Do You Remember?

Do You Remember?
menangis.



Naira dan Adrian mendapat kabar kepergian Riana, mereka datang kerumah Kara setelah mendapat kabar itu. dan benar keadaan rumah itu sangat panik, Riana yang pergi tanpa pamit dan juga tidak bisa dihubungi. Risa menangis menyesali telah memarahi Riana, ia berpikir Riana pergi karena dirinya telah marah.


"ini kesalahanku, aku memarahi seperti itu!" ucap Risa menangis, semua orang merasa heran kenapa Risa memarahi Riana sampai membuat Riana pergi dari rumah.


"tante, tante jangan menangis yaa. Adrian masihencoba menghubungi Riana, dan juga teman teman Riana!" ucap Naira mencoba menenangkan Risa, terlihat Bagas dan Adrian datang secara bersamaan.


"bagaimana Bagas, apa ada kabar dari Riana?" ucap Risa, Bagas menggelengkan kepala. Naira memberi isyarat pada Adrian, dan dibalas gelengan kepala oleh Adrian. "kamu dimana Riana, kenapa kamu kesal sampai meninggalkan rumah!" ucap Risa, Febriyan memeluk istrinya yang menangis karena khawatir itu.


"Bagas akan cari terus ma, mama gak usah khawatir ya!" ucap Bagas, Risa tetap menangis sampai dirinya melemas dan tidak sadarkan diri. semua orang menjadi panik karena itu, dengan cepat Bagas menggendong tubuh Risa dan dibawa kedalam kamarnya.


"Nadia telfon David!" ucap Kara, Nadia mengangguk dengan itu. Naira menjadi bingung tidak karuan melihat situasi itu, apalagi ditambah rasa pusing dan juga bergejolak dalam dirinya.


"kamu kenapa?" tanya Adrian, Naira menggelengkan kepala nya.


"aku pusing sekali, Riana itu sangat menyebalkan!" ucap Naira memegang kepalanya, Adrian mendudukan Naira disofa dan mengelus kepalanya.


"jangan dipikirkan, Riana pasti gak kemana mana!" ucap Adrian, Naira mengangguk dengan itu.


"tapi kemana dia, dia tidak pernah semarah ini!"


"aku tahu dia kemana!" ucap Bagas tiba tiba, Naira dan Adrian menoleh secara bersamaan.


"kemana kak?" ucap Naira penasaran, Bagas memberikan sebuah kertas pada Naira. dengan cepat Naira membuka kertas itu, dan kertas itu bertuliskan Rumah kakek dan nenek.


"jadi dia ada disana?" ucap Adrian, Bagas mengangguk dengan itu.


"kenapa Riana tidak beritahu kita kalau kerumah nenek, dan dengan siapa dia pergi. mobilnya ada dirumah, anak itu.." ucap Naira kesal dan meremas kertas yang ia pegang.


"anak itu sangat nakal, akan kuberi pelajaran nanti!" ucap Bagas, Naira mengangguk dan setuju dengan itu.


****


Riana sendiri dengan tenang berada dirumah kakek dan neneknya, terasa hatinya sangat damai disana. tidak ada yang mengusiknya, terutama mengusik hatinya seperti melihat Adrian. Riana sedang duduk damai diayunan halaman rumah itu, dan mengayun ayunkan dirinya dengan santai. Riana mendengarkan musik dengan dengan memejamkan mata, ia tidak sadar dari jauh Daniel sedang memperhatikannya. Daniel tersenyum sendiri melihat itu, entah kenapa dirinya harus tersenyum melihat Riana.


"oii!!" teriak Daniel, Riana tidak mendengar panggilan itu. karena ia sedang menggunakan headset ditelinganya. Daniel pun menghampiri Riana dan duduk disamping Riana, tidak lupa mengambil headset sebelah untuk ia pasang ditelinganya.


"kau mengejutkanku!" ucap Riana, Daniel hanya tersenyum dan mengayunkan ayunan yang mereka naiki.


"aku memanggilmu dari tadi, kenapa tidak dengar!"


