian. Adrian sendiri sudah memperhatikan Naira saat memasak, ia juga tetap diam ditempat saat kedua wanita itu berusaha mengusik Naira. tapi saat Naira terjatuh, Adrian sudah marah dan berjalan cepat kearah mereka.


kedua wanita itu terkejut melihat Adrian, apalagi mata Adrian yang tajam sedang menatapnya. Adrian mendirikan Naira dengan hati hati, Naira hanya terdiam menatap Adrian. Adrian memperhatikan lutut Naira, lutut yang memar akibat jatuh berlutut.


"apa ada dalam kontrak kerja, senior bisa menindas junior yang sedang bekerja!" ucap Adrian menekan, kedua wanita itu gemetar ketakutan. "pergi, saya tidak ingin melihat kalian disini!" ucap Adrian lagi, kedua wanita itu mengangguk. "dan jangan pernah kembali lagi, pergi kebagian keuangan untuk meminta uang gaji terkahir kalian. sekretaris Naira, berikan surat pengunduran diri mereka besok dimeja saya!" jelas Adrian, Naira mengangguk pelan. kedua wanita itu kesal dan juga bersedih, yang mereka lakukan hanya menyesalinyadan juga mereka menatap Naira dengan kesal, karena mendapat pembelaan dari Adrian. "masih tidak mau pergi, apa saya harus panggilkan satpam!" ucap Adrian lagi, kedua wanita itu cepat pergi dari sana. Adrian menghela nafasnya, ia menoleh kearah Naira yang terdiam. pandangan Adrian kearah lutut Naira, lutut yang memar dan tergores sedikit dengan mengeluarkan warna bercak darah. Naira sendiri menatap nampan yang sudah jatuh, dan makanan yang ia buat hancur dilantai. Adrian yang melihat kesedihan Naira, tersenyum sendiri.


"dengan menatapnya, makanan itu tidak akan kembali menjadi seperti semula!" ucap Adrian, Naira menoleh kearah Adrian. Naira menatap Adrian dengan kekesalannya, Adrian sendiri hanya tersenyum ramah padanya.


"maaf pak, sebenarnya makanan itu untuk anda. agar anda bisa makan malam dan meminum obatnya, tapi semuanya sia sia. jika harus membuatnya lagi, bahan bahan nya sudah tidak cukup!" ucap Naira, Adrian mengangguk dengan itu. ia menarik tangan Naira untuk pergi dari sana, Naira terkejut dan mengikuti langkah Adrian yang sedikit cepat. tidak lupa kepergiannya, Adrian mengambil tas Naira dan obat diatas meja.


"pak ada apa, kita mau kemana?" tanya Naira, Adrian terus menarik tangan Naira keluar dari gedung kantornya. Naira merasa canggung saat beberapa orang memperhatikan mereka, Naira hanya bisa diam ketika tangan Adrian menarik tangannya.


"bukankah kamu ingin saya minum obat?" ucap Adrian, Naira mengangguk pelan. "karena itu kita harus ke restoran untuk makan, kamu harus temani saya untuk memberikan obatnya!" ucap Adrian lagi, Naira tertegun dengan itu. perasaan aneh Naira timbul lagi, bukannya berkurang perasaan itu terus muncul. apalagi dengan setiap sentuhan tangan Adrian, perasaan familiar yang dirasakan Naira selalu terbayang dimatanya.


"hm... pak?" ucap Naira saat Adrian mendekat, detak jantung Naira berdetak sangat kencang. gugup, canggung, takut, gelisah jadi satu dalam dirinya. Naira memejamkan matanya, karena Naira berpikir Adrian akan berbuat macam macam dan berniat memukul Adrian jika itu terjadi. sampai telinganya mendengar suara, klik. Naira membuka matanya dengan cepat, dan ternyata Adrian memasang sabuk pengaman untuknya.


"sebelum pergi, hendaknya pasang sabuk pengamannya!" ucap Adrian tersenyum, sebenarnya Adrian menahan tawa karena melihat Naira yang takut saat ia dekati. Naira yang merasa salah paham, ia tersenyum kaku dan mengangguk.


"baiklah, kemana kamu ingin makan?" ucap Adrian dengan senyum, Naira tampak berpikir.


