
malam yang sama Naira menghampiri Adrian yang sedang duduk diayunan, Naira duduk disamping Adrian dan mencium pipi Adrian disana. Adrian tersenyum dan merangkul Naira, dengan terus sibuk bersama hpnya.
"Adrian, ayo jalan jalan!" ucap Naira, Adrian menggelengkan kepalanya.
"ini sudah malam, kemana kita akan jalan jalan?" saut Adrian, Naira mengambil hp Adrian dan memasukkan kedalam kantungnya. Adrian menatap Naira yang meledeknya, membuat Adrian menghela nafas.
"kamu kenapa gangguin aku teruss!" ucap Adrian, Naira tersenyum dan merangkul Adrian.
"ayo jalan jalan, jarang sekali kita jalan luar kota!" ucap Naira mengangguk, Adrian mengacak rambut Naira dengan gemas.
"oke, ayo pergi!"
"yeah... aku akan ambil jaket, ini hp mu!" ucap Naira, Adrian tersenyum dan menggelengkan kepala. dengan cepat Naira kembali menemui Adrian, tapi tiba tiba rasa pusing terasa dikepalanya.
"kamu kenapa?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"ini mungkin gara gara kakak tadi, menyetir sangat kencang!" ucap Naira, Adrian mendudukan Naira pada kursi disana.
"ya sudah tidak usah jalan jalan hari ini, ayo kita istirahat saja!" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"ada apa ini?" ucap Bagas tiba tiba, Riana berlari kearah Naira karena khawatir.
"kamu gak papa kan Naira?" tanya Riana, Naira menoleh dan memperhatikan wajah Riana.
"kamu menangis ya, pasti tante Risa memarahimu ya?" ucap Naira menghapus air mata dipipi Riana, dengan senyuman Riana menggelengkan kepala.
"mama tidak memarahiku kok!" ucap Riana, Naira tersenyum dengan itu.
"temani aku jalan jalan Riana, Adrian tidak mau menemani aku!"
"kata siapa, aku mau menemanimu jalan jalan. tapi lihat kondisimu, kamu sedang tidak sehat dari kemarin!" ucap Adrian, Naira menatap Adrian yang juga menatapnya.
"benar kata Adrian, tidak perlu dipaksa kan. besok kita akan jalan jalan, bagaimana?" ucap Riana, Naira menggelengkan kepalanya. karena keras kepala Naira tetap bersih kukuh untuk keluar jalan jalan, sampai siapapun disana tidak bisa berkata apapun.
akhirnya keinginan Naira terwujud, Adrian setuju begitu juga dengan Riana yang membawa Daniel sekaligus. mereka berkeliling pasar malam dikota Semarang, berbagai jenis pakaian dan aksesoris dibeli oleh Riana bahkan juga Naira. tentang Daniel dan Adrian, hanya mengikuti mereka berjalan dari belakang dan membawa beberapa barang yang sudah dibeli oleh keduanya. Adrian kesal saat beberapa orang memperhatikannya, mungkin karena pakaian yang ia gunakan terlalu rapi disana.
"aku malas mengikuti wanita belanja!" gumam Daniel, Adrian menoleh dan kesal mendengar itu.
"lalu kenapa kau setuju tadi, kalau kau tidak bilang ya kita tidak akan terjebak disini!" ucap Adrian dengan ketus, Daniel hanya menyengir dengan perkataan Adrian.
"Naira kamu kenapa?" ucap Riana ketika melihat wajah Naira pucat, Naira sendiri menggelengkan kepala dan memegangi kepalanya.
"keramaian ini membuatku pusing dan bau bau sekitar ini, membuatku mual!" saut Naira, Riana mencari keberadaan Adrian dan Daniel yang sedikit jauh dari jarak mereka. Riana melambaikan tangan pada mereka, dengan cepat Adrian dan Daniel berjalan cepat menghampiri Riana.
"ada apa Naira?" tanya Adrian khawatir, Naira mencengkram lengan baju Adrian dengan kuat. Naira menahan rasa mual dan juga pusing secara bersamaan, melihat itu Adrian sangat khawatir dan juga panik.
"Adrian mending kamu bawa pulang saja Naira, aku dan Riana akan menyusul nanti!" ucap Daniel, Adrian mengangguk dan memapah Naira dengan perlahan.
"sudah kubilang kan, jangan pergi ya jangan pergi. semenjak kamu makan spageti, kamu itu demam!"
"spageti kan buatanmu, itu artinya kamu meracuni aku!" saut Naira dengan cepat.
"he.. enak saja, siapa yang bilang rasanya enak dan memakan sangat banyak sekali karena enak. siapa?" tanya Adrian, Naira mencubit perut Adrian dengan kesal.
Riana melihat tingkah keduanya itu, menurutnya sangat menggemaskan jika dilihat. mulai hari itu Riana mencoba menghilangkan perasaannya terhadap Adrian, bahkan Riana telah berjanji pada Bagas dan juga pada dirinya sendiri.
"karena aku Naira sakit dan harus nyusulin aku kesini!" ucap Riana menatap kepergian Naira dan juga Adrian.
"nggak, aku mau pulang aja!" ucap Riana berjalan pelan, Daniel mengikuti langkah Riana dari arah samping.