"haha... maaf, oh iya Daniel kalau kamu mau pulang, pulang aja gak papa kok!" ucap Riana, Daniel menoleh kearah Riana dan menatapnya. "iya, takutnya om dokter dan tante dokter nyariin kamu. kamu kan anak bujang mereka, takutnya ditungguin pulang loh!" ucap Riana tersenyum, Daniel mengacak rambut Riana dengan gemas.


"aku ini cowok, mana ada cowok dicariin mamanya kalau keluar lama. kayak cewek aja, aku mau kok nemenin kamu sampai pulang!" ucap Daniel, Riana mengangguk dengan itu.


"maaf ya, aku ngajak kamu kesini!" ucap Riana, Daniel tersenyum.


"oh iya kamu ada masalah apa, sampai lari kesini?" ucap Daniel, pertanyaan itu berhasil membuat Riana terdiam dan menatap hpnya. sudah empat hari Riana mematikan data hpnya, tidak ada pesan ataupun telfon masuk disana. karena ingin mencari tahu masa lalu Risa, Riana menjadi nekat dan tidak memikirkan keadaan dirunahnya sekarang.


"Riana?"


"gak ada kok, cuman suntuk aja!" saut Riana dengan cepat, dengan senyuman Riana menoleh kearah Daniel. "oh iya sudah sore, ayo masuk. nenek pasti nunggu kita, aku juga mau membantu nenek masak!" ucap Riana berdiri, saat ingin berdiri Daniel menarik tangan Riana hingga mendekat kearahnya.


"katakan masalahmu padaku, aku bisa membantumu!" ucap Daniel, Riana tersenyum dan melepaskan tangannya.


"untuk sekarang aku tidak punya masalah, tapi nanti jika ada masalah akan aku katakan padamu!" ucap Riana dengan tersenyum, Daniel pun tersenyum dan mengangguk.


"nenek, apa yang nenek lakukan?" ucap Riana, ibu Kumala menoleh dan tersenyum. disana ibu Kumala sedang memasak didapur, Riana menghampiri neneknya itu dan mengambil alih untuk memasak. "nenek biar Riana bantu ya, nenek duduk aja kupas bawang!" ucap Riana, ibu Kumala dan tersenyum.


"iya kamu aduk sampe agak coklat ya, itu makanan kesukaan mu!" Riana tersenyum dan mengangguk, ia mengaduk masakan itu dengan senyuman.


"Riana boleh nenek bertanya?"


"katakan nenek?" saut Riana, ibu Kumala tersenyum dengan memotong beberapa sayur.


"kamu ada masalah apa, kok sampai kerumah nenek secara tiba tiba?" ucap ibu Kumala, Riana terdiam dengan pertanyaan itu. Riana tidak mungkin mengatakan sekarang, tapi apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan neneknya itu. "kamu inget dulu nggak?"


"apa nek?"


"dulu saat kamu dimarahi Risa karena nilai jelek, kamu ngambek loh sampai ke stasiun sendiri pengen ketemu nenek!" ucap ibu Kumala, Riana terkejut karena neneknya mengetahui hal itu.


"nenek, nenek kok tau itu?"


"tentu saja, sampai Bagas cariin kamu dan jewerin kamu dimobil. nenek sama kakek tertawa loh saat papamu cerita, karena kamu sangat nekat!" ucap ibu Kumala, Riana tertawa dengan itu.


"iya saat Riana duduk di stasiun itu, Riana bingung mau berbuat apa. soalnya gak bawa uang, Riana juga laper lagi." ucap Riana tertawa, ibu Kumala pun ikut tertawa dengan itu. "sampai akhirnya kak..."


"Bagas datang dan marahin kamu karena kabur gitu aja!" suara yang muncul tiba tiba membuat Riana terkejut, dengan cepat Riana menoleh dan terkejut melihat Bagas disana.


"kakak..." ucap Riana, Bagas terlihat kesal dan menghampirinya. Bagas memberi salam kepada ibu Kumala, dan memberi ciuman sayang disana. Riana sangat gugup dan gelisah, bagaimana Bagas bisa tahu dirinya ada disini.