"kemana pun pak, yang penting restoran yang tidak terlalu ramai!" ucap Naira, Adrian mengangguk dengan itu. ia menjalankan mobilnya untuk menuju restoran yang dimaksud, Naira tersenyum melihat keluar jendela mobil.


untuk pertama kalinya setelah empat bulan bahkan lebih, mereka berada disatu mobil. Adrian terus melirik kearah Naira yang sedang merasakan angin malam itu, rasanya tangan Adrian ingin sekali membelai rambut Naira tapi ia mengurungkan niatnya. Naira sendiri terus memegangi dadanya yang terus berdegup kencang, tidak ada perasaan canggung melainkan perasaan gugup dan berdebar.


entah kenapa selalu seperti ini, apa ada yang bisa menjelaskan padaku.


setelah beberapa menit mereka sampai disebuah restoran, restoran yang tidak terlalu ramai. Naira menyukai restoran yang tidak ramai itu, tapi ada perasaan heran pada dirinya. karena restoran itu tidak memiliki satu pengunjung kecuali dirinya dan Adrian, Naira menoleh ke kanan dan kirinya tidak melihat siapapun. Adrian sendiri tidak memperdulikan keheranan Naira, karena semua itu adalah rencananya. rencana untuk mengosongkan restoran dari semua pengunjung, agar dirinya bisa berduaan bersama Naira dan makan malam dengan tenang. berduaan dengan istrinya adalah keinginan sejak empat bulan terakhir, dan Adrian tidak ingin membuang kesempatan itu.


"pak kenapa restoran ini sepi?" tanya Naira saat mereka sudah duduk, Adrian tersenyum dengan itu.


"karena restoran ini tidak ramai!" saut Adrian dengan enteng, Naira mengerutkan dahinya mendengar jawaban Adrian.


"ternyata pak Adrian juga bisa bercanda!" ucap Naira tersenyum, Adrian terkekeh kecil dengan perkataan Naira. Naira ikut tertawa dengan itu, mereka saling menatap dan semenit kemudian mereka merasa canggung.


"ehem, saya pesan steak saja."


"tidak!" saut Naira, Adrian menoleh kearah Naira. Naira menyahut daftar menu restoran itu, ia mencari menu yang cocok untuknya. Adrian terdiam memperhatikan wajah serius Naira, Adrian tersenyum dan menyenderkan tubuhnya pada kursinya.


"mbak pesan nasi goreng jamur saja ya!"


"kamu kan alergi jamur kenapa pesan itu?" saut Adrian dengan cepat menegakkan tubuhnya, Adrian terkejut dengan pesanan Naira. karena dulu Naira hampir celaka saat memakan nasi goreng disertai jamur, Naira menoleh kearah Adrian. Naira merasa heran Adrian mengetahui alerginya, Adrian sendiri terkejut karena kecerobohannya.


"pak ini untuk anda, saya akan pesan yang lain!" ucap Naira, Adrian terdiam dan mengangguk. Naira berbicara dengan pelayan restoran, dan setelah selesai Naira memperhatikan Adrian yang menundukkan kepala. "pak, apa perutmu sakit lagi?" tanya Naira, Adrian mendongakkan kepala. Adrian tersenyum dan menggelengkan kepala, Naira masih tidak percaya dengan itu.


"saya tidak apa, mungkin hanya lapar saja!" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu. Adrian memijat dahi tengahnya, karena ia merasa mual pada perutnya.


"pak kenapa anda tau, kalau saya alergi pada jamur?" ucap Naira, pertanyaan itu berhasil membuat Adrian terdiam. Adrian tidak bisa menjawab pertanyaan itu, Naira masih menunggu jawaban Adrian.


"saya... saya itu... oh iya, saya itu sudah baca cv kamu. banyak tentang kamu disana, dari kebiasaan, hobi, kesukaan dan keinginan kamu. jadi saya tau kamu alergi apa!" jelas Adrian, Naira mengangguk mengerti dengan itu. Adrian bernafas lega, ia mengutuk kecerobohannya. Adrian kembali merasa mual, bahkan sampai berkeringat menahan rasa mual itu. Naira yang dari tadi memperhatikan Adrian, merasa khawatir karena wajah Adrian yang berkeringat.