"yakin?"
"iya yakin, aku capek!" Daniel pun mengangguk dan mereka menuju parkiran untuk mengambil mobil mereka, Daniel membawa Riana pulang. selama perjalanan Riana termenung, bahkan saat sampai dirumah Riana tidak sadar dan tetap diam.
"kamu ada masalah?" tanya Daniel, Riana tersadar dan menoleh kearah Daniel. Riana melihat sudah berada dirumah, Riana menggelengkan kepala dan membuka pintu mobil. "aku mendengar semuanya!" Riana menghentikan tindakannya yang akan turun mobil, Riana menoleh menatap Daniel.
"apa yang kamu dengar?"
"kau mencintai Adrian, aku tahu perasaan mu sekarang!" ucap Daniel, Riana terduduk dan mengusap air matanya.
"jangan diingatkan lagi, aku tidak ingin mengingat itu!" ucap Riana, Daniel langsung memeluk Riana karena ikut merasakan kesedihan Riana, karena hal itu Riana terkejut dengan pelukan Daniel, ia hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.
"menangislah jika kau ingin menangis, aku sudah pernah mengatakan jika kau memiliki masalah katakan padaku. aku akan menerima masalahmu, dan aku akan memberikan bahuku untuk sandaranmu!" ucap Daniel, seketika membuat Riana meneteskan air mata. Riana sudah lega saat Bagas memeluknya untuk menangis, tapi ia memiliki perasaan berbeda ketika Daniel memeluknya dan mengatakan semua itu. tanpa segan Riana memeluk Daniel dengan erat, dan mulai menangis disana.
"aku... aku tidak ingin menangis Daniel, aku tidak ingin... hiks... hiks... tapi... air mataku ini.. tidak mau berhenti... Daniel.. aku..."
"sudah cukup, jangan katakan apapun lagi. menangislah, keluarkan semua tangisanmu itu!" ucap Daniel mengelus punggung Riana, dengan sesenggukan Riana terus menangis. entah apa yang dirasakan Daniel, ia merasa sedih mendengar isak tangis Riana yang terdengar ngilu. Riana menangis mengeluarkan semua beban dihatinya.
****
Naira bangun dipagi hari, ia berlari kearah kamar mandi secepat mungkin. Adrian yang terkejut ikut terbangun, ia menyusul Naira yang berada didalam kamar mandi.
"Nara kamu kenapa?" tanya Adrian, ia khawatir saat mendengar Naira sedang muntah didalam kamar mandi. Adrian terus mengetuk pintu itu, tapi Naira tidak mengatakan apapun. Naira membuka pintu dan teihat lemas disana, Adrian mendekati Naira dan mengelus punggungnya. "kamu kenapa?"
"rasanya tidak enak, lidahku juga pahit!" ucap Naira, Adrian mendudukan Naira dan memberinya segelas air. "aku rasa masuk angin lagi, seperti sebelumnya!" ucap Naira lagi, Adrian memeluk Naira dan mengelus punggung Naira dengan lembut.
"masih mual tidak?" ucap Adrian, Naira menggelengkan kepala.
"baumu, aku sangat menyukainya. ini membuatku tidak mual!" ucap Naira mencium leher Adrian yang menurutnya wangi, Adrian terkejut dengan itu. hari masih pagi, tapi Naira sudah menggodanya.
"Naira ini dirumah kakek, tunggu saat kita dirumah ya!" bisik Adrian, Naira mendorong tubuh Adrian.
"dasar mesum, aku kan ingin memelukmu Adrian." ucap Naira mengerucutkan bibirnya, Adrian gemas dengan itu. Adrian langsung membawa Naira dalam pelukannya, tapi pikirannya masih bertanya tanya kenapa Naira mual dipagi hari gejala penyakit apa itu.
"perutmu masih mual tidak?" tanya Adrian saat memeluk Naira, dengan memejamkan mata Naira menggelengkan kepalanya. "hari ini mau makan apa?"
"aku tidak mood makan apa apa, aku sangat lemas sekarang!" saut Naira, Adrian mencium pucuk kepala Naira.
"Bagas!!!"
Naira dan Adrian terkejut mendengar suara teriakan ibu Kumala, mereka berlari keluar dari kamar mereka. bukan hanya Adrian dan Naira, sang pemilik nama berlari dari kamarnya diikuti Daniel. Adrian terkejut melihat pak Wijaya tergeletak dilantai, dengan cepat Adrian berlari bersama Naira.
"Bagas, kakekmu!" ucap ibu Kumala yang sudah panik, Bagas dan Daniel memapah pak Wijaya yang tidak sadarkan diri ke atas sofa. Daniel menyentuh leher dan juga tangan pak Wijaya, Daniel mencoba memeriksa dengan percobaan ilmu medisnya.
"panggil dokter, cepat!" tegas Bagas, Riana mengangguk dan segera melaksanakan perintah kakaknya.
"tidak, kita harus membawanya kerumah sakit!" ucap Daniel, membuat semua orang disana menoleh kearah Daniel.
"kenapa?" ucap semua orang, Daniel berdiri dari duduknya.
"menurut hasil tesku, kakek mengalami serangan jantung!"