"mana hp mu?" ucap Bagas dingin, Daniel dan pak Wijaya datang setelah mendengar suara Bagas. dengan gemetar Riana memberikan hpnya, Bagas melihat hp itu yang tidak memiliki akses internet.


"kabur dari rumah, tidak menghubungi siapapun, tidak minta ijin, tidak menelfon apa maksudmu!!" ucap Bagas marah, Riana terkejut melihat Bagas semarah itu padanya.


"ada apa ini?" ucap pak Wijaya, Bagas menahan amarahnya dan menghela nafasnya. pandangannya melihat kearah Daniel, ia terkejut dan kenapa Daniel berada disana.


"kau, kau yang membawanya kemari?" ucap Bagas, Daniel mengangguk dengan itu.


"iya kak, dia yang memintaku mengantarnya disini. jadi aku menemaninya, katanya dia rindu pada neneknya..."


"dia tidak rindu, dia kabur dari rumah setelah bertengkar dengan mama!" saut Bagas, semua orang terkejut disana. ibu Kumala memeluk Riana yang ketakutan, dan mencoba bertanya dengan isyarat. dengan pelan Riana mengangguk, membuat pak Wijaya menghela nafasnya.


"Riana gak bermaksud bohong sama kalian, Riana hanya pengen sendirian..."


"masih berbohong, mama sampai sakit khawatirin kamu!! Astagfirullah!!" ucap Bagas menahan amarahnya, Riana terkejut mendengar itu. bukan hanya Riana, yang lain pun ikut terkejut.


"ma... mama sakit, kenapa kak?"


"kamu, masih bertanya kenapa!" saut Bagas, Riana langsung terdiam dan menangis disana. Riana berlari menangis ke kamarnya, Bagas menghela nafas untuk menahan amarahnya. terlihat Adrian dan Naira datang bersamaan, mereka memberi salam pada kakek dan neneknya.


"aku mendengar suaramu sangat keras, kenapa kamu memarahi Riana kak?" ucap Naira, Bagas terdiam dan menyesali perbuatannya. Naira melihat Daniel disana, Daniel tersenyum dan dibalas senyum oleh Naira.


"dimana Riana?" ucap Adrian, Bagas hanya memberi isyarat kearah kamar Riana. terlihat Riana keluar dari kamar itu membawa tasnya, dengan menangis Riana turun dan menghampiri Bagas.


"kakak ayo pulang, aku akan menemui mama sekarang!" ucap Riana, Bagas terkejut dengan itu.


"kemari dulu!"


"nggak kak, Riana harus minta maaf pada mama!" ucap Riana, Bagas menarik Riana dan memeluk langsung adiknya itu.


"maaf, maaf kakak tadi berteriak!" ucap Bagas lembut, Riana menangis dalam pelukan Bagas.


"maafin Riana kak, maafin Riana... hiks... hiks..." ucap Riana terisak, Bagas menghapus air mata adiknya dan tersenyum.


"jangan lakukan hal ini lagi, kamu membuat kami khawatir!" ucap Bagas, Riana mengangguk dan tersenyum.


"ayo pulang kak!"


"kita akan pulang besok, kakak tidak sendiri datang kemari. ada Adrian dan juga Naira, Naira sedang tidak enak badan tapi dia tetap saja ikut!" ucap Bagas, Riana menoleh kearah Adrian dan juga Naira.


"kamu ini, membuatku khawatir!" ucap Naira, Riana tersenyum.


"kalau begitu Riana akan telfon mama sekarang, biar mama gak khawatir lagi!" ucap Riana, Bagas mengangguk dengan itu. Bagas menemani Riana kekamarnya untuk bicara denga Risa, dan yang lainnya tersenyum dengan mereka.


"kakak sangat galak jika marah, tapi luluh saat melihat air mata!" ucap Naira, pak Wijaya dan ibu Kumala tersenyum dengan itu. Naira memeluk nenek dan kakeknya secara bergantian, ibu Kumala tersenyum melihat Adrian.


"bagaimana kabar kalian?" tanya pak Wijaya pada Adrian, Adrian tersenyum dan duduk disamping Daniel.