"Naira saya ketoilet dulu ya, kamu disini aja jangan kemana mana!" ucap Adrian berdiri dengan memegangi perutnya, Naira mendirikan tubuhnya dan berniat untuk membantu Adrian. tapi Adrian menolak, ia menyuruh Naira untuk tetap duduk. "saya akan cepat kembali!" ucap Adrian lagi, tapi belum sempat melangkah tubuh Adrian terhuyung. dengan cepat Naira menopang tubuh Adrian, Naira merasakan tubuh Adrian yang lemas.


"pak anda baik baik saja kan?" tanya Naira khawatir, Adrian mengangguk pelan. tapi lama kelamaan wajahnya menjadi pucat, Naira bisa melihat itu. dengan sekuat tenaga Naira memapah tubuh Adrian, Naira membawa Adrian keluar dari restoran itu dan membawanya masuk kedalam mobil. makan malam yang harusnya dinikmati, berakhir dengan Adrian yang merasakan sakit.


"maaf pak, pasti ini telat minum obat!" ucap Naira memasang sabuk pengaman Adrian, Adrian hanya terdiam dan memegangi perutnya. Naira pun menjalankan mobil Adrian pergi dari sana, Naira bingung harus membawa Adrian kemana. sampai akhirnya tangan Adrian menyuruhnya untuk berhenti, Naira meminggirkan mobilnya. dan dengan cepat Adrian turun dari mobil, Naira panik dan ikut turun menyusul Adrian.


"jangan kesini, tetap disana!" teriak Adrian, Naira pun menghentikan langkahnya. bisa dilihat Adrian sedang memuntahkan isi perutnya, Naira khawatir dengan itu. padahal baru pagi tadi merasakan khawatir dan lega begitu cepat, tapi malam ini ke khawatiran itu terjadi lagi.


"pak, kemarilah!" ucap Naira, Adrian menerima uluran tangan Naira. Naira memasukkan Adrian dalam kursi belakang mobil, ia berniat untuk menidurkan Adrian untuk memberikan rasa lega. "saya punya minyak kayu putih, baunya sangat enak saat dicium. mungkin akan menghilangkan rasa mual anda, anda mau?" ucap Naira, Adrian membuka mata dan mengangguk pelan.


"oleskan untukku, aku tidak kuat rasanya!" ucap Adrian lirih, Naira terkejut saat Adrian menggunakan kakinya untuk bantalan tidur. Naira tertegun dengan itu, perasaan gugup bercampur dan khawatir menyelimutinya. "Naira biarkan saya istirahat sebentar, dan biarkan seperti ini!" bagai tersihir dengan ucapan Adrian, Naira hanya mengangguk pelan. tangannya mulai memijat kepala Adrian, dan Adrian menikmati setiap pijatan Naira. Adrian yang merasakan nafas tidak teratur, menjadi teratur setelah Naira mengoleskan minyak pada hidungnya. tidak lama kemudian, Naira melihat Adrian yang sudah tertidur pulas. Naira tersenyum dan mengusap rambut Adrian, ia terus memijat pelipis kepala Adrian.


"aku merindukanmu, sangat merindukanmu!" ucap Adrian mengigau, Naira tertegun mendengar itu. tangan Ardian memegang kakinya dengan erat, Naira penasaran dengan siapa yang dirindukan Adrian. tapi menurutnya tingkah Adrian itu sangat lah imut, meskipun tampangnya yang galak tapi masih penampilkan sifat rendah hati nya.


"siapa yang anda rindukan pak?" tanya Naira tepat ditelinga Adrian dengan lirih, Naira terkejut Adrian tersenyum setelah mendengar suaranya. tapi tidak ada jawaban dari Adrian, ia semakin tidur dengan nyenyak dipangkuan Naira.


"Naira!" ucap Adrian, Naira terkejut dengan itu. bagaimana bisa Adrian tertidur dengan menyebut namanya, dan apa yang sedang dipikirkan Adrian tentang dirinya.


"aku merindukan Naira, Naira yang kurindukan. aku sangat merindukanmu, Naira!"