"baik kek, selama ada Naira aku pasti baik baik saja!" ucap Adrian, pak Wijaya tersenyum dengan itu.


"terus gimana, istrimu sudah isi?"


"belum terisi, sekarang Naira sangat lapar!" saut Naira dengan polos, semua orang terkejut disana. semenit kemudian tertawa bersama, Naira bingung dibuatnya.


"kamu ini, kapan kamu dewasa. Adrian ceritakan padanya, agar dia tahu!" ucap ibu Kumala, Adrian mengangguk dan tersenyum. "ya sudah kalian istrahat gih, habis ini makan malam bersama!"


****


Bagas menghampiri Riana yang sedari tadi didalam kamar, Riana melamun berdiri didekat balkon. Bagas menghampiri Riana dan mengusap rambut adiknya, Riana tersenyum dengan kedatangan Bagas.


"sudah telfon mama?" ucap Bagas, Riana tersenyum dan mengangguk.


"sudah kak, Riana juga sudah minta maaf. kayaknya papa marah sama Riana!" saut Riana, Bagas tersenyum dan mengusap rambut Riana lagi.


"karena itu jangan lakukan lagi, kau bukan hanya membuat kami khawatir tapi juga membuat kami marah. Naira juga sedang sakit, tapi dia maksa ikut kemari untuk melihatmu!" ucap Bagas, Riana mengangguk dan merasa menyesal telah melakukan itu. apalagi sampai membuat Naira datang diwaktu sakit, Riana mengutuk dirinya sendiri sekarang ini.


"kamu kenapa lagi dengan mama, sampai kabur seperti ini?" tanya Bagas, Riana terdiam dengan itu. karena tujuan nya kabur adalah mencaritahu masa lalu Risa, tapi kini sudah tidak penting lagi baginya. perintah mamanya agar melupakan perasaannya pada Adrian, maka akan ia laksanakan apapun caranya.


"mama tahu tentang Riana..."


"tahu apa?" Riana menatap Bagas yang menunggu jawabannya, dan Riana tidak ingin membohongi Bagas kali ini.


"Riana mencintai Adrian!" mendengar itu Bagas terdiam dan menatap Riana, dengan tersenyum Riana mengangguk kearah Bagas. "mama marah mengetahui itu, aku jadi tidak enak dan memilih untuk kerumah nenek!" meskipun tidak semua benar, Riana mencoba untuk jujur pada Bagas.


"aku bilang pada mama, kalau aku tidak ingin merusak kebahagiaan Naira. aku ingin Naira dan Adrian bahagia, meskipun harus menyimpan rasa ini sendirian!" ucap Riana lagi, Bagas masih terdiam dengan itu. "aku mencintai Naira, aku juga tidak ingin menyakiti Naira. lagi pula kebahagiaan Adrian hanya pada Naira, jika aku hadir itu akan menyakiti hati kami sekaligus!"


"hilangkan semua perasaan itu, mungkin mama tidak ingin masa lalu..."


"masa lalu mama terulang lagi, benarkan?" Bagas menoleh mendengar perkataan Riana, dan yang ingin diketahui Riana telah diketahui oleh Bagas. "kakak tahu, mama mengatakan itu padaku. aku kemari untuk bertanya pada kakek dan nenek, jika kakak tahu beri tahu aku kak!" ucap Riana lagi.


"dulu mama ingin merebut om Kara dari bunda Nadia, mama melakukan hal apapun untuk bisa mendapatkan om Kara!" Riana terkejut dengan itu, Bagas mengangguk pelan.


perlahan Bagas menceritakan semuanya pada Riana, karena tidak bisa menahan air matanya Riana menangis. Bagas memeluk Riana yang menangis, rasa penasaran Riana kini tuntas dan mengerti kenapa Risa begitu marah dannkecewa padanya. Riana berjanji pada dirinya sendiri malam itu, ia ingin melupakan Adrian dan tidak akan mengatakan pada siapapun tentang perasaannya itu. biarkan dirinya dan beberapa orang saja yang tahu.